NovelToon NovelToon
Salah Meja Jadi Istri CEO

Salah Meja Jadi Istri CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Slice of Life / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Office Romance
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?

​Pagi itu, meja makan di rumah besar Sebasta terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan, tapi karena aura "perang dingin" yang dipancarkan oleh Aneska. Ia sudah rapi dengan kemeja oversized dan celana kain high-waist, tas kerjanya sudah bertengger manis di atas meja.

​Arga yang baru saja turun dengan setelan jas lengkap, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit menatap penampilan istrinya.

​"Kamu mau ke mana, Nes?" tanya Arga, suaranya rendah namun penuh otoritas.

​"Kerja, Arga. Kan cuti nikah gue udah abis," sahut Aneska cuek sambil menyuap roti bakarnya dengan kasar.

​Arga menarik kursi di depan Aneska, lalu menghela napas panjang. "Gue kira kita udah bahas ini, Sayang. Kamu nggak perlu kerja capek-capek di agensi itu lagi. Masalah uang? Gue udah kasih Black Card di dompet lo. Limitnya nggak terbatas. Mau lo beli mal-nya sekalian juga silakan."

​Aneska meletakkan rotinya, matanya menatap Arga tajam. Sisi bar-barnya mulai naik ke permukaan. "Gue kuliah empat tahun bukan buat jadi pajangan di rumah lo, Arga! Gue suka kerjaan gue. Gue suka meeting sama klien, gue suka bikin konsep iklan. Gue bukan boneka yang bisa lo kurung di rumah cuma buat lo manjakan!"

​"Tapi gue mau manjain lo, Aneska!" Arga mulai menaikkan nada bicaranya, sisi dominannya terusik. "Gue mau pas gue pulang, lo udah ada di rumah. Gue mau kita bisa belanja kapan pun lo mau tanpa lo harus pusing mikirin deadline kantor. Apa yang kurang? Fasilitas? Mobil? Uang?"

​"Yang kurang itu harga diri gue sebagai perempuan mandiri!" Aneska berdiri, menyambar tasnya. "Gue nggak mau cuma jadi parasit yang nungguin duit suami. Gue punya kaki buat melangkah sendiri!"

​Aneska melengos pergi, meninggalkan Arga yang hanya bisa memijat pangkal hidungnya dengan frustrasi.

......................

​Malam Harinya: Mogok Nasional

​Pertengkaran pagi itu berlanjut hingga malam. Arga masuk ke kamar dengan harapan Aneska sudah melunak, namun yang ia temukan adalah Aneska yang meringkuk di pojok tempat tidur, terbungkus selimut rapat seperti kepompong, dan membelakanginya.

​"Nes... makan malam yuk? Gue pesenin makanan kesukaan lo," bujuk Arga pelan. Ia mencoba duduk di tepi ranjang dan menyentuh bahu Aneska.

​"Jangan sentuh! Gue lagi mogok!" suara Aneska teredam selimut.

​Arga mengernyit. "Mogok apa?"

​"Mogok melayani suami! Lo egois, gue juga bisa egois. Selama lo nggak izinin gue kerja, jangan harap lo bisa dapet 'jatah' atau dapet pelukan dari gue. Tidur aja sana di sofa!"

​Arga melongo. Sebagai pria yang memiliki libido hyper dan sangat terobsesi pada istrinya, ancaman ini adalah hukuman mati baginya. Baru dua hari lalu mereka menghabiskan waktu panas di meja kerja, dan sekarang dia harus puasa?

​"Nes, jangan bercanda. Lo tahu kan gue nggak bisa tidur kalau nggak meluk lo?" Arga mencoba merangkak masuk ke bawah selimut, tapi Aneska langsung menendang kaki Arga.

​"Sana! Pergi! Tidur sama Black Card lo itu sana!"

​Arga mendengus frustrasi. Ia keluar dari kamar sejenak, lalu kembali lagi dengan sebuah amplop cokelat dan sebuah kartu baru. Ia naik ke tempat tidur, memaksa Aneska berbalik menghadapnya.

​"Oke, oke! Kita negosiasi," ucap Arga menyerah. "Gimana kalau begini... lo tetep di rumah, tapi gue kasih lo 'gaji' pribadi. Di luar uang belanja rumah, di luar kartu hitam itu. Gue kasih lo seratus juta per bulan. Anggap itu gaji lo kerja buat gue. Lo bisa foya-foya, beli tas baru tiap minggu, terserah! Yang penting lo nggak usah ke kantor agensi itu lagi."

​Aneska menatap amplop itu, lalu menatap Arga dengan pandangan meremehkan. "Seratus juta? Mas Arga, lo pikir gue ini cewek matre yang bisa lo beli ambisinya pakai duit segitu?"

​"Kurang? Oke, dua ratus juta!" seru Arga panik.

