NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Surat Cinta Tanpa Nama

​"Kutuliskan namamu di atas kertas, karena bibirku terlalu pengecut untuk mengucapkannya. Aku menitipkan doa dan harapanku pada selembar amplop bisu, berharap ia bisa memelukmu di saat tanganku tak diizinkan untuk menyentuhmu. Jika duniaku terlalu bising untuk kau dengar, maka biarlah cintaku merasuk melalui keheningan." (Buku Harian Keyla, Halaman 51)

​Pagi ini, udara terasa lebih canggung dari biasanya. Sisa-sisa badai pertengkaran di kantin kemarin masih menggantung pekat di sudut-sudut kelas XII-IPA 1. Saat aku melangkah masuk, Lidya dan Bella yang biasanya menyambutku dengan heboh, kini hanya melirik sekilas lalu kembali sibuk dengan ponsel mereka. Tidak ada sapaan riang. Tidak ada tawa.

​Aku berjalan menunduk menuju bungkuku. Siska sudah duduk manis di posisinya. Saat aku menarik kursi, Siska mendongak. Ia memberiku senyum yang sangat tipis, sebuah senyum sopan yang dipaksakan, tanpa ada kehangatan di matanya.

​"Pagi, Keyla," sapa Siska pelan. Suaranya datar. Ia sedang memainkan peran sebagai sahabat yang terluka dan kecewa dengan sangat sempurna.

​"Pagi, Sis," balasku tak kalah pelan. Dadaku terasa ngilu. Seumur hidupku, aku tidak pernah didiamkan oleh sahabat-sahabatku sendiri. Rasanya seperti diasingkan di pulau terpencil.

​Namun anehnya, di tengah rasa sepi dan pengucilan ini, aku justru merasa semakin dekat dengan dunia Rendi. Jika aku yang baru didiamkan satu hari saja sudah merasa sesesak ini, lalu bagaimana dengan Rendi? Laki-laki itu telah diasingkan oleh seluruh sekolah, dijauhi karena status sosialnya, dan dicemooh setiap hari. Betapa kuatnya bongkahan es di hatinya hingga ia sanggup menahan rasa sepi yang abadi itu sendirian.

​Aku memutar tubuhku ke belakang. Bangku Rendi masih kosong. Ia belum datang.

​Tanganku merogoh saku rok seragamku. Jari-jariku bersentuhan dengan permukaan kertas dari sebuah amplop biru muda yang kulipat menjadi dua bagian. Jantungku seketika berdebar dengan ritme yang memburu.

​Semalaman suntuk aku tidak bisa tidur. Bayangan wajah Rendi yang menahan amarah dan rasa lapar di kantin kemarin terus menghantuiku. Aku tidak bisa membiarkannya kelaparan lagi. Aku tidak bisa membiarkan adiknya, Nanda, menangis karena kakaknya tak mampu membelikan camilan. Tapi aku juga tahu, memberinya makanan secara langsung atau menawarinya uang hanya akan membuat harga dirinya kembali terkoyak.

​Maka, di bawah temaram lampu belajarku semalam, aku mengambil sebuah keputusan nekat. Aku mengambil secarik kertas surat beraroma chamomile yang lembut, lalu mulai menulis. Berlembar-lembar kertas kuremas dan kubuang ke tempat sampah karena aku tak kunjung menemukan kalimat yang tepat. Aku tidak ingin terdengar menggurui, aku tidak ingin terdengar mengasihani, dan yang terpenting, aku tidak boleh mencantumkan namaku.

​Setelah menghabiskan waktu berjam-jam, aku akhirnya menuliskan bait-bait kalimat yang paling tulus dari dasar hatiku. Aku mengubah gaya tulisan tanganku sedikit agar tidak mudah dikenali.

​Untuk Rendi,

​Maafkan kelancanganku yang menyusup ke dalam barang pribadimu. Aku tidak berniat buruk, dan aku sangat memohon, tolong jangan merasa marah atau terhina saat membaca surat ini.

​Aku hanyalah seseorang yang melihat perjuanganmu dari jauh. Aku melihat bahumu yang selalu tegang, dan langkah kakimu yang selalu terlihat lelah. Aku tahu, dunia ini terkadang terasa sangat kejam dan tidak adil. Tapi tolong percayalah, kau tidak seburuk yang orang-orang katakan. Di mataku, kau adalah ksatria paling hebat yang pernah kutemui.

