Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Sarkas
"Tuan," panggil Aurellia ragu setelah mereka sama-sama diam hampir setengah jam lamanya..
"Hemm." Rayga hanya merespon dengan deheman, dia lebih tertarik memainkan ponselnya dibanding menanggapi Aurellia yang sudah sah menjadi istrinya.
"'Apakah di sini saya dilindungi?" tanya Aurellia menekan intonasinya, bahkan suaranya bagaikan tengah berbisik.
Pertanyaan Aurellia berhasil membuat Rayga menoleh padanya, menatap Aurellia dengan penuh tanda tanya.
Sedangkan Aurellia menunduk dalam bersama rasa takutnya karena sudah berani bertanya seperti itu pada Rayga.
"Ulangi pertanyaanmu!" kata Rayga yang tidak puas dengan pertanyaan Aurellia padanya, ada sesuatu kecurigaan yang menggelitik di pikiran Rayga saat mendapat pertanyaan seperti itu dari wanita di sampingnya.
"Maaf kalau saya lancang, Tuan. Saya hanya ingin memastikan saja-"
"Apa yang mau kamu pastikan?" potong Rayga, dia meletakkan ponselnya di atas lututnya yang sedang duduk bersila.
"Memastikan keamanan rumahku?" lanjut Rayga bertanya dengan menyipitkan matanya.
Aurellia menggeleng cepat. "B-bukan, Tuan, bukan itu maksud saya."
Aurellia terbata, rasa takut kian terasa saat Rayga mendesaknya seperti itu.
Dia merasa tertekan, tetapi Aurellia tetap ingin meluruskan apa yang hendak dia tanyakan pada Rayga.
Karena itu memang sangat penting baginya untuk ketenangan kedepan saat tinggal di rumah pria itu.
"Saya bertanya apakah saya di sini aman, bukan berarti saya meragukan keamanan di rumah Tuan. Namun, saya hanya ingin memastikan selama tinggal di sini, apakah saya masih dalam kendali ibu saya atau sudah bebas dari..." Aurellia menggantung ucapannya, dia sangat ragu ingin melanjutkannya.
Mata Rayga menyipit penuh selidik, tetapi dia tidak berniat untuk mendesak Aurellia melanjutkan ucapannya.
Bagi seorang pemburu seperti Rayga, dia mempunyai insting yang sangat kuat.
Walau ucapan Aurellia menggantung, tetapi itu sudah cukup baginya menyimpulkan apa yang sebenarnya tengah bergulat di hati dan pikiran Aurellia.
"Saya ada urusan lebih penting daripada menunggu kalimatmu yang tidak ada ujungnya. Kalimat yang tidak ada makna dan sebetulnya juga tidak perlu diucapkan," ujar Rayga.
Kalimat sarkas yang diucapkan Rayga membuat mulut Aurellia makin rapat dan terasa terkunci.
Aurellia menyesali pertanyaan yang dia ucapkan tadi, teringat posisinya di sana bukan lah istri yang sesungguhnya.
"Ditolong Tuan Rayga bebas dari pelelangan rumah bordil saja sudah sangat bagus. Seharusnya aku tidak berharap lebih untuk dilindungi olehnya dari penindasan ibu angkatku." Aurellia membatin penuh sesal.
"Jangan keluar rumah tanpa izinku, apalagi mencoba untuk kabur dari sini!" Rayga memberi peringatan pada Aurellia, karena dia hendak pergi dari rumah itu menyelesaikan misi yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
"Jika butuh sesuatu, panggil Xaviera atau Bi Nery," lanjut Rayga.
Aurellia mengangguk, tidak berani menoleh pada Rayga yang berada di sampingnya.
"Baik, Tuan. Saya tidak akan keluar rumah tanpa izin, apalagi kabur dari rumah ini," ulang Aurellia menekankan jawabannya kalau dia patuh dan tunduk pada Rayga.
Rayga berdiri dari duduknya, dia tidak lagi menanggapi Aurellia yang masih duduk dengan kepala menunduk.
Tanpa berkata apa pun, Rayga pergi meninggalkan Aurellia begitu saja.
"Apa Tuan Rayga marah padaku?" tanya Aurellia dalam hati.
Dia sempat melirik pada langkah kaki Rayga yang semakin menjauh darinya, tetapi Aurellia tidak berani menanyakan apa pun pada pria itu.
Setelah Rayga hilang dari penglihatannya, Aurellia juga memilih beranjak dari tempat duduknya.
Dengan langkah gontai, Aurellia menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar yang diperuntukkan
untuk dia tempati sejak pertama masuk ke rumah itu.
