Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Sekar sempat menolak halus, mengatakan ia sedang tidak ingin lama-lama di luar, tapi Rendi terus mendesak dengan nada yang sulit ditolak, bukan memaksa dengan kasar, tapi lebih seperti seseorang yang benar-benar butuh bicara. Pada akhirnya, Sekar mengangguk pelan. Mereka berjalan menuju restoran di dalam mall, duduk berhadapan dengan suasana canggung yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Percakapan dimulai dengan hal-hal ringan, tapi tidak butuh waktu lama hingga Rendi masuk ke inti yang sebenarnya. Ia bercerita panjang tentang proyek yang dulu mereka bangun bersama, bagaimana semuanya mulai berantakan setelah Sekar pergi, bagaimana banyak keputusan yang terasa salah arah, bagaimana tim kehilangan pegangan.
Sekar hanya diam mendengarkan, tangannya menggenggam gelas di depannya tanpa benar-benar meminumnya. Ada rasa bersalah yang perlahan muncul, tapi juga ada luka yang belum sembuh.
“Aku butuh kamu balik, Kar,” ujar Rendi akhirnya, suaranya lebih rendah dan serius. “Jujur, semuanya nggak sama tanpa kamu.”
Sekar menggeleng pelan, tatapannya jatuh ke meja. “Aku nggak bisa…” jawabnya lirih, tapi tegas.
Rendi mengerutkan kening, lalu menatapnya lebih dalam. “Karena Mila?” tanyanya langsung.
Nama itu membuat Sekar menegang, tapi ia tidak menjawab. Hanya diam.
Rendi menghela napas, lalu berkata pelan, “Dia sudah dipecat.”
Sekar langsung mengangkat kepala, kaget yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya. “Apa?”
“Iya. Sudah lama. Setelah… semuanya kacau.” Rendi menatap Sekar seolah mencoba membaca reaksinya. “Aku kira kamu tahu.”
Sekar menggeleng pelan. Ia benar-benar tidak tahu. Ada sesuatu yang aneh mengalir di dadanya—bukan lega, bukan juga bahagia, hanya… kosong yang sedikit bergeser.
Namun sebelum ia sempat merespons lebih jauh, matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang begitu ia kenal di sudut ruangan. Dunia seolah berhenti. Sea. Duduk di sana, mengenakan gaun kecil, rambutnya diikat rapi, terlihat sedikit lebih besar dari terakhir kali Sekar melihatnya. Di sampingnya, Aji duduk santai, dan di sisi lain, Mila, dengan senyum tipis yang terasa menusuk dari jarak sejauh itu.
Sekar langsung berdiri tanpa sadar, kursinya bergeser sedikit keras hingga menarik perhatian. Napasnya tercekat, matanya mulai berkaca-kaca. Semua suara di sekitarnya menghilang, yang ada hanya satu titik yaitu anaknya. “Sea…” bisiknya hampir tak terdengar.
Anak kecil itu menoleh, seolah merasakan sesuatu. Mata mereka bertemu. Dan dalam sekejap, wajah Sea berubah dari bingung menjadi terkejut, lalu bahagia. “Ibu!”
Suara itu memecah segalanya. Sea langsung bangkit dari kursinya, berlari kecil menuju Sekar tanpa ragu. Sekar pun bergerak cepat, menuruni jarak yang selama ini terasa mustahil, lalu berlutut dan memeluk putrinya erat. Sangat erat, seolah jika ia melepas sedikit saja, Sea akan hilang lagi.
“Ibu kangen…” suara Sekar pecah, akhirnya dipenuhi emosi yang tak lagi bisa ia tahan.
Namun momen itu tidak berlangsung lama. Mila berdiri dan berjalan mendekat dengan langkah tenang, senyum yang terlihat sopan tapi dingin. “Sea, sayang jangan ganggu orang, ya,” ucapnya lembut, tapi ada tekanan halus di balik nada itu. Tangannya mencoba menarik Sea perlahan.
Sekar langsung mengeratkan pelukannya tanpa sadar. “Aku cuma mau ketemu anakku,” katanya, suaranya bergetar tapi penuh tekad.
Aji ikut berdiri, menatap Sekar dengan senyum miring yang penuh sindiran. “Hebat ya,” ucapnya santai. “Pantesan selama ini susah dihubungi. Ternyata sibuk jalan sama laki-laki lain.”