​Aneska justru tertawa sinis. "Denger ya, Perjaka Tua. Masalahnya bukan di angka. Tapi di kepuasan batin. Gue bangga pas dapet gaji dua belas juta dari hasil keringet gue sendiri daripada dapet satu miliar tapi cuma hasil 'ngemis' sama suami. Gue selama ini kuliah juga buat dapet kerjaan yang gue suka, bukan buat dapet suami CEO!"

​Arga terdiam. Ia baru sadar kalau istrinya ini memang se-keras kepala itu.

​"Gue bahkan nggak mau kerja di kantor Papa Hendra karena gue mau mandiri, apalagi cuma jadi nyonya sosialita di rumah lo. Kalau lo beneran sayang sama gue, lo harusnya dukung karier gue, bukan malah mau motong sayap gue!" Aneska kembali berbalik membelakangi Arga. "Pintu keluar ada di sana. Selamat malam!"

​Arga duduk termenung di kegelapan kamar. Ia menatap punggung Aneska dengan rasa gemas sekaligus kagum yang luar biasa. Istrinya ini memang beda. Di saat wanita lain mengincar posisinya demi kemewahan, Aneska justru merasa terhina jika kemandiriannya dirampas.

​Arga tidak menyerah. Ia merangkak mendekat, memeluk tubuh Aneska dari belakang dengan sangat erat, mengabaikan protes kecil dari istrinya.

​"Anes... dengerin gue," bisik Arga di ceruk leher Aneska, suaranya kini terdengar tulus dan sedikit manja. "Gue cuma takut. Gue takut lo terlalu sibuk sampai lo lupa punya suami yang haus perhatian ini. Gue takut cowok-cowok di kantor lo kayak si Satria itu bakal deketin lo lagi."

​"Mas, Satria kan udah lo mutasi!" omel Aneska tanpa berbalik.

​"Iya, tapi pasti ada Satria-Satria lainnya," Arga mencium bahu polos Aneska dengan lembut. "Oke, gue kalah. Gue izinin lo kerja kembali ke agensi itu. Tapi dengan tiga syarat mutlak."

​Aneska langsung berbalik, matanya berbinar. "Apa?"

​"Satu, nggak boleh lembur. Jam lima sore lo harus udah di jemput sopir. Dua, gue bakal pasang satu orang pengawal pribadi yang bakal nungguin lo di lobi kantor—buat jaga-jaga kalau ada yang macem-macem. Tiga..." Arga menyeringai nakal, tatapannya berubah gelap dan mendominasi. "...karena gue udah ngalah, lo harus bayar 'kerugian' gue malam ini. Empat ronde. Tanpa bantahan."

​Aneska melongo. "Empat ronde?! Arga, besok gue harus pitching depan klien!"

​"Nggak peduli. Pilihannya cuma dua: Berhenti kerja, atau empat ronde malam ini," Arga mulai menindih tubuh Aneska, tangannya sudah mulai nakal menjelajahi lekuk tubuh istrinya.

​Aneska menghela napas panjang, namun tangannya mulai melingkar di leher Arga. Sifat bar-barnya memang kuat, tapi pesona suaminya yang hyper perhatian ini selalu berhasil membuatnya lemas.

​"Dasar om-om licik! Ya udah, empat ronde! Tapi awas ya kalau besok gue telat ke kantor!"

​"Tenang aja, Nyonya Sebasta. Gue sendiri yang bakal pastiin lo sampai di kantor tepat waktu... meski mungkin lo harus jalan agak pincang sedikit," bisik Arga sebelum membungkam bibir Aneska dengan ciuman yang sangat panas.

​Malam itu, perang dingin berakhir dengan ledakan gairah yang jauh lebih dahsyat. Arga menyadari bahwa menaklukkan Aneska tidak bisa dengan uang, tapi dengan pengertian... dan tentu saja, sedikit paksaan manis di atas ranjang.

1
Aidil Kenzie Zie
Anes sangat beruntung
Ariska Kamisa: tapi anes nge gas terus yaa🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
didunia nyata apakah ada yang seperti Arga 🤔🤔🤔
Ariska Kamisa: seperti nya 1001 kak🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Allah Arga ... 😱
umie chaby_ba
so sweet
umie chaby_ba
👍👍👍👍
umie chaby_ba
satria oh satria bikin Arga kesurupan
umie chaby_ba
arga nyebut ga !
umie chaby_ba
anes iiih 🤭
umie chaby_ba
astagfirullah...🤣🤣🤣
umie chaby_ba
arga 🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ya Allah Arga udh kebelet banget 🤭
umie chaby_ba
suka suka suka
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
gercep Amayyy
umie chaby_ba
gemas banget sih arga🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ada siangan nih.
Ariska Kamisa: saingan kali... 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
cerita nya asik nih, ringan ... aku suka yang bucin gini tapi ceweknya sok cuek /Curse//Curse//Curse//Curse/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
ciee ngajak ngebubur duluan🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
apakah sebenarnya itu rencana para papa mereka berdua?
Ariska Kamisa: pintar...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!