​Aku menyisipkan sedikit uang di dalam amplop ini. Ini bukan belas kasihan. Ini adalah bentuk rasa hormatku pada kerja kerasmu. Aku mendengar kau memiliki seorang adik perempuan. Tolong... gunakan uang ini untuk membelikannya sesuatu yang manis hari ini. Anak kecil selalu menyukai hal-hal yang manis, bukan? Dan belilah makanan yang layak untuk dirimu sendiri. Kau butuh tenaga untuk terus melindunginya.

​Tidak perlu mencari tahu siapa aku. Aku sudah cukup bahagia jika melihatmu tidak lagi menahan lapar. Tetaplah kuat, Rendi. Badai pasti akan berlalu.

​Dari seseorang yang selalu mendoakanmu.

​Di dalam amplop biru itu, aku menyisipkan dua lembar uang lima puluh ribu rupiah yang kuambil dari tabunganku sendiri. Uang itu mungkin tidak seberapa bagi Deandra atau Indra, tapi aku tahu, bagi Rendi, seratus ribu rupiah adalah hasil kerja kerasnya memanggul berkarung-karung beras hingga tengah malam. Aku menyegel amplop itu rapat-rapat.

​Dan kini, surat itu ada di sakuku, terasa panas membakar kain rokku, menuntut untuk segera diserahkan.

​Langkah kaki yang berat terdengar memasuki kelas. Rendi datang. Ia berjalan menunduk seperti biasa, ransel usangnya menggantung di bahu kiri. Aku buru-buru menghadap ke depan, menahan napas saat ia berjalan melewatiku.

​Hari ini aku tidak meletakkan susu dan roti di mejanya. Aku tidak ingin ia curiga jika tiba-tiba ada makanan dan surat di saat yang bersamaan. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk menyelipkan surat ini ke dalam tasnya tanpa ada satu pun orang yang melihat.

​Peluang itu datang pada jam pelajaran ketiga: Olahraga.

​Pak Heri, guru penjaskes kami yang bertubuh gempal dan bersuara menggelegar, meniup peluitnya di tengah lapangan basket outdoor. Matahari bulan Oktober bersinar cukup terik, membuat debu lapangan berterbangan setiap kali ada siswa yang berlari.

​"Ayo semuanya baris! Hari ini kita akan ambil nilai lari keliling lapangan lima putaran! Laki-laki dan perempuan dipisah!" teriak Pak Heri.

​Siswa-siswa langsung mengeluh kepanasan, namun perlahan membentuk barisan. Aku berdiri di barisan paling belakang perempuan. Di seberang lapangan, tim laki-laki sedang bersiap. Rendi berdiri di sudut barisan, wajahnya terlihat pucat dan lelah bahkan sebelum ia mulai berlari. Bagaimana ia bisa lari lima putaran di bawah terik matahari jika perutnya mungkin hanya diisi oleh sepotong roti kering kemarin?

​Saat Pak Heri meniup peluit tanda pemanasan dimulai, aku tiba-tiba memegang perutku dan membungkuk. Aku memaksakan wajahku untuk mengerut menahan sakit.

​"Aduh..." rintihku pelan.

​Lidya, yang meski sedang perang dingin namun tetap memiliki insting melindungiku, refleks menoleh. "Lo kenapa, Key?" tanyanya dengan nada suara yang masih sedikit ketus namun menyiratkan kekhawatiran.

​"Perutku... kram banget, Lid. Datang bulan hari pertama," dustaku sambil menggigit bibir. Ini adalah kebohongan paling klasik di masa SMA, namun juga yang paling ampuh.

​Siska yang berdiri di depan Lidya ikut menoleh. Ia menatapku dengan mata memicing, seolah mencoba mendeteksi kebohonganku. "Sakit banget, Key? Mau aku temenin ke UKS?" tawarnya dengan nada keibuan yang manipulatif.

​"E-enggak usah, Sis. Aku permisi ke kelas aja ya, mau minum obat anti-nyeri terus tiduran bentar. Kalian lanjut aja," tolakku cepat.

