NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan di Pintu Gerbang Sang Raja Bisnis

Matahari pagi bersinar cerah, memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan dari kaca-kaca gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di pusat kota. Di depan gerbang utama yang megah dan menjulang gagah, dua gadis cantik berdiri terpaku, mulut sedikit menganga tak percaya menyaksikan pemandangan di hadapan mereka.

Ziva dan Zea akhirnya sampai di tujuan pertama mereka hari ini: Gedung Pusat Grup Arganza.

Dari luar saja, gedung itu sudah tampak seperti istana masa depan yang tak tersentuh, kokoh, megah, dan memancarkan aura kekuasaan yang luar biasa. Ziva yang selama ini bangga dengan kemegahan perusahaan milik keluarganya sendiri, kini harus mengakui kenyataan pahit yang dikatakan Zea kemarin sore. Ternyata benar, Grup Arganza ini ukurannya, luasnya, dan kemegahannya jauh melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan. Gedung ini setidaknya dua kali lipat lebih besar, lebih tinggi, dan jauh lebih mewah dibandingkan kantor pusat keluarga Sterling.

"Astaga... Kak, aku rasanya seperti sedang bermimpi," bisik Zea dengan suara bergetar penuh kekaguman, matanya berbinar-binar bagai melihat bintang jatuh. Ia menoleh ke arah Ziva dengan wajah penuh semangat dan antusiasme yang meluap-luap. "Benar-benar luar biasa ya? Aku nggak menyangka bakal bisa menginjakkan kaki dan bekerja di tempat sehebat ini. Dan tahu nggak Kak? Di kalangan mahasiswa dan dunia bisnis, ada banyak banget rumor soal pemilik perusahaan ini. Katanya, CEO-nya itu masih sangat muda, tampan luar biasa, kaya raya, dan sangat berwibawa. Banyak gadis yang rela antre panjang cuma buat bisa sekadar menatap wajahnya dari jauh. Aku jadi penasaran banget nih, sebenernya seberapa tampan sih dia sampai bisa bikin seluruh kota heboh begini?"

Ziva hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang lagi-lagi terlihat sangat antusias dan berlebihan. Ia menyikut lengan Zea pelan dengan nada bercanda namun ada pesan tersirat di dalamnya.

"Hati-hati lho kalau bicara begitu, Dek. Kalau sampai 'Singa Penjaga' di rumah sana dengar kamu memuji-muji pria lain dan bilang penasaran sama orang lain, bisa-bisa dia mengamuk lagi. Ingat hukuman semalam? Kamu masih lelah kan akibat ulahnya itu?" goda Ziva sambil tersenyum miring, mengingatkan kembali kejadian semalam yang membuat Zea bangun dengan leher penuh tanda merah.

Wajah Zea seketika berubah merah padam mendengar sindiran itu. Ia menunduk malu, memainkan ujung bajunya dengan gugup.

"Aku juga heran sih sebenernya... kenapa Kak Kevin bisa bersikap begitu ke aku. Sikapnya itu... bukan seperti kakak kandung sama sekali. Dia posesif banget, cemburuan, dan selalu menganggap aku miliknya. Jujur, kadang aku merasa malu dan bersalah banget kalau ketemu Mama sama Papa. Aku merasa kayak menyembunyikan dosa besar dari mereka. Rasanya berat sekali menanggung rahasia ini sendirian," ucap Zea pelan, nadanya berubah sendu dan sedikit sedih.

Melihat perubahan suasana hati adiknya, Ziva segera menangkup kedua bahu Zea, menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh pengertian.

"Kamu tidak perlu merasa bersalah atau takut, Zea. Dengarkan Kakak baik-baik. Kalian itu tidak ada ikatan batin atau hubungan emosional layaknya kakak beradik biasa. Dan yang paling penting, secara darah dan keturunan, kalian berdua sama sekali tidak ada hubungan keluarga. Kalian orang asing yang kebetulan tinggal satu atap saja. Jadi, kalau kamu menyukai Kevin dan merasa bahagia bersamanya, Kakak akan merestui dan mendukungmu sepenuhnya. Tapi kalau suatu saat dia membuatmu menangis, menyakitimu, atau kamu merasa tidak nyaman dan tidak menyukainya lagi... jangan takut apa pun. Kakak akan menjadi garda terdepan, menjadi tameng dan pedangmu. Aku akan melindungimu sekuat tenaga dari Kevin atau siapa pun yang berani menyakitimu. Ingat itu ya," ucap Ziva tegas namun lembut, memberikan kekuatan pada adiknya.

Zea tersenyum haru, mengangguk pelan. Rasa cemas di hatinya perlahan menghilang mendengar dukungan tulus dari kakak kembarnya sendiri.

Namun, obrolan hangat mereka harus terhenti seketika.

Tidak jauh dari depan pintu masuk utama, di bawah naungan atap yang menjulang indah, berdiri dua sosok pria yang baru saja turun dari mobil mewah hitam yang terparkir rapi. Sosok di depan memiliki postur tubuh tinggi tegap, wajah sangat tampan yang memancarkan wibawa luar biasa, tatapan matanya tajam namun dingin, dan aura kekuasaan yang begitu kental seolah seluruh dunia ada di bawah kakinya. Di belakangnya berdiri seorang pria lain berpakaian rapi, wajahnya kaku dan waspada, jelas terlihat sebagai asisten pribadi.

Pria tampan itu berhenti melangkah kakinya. Matanya yang sedari tadi dingin seketika membelalak lebar, rahangnya sedikit menurun, dan wajahnya menunjukkan ekspresi keterkejutan yang sangat nyata. Ia terpaku di tempatnya, menatap tak percaya ke arah dua gadis yang sedang berdiri berbicara itu.

