NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasar Budak

Pelabuhan Besi Berdarah adalah perwujudan fisik dari keserakahan dan hukum rimba.

Saat Chu Chen, Bai, dan Meng Fan melangkah turun dari Kapal Tulang Hitam menuju dermaga yang terbuat dari lempengan logam hitam, hawa amis darah dan garam laut langsung menyengat hidung. Sisa bajak laut yang diperbudak Chu Chen dibiarkan menjaga kapal, terlalu takut untuk melarikan diri karena Chu Chen telah menanamkan jejak Qi Yin-Yang di jantung mereka.

Jalanan pelabuhan itu sangat lebar, dipenuhi oleh kereta-kereta raksasa yang ditarik oleh Binatang Buas Tingkat 3 yang telah dijinakkan. Bangunan-bangunannya terbuat dari batu karang dan baja karatan, dibangun bertumpuk-tumpuk hingga menciptakan bayangan yang menutupi sinar matahari.

Namun, yang membuat Meng Fan menelan ludah bukan bentuk bangunannya atau binatang buasnya, melainkan pemandangan di sepanjang trotoar.

Di setiap sudut jalan, terdapat kerangkeng besi tebal. Di dalamnya, ratusan kultivator berpakaian compang-camping duduk meringkuk dengan rantai spiritual mengunci leher mereka. Gejolak Qi mereka bervariasi, dari Alam Penempaan Raga hingga... Lautan Qi dan bahkan Inti Emas!

"D-Dewa Agung..." Meng Fan berbisik ngeri, menunjuk seorang pria paruh baya bertubuh kekar di dalam kerangkeng yang sedang dicambuk oleh seorang penjaga rendahan. "Pria itu... kultivasinya berada di Puncak Lautan Qi! Di Benua Biru Langit, dia bisa menjadi Penatua Agung sebuah sekte kota! Di sini... dia dicambuk layaknya anjing jalanan?!"

"Tutup mulutmu dan jangan menatap mereka," tegur Bai dengan nada tajam dari balik kerudungnya. "Sudah kubilang, Alam Lautan Qi dan Inti Emas di benua ini hanyalah budak pekerja jika mereka tidak memiliki latar belakang klan atau kekaisaran. Sebagian besar dari mereka di kerangkeng itu adalah 'Pengungsi Lumpur'—orang-orang dari benua bawah yang gagal membayar upeti perlindungan kepada Klan Hiu Hitam saat tiba di pelabuhan."

Bai melirik Chu Chen yang berjalan dengan ekspresi datar tanpa riak emosi sedikit pun.

Bagi Bai, ketenangan Chu Chen sangat tidak wajar. Seorang pemuda yang selama ini menjadi raja di benua bawah seharusnya merasa gentar atau setidaknya terkejut melihat dewa-dewa di kampung halamannya kini dirantai seperti hewan ternak. Namun Chu Chen bahkan tidak berkedip. Ia menatap para budak dan penjaga itu seolah sedang menatap jajaran pepohonan mati.

"Ke mana kita, Chu Chen?" tanya Meng Fan, berusaha mengalihkan pandangannya dari kekejaman di sekitarnya. "Apakah kita mencari penginapan atau tempat menukar Batu Roh?"

"Kita mencari pusat informasi dan sumber daya," jawab Chu Chen singkat. "Dan di tempat pembuangan seperti ini, sumber daya terbaik selalu berada di tempat pertukaran nyawa."

Chu Chen tidak bertanya arah. Niat Spiritualnya yang telah diperkuat oleh energi Raja Fana Lin Tian menyapu kawasan dalam jangkauan sepuluh mil tanpa disadari oleh para ahli Istana Jiwa di sekitarnya. Ia dengan mudah menemukan titik kumpul Qi dan darah paling pekat di kota tersebut.

Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di depan sebuah bangunan melingkar raksasa yang menyerupai gelanggang pertarungan maut, terbuat dari tengkorak paus purba dan lempengan besi merah. Di atas gerbangnya terukir nama: Kubah Besi Darah.

Ini adalah pasar budak sekaligus rumah lelang barang gelap terbesar di Pelabuhan Besi Berdarah.

Dua penjaga Istana Jiwa Tahap Awal berdiri di gerbang. Mereka menyipitkan mata melihat kelompok Chu Chen. Meng Fan dan Bai terlihat lemah, sementara Chu Chen hanya memancarkan aura Inti Emas Tahap Menengah.

