Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
alasan di culik
Setelah berhasil melarikan diri, Maple bergegas keluar dari motel. Saat berbelok di sudut bangunan, matanya menangkap sosok pria paruh baya yang sangat dikenalnya berdiri di dekat sebuah mobil hitam yang diparkir di depan motel. Jantungnya berdegup kencang, harapan membuncah di dadanya.
"Uncle Philippe?" gumam Maple, nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Senyum lega merekah di wajahnya. Kehadiran pamannya seolah menjadi jaminan keselamatan, sosok yang bisa dimintai pertolongan untuk menyelamatkannya dari situasi mengerikan ini.
Namun, senyum yang baru saja menghiasi wajahnya seketika lenyap, digantikan oleh keterkejutan dan kebingungan yang mendalam.
Uncle Philippe, dengan ekspresi dingin dan tanpa emosi, mengarahkan sebuah pistol ke arahnya. Maple membeku di tempatnya, kakinya terasa terpaku ke tanah, seolah mengerti bahwa moncong senjata itu tertuju padanya.
Dor... Dor...
Rentetan tembakan memecah kesunyian pagi. Dengan sigap, Rex menarik tubuh Maple, menghindarkannya dari terjangan peluru yang mematikan. Aroma mesiu yang menyengat menusuk hidungnya, menambah kengerian yang dirasakannya.
Maple terdiam dalam pelukan Rex, tubuhnya bergetar hebat. Ia tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.
Uncle Philippe, pria yang selama ini dikenalnya baik dan yang telah memberinya pekerjaan dengan bayaran menggiurkan, kini justru berusaha merenggut nyawanya.
Suara tembakan balasan dari Rex tak mampu mengembalikan Maple ke dunia nyata. Pikirannya kosong, jiwanya terasa hancur berkeping-keping.
"Hei, sadarlah!" teriak Rex, mengguncang tubuhnya dengan kasar, berusaha membangunkannya dari keterkejutan yang melumpuhkan.
Rex menarik tangannya dan mereka berlari secepat mungkin menuju pintu belakang motel, tempat yang tampaknya belum dijaga oleh musuh. Dengan tenaga yang tersisa, Rex membuka paksa pintu sebuah mobil yang terparkir di sana.
"Masuklah..." ucap Rex dengan nada mendesak, namun tatapannya melembut saat melihat keterkejutan di wajah Maple.
Maple menurut tanpa membantah. Ia masuk ke dalam mobil, seolah semua kejadian ini hanyalah mimpi buruk yang mengerikan. Ia merasa terhipnotis oleh pria yang awalnya ingin membunuhnya, namun kini justru menjadi penyelamatnya.
*
Mobil itu melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, Rex berusaha sekuat tenaga untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
Maple, di sisi lain, masih terdiam membisu. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencerna semua kejadian yang menimpanya. Mengapa? Mengapa pria yang memberinya pekerjaan rumah tangga sederhana, pekerjaan yang selama ini ia lakukan dengan sepenuh hati, justru ingin mencabut nyawanya?
"Why?" gumam Maple lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Rex meliriknya sekilas, memastikan keadaan sekitar aman sebelum akhirnya bertanya, "Kau mengenal salah satu dari mereka?"
"Uncle Philippe... Why? Kenapa dia ingin membunuhku?" Maple menjawab dengan nada shock, matanya memancarkan kebingungan dan ketakutan yang mendalam.
Rex menghela napas panjang. Ia membelokkan mobilnya ke jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan lebat.
Matahari mulai meredup, pertanda malam akan segera tiba. Ia harus mencari tempat yang aman dan nyaman untuk mereka berdua, meskipun hanya sementara.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Rex akhirnya menghentikan mobilnya di tengah hutan. Ia mematikan mesin untuk menghemat bahan bakar.
Ia menoleh ke arah Maple, yang masih tampak shock dan linglung. "Katakan padaku," ucap Rex dengan nada serius, "Kenapa kau bisa berada di Villa keluarga Vandross?"
Maple menatap Rex dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya bekerja di Villa itu. Mereka membayarku untuk menjaga dan mengurus Villa itu selama seminggu. Dan pria yang ada di depan motel tadi adalah kepala pelayan yang memberikan tugas itu padaku."
Rex mengerutkan kening. "Jangan berbohong padaku. Kau memakai baju mahal saat di Villa itu, kau pikir aku bodoh?"
