NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Maya perlahan mulai merasa lebih baik. Dia sudah bisa ngobrol lagi dengan Cika saat Budi akhirnya kembali. Dari cara Budi melihatnya, sepertinya dia cukup kagum dengan apa yang tadi Cika ceritakan padanya. Ternyata itu semua beneran.

“Udah selesai?” tanya Jeni sambil mengangkat alis.

“Iya. Sayangnya...orang-orang di dalam ruangan itu udah nggak selamat semua. Ini pistol dari petugas keamanan, ambil.” Budi melempar pistol beserta magasin pelurunya ke arah Jeni.

Jeni langsung menangkapnya dengan sigap. Dia cek mekanismenya sejenak, lalu memasukkan peluru satu per satu dengan gerakan yang terlatih. Setelah itu dia angkat pistol, bidik ke depan, dan bergumam, “Lama banget ya aku nggak pegang pistol.”

“Oh, Mbak Jeni pernah belajar nembak sebelumnya?” tanya Rian dengan nada hormat dan penasaran. Dia tahu banget gerakan Jeni tadi bukan gerakan sembarangan.

Jeni mengangkat dagunya sedikit, “Dulu aku polisi. Baru-baru ini dipindahin ke sini.”

“Wah, keren banget!” Cika memandangnya dengan mata berbinar-binar, campur iri. “Harusnya aku juga belajar nembak dari dulu. Nggak nyangka dunia bakal jadi begini…”

“Udah, Ayo kita cek lantai dua,” potong Budi, langsung mengajak mereka bergerak.

Sesampainya di lantai dua, mereka langsung disambut pemandangan yang bikin mual. Genangan darah besar, beberapa jari yang putus, dan seonggok usus keabu-abuan yang sudah mulai membusuk. Semua orang langsung pucat.

Cika tiba-tiba membeku. Matanya tertuju pada sebuah jari yang masih memakai cincin. “Itu...cincinnya Pak Sandi, kan?” suaranya bergetar.

“Aku nggak yakin dia masih hidup,” kata Rian muram.

“Cukup.” Jeni langsung memucat. Dia buru-buru menutup mulutnya dengan tangan, lalu cepat-cepat mengikuti langkah Budi.

“Tahan dulu. Kalian mundur sedikit,” kata Budi tiba-tiba. Dia yang paling depan langsung berhenti setelah belok. “Ada serangga hijau masih hidup di depan.”

Semua orang langsung ketakutan dan lari balik ke lantai tiga. Hanya Jeni yang tetap berdiri di tempat, mengangkat pistolnya dengan kedua tangan.

“Kenapa masih di situ? Mundur!” bentak Budi sambil menoleh.

“Aku juga bisa bunuh serangga hijau itu!” jawab Jeni dengan wajah pucat, tapi suaranya tegas.

“Lihat dirimu sendiri dulu. Untung-untungan kalau nggak bikin masalah,” kata Budi kesal. Dia tahu Jeni cuma bakal menghalangi.

“Aku janji nggak bakal ganggu. Tolong…” Jeni teringat kejadian ular mengerikan kemarin, lalu menarik napas dalam-dalam. “Dulu aku juara dua kompetisi menembak tingkat kota yang diadain Polri. Jangan remehin aku, Budi.”

Budi diam sejenak. Dia memang belum pernah lihat Jeni nembak, jadi nggak bisa langsung percaya atau nggak.

“Ya sudah. Kalau kamu mau ikut, jangan nyesel kalau dimakan serangga,” kata Budi dingin.

Jeni mengangguk cepat dan langsung diam ketika Budi memberi isyarat.

Serangga hijau itu terganggu dengan kehadiran mereka. Ia mulai merangkak naik pelan-pelan. Tiba-tiba tubuhnya membesar.

“Dor! Dor! Dor!”

Tangan Jeni gemetar hebat, tapi jarinya terus menekan pelatuk. Peluru berhamburan.

Serangga itu tersentak mundur. Cairan hijau kental menyembur keluar dari tubuhnya, tapi nggak ada satu pun peluru yang kena titik lemah. Setelah kena tiga peluru, serangga itu kehilangan keseimbangan, menginjak ruang kosong, lalu terguling jatuh ke lantai bawah.

Budi nggak mungkin membiarkannya lolos. Dia langsung melompat turun dengan pisau di tangan, mempercepat gerakannya, lalu menghabisi serangga itu dalam sekejap.

Tapi suara tembakan tadi sudah menarik perhatian serangga lain. Tiga ekor serangga hijau sekarang merangkak mendekat dari arah berbeda.

“Anjir!” umpat Budi kesal. Dia nggak nyangka Jeni bikin masalah secepat ini. Tiga serangga sekaligus terlalu berat. “Lari!” teriaknya ke Jeni sambil berbalik.

Tapi Jeni malah nggak lari. Dia justru buru-buru memasukkan peluru lagi ke pistolnya.