"Uang masuk. Lima puluh Batu Roh Tingkat Menengah per orang," bentak penjaga itu, berniat memeras mereka.

Sebelum penjaga itu bisa mengeluarkan ancaman lebih lanjut, Chu Chen melemparkan sebuah kantong berisi seratus lima puluh Batu Roh Tingkat Menengah langsung ke wajah sang penjaga. Kantong itu menghantam hidung si penjaga dengan kekuatan yang cukup untuk membuat tulang rawannya retak pelan.

"Ugh!" Penjaga itu mundur, memegangi hidungnya yang berdarah. Ia hendak mengamuk, namun saat ia melihat sepasang mata emas vertikal Chu Chen menatapnya dari balik tudung jubah abu-abunya, hawa dingin yang meremukkan sumsum tulang langsung membekukan amarahnya. Penjaga itu menelan kutukannya dan membiarkan mereka masuk dalam diam.

Suasana di dalam Kubah Besi Darah sangat bising dan mencekik. Ribuan kursi melingkari sebuah panggung batu raksasa di tengah.

Lelang sedang berlangsung. Bukan hanya memperebutkan pusaka, senjata, atau rumput spiritual, melainkan juga nyawa manusia. Di atas panggung, puluhan kultivator wanita dan pria dari benua bawah dengan berbagai bakat unik sedang dilelang sebagai tungku kultivasi ganda atau petarung maut.

Chu Chen, Bai, dan Meng Fan mengambil tempat duduk di barisan tengah yang agak gelap.

Tepat pada saat itu, seorang pria muda berpakaian sutra biru laut yang disulam dengan benang emas melangkah masuk ke dalam bilik kehormatan terbuka di lantai dua, didampingi oleh dua ahli Istana Jiwa Tahap Puncak. Pria muda itu memegang sebuah cambuk kulit ikan pari, wajahnya sangat angkuh dengan ciri khas mata yang agak cekung.

Saat ia duduk, seluruh pembeli di lantai bawah langsung menunduk dan terdiam hormat.

"Itu Xie Sha," bisik Bai, suaranya sedikit menegang. "Tuan Muda Klan Hiu Hitam. Ayahnya adalah penguasa kota ini, seorang Raja Fana Tahap Menengah. Orang inilah yang dimaksud oleh penjaga bermata satu yang kau bunuh di kapal tadi."

Chu Chen melirik ke arah bilik kehormatan itu dengan ekor matanya. Ia merasakan gejolak Qi Xie Sha berada di Alam Inti Emas Puncak. Seorang anak manja yang dibangun oleh sumber daya ayahnya, namun memiliki dua anjing penjaga Istana Jiwa Puncak yang cukup mematikan.

Di atas panggung, juru lelang yang bertelanjang dada dan dipenuhi tato tersenyum lebar menyambut kedatangan Xie Sha.

"Selamat datang, Tuan Muda Xie! Merupakan sebuah kehormatan Kubah Besi Darah dikunjungi oleh Anda!" seru juru lelang itu. "Kebetulan sekali, barang lelang kita yang selanjutnya adalah barang yang baru saja dikeruk dari Penjelajahan Reruntuhan Laut Dalam di timur!"

Juru lelang memberi isyarat. Empat budak raksasa dengan susah payah mendorong sebuah kereta besi ke atas panggung. Di atas kereta itu, teronggok sebuah bongkahan batu karang hitam sebesar kereta kuda. Di tengah batu karang tersebut, tertanam sebuah benda yang menyerupai sisik raksasa berwarna hitam legam.

Benda itu tidak memancarkan cahaya maupun Qi. Terlihat seperti sepotong besi rongsokan yang kebetulan memiliki bentuk yang aneh.

Namun, saat penutup kainnya dibuka, jantung Chu Chen di dalam dadanya seolah dihantam palu godam. Darah Dewa Naga Primordialnya bergejolak hebat, memompa darah mendidih ke seluruh meridiannya. Rasa lapar dan getaran selaras purba yang ribuan kali lipat lebih kuat dari saat ia melihat Fosil Tulang Naga di Benua Biru Langit meledak di benaknya!