Sekar menoleh, matanya tajam meski masih basah. “Aku nggak peduli kamu mau bilang apa,” jawabnya pelan, tapi setiap katanya terasa berat. “Aku cuma mau anakku.”
Aji tertawa kecil, dingin. “Dari dulu juga gitu kan? Selalu punya alasan.”
Tapi kali ini, Sekar tidak terpancing. Tidak seperti dulu. Ia tidak mencoba membela diri, tidak mencoba menjelaskan. Semua itu tidak lagi penting. Yang penting hanya satu. Sea. Sekar menatap putrinya, mengusap rambutnya pelan, lalu mengambil tas kecil berwarna pink dari kantong belanjaannya. “Ini… buat kamu,” ucapnya lembut. “Ulang tahun kamu, kan…”
Sea menerimanya dengan mata berbinar, memeluk tas itu erat seperti sesuatu yang sangat berharga. “Makasih, Ibu…”
Melihat itu, hati Sekar kembali retak, tapi kali ini bukan hanya karena sakit, melainkan juga karena cinta yang begitu besar hingga terasa menyakitkan. Ia tahu, ia mungkin belum bisa membawa Sea pulang hari ini. Ia mungkin masih harus menghadapi banyak hal, banyak rintangan, banyak luka. Tapi satu hal menjadi semakin jelas di hatinya Ia tidak akan menyerah. Tidak lagi.
"Kita akan segera bersama!" Sekar membisikkan janjinya pada Sea. Sebelum akhirnya Aji menarik paksa Sea dari dekapannya.
***
Sekar tidak benar-benar ingat bagaimana pelukan itu terlepas. Semuanya terjadi terlalu cepat, tangan kecil Sea yang tadi menggenggam bajunya erat, tiba-tiba ditarik paksa, suara tangis yang pecah, dan tubuh kecil itu menjauh darinya sedikit demi sedikit. Yang tersisa hanya hawa hangat yang perlahan hilang dari pelukannya.
Sekar berdiri kaku, tangannya masih terangkat di udara, seolah tubuhnya belum sempat menerima kenyataan bahwa anaknya sudah tidak ada di sana lagi. Dadanya terasa kosong, tapi bukan kosong yang tenang ini kosong yang berisik, yang menyesakkan, yang membuat napasnya terasa berat seperti tertahan sesuatu yang tak terlihat.
Aji berdiri di hadapannya dengan wajah penuh penilaian, matanya dingin dan tajam. “Perempuan nggak tahu malu,” ucapnya tanpa ragu, cukup keras hingga beberapa orang di sekitar mulai melirik. “Sok jadi ibu yang peduli, padahal kelakuannya?” Ia tertawa sinis, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin merendahkan. “Kalau aku sama Mila, itu wajar. Aku laki-laki. Punya empat kuota.”
Kalimat itu menghantam Sekar, tapi yang lebih menyakitkan bukanlah kata-katanya—melainkan kenyataan bahwa semua itu diucapkan di depan Sea.
Aji melirik ke arah Rendi sekilas, lalu kembali menatap Sekar. “Tapi kamu? Katanya perempuan baik-baik. Ternyata sama aja. Tukang selingkuh.”
Sekar tahu ia bisa membantah. Ia tahu ia punya cukup alasan, cukup fakta, cukup luka untuk membela dirinya. Tapi ketika matanya bertemu dengan Sea yang kini berada dalam genggaman Mila, wajah kecilnya dipenuhi kebingungan dan sisa tangis semua kata itu mati di tenggorokannya.
Ia memilih diam. Bukan karena ia kalah. Bukan karena ia tidak mampu. Tapi karena ia tidak ingin Sea melihat ibunya berteriak, berdebat, atau saling menyakiti dengan ayahnya di tempat umum seperti ini.
Sekar menelan semua yang ingin ia katakan, menelan harga dirinya yang diinjak-injak di depan banyak orang, hanya demi satu hal agar Sea tidak semakin ketakutan.
Ia menunduk sedikit, tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya, kukunya menekan telapak tangan hingga nyaris sakit. Tapi rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang ia rasakan di dalam.
Sea masih menoleh ke arahnya saat dibawa pergi, matanya mencari, tangannya sempat terulur kecil. “Ibu…”
Satu kata itu cukup untuk hampir meruntuhkan Sekar di tempat. Tapi ia tetap berdiri. Tetap diam.
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