Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - Waktu Yang Hampir Habis
Sore itu datang dengan cara yang terasa lebih berat dari biasanya. Langit tidak sepenuhnya gelap, tetapi juga kehilangan sisa terang yang biasanya bertahan lebih lama. Warna abu-abu menggantung rendah, membuat bangunan dan jalanan tampak lebih datar, seolah jaraknya menjauh sedikit dari pandangan.
Udara terasa lembap dan menekan pelan di kulit. Angin bergerak perlahan, membawa aroma yang tidak asing, seperti pertanda hujan yang tertunda. Orang-orang berjalan lebih cepat dari biasanya, sebagian menatap langit, sebagian lagi sibuk dengan langkah mereka sendiri tanpa benar-benar memperhatikan sekitar.
Airel Virellia berdiri di tepi jalan, beberapa langkah dari halte yang sudah terlalu ia kenal. Ia tidak langsung mendekat, hanya berdiri sebentar dengan pandangan lurus ke depan. Kakinya seperti tertahan, bukan karena tidak tahu arah, melainkan karena ada sesuatu dalam dirinya yang ragu untuk melanjutkan.
Namun seperti hari-hari sebelumnya, tubuhnya tetap bergerak. Langkahnya pelan, teratur, mengikuti kebiasaan yang sudah melekat tanpa perlu dipikirkan lagi. Ia melewati batas kecil antara jalan dan halte itu, lalu mendekati bangku di ujung yang selalu ia pilih.
Bangku itu kosong. Catnya semakin pudar dibanding beberapa bulan lalu, dan bagian kayunya mulai terasa kasar jika disentuh. Lampu di atasnya menyala redup, belum benar-benar diperlukan, tetapi sudah dinyalakan seperti antisipasi terhadap langit yang semakin gelap.
Airel duduk perlahan. Tasnya ia letakkan di samping, tangannya langsung bergerak melihat jam di pergelangan tangan tanpa sadar. Gerakan itu begitu alami, seperti napas yang tidak pernah ia sadari kapan dimulai.
17.43.
Angka itu tidak berubah, tapi maknanya terasa lebih berat hari ini. Tatapannya bertahan lebih lama dari biasanya, mengikuti pergerakan jarum detik yang terasa terlalu jelas. Setiap detik seolah memiliki suara, meski tidak benar-benar terdengar.
17.44.
Airel menarik napas pelan, mencoba menenangkan sesuatu yang mulai terasa tidak stabil di dalam dirinya. Biasanya, ia hanya akan menunggu sampai waktu bergeser, lalu membiarkan sore berjalan seperti biasa. Namun hari ini, pikirannya tidak berhenti di titik itu.
Ia mulai menghitung tanpa benar-benar berniat. Hari demi hari yang ia lalui, minggu yang berganti tanpa perubahan berarti, bulan yang terus berjalan tanpa jawaban, hingga akhirnya angka itu terbentuk dengan sendirinya di kepalanya.
Tujuh tahun.
Angka itu terasa berbeda ketika benar-benar dipikirkan. Tidak lagi sekadar informasi yang ia tahu, tetapi sesuatu yang bisa dirasakan beratnya. Ia menunduk sedikit, tangannya terdiam di atas pangkuan, sementara pikirannya terus bergerak tanpa bisa dihentikan.
Tujuh tahun berarti ribuan hari yang terlewati dengan pola yang hampir sama. Ribuan sore yang berakhir di tempat ini, dengan harapan yang tidak pernah benar-benar berubah. Ribuan langkah yang selalu membawa dirinya kembali ke titik yang sama tanpa pernah menemukan ujungnya.
Airel mengangkat wajahnya perlahan. Pandangannya kembali ke jalan di depannya yang masih kosong, hanya sesekali dilewati kendaraan yang tidak pernah berhenti. Tidak ada sosok yang ia kenal, tidak ada langkah yang mendekat ke arahnya.
Kekosongan itu terasa lebih luas hari ini. Tidak hanya di depan matanya, tetapi juga di dalam dirinya. Seolah sesuatu yang selama ini ia pegang mulai kehilangan bentuknya sedikit demi sedikit.
Ia menghela napas pelan, lalu tanpa sadar, sebuah pertanyaan muncul di dalam pikirannya.
Apa aku menunggu sesuatu yang bahkan tidak nyata?
Pertanyaan itu tidak terdengar, tetapi dampaknya terasa jelas. Dadanya mengencang sedikit, napasnya menjadi lebih pendek, dan pikirannya berhenti sejenak seperti menolak untuk melanjutkan ke arah itu.
Airel memejamkan mata sebentar. Ia tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk pertanyaan seperti ini sebelumnya. Selama ini, ia hanya berjalan, mengikuti apa yang ia yakini tanpa mencoba membongkarnya lebih dalam.
Namun hari ini berbeda. Perasaan gelisah yang muncul beberapa waktu terakhir seperti membuka celah kecil dalam keyakinannya. Dari celah itu, keraguan masuk perlahan, tanpa suara, tanpa peringatan.
Ia membuka matanya kembali. Jalan di depannya tetap sama, tidak ada perubahan yang bisa ia lihat. Kendaraan lewat, suara mesin datang dan pergi, lalu kembali sepi seperti semula.
Tangannya mencengkeram tali tas di sampingnya. Ia mencoba mengingat sesuatu yang selama ini terasa begitu dekat.
Suara itu.
Nada yang tidak pernah benar-benar ia lupakan.
“Tunggu aku.”
