NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan dua bayangan

Langkah kaki Sedra terasa berat , napasnya memburu saat ia tiba di mulut gua yang menjadi markas rahasianya . Matanya bergerak liar , mengintai setiap sudut dengan kewaspadaan seorang pendekar .Namun begitu ia melangkah masuk , dunianya seakan runtuh .

Bau anyir darah menyengat indra penciumannya. Di sana, ia mendapati seluruh anak buahnya telah tewas bersimbah darah. Sedra jatuh bersimpuh, jiwanya terguncang hebat. Di tengah tumpukan jasad rekan-rekannya, ia mematung linglung seolah tak percaya .

"Tidak... tidak mungkin! Bangun kalian!" teriak Sedra, suaranya pecah dan bergetar hebat. Ia merangkak dari satu jasad ke jasad lain, mengguncang bahu mereka yang sudah dingin.

" Arghhhh ! "

Tepat saat ia tenggelam dalam histeria dan keputusasaan, sebuah pedang tiba-tiba menghunjam punggungnya.

Jlebbb...

Sedra dapat merasakan darah mulai mengalir di permukaan kulitnya yang tergores berbarengan dengan rasa sakit yang mulai menggerogotinya .

Dengan sisa tenaga, Sedra membalikkan badan sambil merintih kesakitan. Matanya membelalak—pelakunya adalah Wira, prajurit Raja Seno yang selama ini ia kenal begitu jujur dan setia .

Namun Sedra tak terkejut lagi karena pasti manipulasi licik pangeran Elias lah yang telah membutakan Wira hingga kini ia berdiri di hadapannya dengan pedang yang sudah berlumuran darah .

"Pengkhianat! Kau hanyalah sampah bagi negara ! Terimalah, hari ini adalah ajalmu, Sedra!" geram Wira .

Sedra tak sempat bersuara dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena Wira sudah memasang kuda-kuda, siap melancarkan serangan pemungkas.

Meski luka di punggungnya terus mengucurkan darah dan tenaganya nyaris habis, Sedra dipaksa bertarung demi nyawanya. Ia menangkis setiap tebasan Wira dengan gerakan yang kian melemah. Beberapa kali ujung pedang Wira berhasil menggores kulitnya karena ia tak lagi sanggup menghindar sepenuhnya.

Sring..sring

Di ambang kematian, tiba-tiba dua anak buah Sedra yang sebelumnya sempat melarikan diri muncul dari kegelapan. Tanpa ragu, mereka menerjang untuk menyelamatkan pemimpin mereka. Salah satu dari mereka langsung mengadang serangan Wira, sementara yang lain segera memapah Sedra pergi, menjauh dari tempat itu .

Langkah mereka terhenti di tepian tebing curam. Deru air terjun di bawah sana seolah menjadi musik pengiring maut. Saat mereka berbalik untuk mencari jalan tikus, harapan itu pupus; pasukan Wira telah mengepung, busur panah mereka terentang kencang dan pedang-pedang mereka berkilat haus darah.

"Nona, melompatlah! Cepat!" seru anak buah Sedra, suaranya parau namun penuh tekad. Ia memasang kuda-kuda paling depan, menjadi tameng hidup. "Aku akan menahan mereka di sini!"

"Tidak! Jangan gila!" teriak Sedra. Ia menolak keras, tangannya masih menekan luka di dada yang terus mengucurkan darah segar. Napasnya tersengal, pendek dan berat.

"Kau akan mati jika menghadapi mereka sendirian! Aku tidak akan membiarkanmu!"Suara sedra sudah terdengar gemetar .

Anak buahnya menoleh sekilas, matanya menyiratkan keikhlasan yang dalam.

"Mati dalam tugas seperti ini adalah kehormatan bagiku. Kau harus tetap hidup, Nona! Ingatlah betapa kejamnya Pangeran Elias itu. Jangan biarkan iblis seperti dia memimpin negeri ini. Kau harus bertahan nona , kau harus balaskan dendam kami!"

Bersamaan dengan perintah itu, langit seolah pecah oleh desing ratusan anak panah yang mulai berterbangan. Pasukan Wira merangsek maju dengan pedang terhunus. Dalam kepungan maut yang kian menyempit, Sedra menatap prajurit setianya untuk terakhir kali.

Dengan air mata amarah yang mengaburkan pandangan dan api dendam yang membara di dada, Sedra membalikkan badan. Ia melompat ke arah jurang tebing yang gelap, membiarkan tubuhnya jatuh bebas. Di sela terjunnya, hanya satu nama yang menggema di dalam benaknya: Elias. Perjalanan ini belum berakhir; ini adalah awal dari sebuah pembalasan yang paling berdarah.

***

Cakra dan Riu terus memacu langkah menyusuri lebatnya hutan, berupaya mencapai garis perbatasan sebelum fajar. Namun, langkah Cakra mendadak terhenti saat netranya menangkap sesosok tubuh yang tergeletak kaku di bawah batu besar di tepian sungai.Seorang wanita, bersimbah darah dan tak sadarkan diri.

Cakra segera menghampiri dan berlutut di sampingnya. Untuk sesaat, ia sempat tertegun. Di balik noda tanah yang mengotori wajahnya, terpancar paras cantik yang begitu menawan, meski kini pucat pasi dan tampak sangat rapuh.

