NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13 Jangan Sentuh Aku!

"Kau benar-benar tidak berpikir panjang, Leo! Apa yang ada di dalam otakmu sampai kau membocorkan semuanya pada Dante?!" seru Venus sembari melempar handuk kecil ke arah adik iparnya dengan napas memburu.

Pagi itu, kedamaian rumah kecil di pinggiran Amsterdam tersebut hancur seketika setelah Leo mengaku bahwa ia telah membeberkan identitas mereka kepada Dante semalam.

Leo menunduk, meremas cangkir kopinya yang sudah dingin. "Aku hanya tidak tahan melihatnya berlagak menderita, kakak ipar. Aku ingin dia tahu bahwa luka yang dia ratapi selama tujuh tahun ini ada tepat di depan matanya. Aku ingin memberinya pelajaran!"

"Pelajaran?!" Venus mendekat, suaranya naik satu oktaf. "Kau memberinya pelajaran, tapi kau menaruh target di punggung Sean! Bagaimana jika pelaku kebakaran tujuh tahun lalu tahu Sean ada diantara kami? Bagaimana jika mereka tahu Sean adalah darah daging Dante Carson? Mereka tidak akan ragu untuk menghabisi anak itu demi menghancurkan Dante!"

"Maafkan aku... aku benar-benar tidak berpikir sampai ke sana. Aku hanya emosi melihatnya bersikap sok berkuasa," gumam Leo dengan penuh penyesalan.

Venus memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Ketakutan yang ia pendam selama tujuh tahun kini membayang nyata di depan mata. Ia harus bergerak cepat. Identitasnya sudah terbuka di depan Dante dan itu berarti jam pasir keselamatannya mulai habis.

"Kita tidak bisa hanya diam dan bersembunyi lagi," gumam Venus, matanya menatap kosong ke arah jendela. "Aku harus tahu siapa sebenarnya yang menginginkan kita mati malam itu. Tapi aku harus mulai dari mana? Semua bukti sudah hangus."

"Mulailah dari fondasinya, Ma. Bukan dari abunya."

Suara tenang itu membuat Venus dan Leo menoleh serentak.

Sean berdiri di ambang pintu dapur, tangannya memegang sebuah laptop kecil yang layarnya dipenuhi barisan kode dan peta digital.

"Sean? Kau seharusnya bersiap untuk belajar di kamar karena jatah skors mu masih dua hari lagi," ucap Venus.

"Belajar sejarah jauh lebih penting sekarang," sahut Sean sambil berjalan mendekati meja makan. Ia meletakkan laptopnya di hadapan Venus. "Mama bilang semua bukti sudah hangus? Secara fisik, mungkin ya. Tapi secara digital dan struktural, ada hal-hal yang tidak bisa dibakar."

Leo mengerutkan kening. "Apa maksudmu, bocah? Rumah lama kita itu sudah rata dengan tanah. Sekarang bahkan sudah berdiri bangunan lain di sana. Jejak apa yang mau kau cari?"

Sean menatap pamannya dengan tatapan meremehkan. "Paman pikir bangunan baru itu berdiri begitu saja? Aku sudah meretas arsip dinas tata kota dan izin bangunan untuk lahan lama kita. Ada sesuatu yang aneh."

Sean menekan tombol enter, menampilkan sebuah skema bangunan tua dan izin pembangunan baru.

"Rumah kita terbakar karena ledakan gas, kan? Itu versi beritanya." Sean menunjuk sebuah titik merah di skema. "Tapi lihat izin pembangunan gedung yang sekarang berdiri di sana. Pemiliknya adalah perusahaan cangkang bernama Golden Lotus. Perusahaan itu membeli lahan tersebut hanya tiga hari setelah kebakaran, bahkan sebelum polisi selesai melakukan olah TKP."

Venus mendekat, matanya memicing meneliti data tersebut. "Tiga hari? Itu terlalu cepat. Biasanya butuh waktu berbulan-bulan untuk urusan sengketa lahan pasca bencana."

"Tepat!" Sean menyeringai tipis, memperlihatkan kecerdasan yang sangat mirip dengan Venus. "Dan coba tebak siapa pemegang saham terbesar di perusahaan cangkang itu? Aku melacak aliran dananya melalui beberapa akun di kepulauan Cayman. Semuanya bermuara pada satu nama, Keluarga Rodriguez."

Leo tersentak hingga hampir menjatuhkan kopinya.

"Rodriguez? Itu keluarga Bianca! Orang tuanya!"

"Benar," ucap Sean datar. "Jadi, teka-teki nya sederhana. Mereka tidak membakar rumah itu untuk sekadar membunuh mama. Mereka membakar rumah itu untuk menghapus sesuatu yang ada di bawah tanah rumah kita. Dan mereka butuh lahan itu segera agar mereka bisa membangun fondasi beton di atas rahasia tersebut."