​Aku mengangkat tangan dan meminta izin pada Pak Heri. Seperti dugaanku, Pak Heri langsung mengibaskan tangannya mengizinkan. "Ya sudah, Keyla. Kamu istirahat saja di kelas atau di UKS. Jangan memaksakan diri."

​Aku mengangguk, lalu berbalik dan berjalan pelan meninggalkan lapangan. Namun begitu aku berbelok ke koridor yang tak terlihat dari lapangan, langkah pelanku seketika berubah menjadi setengah berlari.

​Jantungku berpacu gila-gilaan. Ini adalah kesempatanku. Kelas pasti kosong melompong.

​Sesampainya di depan kelas XII-IPA 1, aku mengintip dari kaca jendela. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Deretan tas ransel tergeletak begitu saja di atas kursi atau di dalam laci meja. Aku mendorong pintu kelas perlahan, berusaha agar engselnya tidak berderit.

​Suasana kelas yang kosong terasa sangat berbeda. Hening, hanya terdengar sayup-sayup suara peluit Pak Heri dari arah lapangan. Aku berjalan berjingkat menembus lorong antarmeja, mataku awas menatap ke arah pintu, berjaga-jaga jika ada seseorang yang tiba-tiba masuk.

​Kakiku membawaku menuju barisan paling belakang. Tepat di kursinya.

​Tas ransel Rendi tergeletak di atas kursinya. Dari dekat, tas itu terlihat jauh lebih menyedihkan. Warna hitamnya sudah pudar menjadi keabu-abuan. Bagian bawahnya dipenuhi tambalan jahitan tangan yang kasar, menahan agar kainnya yang rapuh tidak jebol. Tali bahunya sudah menipis, nyaris putus karena menahan beban yang terlalu berat.

​Tanganku bergetar saat aku mengulurkan jari untuk menyentuh tas itu. Menyentuh barang milik Rendi terasa seperti sebuah kelancangan yang luar biasa, seolah aku sedang menyentuh ruang privasinya yang paling rahasia.

​Aku menelan ludah, menarik napas dalam-dalam. Hanya sebentar, Keyla. Masukkan suratnya lalu pergi, batinku memperingatkan.

​Dengan ujung jari yang dingin, aku menarik ritsleting kompartemen utamanya. Ritsleting itu macet di bagian tengah karena giginya sudah rusak, membuatku harus menariknya dengan sedikit tenaga hingga berbunyi srekk yang cukup keras di tengah keheningan kelas.

​Tas itu terbuka.

​Mataku langsung terpaku pada isi di dalamnya, dan seketika itu juga, pertahananku runtuh. Setetes air mata lolos begitu saja menuruni pipiku.

​Di dalam tas yang seharusnya berisi tumpukan buku pelajaran tebal dan tempat pensil yang bagus itu, nyaris kosong melompong. Hanya ada tiga buah buku tulis tipis yang sampulnya sudah sobek dan dilipat-lipat. Tidak ada kotak pensil, hanya ada satu buah pulpen bertutup gigitan yang waktu itu ia pinjamkan padaku, tergeletak begitu saja di dasar tas.

​Namun yang membuat dadaku terasa seperti diremas dengan kejam adalah barang-barang lain yang ada di sana.

​Di sela-sela buku tulisnya, aku melihat sebotol kecil minyak angin penolak masuk angin yang sudah hampir habis. Ada juga sepasang sarung tangan kain bekas yang sangat kotor dan bolong di bagian jarinya—sarung tangan yang pasti ia gunakan saat memanggul beras atau batu di pasar.

​Dan di sudut tasnya, terdapat sebuah brosur lusuh yang dilipat kecil. Rasa penasaranku mengalahkan sopan santunku. Aku menarik brosur itu perlahan. Itu adalah selebaran lowongan kerja paruh waktu sebagai pencuci piring di sebuah rumah makan tenda pinggir jalan, dengan gaji yang sangat, sangat tidak sepadan dengan tenaga manusia.

​Ya Tuhan. Ini adalah isi tas seorang anak SMA berusia delapan belas tahun. Saat teman-temannya membawa headphone mahal, ponsel pintar terbaru, atau komik-komik Jepang di dalam tas mereka, Rendi membawa senjata-senjata untuk bertahan hidup di jalanan yang kejam.

