Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Arkan
Langkah Naya berat saat memasuki ruang isolasi VIP. Di atas ranjang, Janu terbaring dengan perban menutupi hampir separuh wajahnya.
Melihat Naya, ia mencoba bangkit—namun rintihan pelan justru lolos dari bibirnya.
“Nggak usah bergerak, Janu. Jangan paksa diri,” bisik Naya sambil menggenggam tangan Janu yang dingin.
“Mbak… Naya…” suara Janu serak, nyaris kalah oleh bunyi monitor jantung. “Waktu saya masih jadi sopir kepercayaan Arkan, saya yang mengantarnya diam-diam ke klinik fertilitas.
Dokumen itu sempat tertinggal di kursi belakang. Saya lihat isinya…” Ia menarik napas pendek. “Arkan mandul, Mbak.
Azoospermia permanen. Dia nggak mungkin punya anak biologis.”
Naya membeku. “Jadi selama ini… dia bohong sama aku?” bisik Naya pelan.
“Bukan cuma itu,” lanjut Janu pelan. “Map merah aset Pak Baskara ada di brankas ruang kerja Arkan.
Dia nggak akan menghancurkannya—itu jaminan pinjaman atas namanya sendiri. Kodenya tanggal kematian Bapak. Ambil malam ini, atau Mbak nggak akan punya kesempatan lagi.”
Pintu bangsal terbuka keras. Arkan masuk dengan wajah dingin.
“Sepuluh menit sudah lewat. Kita pergi sekarang.”
"Arkan, Janu baru saja sadar sepenuhnya—"
"Aku tidak peduli!" Arkan menyambar lengan Naya, menariknya paksa keluar dari ruangan tanpa membiarkan Naya menoleh lagi.
Keheningan di dalam mobil terasa menekan. Arkan melaju cepat, matanya lurus ke jalanan malam yang lengang.
“Apa yang dia bisikkan padamu, Naya?” suaranya rendah, mengancam.
“Hanya soal kecelakaan. Dia minta maaf karena tidak bisa menjagaku,” jawab Naya datar.
“Bohong.” Arkan melirik singkat. “Wajahmu seperti baru lihat hantu. Dia bicara soal bisnisku? Atau masa laluku?”
Naya menoleh, menatap Arkan tanpa ragu. “Dia cerita soal klinik fertilitas setahun lalu, Arkan. Katanya kamu… mandul. Benar, kan?”
Mobil berdecit keras saat Arkan menginjak rem di bahu jalan tol. Ia menoleh tajam, mata memerah menahan amarah.
“Pecundang itu…” rahangnya mengeras. “Seharusnya aku biarkan dia mati di aspal malam itu.”
“Jadi itu benar?” Naya menatapnya tajam. “Kamu pakai aku sebagai tameng di depan dewan direksi? Kamu biarkan ibumu menyerahkanku pada pria lain saat aku pingsan?!”
Arkan tertawa kering. “Kalau pun benar, kenapa? Bayi itu tetap akan pakai nama Arkan. Dunia akan melihatku sebagai pemenang. Siapa yang mau percaya? Sopir cacat… atau wanita yang dianggap depresi sepertimu?”
“Aku akan memastikan mereka percaya,” desis Naya.
Begitu tiba di apartemen, Arkan mencoba menyeret Naya ke kamar utama.
Naya melawan—tendangannya menghantam tulang kering Arkan. Tanpa menunggu, ia langsung berlari ke ruang kerja.
"NAYA! BERHENTI!" teriak Arkan dari lorong.
Naya menerobos masuk ke ruang kerja, membanting pintu lalu mengunci ganda dari dalam.
Di luar, Arkan mengamuk. Tendangannya menghantam pintu jati bertubi-tubi.
BRAK! BRAK!
"BUKA PINTUNYA, NAYA! ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Naya tak membuang waktu. Ia berlari ke balik meja, menggeser lukisan besar itu dengan tangan gemetar.
Brankas baja tersembunyi di sana. Jari-jarinya menekan kode: 0-9-1-1.
Klik.
Pintu brankas terbuka. Naya langsung meraih map merah itu. Di dalamnya—surat pelunasan utang Baskara. Ayahnya tidak pernah bangkrut. Arkan yang memalsukan semuanya.
Di bawahnya, sebuah amplop putih bertuliskan Confidential. Naya membukanya sekilas. Kebenaran yang selama ini disembunyikan Arkan. Hasil lab kemandulan Arkan dari setahun lalu.
"Naya! Aku hitung sampai tiga!" suara Arkan terdengar gila dari luar.
Naya menyalakan laptop Arkan yang masih terbuka. Tanpa ragu, ia memasukkan alamat email seluruh jajaran direksi Arkan Grup—yang sudah lama ia hafal.
Ia mengeluarkan ponsel cadangan milik Janu, lalu memotret dua bukti itu: hasil medis dan surat pelunasan hutang ayahnya.
Attach. Send to All.
"Sudah selesai, Arkan!" teriak Naya tepat saat pintu ruang kerja akhirnya jebol setelah hantaman kapak hiasan dari ruang tamu.
Arkan berdiri di ambang pintu dengan wajah yang bukan lagi menyerupai manusia. Dia melihat dokumen di tangan Naya dan layar laptop yang menunjukkan status 'Terkirim'.