Dua kata itu selama ini cukup. Menjadi alasan, menjadi pegangan, menjadi sesuatu yang membuatnya tetap datang tanpa perlu penjelasan lain. Namun sekarang, kata-kata itu terasa sedikit lebih jauh, seperti memudar pelan tanpa ia sadari.
Airel menggigit bibirnya ringan. Bukan karena sakit, tetapi seperti menahan sesuatu yang tidak ingin ia biarkan keluar. Angin sore berembus lagi, menyapu rambutnya pelan, namun tidak membawa ketenangan seperti biasanya.
Ia mengangkat tangannya, melihat jam sekali lagi.
17.45.
Waktu yang sama. Detik yang sama. Namun tidak ada hal yang datang bersamanya.
Airel menatap lurus ke depan. Untuk beberapa saat, ia tidak melakukan apa-apa. Ia tidak mencoba berharap, juga tidak sepenuhnya berhenti menunggu. Ia hanya duduk, diam, mencoba memahami sesuatu yang terasa terlalu besar untuk dipikirkan sekaligus.
Langkah kaki terdengar dari samping. Tidak cepat, tidak juga ragu, seperti seseorang yang sudah tahu ke mana ia akan pergi. Airel menoleh sedikit, melihat sosok yang tidak asing.
Raveon Arkhalis berdiri tidak jauh darinya. Tangannya masuk ke saku jaket, bahunya sedikit condong santai, tetapi matanya langsung tertuju pada Airel dengan perhatian yang tidak disembunyikan.
“Kamu di sini lagi,” katanya pelan.
Nada suaranya tidak menunjukkan kejutan. Lebih seperti memastikan sesuatu yang memang sudah ia duga.
Airel mengangguk kecil. Ia tidak mencoba menjelaskan, dan Rave tidak meminta penjelasan.
Rave berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya tanpa banyak bicara. Ia sempat melihat ke sekitar, memperhatikan halte yang sederhana itu, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Namun diam itu tidak terasa canggung, hanya tenang dengan cara yang tidak memaksa.
“Kamu kenapa?” tanya Rave akhirnya.
Airel tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap ke depan, seolah pertanyaan itu membutuhkan waktu untuk dipahami. Napasnya ditarik pelan sebelum akhirnya ia berbicara.
“Tujuh tahun itu lama, ya.”
Rave sedikit mengangkat alis, tapi tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya mengangguk pelan, memahami bahwa kalimat itu bukan sekadar pernyataan biasa.
“Iya,” jawabnya.
Airel tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak bertahan lama. Ada sesuatu yang berubah di sana, sesuatu yang lebih rapuh dari biasanya.
“Selama itu aku selalu ke sini,” lanjutnya pelan.
Rave menoleh sebentar, lalu kembali melihat ke depan. Ia tidak memotong, tidak juga mencoba menyimpulkan terlalu cepat.
Airel menunduk sedikit, tangannya kembali mencengkeram tas. Ia menarik napas, lalu berbicara lagi dengan suara yang lebih pelan.
“Kalau ternyata aku salah, gimana?”
Rave tidak langsung menjawab. Ia tahu ini bukan pertanyaan yang bisa dibalas dengan jawaban sederhana. Ia menatap Airel beberapa detik, mencoba membaca sesuatu yang tidak sepenuhnya terlihat di wajahnya.
“Kamu nanya ke aku?” katanya.
Airel menggeleng pelan.
“Enggak.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Ke diri aku sendiri.”
Suasana kembali hening. Angin berembus pelan, membawa suara kendaraan yang semakin jarang. Rave mengalihkan pandangannya ke jalan, memahami bahwa yang dibutuhkan sekarang bukan jawaban, melainkan waktu.
Airel memejamkan matanya sebentar. Pertanyaan itu masih ada, belum hilang, belum juga menemukan tempatnya. Namun bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang masih bertahan di dalam dirinya.
Lebih kecil dari sebelumnya. Lebih rapuh. Tapi belum benar-benar hilang.
Ia membuka matanya lagi. Jalan di depannya tetap sama, tidak memberikan jawaban apa pun. Namun napasnya mulai kembali teratur, meski pikirannya belum sepenuhnya tenang.
Ia tidak punya jawaban hari ini. Mungkin juga tidak dalam waktu dekat. Namun ia menyadari satu hal yang tidak bisa ia abaikan lagi.
Keraguan itu ada.
Dan ia nyata.
Rave berdiri perlahan. Ia menepuk ringan bagian samping celananya, lalu menatap Airel sebentar sebelum berbicara.
“Kalau kamu mau pergi, aku bisa temenin.”
Airel menggeleng pelan.
“Enggak usah.”
Rave mengangguk, tidak memaksa. Ia sudah tahu batasnya sejak awal.
“Jangan terlalu lama,” katanya singkat sebelum berbalik.
Langkahnya menjauh perlahan, meninggalkan Airel kembali sendiri di bangku itu. Suara sepatunya memudar bersama waktu yang terus berjalan.
Airel tetap duduk. Matanya kembali ke jalan yang semakin sepi, lampu-lampu mulai menyala lebih terang, menggantikan cahaya sore yang sudah benar-benar hilang.
Menunggu masih ada di sana. Namun sekarang, ia tidak lagi berdiri sendirian sebagai harapan.
Ada sesuatu yang lain ikut berdiri di sampingnya.
Pertanyaan yang belum terjawab.
Airel menarik napas pelan, lalu menghembuskannya perlahan. Ia belum berdiri, belum juga pergi. Ia masih di tempat yang sama, dengan keyakinan yang tidak lagi utuh, namun juga belum benar-benar hilang.
Dan di antara dua hal itu, ia tetap bertahan.