Maple tersentak mendengar tuduhan itu. "Untuk apa aku berbohong padamu saat ini? Uncle Philippe yang menyuruhku untuk memakai pakaian yang ia siapkan saat aku berada di Villa dengan alasan ia tak ingin aku terlihat begitu mencolok memakai seragam pelayan karena hanya aku sendiri yang bekerja di Villa." Maple menjawab dengan nada kesal, berusaha meyakinkan Rex bahwa ia mengatakan yang sebenarnya.
"Shit!" Rex mengumpat pelan, merasa bodoh karena telah salah menilai Maple. Ada sesuatu yang tidak beres di sini, dan ia harus mencari tahu apa itu.
Suasana di dalam mobil menjadi hening. Hanya suara jangkrik dan desiran angin yang terdengar. Rex menatap Maple lekat-lekat, mencoba membaca kebenaran di matanya.
"Bisakah kau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Uncle Philippe ingin membunuhku?" Maple meraih lengan Rex, wajahnya dipenuhi keputusasaan. Sentuhan tangannya terasa dingin dan gemetar.
Rex menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya bertanya, "Berapa bayaran yang diberikan keluarga Vandross untukmu bekerja di Villa tersebut?"
"Satu juta Dollar," jawab Maple, suaranya lirih.
"Haaahhh..." Rex mendengus sinis. "Mereka membayarmu satu juta dollar dan kau tak curiga apapun dengan bayaran sebanyak itu hanya untuk menjaga Villa? Di mana otakmu?"
"Aku pikir mereka keluarga bilioner yang membayar pelayan yang bekerja dengannya dengan upah besar, dan aku tak bisa menolaknya karena aku sangat membutuhkan uang itu untuk hidup. Dan ya... Aku tak punya otak. Aku tergiur dengan uang satu juta dollar itu dan berakhir menderita seperti saat ini," jawab Maple dengan nada menyesal. Air mata mulai mengalir di pipinya.
Rex menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia meraih kedua bahu Maple dan menatapnya lekat-lekat. "Dengarkan aku baik-baik. Kita akan bermalam di sini malam ini. Besok pagi kita akan pergi dari sini. Aku akan melepaskanmu, jadi kau bisa bebas. Dan setelah itu, jaga dirimu baik-baik. Karena bukan hanya aku yang mereka incar, namun juga dirimu."
"Why? Apa salahku?" Maple bertanya dengan nada bingung.
"Karena kau yang menerima tawaran itu. Satu juta dollar adalah harga hidupmu untuk menggantikan putri keluarga Vandross yang diincar musuh sesama bisnisnya. Mereka, para pesaing bisnis, membayar pembunuh bayaran untuk menculik putri keluarga Vandross untuk diserahkan kepadanya. Namun, rencana itu diketahui keluarga Vandross sehingga ia membayar seorang wanita yang menjadi umpan kepada pembunuh bayaran tersebut, dan itu adalah kau," jelas Rex dengan nada dingin.
Maple terdiam membisu. Ia merasa seperti tersambar petir di siang bolong. Jadi, selama ini ia hanya menjadi umpan? Ia merasa bodoh, naif, dan sangat menyesal.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Maple dengan suara bergetar.
Rex menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak awal. Aku harus menyelesaikan masalah ini dan aku akan memastikan orang-orang yang bertanggung jawab atas semua ini akan membayar mahal."
"Tapi, bagaimana denganku?" tanya Maple dengan nada khawatir.
"Aku sudah bilang, aku akan melepaskanmu. Kau harus pergi sejauh mungkin dari sini dan memulai hidup baru. Jangan pernah kembali ke kota ini, dan jangan pernah percaya pada siapa pun," jawab Rex dengan nada tegas.
Maple hanya diam dengan air mata yang terus mengalir. Ia tak menyangka hidupnya akan seperti ini hanya karna menerima tawaran bayaran mahal dari keluarga kaya.
"Istirahatlah," ucap Rex, "Kita akan pergi dari sini besok pagi."
Maple mengangguk pelan dan membaringkan tubuhnya di kursi mobil. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, tetapi pikirannya terus berkecamuk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi ia tahu satu hal: hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
"Hikss... Hiksss... Hiksss..."
Maple tak bisa menahan air matanya. Mendengar penjelasan Rex, ia hanya bisa menangis. Hanya karena tergiur dengan upah besar, hidupnya kini hancur berantakan.