"Kau menghancurkan semuanya... kamu membunuh karir ku, Naya!" Arkan menerjang maju, mencekik leher Naya dan menekannya ke meja kerja.
"Bukan aku... tapi keserakahanmu," sahut Naya di sela sesak napasnya. "Lihat ponselmu. Para direksi... sudah tahu... siapa pembohong yang sebenarnya."
Ponsel Arkan di meja bergetar liar, notifikasi panggilan masuk bertubi-tubi. Nama-nama dewan direksi muncul satu per satu.
Cengkeramannya terlepas. Tangannya gemetar hebat saat ia mundur selangkah—lalu jatuh berlutut. Dalam hitungan detik, semuanya runtuh.
Sofia masuk ke ruang kerja dengan wajah panik setelah mendengar keributan. "Arkan! Kenapa ayahmu menelepon dan mengamuk soal donor sperma?! Apa yang terjadi?!"
Naya berdiri dengan sisa tenaganya, menyodorkan Map Merah itu tepat ke depan wajah Sofia.
"Ini yang terjadi, Tante. Kebohongan kalian soal utang ayahku dan kemandulan Arkan sudah berakhir. Aku sudah mengirimkan bukti ini ke semua orang, termasuk pihak berwenang."
Sofia mencoba merampas map itu, tapi Naya menghindar dengan cepat. Jangan pernah sentuh aku lagi. Polisi sedang dalam perjalanan ke sini.
Aku sudah melaporkan penyekapan, pemalsuan dokumen, dan tindakan asusila yang kalian lakukan padaku."
"Kamu... kamu wanita ular! Kami menyelamatkanmu dari jalanan!" teriak Sofia histeris.
"Kalian merampas hartaku, membunuh mental ayahku, lalu berpura-pura menjadi pahlawan!" balas Naya dengan suara menggelegar. "Nikmati sisa hidup kalian di penjara!"
Dua puluh menit kemudian, apartemen mewah itu dipenuhi oleh pihak kepolisian dan tim kuasa hukum
Arkan tidak memberikan perlawanan saat tangannya diborgol. Dia hanya menatap kosong ke lantai.
Naya duduk berhadapan dengan Pak Hermawan, pengacara keluarga Baskara yang sah. Di atas meja, Map Merah itu sudah diamankan sebagai barang bukti utama.
"Bagaimana dengan Arkan, Pak?" tanya Naya dengan suara parau.
"Dia sudah mengakui semuanya di bawah tekanan bukti digital yang kamu kirim, Naya. Dia mengakui pemalsuan dokumen utang ayahmu dan penyekapan ini.”
Sofia juga sedang diinterogasi terkait konspirasi donor paksa tersebut," jelas Pak Hermawan.
"Dan bayi ini... siapa ayahnya?"
"Kami sudah melacak klinik ilegal yang digunakan Sofia. Berdasarkan pengakuan Arkan, Sofia membayar seorang pria bernama Gibran—mantan saingan bisnis Arkan—untuk menjadi donor.”
Sofia ingin memastikan anak itu memiliki gen 'pemenang' untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Tapi pria itu sendiri tidak tahu sampelnya digunakan untuk rencana jahat ini.
Naya berjalan keluar dari kantor polisi saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. "Selesai sudah," gumam Naya.
Perusahaan ayahnya akan segera kembali ke tangannya. Arkan dan Sofia akan membusuk di sel.
Naya mengusap perutnya perlahan. Dia tidak tahu masa depan apa yang menanti anak ini, tapi satu hal yang pasti: anak ini tidak akan pernah menyandang nama Arkan.
"Mbak Naya," panggil Pak Hermawan. "Kita sudah mendapatkan pengakuan awal dari Arkan di ruang sebelah. Dia sempat histeris saat tahu semua email itu sampai ke dewan direksi. Dia tahu hidupnya sudah berakhir."
Pintu ruang interogasi terbuka. Arkan diseret oleh dua petugas untuk dipindahkan ke sel tahanan sementara.
Saat melewati pintu yang terbuka, Arkan meronta, matanya tertuju pada Naya yang duduk di dalam.
"NAYA! KAMU TEGA MELAKUKAN INI PADA SUAMIMU?!" teriak Arkan, suaranya bergema di selasar kantor polisi yang sepi. "AKU MENCINTAIMU! AKU MELAKUKAN SEMUANYA UNTUK KITA!"
"Cinta?" Naya tertawa kecil, suara tawa yang membuat Arkan terdiam seketika. Kamu menyebut mencuri harta ayah ku sebagai cinta?
Kamu bukan mencintaiku, Arkan. Kamu hanya mencintai tahtamu yang sekarang sudah runtuh."
"Aku akan keluar dari sini, Naya! Aku akan merebut semuanya kembali!" ancam Arkan dengan wajah memerah.
"Kamu tidak akan punya apa-apa lagi untuk direbut," sahut Naya telak. "Pagi ini, dewan direksi sudah menandatangani mosi tidak percaya.”
“Aset Baskara sudah dibekukan dari akun pribadimu. Kamu masuk ke sini sebagai CEO, tapi kamu akan membusuk di sini sebagai pencuri yang mandul. Selamat menikmati kehancuranmu, Arkan."