Cakra segera memeriksa denyut nadinya; wanita itu masih hidup, namun sedang berada di ambang maut.

Tanpa membuang waktu, Cakra membopongnya ke sebuah gubuk tua di tengah hutan. Saat mulai membersihkan luka-lukanya, dahi Cakra berkerut dalam. Ia merasa ada yang janggal.

Satu, dua, tiga... Cakra menghitung sabetan pedang di tubuh wanita itu dengan penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin wanita dengan paras selembut dan secantik ini bisa memiliki luka tempur sebanyak ini? Ini bukan sekadar luka robek biasa, melainkan bekas tebasan senjata tajam yang sangat presisi dan mematikan. Rasa penasaran mulai mengusik batinnya; siapa sebenarnya wanita ini hingga harus mengalami penyiksaan sehebat ini? Cakra sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang tengah ia rawat adalah Sedra, sang "Dewi Kematian" yang pernah menjadi lawan tangguhnya di medan perang.

Riu, yang melihat keheningan pangerannya, bertanya dengan nada polos yang khas.

"Pangeran, lukanya separah itu, dia tidak akan sadar dengan cepat. Apa tidak sebaiknya kita tinggalkan saja dia di sini agar tidak menghambat perjalanan kita?"

Cakra menoleh perlahan, menatap pengawal setianya dengan tatapan dingin.

"Riu, pakailah otakmu. Meninggalkan wanita dalam kondisi seperti ini sama saja dengan mengotori tanganmu dengan darahnya."

Cakra kembali menatap lekat wajah Sedra. Di bawah cahaya lampu minyak yang remang, ia hanya melihat sosok wanita yang penuh keluguan dan kelembutan. Tak ada sedikit pun gurat kebengisan yang tersisa dari sosok pendekar yang nyaris ia tebas lehernya waktu itu.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk bermalam di gubuk tersebut, menunggu hingga hari esok tiba sambil berharap wanita misterius itu segera melewati masa kritisnya.

....

Sinar matahari pagi menyelinap lembut melalui celah dinding kayu gubuk, jatuh tepat di kelopak mata Sedra. Perlahan, ia membuka matanya. Rasa nyeri yang menusuk segera menjalar ke seluruh sarafnya, namun ia menyadari sesuatu—tubuhnya tidak lagi sedingin kemarin. Luka-lukanya telah dibalut dengan rapi. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang asing itu dengan waspada.

"Aku... masih hidup? Di mana ini?" gumamnya lirih, suaranya parau tertelan sepi.

Langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu. Sedra menajamkan seluruh indranya, mencoba memfokuskan pandangan pada sosok pemuda yang melangkah masuk.

" Wajah itu... kenapa terasa tidak asing?" batin Sedra sangsi. Namun, ia segera menepis keraguannya. Sosok di depannya mengenakan pakaian lusuh layaknya warga desa jelata, sangat jauh dari citra panglima perang tangguh yang pernah ia hadapi. Penyamaran Cakra sebagai warga desa benar-benar sempurna di mata Sedra yang tengah melemah.

"Kau sudah sadar?" Cakra melangkah mendekat, meletakkan semangkuk ramuan obat yang masih mengepulkan uap hangat di samping dipan.

"Apa... Tuan yang telah menyelamatkanku?" tanya Sedra. Nada bicaranya mendadak lembut, sangat kontras dengan julukan "Dewi Kematian" yang biasanya membuat lawan gemetar.

Cakra menatapnya lekat, ada kilat selidik di matanya. "Gadis secantik dirimu... bagaimana bisa mendapatkan luka sabetan sebanyak itu? Itu bukan luka biasa."

Deg...

Jantung Sedra berdesir panik. Ia tahu jika identitas aslinya terendus, ia hanya akan menjadi buruan bagi pihak lain. Ia harus bersandiwara.

"Itu... aku..." Sedra menunduk, memasang wajah paling malang yang bisa ia buat.

"Aku dirampok sekawanan penjahat di tengah hutan. Mereka beringas, Tuan... mereka menjarah semua hartaku. Aku hanya wanita lemah, aku tidak bisa melawan saat mereka terus melukaiku dengan senjata mereka."

Cakra terdiam sejenak, seolah menimbang-nimbang kejujuran di balik mata bening wanita itu.

"Siapa namamu? Dan dari desa mana asalmu? Setelah kau kuat, aku akan mengantarmu pulang." Ucap Cakra.

"Namaku... Nayan," jawab Sedra cepat, meminjam nama samaran yang terlintas di kepalanya.

"Aku dari desa seberang. Tapi... aku tidak punya tempat tinggal lagi sekarang. Semuanya habis dijarah, dan rumahku di desa juga sudah hangus terbakar. Aku adalah yatim piatu, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini."

Sedra memalingkan wajah, menyembunyikan binar amarah dan dendam di balik aktingnya sebagai wanita tak berdaya. Saat ini, tanpa pedang dan dengan tubuh yang hancur, menjadi "wanita lemah" adalah satu-satunya perisai yang ia miliki untuk bertahan hidup.

Bersambung...

💐💐💐

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!