“Apaan sih kamu?! Lari kataku!” Budi sudah benar-benar marah. Dia nggak sempat peduli lagi dan langsung melompat naik ke lantai tiga.

Jeni tetap berdiri. Dia angkat pistol, bidik ke sudut tangga. Seekor serangga muncul. Dor! Peluru pertama tepat mengenai dada. Peluru kedua langsung masuk ke mata. Serangga itu kejang-kejang beberapa detik sebelum ambruk.

Budi menoleh, terkejut. Entah itu keberuntungan atau bukan, tapi Jeni barusan bantu dia cukup banyak.

Dia buru-buru ambil pisau dan berlari ke lantai dua lagi, nunggu di sudut. Serangga ketiga yang mencoba mengintip langsung dia habisi. Tak lama kemudian, serangga terakhir di gedung itu juga mati di tangannya.

Sistem langsung berbunyi.

Bip!

“E- Misi selesai.”

“Waktu yang digunakan: 1 jam 35 menit.”

“Komentar: Luar biasa!”

“Hadiah pengalaman dasar: 800”

“Hadiah komentar: +800”

“Anda naik level! Mendapatkan 1 poin properti dan 5 poin keterampilan. Level saat ini: Level 5!”

“Energi dan luka akan pulih otomatis!”

“Akhirnya naik level juga!” Budi tersenyum lebar, langsung membuka panel statusnya.

Karakter: Budi

Pekerjaan: Hunter

Level: 5

Pengalaman: 900/4800

Atribut:

Energi: 11 (10)

Ketangkasan: 12 (10)

Fisik: 11 (10)

Kecerdasan: 13 (10)

Sensitivitas: 11 (10)

Penetapan: 12 (10)

Keterampilan: Sains 16, Matematika 14, Bahasa Indonesia 19, Bahasa Inggris 16, Keuangan 17, Pemrograman 9, Menari 1, Lukisan 3, Game 6, Negosiasi 9, Sosial 7, Memasak 3, Mengemudi 1, Tinju 5, Keterampilan Pisau 14.

Keterampilan Teknik Khusus: Identifikasi Objek, Integrasi

Poin Properti Belum Ditugaskan: 1

Poin Keterampilan Belum Ditugaskan: 5

Budi langsung mempelajari informasi baru tentang “Integrasi” yang muncul di benaknya. Teknik itu sederhana: menggabungkan dua objek dengan objek inti sebagai pusatnya. Mirip banget sama sistem “enhance” di game online. Kalau dia bisa nemuin bahan yang bagus, pisau dia mungkin bisa ditingkatkan kekuatannya. Lumayan juga sebagai senjata andalan.

Tapi sekarang bukan waktunya eksperimen. Yang paling penting, dia harus memutuskan mau taruh poin properti ke mana.

Dia selalu berpikir ketangkasan itu yang paling penting. Tapi setelah beberapa pertarungan, dia sadar kalau cuma ngejar satu atribut doang itu kesalahan. Dulu dia sering merasa helpless karena meski ketangkasannya tinggi, fisiknya nggak kuat mendukung.

Akhirnya, setelah berpikir cukup lama, Budi memutuskan memasukkan 1 poin properti ke Energi.

Begitu poin itu masuk, dia langsung merasakan panas mengalir di seluruh tubuh. Otot-ototnya seperti menyusut lalu mengembang lagi. Lemak-lemak lembek hilang, otot punggung dan dada jadi lebih kencang dan terdefinisi. Prosesnya cuma butuh dua detik.

Tubuhnya sekarang lebih ramping dan kencang dibanding sebelumnya. Untung dia pakai kemeja tebal. Kalau nggak, pasti orang-orang di sekitarnya bakal kaget setengah mati melihat perubahan tubuhnya yang drastis.

Jeni memandangnya dengan tatapan aneh. Dia nggak tahu persis apa yang berubah, tapi entah kenapa… Budi terasa berbeda sekarang.

Budi nggak terlalu peduli dengan tatapan aneh Jeni yang masih tertuju padanya. Dia terlalu sibuk merasakan perubahan dalam tubuhnya sendiri. Dia mengepalkan tinju kuat-kuat sampai terdengar bunyi retak tulang yang kecil. Energi mengalir deras di seluruh tubuhnya. Otot-ototnya terasa hidup, super aktif, dan siap meledak kapan saja.

“Gila...aku belum pernah ngerasa sekuat dan sebugar ini,” gumam Budi dalam hati.

Tubuhnya terasa lebih ringan, lebih lincah. Dia yakin sekarang bisa bergerak jauh lebih cepat daripada yang dia bayangkan sebelumnya. Ternyata benar, nggak bisa cuma ngotot naikin satu atribut doang. Harus seimbang. Kalau nggak, susah maju jauh di dunia yang udah kacau begini.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Lanjut.. 😁
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!