Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tepung dan Detak Jantung yang Tak Beraturan
Dapur kediaman Dirgantara yang biasanya hanya diisi oleh keheningan dan aroma kopi mahal, hari ini berubah drastis. Aroma mentega cair dan vanila memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat yang sangat asing bagi rumah itu. Gisella, dengan apron merah muda yang dipinjamkan Nyonya Widya, tampak sibuk menimbang terigu. Rambutnya diikat asal, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah manisnya.
"Gisel, kau tahu, Arsel itu sangat suka kue buatan rumah, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya," ujar Nyonya Widya sambil mengocok telur dengan anggun.
Gisel tertawa renyah. "Saya rasa Pak Arsel memang gengsi dalam segala hal, Tante. Termasuk untuk sekadar bilang 'terima kasih' atau 'tolong'."
"Tepat sekali! Makanya, hari ini kita buatkan dia kejutan," sahut Nyonya Widya.
Tepat saat itu, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Arsel muncul dengan kaos santai dan celana pendek, tampak jauh lebih rileks namun tetap memiliki aura yang mendominasi. Ia masuk ke dapur berniat mengambil air mineral di kulkas, namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di depannya.
"Ibu sedang apa? Dan kenapa... dia ada di sini lagi?" tanya Arsel, matanya melirik Gisel yang sedang sibuk dengan tepung.
"Gisel sedang membantu Ibu membuat kue. Nah, kebetulan kamu di sini, Arsel. Bantu Gisel mengaduk adonan tepung ini ya? Tangan Ibu agak pegal," ujar Nyonya Widya dengan akting yang sangat meyakinkan.
"Bu, aku bukan koki. Aku ada kerjaan di atas," tolak Arsel cepat.
Tiba-tiba, ponsel Nyonya Widya berdering di atas meja. Ia melihat layarnya dan pura-pura terkejut. "Aduh, ini telepon penting dari yayasan! Arsel, tolong gantikan Ibu sebentar saja. Gisel tidak bisa mengaduk adonan yang berat itu sendirian. Ibu ke depan dulu ya!"
Tanpa menunggu jawaban, Nyonya Widya melesat pergi, meninggalkan Arsel dan Gisel dalam kecanggungan yang luar biasa.
Arsel menghela napas panjang, namun ia tetap melangkah mendekat. Ia berdiri di samping Gisel, mengambil wadah besar berisi tepung. Jarak mereka sangat dekat, hingga Gisel bisa mencium aroma sabun mandi Arsel yang segar.
"Sini, biar saya yang aduk. Kamu hanya akan membuat dapur ini berantakan," ketus Arsel.
"Duh, galak banget sih, Pak. Pelan-pelan ya, itu tepungnya halus banget, jangan dikocok kayak lagi marah sama saingan bisnis," goda Gisel dengan gaya ceriwisnya.
Arsel tidak menghiraukan. Ia mulai mengaduk dengan tenaga yang terlalu besar. Karena tidak terbiasa dengan tekstur tepung yang ringan, dalam satu sentakan kuat, debu tepung beterbangan ke atas.
*Puff!*
Dalam sekejap, wajah tampan Arsel tertutup bedak putih tipis. Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, hingga bibirnya yang tegas kini berwarna putih serupa hantu.
Gisel terdiam sedetik, lalu tawanya meledak. "Hahahaha! Pak Arsel! Bapak... Bapak jadi kayak donat gula!" Gisel tertawa sampai memegangi perutnya, air mata hampir keluar karena melihat ekspresi Arsel yang sangat syok namun terlihat konyol.
Arsel mematung. Ia merasa harga dirinya jatuh di depan sekretarisnya sendiri. Melihat Gisel tertawa begitu lepas dan cantik, ada rasa kesal yang bercampur dengan sesuatu yang aneh di dadanya.
"Berhenti tertawa, Gisella," desis Arsel sambil mencoba mengusap wajahnya, namun tangannya yang juga penuh tepung justru membuat wajahnya semakin berantakan.