Saat dia baru saja sampai di lantai atas menuju kamarnya, samar-samar Aurellia mendengar suara orang dari dalam kamar.
Orang yang lagi berdebat sengit, entah apa permasalahannya Aurellia tidak tahu.
Niat hati ingin masuk ke dalam diurungkan oleh Aurellia, dia lebih memilih berdiri di depan pintu menunggu perdebatan di dalam sana mereda.
Namun, lama kelamaan perdebatan itu makin sengit dengan suara saling meninggi.
Mengenali salah satu suara yang ada di dalam sana, akhirnya Aurellia masuk juga ke dalam kamar.
"Ada apa? Kok pada ribut?" tanya Aurellia saat pintu kamar telah terbuka karena didorongnya.
Kedua orang yang bersitegang sama-sama reflek menoleh ke arah Aurellia yang berada di ambang pintu kamar.
Keduanya yang ditanya oleh Aurellia nampak kikuk, mereka tergagap tidak tahu harus mengatakan apa pada Aurellia.
Niat hatinya hendak berbohong, tetapi lidah mereka terasa berat untuk dibawa angkat bicara.
"Ada masalah apa? Mana tahu aku bisa menengahinya." Kembali Aurellia bertanya, sekaligus menawarkan dirinya sebagai penengah.
"Kamu menguping?" tanya salah satunya,dia yang tidak dikenali oleh Aurellia.
Aurellia menggeleng cepat, karena memang dia tidak menguping pembicaraan mereka sama sekali.
"Enggak," jawab Aurellia.
"Walau kamu telah dinikahi Tuan Rayga, bukan berarti kamu juga bisa sok berkuasa di sini. Apalagi mencoba untuk ikut campur urusan kami," sarkasnya begitu nyelekit.
"Maaf... bukan saya mau ikut campur, tetapi kalian ribut di dalam kamarku. Makanya aku bertanya," bela Aurellia yang tidak mau disudutkan seperti itu, apalagi yang berbicara kasar padanya tidak dia kenali, hanya terlihat memakai pakaian sama seperti yang dikenakan Xaviera.
"Kamar kamu? Hei, ingat, Nona. Kamu di sini sebagai apa? Kamu itu bukan nyonya sesungguhnya, dan aku rasa lidahmu keseleo menyebutkan ini kamarmu."
Wanita itu tertawa keras, dia sepertinya sangat puas menyudutkan Aurellia.
Darah Aurellia mendidih, tetapi masih dia tahan.
Biar bagaimanapun, Aurellia tetap mempunyai rasa marah ketika seorang pelayan dengan lancang memakinya.
"Saya di sini sebagai apa, itu bukan urusanmu. Silahkan keluar, saya mau istirahat." Aurellia embali melangkah maju, dia menuju ranjang dan duduk berjuntai di tepinya.
"Xaviera, bawa temanmu keluar. Saya mau istirahat," ujar Aurellia setelah beberapa saat menunggu mereka keluar, tetapi nyatanya kedua orang itu masih betah berdiri di tempat.
"Baik, Non." Xaviera membungkukkan badannya hormat, lalu menarik tangan wanita yang berpakaian sama dengannya.
Setelah pintu ditutup kasar oleh wanita yang tadi menantangnya, Aurellia berdiri dan berjalan mendekati jendela.
Memandang lurus ke depan dengan pikiran bercabang.
"Sepertinya pelayan itu tidak menyukaiku dan mungkin dia juga tahu alasan kenapa aku ada di rumah ini"' gumam Aurellia.
Kalimat-kalimat yang dilontarkan wanita tadi terngiang di telinganya.
"Apa aku termasuk salah satu manusia sial? Semua orang membenciku." Aurellia menghela napasnya, ada rasa kecewa yang terukir atas takdir hidup yang dia jalani.
Antara rasa kecewa, ada terselip rindu di hati Aurellia.
Kenangan masa kecilnya saat masih bersama orang tua kandung menari di pelupuk mata Aurellia.
Di mana saat itu dia sangat dimanja dan disayang oleh keluarga utuhnya.
Namun, saat keributan terjadi di rumahnya, saat itu pula terjalnya dan kelamnya jalan hidup mulai dirasakan Aurellia sampai saat ini dia berada di rumah Rayga.
Air mata Aurellia mulai merembes keluar dari pelupuk matanya.
Pucuk hidung memerah bersama isak tangis yang berusaha dia tahan.
Namun, tetap saja isakan itu keluar dari mulutnya.
Rasa sesak memenuhi rongga dada Aurellia, sehingga tangisnya sangat sulit untuk dia bendung.