Venus membeku. Ingatannya kembali ke masa tujuh tahun lalu. Ia teringat Dante pernah menyimpan sebuah brankas kecil di ruang bawah tanah yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari dan kunci khusus. Dante bilang itu adalah asuransi nyawa mereka.

"Dante pernah bilang ada dokumen tentang penggelapan pajak dan perdagangan ilegal yang dilakukan keluarga Rodriguez di sana. Itu sebabnya mereka ingin kita mati. Mereka ingin dokumen itu hilang."

"Jika mereka membangun gedung di atasnya, berarti brankas itu mungkin masih ada di sana, tertimbun beton," Leo menimpali dengan semangat.

"Bukan tertimbun," potong Sean. "Aku memeriksa desain

basement gedung baru itu. Ada satu ruangan yang tidak terdaftar di denah resmi. Sebuah ruang kosong tepat di koordinat ruang bawah tanah rumah lama kita. Mereka tidak menghancurkannya, mereka menyembunyikannya."

Venus menatap putranya dengan rasa bangga sekaligus ngeri. "Sean, kau melakukan semua ini sendirian?"

"Internet adalah perpustakaan yang luas, Ma. Asal kita tahu buku mana yang harus dibuka," jawab Sean santai. "Sekarang pertanyaannya, apakah Mama cukup berani untuk masuk ke gedung itu dan mengambil apa yang menjadi milik kita? Atau Mama mau menunggu paman udang yang melakukannya?"

"Paman udang?" Leo mengernyit.

"Ck! Kakakmu!" sahut Sean malas.

Venus mengepalkan tangannya. "Tidak Sean. Ini urusan Mama. Mama tidak akan membiarkan Dante atau Bianca selangkah lebih maju lagi."

"Bagus!" Sean menutup laptopnya. "Aku akan menyiapkan rute pelarian dan mematikan kamera pengawas gedung itu saat Mama masuk nanti. Paman Leo, siapkan peralatan mu. Jangan cuma bisa mencium tangan orang, kali ini Paman harus benar-benar berguna."

Leo hanya bisa melongo, menatap keponakannya yang baru berusia enam tahun itu. "Anak ini! Kenapa kau selalu membahas soal itu!"

Sea mengedikan bahunya acuh. "Entahlah."

Venus menarik napas panjang. Teka-teki itu mulai terkuak, dan ia tahu, malam ini sejarah akan menuntut balas. Dengan kecerdasan Sean sebagai kompasnya, Venus siap kembali ke titik di mana hidupnya dihancurkan. Dan merebut kembali kebenaran yang terkubur di bawah beton kebohongan keluarga Bianca.

*****

"Apa mungkin Dante sudah tahu semua ini, Kak?" tanya Leo sembari melangkah keluar rumah mengikuti Venus.

"Bisa jadi. Mungkin itu alasan sesungguhnya dia terikat dengan Bianca," balas Venus dingin. "Tapi masa bodoh. Aku sudah tidak peduli lagi padanya!"

Leo melirik kakak iparnya, mencoba mencari celah di balik topeng itu. "Kau yakin, Kak? Kau benar-benar sudah tidak mencintainya?"

"T–tentu saja tidak! Jangan tanyakan hal bodoh, Leo," balas Venus dengan nada yang sedikit gugup.

Langkah Venus mendadak membeku. Di depan gerbang, sebuah mobil yang sangat ia kenal sudah terparkir. Dante keluar dari sana, berdiri diam menatap Venus.

Udara Amsterdam pagi itu seolah berhenti mengalir.

Mata Dante berkaca-kaca menatap sosok yang tujuh tahun ini menghantui setiap mimpinya.

"Venus..." bisik Dante parau.

Ada kerinduan yang membuncah. Jika tahu detektif Ve adalah istrinya, Dante sudah memeluknya sejak kemarin.

Ia melangkah maju, tangannya gemetar hendak merengkuh tubuh wanita itu dalam pelukan yang sangat lama.

Sayangnya, sebelum jemari Dante menyentuhnya, Venus menepis tangan itu dengan kasar.

"Jangan sentuh aku, Tuan Dante," ucap Venus tajam.

Dante terpaku, hatinya hancur mendengar ucapan Venus yang kini terasa seperti tembok baja yang tak tertembus.

1
Dew666
💟💟💟💟
🅰️Rion bee 🐝
👍👍👍👍👍..
Kinara Widya
😂😂😂😂😂
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Nice1808: 🤣🤣iya kak
total 4 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
Jungkookieeeeeee97🐰
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
Jungkookieeeeeee97🐰
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Jungkookieeeeeee97🐰
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
Jungkookieeeeeee97🐰
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
Jungkookieeeeeee97🐰
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!