"Maaf, Pak... tapi Bapak lucu banget! Sini saya bantu..." Gisel mencoba mendekat dengan tisu, tapi tawanya belum juga berhenti.
"Oh, kamu mau menertawakan saya?" Arsel menyeringai tipis, sebuah seringai yang jarang terlihat. Ia mengambil sejumput tepung dan dengan gerakan cepat mencolek hidung Gisel.
"Ih! Pak Arsel!" Gisel terpekik kaget saat merasakan dinginnya tepung di hidungnya.
"Rasakan itu," ucap Arsel puas.
"Nggak adil! Bapak yang ceroboh kok saya yang kena!" Gisel mencoba membalas, namun Arsel lebih cepat menghindar.
Terjadilah aksi kejar-kejaran kecil di sekitar meja dapur yang luas itu. Gisel berlari sambil membawa segenggam tepung, tertawa dan berteriak kecil saat Arsel mencoba menangkapnya. Namun, di tengah keceriaan itu, bencana kecil terjadi.
Lantai dapur yang terbuat dari marmer menjadi licin karena ceceran tepung dan sedikit tumpahan air dari wastafel. Saat Gisel hendak berbelok, kakinya terpeleset.
"Aaa!" Gisel kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke belakang.
"Gisella!"
Dengan refleks yang sangat cepat, Arsel merengkuh pinggang Gisel. Ia menarik tubuh gadis itu ke arahnya agar tidak menghantam lantai keras. Kekuatan tarikan Arsel membuat Gisel menubruk dada bidangnya dengan keras.
Waktu seolah berhenti.
Gisel terengah-engah, kedua tangannya secara alami berpegangan pada bahu Arsel. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Gisel bisa merasakan detak jantung Arsel yang berdegup kencang, sama kencangnya dengan miliknya. Mata elang Arsel yang biasanya dingin kini tampak dalam dan... hangat. Tatapannya tertuju pada bibir Gisel yang sedikit terbuka.
Tangan Arsel yang besar masih melingkar erat di pinggang kecil Gisel, menekan tubuh "gitar Spanyol" itu hingga tak ada celah di antara mereka. Aroma vanila dari Gisel dan aroma maskulin Arsel menyatu, menciptakan ketegangan romantis yang membuat bulu kuduk berdiri.
Selama beberapa detik yang terasa selamanya, mereka hanya saling tatap. Arsel tidak melepaskannya, dan Gisel tidak ingin dilepaskan.
*Ehem!*
Suara deheman keras memecah keheningan. Nyonya Widya berdiri di pintu dapur dengan tangan bersedekap dan senyum penuh arti.
"Sepertinya Ibu melewatkan bagian paling seru dari pembuatan kue ini," sindir Nyonya Widya.
Arsel dan Gisel langsung tersentak. Arsel melepaskan pelukannya dengan kaku, berdeham sambil memalingkan wajah yang kini memerah entah karena tepung atau malu. Sementara Gisel sibuk merapikan apronnya, menunduk dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.
"Itu... dia tadi hampir jatuh, Bu," ujar Arsel membela diri, suaranya terdengar sedikit serak.
"Oh ya? Jatuh yang sangat lama ya sepertinya," goda Nyonya Widya lagi. "Sudahlah, cuci wajah kalian. Gisel, setelah ini temani Tante makan siang ya. Arsel, kamu juga."
Gisel hanya mengangguk kecil, tidak berani menatap Arsel. Namun di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang berubah. Sentuhan Arsel tadi tidak terasa seperti seorang atasan yang galak, melainkan seperti seorang pria yang... benar-benar ingin menjaganya.
Misi 100 miliar itu kini mulai terasa jauh lebih rumit daripada sekadar kontrak uang. Ada perasaan yang mulai ikut campur, dan Gisel takut ia akan kalah dalam permainannya sendiri.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