​"Saat aku membuka tasmu, aku tidak menemukan buku pelajaran atau cita-cita masa remaja. Aku menemukan sebuah arena pertempuran yang berdarah-darah. Di dalam tas usangmu itu, kau memikul nyawa adikmu, harga dirimu, dan keputusasaanmu. Maafkan aku yang lancang mengintip nerakamu, Rendi." (Buku Harian Keyla, Halaman 54)

​Aku menangis dalam diam. Bahuku berguncang menahan isakan. Aku buru-buru menghapus air mataku dengan punggung tangan, takut air mataku jatuh menetes dan merusak satu-satunya buku tulis yang ia miliki.

​Aku merogoh saku rokku, mengeluarkan amplop biru muda itu. Amplop itu terasa begitu ringan, begitu tidak berarti dibandingkan dengan beratnya penderitaan yang laki-laki ini pikul. Namun aku sangat berharap isinya bisa meringankan beban perutnya hari ini.

​Aku menyelipkan amplop biru itu tepat di tengah-tengah buku tulis bersampul cokelat miliknya, menyembunyikannya agar tidak langsung terlihat saat ia membuka ritsleting, tapi pasti akan ia temukan saat ia membuka buku pelajarannya nanti.

​"Semoga ini cukup buat jajan Nanda ya, Ren," bisikku parau, suaraku nyaris tertelan keheningan kelas.

​Aku buru-buru menutup kembali ritsleting tasnya, memposisikan letaknya sama persis seperti semula agar ia tidak curiga bahwa tasnya baru saja disentuh orang lain. Setelah memastikan semuanya aman, aku setengah berlari kembali ke mejaku sendiri di depan.

​Aku duduk, menundukkan kepalaku di atas meja, dan berpura-pura tidur. Jantungku masih berdetak liar. Adrenalin yang bercampur dengan kesedihan yang mendalam membuat kepalaku benar-benar pusing kali ini.

​Sepuluh menit kemudian, aku mendengar suara riuh tawa dan langkah kaki dari luar. Jam olahraga sepertinya sedang istirahat. Aku masih menundukkan kepala saat pintu kelas terbuka.

​"Keyla?"

​Suara bariton yang hangat memanggil namaku. Bukan suara perempuan. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati Indra berdiri di ambang pintu kelas XII-IPA 1. Ia masih mengenakan seragam olahraganya yang basah oleh keringat, handuk kecil menggantung di lehernya. Rupanya kelasnya sedang berolahraga di lapangan yang bersebelahan dengan kelasku.

​Indra berjalan menghampiriku, wajahnya memancarkan kekhawatiran yang nyata. "Kamu nggak apa-apa? Tadi aku lihat kamu keluar lapangan sambil pegangin perut. Muka kamu pucat banget."

​Aku buru-buru merapikan rambutku dan mengusap wajahku, memastikan tidak ada sisa air mata yang terlihat. "Eh, Indra. Aku nggak apa-apa kok. Cuma kram perut biasa. Udah minum obat."

​Indra berdiri di samping mejaku, menatapku lekat-lekat. Matanya yang tajam seolah sedang berusaha membaca apa yang sebenarnya kusembunyikan di balik senyum paksaku.

​"Kamu abis nangis, Key?" tebak Indra pelan, suaranya sangat lembut, membuat siapa pun pasti akan merasa nyaman untuk bersandar.

​Aku menggeleng cepat. "Nggak, Ndra. Ini cuma... karena nahan sakit perut aja tadi, jadi keluar air mata sedikit."

​Indra menghela napas. Ia tidak mendesak lebih jauh, sebuah sifat gentleman yang selalu membuatnya digilai banyak wanita. Ia mengulurkan tangannya, meletakkan sebotol air mineral dingin yang embunnya masih menetes di atas mejaku.

​"Yaudah. Diminum airnya biar lebih enakan. Kalau butuh dianterin pulang, bilang aja ya. Jangan maksain diri jalan ke depan nyari taksi kalau sopirmu nggak bisa jemput," pesan Indra dengan senyum tulusnya.

​"Makasih banyak, Ndra. Kamu selalu repot-repot," jawabku merasa bersalah.

​Indra tersenyum tipis. "Buat kamu, nggak ada kata repot, Key."

​Saat Indra berbalik untuk keluar dari kelasku, mataku refleks melirik ke arah pintu. Dan tepat di saat itu, Rendi muncul di ambang pintu.