Itu adalah Arsen. Pria yang ternyata adalah pemilik dan CEO dari Grup Arganza, orang terkaya nomor satu di kota ini, pria yang namanya dibisikkan dengan penuh kekaguman oleh semua orang.

"Ziva... Kenapa dia bisa ada di sini? Dan kenapa dia berdiri di depan pintu kantorku seolah-olah dia punya hak di sini?" gumam Arsen dalam hati penuh kebingungan dan keterkejutan. Ia menoleh sedikit ke arah asistennya, Fathan, yang juga tampak bingung melihat reaksi tuannya.

"Fathan," panggil Arsen pelan namun tegas. "Siapa kedua gadis itu? Apa urusan mereka datang ke sini pagi-pagi begini?"

Fathan segera melirik ke arah Ziva dan Zea, lalu kembali menjawab dengan sopan.

"Ah, Tuan. Mereka berdua adalah mahasiswi yang lolos seleksi magang di perusahaan kita bulan ini. Mereka baru saja tiba, sesuai jadwal yang Tuan tanda tangani kemarin," jelas Fathan singkat dan jelas.

Arsen terdiam sejenak, matanya masih tak lepas dari wajah Ziva yang beberapa hari ini hilang tanpa kabar berita. Di dalam hatinya, ada rasa lega bercampur rasa penasaran yang meluap-luap. Namun, akal sehatnya segera mengambil alih. Ia sadar, identitasnya sebagai CEO harus tetap dijaga profesionalitasnya, dan ia belum siap jika Ziva mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya—sang penguasa bisnis kota ini.

"Fathan, dengarkan perintahku baik-baik," bisik Arsen dengan nada serius. "Untuk sementara waktu, jangan beritahu siapa pun, termasuk mereka berdua, identitas asliku sebagai pemilik perusahaan. Perintahkan semua staf dan karyawan, mulai dari satpam hingga manajer, untuk memanggilku cukup dengan nama 'Arsen' saja, seolah aku hanya salah satu staf atau pejabat biasa. Aku ingin mengamati situasi dan... mengamati dia lebih dekat tanpa ada jarak jabatan."

"Baik, Tuan. Saya akan sampaikan perintah itu secepatnya kepada seluruh bagian," jawab Fathan patuh meski di dalam hatinya penuh kebingungan melihat tingkah tuannya yang aneh hari ini.

Arsen menarik napas panjang, berusaha menata kembali ekspresi wajahnya agar kembali tenang dan wajar. Ia baru saja akan berbalik badan berjalan masuk, namun kakinya terpaku lagi. Ternyata, Ziva dan Zea sudah berjalan mendekat dan kini berdiri tepat di hadapannya, jarak mereka hanya beberapa langkah saja.

Mata Arsen bertemu langsung dengan manik mata Ziva yang indah itu.

"Arsen...?" sapa Ziva pelan, matanya menatap pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan bingung sekaligus terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu Arsen di sini, di depan perusahaan terbesar ini, berpakaian sangat rapi dan mahal, terlihat sangat berbeda dari Arsen yang biasa ia kenal. "Kamu... apa yang kamu lakukan di sini? Sudah beberapa hari kita tidak bertemu, kamu sehat?"

Arsen membuka mulutnya hendak menjawab, namun belum sempat suara keluar, mulut kecil di samping Ziva sudah lebih dulu bersuara dengan lantang, polos, dan ceplas-ceplos tanpa melihat situasi atau keadaan.

"Eh? Kak Arsen? Bukannya dia itu... dia itu pria yang dulu... ehm... yang jadi 'cinta satu malam' sama Kakak ya?!" seru Zea dengan suara cukup keras, matanya membulat penuh keterkejutan menunjuk-nunjuk ke arah Arsen.

Kalimat itu meluncur begitu saja keluar dari mulut Zea tanpa disaring sedikit pun.

Di sebelah Arsen, Fathan yang sedari tadi berdiri tenang seketika matanya melotot lebar hingga hampir copot dari tempatnya. Rahangnya jatuh ke bawah, dan keringat dingin seketika membasahi punggungnya. Ia menatap Zea dengan pandangan tak percaya sekaligus penuh rasa waspada yang tinggi. 'Apa?! Cinta satu malam?! Dengan Tuanku Arsen?! Orang yang bahkan tidak pernah mau disentuh wanita mana pun?!' batin Fathan histeris.

Sementara itu, wajah Ziva seketika berubah menjadi merah padam menahan rasa malu yang luar biasa. Ia merasa ingin menghilang ditelan bumi saat itu juga. Tangannya refleks langsung menutup mulut adiknya yang lancang itu dengan kasar.

"ZEA!! Kamu bicara apa saja sih?! Diam kamu!" desis Ziva dengan suara tertahan, matanya melotot tajam ke arah adiknya itu. Ia benar-benar malu setengah mati. Kenapa adiknya ini tidak pernah bisa menjaga mulutnya, kenapa harus mengumbar hal-hal rahasia dan memalukan seperti itu di tempat umum, apalagi di depan orang asing, dan lebih parah lagi di depan asistennya yang tampak seram itu!

Ziva melirik ke arah Arsen yang berdiri diam dengan wajah yang sulit dibaca ekspresinya, lalu melirik asistennya yang menatap mereka seolah sedang menatap penjahat kelas kakap. Rasa canggung dan malu kini menyelimuti seluruh tubuh Ziva.

'Aduh... habis sudah reputasiku di sini. Hari pertama datang saja sudah buat ulah besar begini,' keluh Ziva dalam hati sambil menarik napas panjang berusaha tetap tenang menghadapi situasi kacau ini.

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Mimpi Pencatat: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!