"Itu... Sisik Kaisar!" Suara Long Di bergema liar di kesadaran Chu Chen. "Itu bukan sekadar sisa-sisa ras kita... Itu adalah salah satu Sisik Terbalik milik jenderalku di masa lalu! Benda itu menyimpan kemurnian darah naga sejati!"

Tangan Chu Chen yang bertumpu di paha kursi mencengkeram pegangan kayu hingga hancur menjadi serpihan. Jika ia menelan sisik itu, Zirah Tulang Naganya akan berevolusi, dan garis keturunannya akan melompat ke tahap berikutnya!

Di atas panggung, juru lelang memukul batu karang itu dengan pedang spiritual tingkat bumi. TRANG! Pedang itu patah, sementara batu dan sisik hitam di dalamnya tidak tergores sedikit pun.

"Lihatlah kekerasannya! Kami tidak tahu dari binatang laut apa sisik ini berasal, dan sayangnya, benda ini menolak segala bentuk aliran Qi manusia, sehingga tidak bisa ditempa menjadi senjata atau zirah. Oleh karena itu, benda ini hanya cocok sebagai barang koleksi atau fondasi susunan formasi pelindung berat!" teriak sang juru lelang. "Harga awal... lima ribu Batu Roh Tingkat Menengah!"

Kerumunan mendengus kecewa. Lima ribu Batu Roh Tingkat Menengah untuk sebuah batu keras yang tidak bisa diolah? Itu harga yang konyol.

Namun, di bilik kehormatan, Xie Sha tertawa pelan. "Ayahku sedang membangun kolam pemandian baru. Benda hitam itu terlihat cukup kuat untuk dijadikan batu loncatan di dasar kolam."

Xie Sha mengangkat tangannya dengan malas. "Enam ribu Batu Roh."

Aula itu hening. Tidak ada yang cukup bodoh untuk melawan tawaran Tuan Muda Klan Hiu Hitam hanya demi sepotong rongsokan laut. Juru lelang pun sudah tersenyum lebar dan mengangkat palu lelangnya.

"Enam ribu Batu Roh dari Tuan Muda Xie! Adakah—"

"Sepuluh ribu."

Sebuah suara yang tenang, dingin, dan sedatar permukaan pedang memotong kesunyian aula.

Ribuan kepala sontak berputar ke arah barisan tengah yang gelap. Bai memucat di balik kerudungnya, sementara Meng Fan membenamkan wajahnya ke kedua tangannya, siap menyambut kiamat.

Di bilik kehormatan, senyum Xie Sha lenyap. Matanya yang cekung menatap tajam ke bawah. "Siapa keparat yang berani menaikkan harga dariku? Sebutkan namamu!"

Chu Chen perlahan berdiri dari kursinya. Ia menyingkap tudung jubahnya, memperlihatkan wajahnya yang tenang dengan sepasang mata hitam pekat yang menatap balik ke arah Xie Sha tanpa setetes pun rasa segan.

"Seorang pendatang baru yang kebetulan sedang mencari alas kaki," jawab Chu Chen, suaranya dikeraskan dengan Qi Inti Emasnya hingga menggema di seluruh kubah lelang. "Batu itu tampak pas. Sepuluh ribu Batu Roh."

Wajah Xie Sha merah padam. Di Pelabuhan Besi Berdarah, tidak ada yang pernah menentangnya secara terbuka. Terlebih lagi, orang ini memancarkan aura Inti Emas Tahap Menengah—seekor cacing tanah dari benua bawah!

Xie Sha mencondongkan tubuhnya ke pagar balkon. "Sepuluh ribu? Kau pikir kau punya uang sebanyak itu, Pengungsi? Penjaga! Potong lidahnya dan lempar dia ke—"

Sebelum Xie Sha menyelesaikan kalimatnya, Chu Chen merogoh Cincin Penyimpanan Xue Kuang yang ia bawa. Dengan satu jentikan, sebuah gunung kecil yang terdiri dari sepuluh ribu Batu Roh Tingkat Menengah tumpah ruah dan menghantam lantai aula dengan suara gemuruh, memancarkan cahaya spiritual yang membutakan mata semua orang.

Chu Chen menatap Xie Sha, sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk senyum pemangsa.

"Aku sudah membayarnya," ucap Chu Chen pelan. "Sekarang... kau ingin mencoba memotong lidahku, Tuan Muda?"

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!