​Ia masuk ke kelas dengan napas yang memburu. Kemeja olahraganya basah kuyup oleh keringat, menempel ketat di tubuh kurusnya. Rambutnya berantakan, dan wajahnya memerah karena kepanasan berlari lima putaran tanpa asupan nutrisi yang cukup.

​Rendi dan Indra berpapasan di tengah lorong kelas.

​Dua kutub yang berlawanan. Indra, sang kapten yang bersinar terang, penuh dengan kehangatan dan senyum yang memikat. Dan Rendi, sang gunung es yang kelam, penuh dengan luka dan kebisuan yang mengintimidasi.

​Indra menatap Rendi sejenak. Ada sedikit rasa superioritas di mata Indra, sebuah tatapan yang biasa diberikan oleh seorang laki-laki yang merasa dirinya memenangkan perlombaan. Indra tahu Rendi adalah saingannya dalam mendapatkan perhatianku, meski Rendi tak pernah melakukan pergerakan apa pun.

​Sedangkan Rendi? Ia bahkan tidak repot-repot membalas tatapan Indra. Ia menganggap Indra hanyalah benda mati yang kebetulan menghalangi jalannya. Rendi memiringkan bahunya, melewati Indra tanpa sepatah kata pun, lalu berjalan lurus menuju bangkunya di belakang.

​Melihat pemandangan itu, perutku kembali mual. Siska benar, jarak di antara kami terlalu jauh. Tapi yang tidak Siska mengerti adalah, aku tidak pernah peduli pada jarak itu. Aku siap melompat ke dalam jurangnya.

​Rendi duduk di kursinya dengan kasar. Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja berbantalkan lipatan tangannya, berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia terlihat sangat kelelahan hingga nyaris pingsan.

​Mataku tak lepas dari sosoknya. Tas ranselnya berada di pangkuannya, sangat dekat dengan tangannya.

​Buka tasmu, Rendi, batinku menjerit tertahan. Buka tasmu, ambil bukumu, dan temukan amplop itu. Kumohon, temukan dan terima itu.

​Namun, Rendi tidak bergerak. Ia terlalu lelah untuk sekadar memikirkan buku pelajaran. Ia tertidur.

​Tak lama kemudian, teman-teman sekelasku berhamburan masuk dengan bau keringat yang memenuhi ruangan. Lidya, Bella, dan Siska berjalan menghampiriku.

​"Gimana, Key? Udah mendingan?" tanya Lidya, nadanya sudah sedikit melunak dari kemarin.

​"Udah, Lid. Makasih," jawabku.

​Siska duduk di depanku, matanya menatap botol air mineral dingin dari Indra di mejaku. Senyum Siska langsung merekah. "Dari Indra ya?" tanyanya memastikan. Aku hanya mengangguk.

​"Tuh kan," Siska berbisik penuh kemenangan. "Indra ninggalin latihannya cuma buat mastiin keadaan kamu, Key. Sementara yang di belakang sana? Tadi pas kamu kesakitan di lapangan, dia malah diam aja, nunduk nggak peduli. Laki-laki yang bener-bener cinta sama kamu itu yang ada di saat kamu butuh, bukan yang mementingkan dirinya sendiri."

​Aku menulikan telingaku dari ucapan Siska. Fokusku sepenuhnya terpusat ke arah belakang. Sepanjang sisa jam pelajaran setelah olahraga, aku seperti orang gila yang sedang menunggu bom waktu meledak.

​Aku menoleh ke belakang setiap lima menit sekali. Namun Rendi tidak juga membuka tasnya. Ia hanya menidurkan kepalanya, terbangun sesekali untuk menyalin catatan dari papan tulis ke selembar kertas robekan, tanpa menyentuh buku tulis di dalam tasnya di mana aku menyembunyikan amplop biru itu.

​Jam demi jam berlalu bagai siksaan yang panjang dan menyakitkan. Aku menggigit kuku-kukuku dengan cemas. Bagaimana jika ia tidak membuka tasnya sampai besok? Bagaimana jika surat itu terjatuh tanpa ia sadari? Atau yang lebih buruk... bagaimana jika ia sudah melihatnya, namun ia sengaja mengabaikannya karena tahu itu adalah bentuk 'sedekah'?

​Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi melengking memecah keteganganku.

​Seketika, kelas menjadi riuh. Anak-anak langsung mengemasi barang-barang mereka dengan semangat.

​Rendi terbangun. Ia mengusap wajahnya yang masih memancarkan kelelahan ekstrem. Ia meraih tas ranselnya yang sedari tadi teronggok di kursi sebelahnya.

​Jantungku berhenti berdetak. Ini saatnya.

​Aku memutar tubuhku ke belakang sepenuhnya, tidak lagi mempedulikan tatapan heran Lidya dan Bella di sampingku. Mataku terpaku pada tangan Rendi.

​Laki-laki itu membuka ritsleting tasnya. Gerakannya lambat. Ia menatap ke dalam tasnya yang kosong melompong. Tangannya terulur ke dalam...

​Tiba-tiba, gerakannya terhenti.

​Bahu lebarnya menegang. Kepalanya tertunduk kaku menatap ke dalam dasar tasnya.

​Ia melihatnya. Aku yakin ia melihat ujung amplop biru itu menyembul dari sela-sela buku tulisnya.

​Waktu seakan berjalan dalam gerak lambat yang menyiksa. Rendi mengeluarkan tangannya dari dalam tas. Di sela-sela jari telunjuk dan jari tengahnya yang kasar, terjepit sebuah amplop biru muda yang tertutup rapat.

​Napas di tenggorokanku tercekat. Mataku tak berkedip menatap amplop yang kini berada di tangannya.

​Rendi menatap amplop itu dengan kening yang berkerut sangat dalam. Tidak ada ekspresi senang. Tidak ada raut terkejut yang membahagiakan. Wajahnya seketika menggelap, memancarkan aura permusuhan yang sangat pekat dan mematikan.

​Ia membalik amplop itu, tidak menemukan nama pengirim di sana. Tangannya yang bebas mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.

​Lalu, perlahan, mata elangnya yang kelam dan tajam itu terangkat dari amplop.

​Ia memutar kepalanya, menyapu pandangan ke sekeliling kelas yang mulai sepi. Ia mencari pelaku yang berani-beraninya menyusupkan benda ini ke dalam wilayah teritorialnya. Dan dengan ketajaman insting seorang serigala yang sedang diusik, matanya akhirnya berhenti mencari.

​Tatapan matanya langsung mengunci mataku.

​Deg.

​Duniaku runtuh seketika.

​Kami saling bertatapan di tengah kelas yang bising. Mataku membulat, penuh dengan ketakutan, kepanikan, dan rasa bersalah yang tertangkap basah. Sedangkan matanya... matanya memancarkan amarah yang begitu dahsyat, harga diri yang tercabik-cabik, dan sebuah penghinaan yang tak termaafkan.

​Ia tahu. Rendi tahu bahwa akulah pelakunya. Ia bisa membaca kepanikanku, dan ia tahu bahwa hanya aku orang bodoh yang selalu mengawasinya setiap saat.

​"Kau menatapku seolah aku adalah malaikat pencabut nyawa yang datang membawa pedang. Dan aku tahu, sejak detik itu, surat cintaku telah menjelma menjadi surat kematian bagi harga dirimu." (Buku Harian Keyla, Halaman 57)

​Tanpa mengalihkan tatapannya dariku, Rendi meremas amplop biru itu di tangannya. Ia meremasnya dengan sangat kuat, hingga suara kertas yang remuk berbunyi nyaring menembus kebisingan. Uang seratus ribu rupiah di dalamnya ikut teremas menjadi gumpalan sampah tak berguna.

​Lalu, dengan gerakan kasar dan penuh emosi, ia melemparkan gumpalan kertas itu ke lantai, tepat di dekat kakinya sendiri.

​Ia bangkit dari kursinya, menyampirkan ransel bututnya di bahu, dan melangkah pergi keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia membiarkan surat cintaku, uangku, dan seluruh harapanku tergeletak menjadi sampah kotor di lantai kelas yang berdebu.

​Aku membeku di kursiku. Tanganku bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah ruah bagai bendungan yang pecah.

​Siska benar. Rendi adalah gunung es yang tak bisa kucairkan. Dan hari ini, usahaku untuk memberinya secercah kehangatan, justru membuatnya membekukanku hingga mati rasa.

1
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!