NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Semut di Bawah Tapak Kuda Perang

Kegelapan yang menyelimuti kesadaran Yang Chen tidak pecah seperti kaca, melainkan mencair perlahan seperti lilin yang terkena api.

Teknik Hibernasi Semu adalah pedang bermata dua. Ia menghemat energi vital dengan cara menekan metabolisme hingga titik nadir, hampir menyamai kondisi kematian klinis. Namun, proses 'menghidupkan kembali' mesin tubuh yang sudah dingin ini adalah siksaan tersendiri.

Pertama, jantungnya.

Dug...

Sebuah detak tunggal yang berat menghantam rongga dadanya, seolah ada palu yang memukul dari dalam. Jantung yang selama delapan belas jam terakhir hanya berdenyut sepuluh kali per menit kini dipaksa untuk memacu darah lagi.

Dug... Dug... Dug...

Darah yang dingin dan kental mulai didorong paksa melewati pembuluh-pembuluh vena yang menyempit. Sensasinya seperti dialiri air es yang dicampur serpihan kaca. Rasa sakit menusuk menjalar dari dada ke leher, lalu menyebar ke ujung jari tangan dan kaki.

Yang Chen tersentak.

"Hah!"

Matanya terbuka lebar. Pupilnya mengecil drastis saat cahaya pagi yang terang menerobos masuk melalui celah atap gubuk yang bocor. Napasnya memburu, rakus menghisap oksigen yang tiba-tiba terasa sangat tipis.

Tubuhnya gemetar hebat—bukan karena takut, tapi karena shivering thermogenesis, mekanisme alami tubuh untuk menghasilkan panas secara instan. Gigi-giginya beradu keras, tak-tak-tak-tak, suara gemeretak tulang rahang yang tak terkendali.

Dia tidak melawan gemetaran itu. Dia membiarkannya. Dia butuh panas itu.

"Bangun..." bisiknya dengan suara parau yang nyaris hilang. Tenggorokannya lebih kering dari gurun pasir. Dehidrasi kembali menyerang, meski tidak separah kemarin.

Perlahan, sistem sarafnya kembali online. Indra pendengarannya yang diredam kini menangkap suara dunia luar dengan kejelasan yang menyakitkan.

Suara angin. Suara lalat. Dan yang paling penting... suara aktivitas yang tidak biasa dari arah kandang kuda utama.

Biasanya, jam segini hanya terdengar suara sapu lidi para pelayan malas. Tapi hari ini berbeda. Ada suara logam beradu. Cling... clang... Suara baju zirah. Ada suara bentakan tegas yang disiplin, bukan obrolan santai sambil berjudi.

Dia sudah datang.

Kesadaran itu menyambar Yang Chen lebih cepat daripada rasa sakit fisiknya. Jenderal Feng Wuhen sudah ada di sini.

Yang Chen mencoba duduk.

Otot perutnya menegang. Dia menunggu rasa sakit yang biasa menyapa kakinya—rasa kaku dan mati rasa yang membuatnya lumpuh kemarin pagi.

Namun, rasa itu tidak datang.

Sebagai gantinya, ada rasa nyeri tumpul yang panas di paha dan betisnya. Bekas-bekas memar ungu tua hasil "Pijatan Iblis" kemarin kini terlihat mengerikan di kulit pucatnya. Tapi saat dia menekuk lututnya...

Kakinya merespons.

Sret.

Kakinya bergerak mulus. Sendi lututnya menekuk tanpa ada bunyi klik tulang yang terkunci.

Senyum tipis dan dingin terukir di bibir pecah-pecah Yang Chen.

"Sakit adalah harga yang murah untuk sebuah mobilitas," gumamnya.

Dia mendorong tubuhnya bangkit. Dia tidak perlu merangkak ke dinding kali ini. Dia menumpukan tangannya di lutut, lalu dengan satu tarikan napas panjang, dia berdiri.

Tegak.

Dia berdiri tanpa bantuan dinding. Kakinya gemetar menahan bobot tubuhnya yang seringan kapas itu, tapi dia berdiri. Gravitasi masih menjadi musuh, tapi bukan lagi penakluk.

Yang Chen menunduk, melihat penampilannya sendiri.

Jubah pelayan abunya kotor luar biasa. Ada bercak lumpur kering di bagian dada, noda darah samar di lengan baju (darah Kasim Liu yang sudah berubah cokelat), dan noda air kotor di bagian punggung. Baunya... campuran antara keringat basi, darah, dan kotoran kuda.

Seorang pengemis di jalanan ibukota mungkin berpakaian lebih baik darinya.

"Penampilan ini..." Yang Chen mengerutkan kening. "Jika aku keluar seperti ini, penjaga akan menebasku sebelum aku sempat membuka mulut."

Dia tidak punya air untuk mandi. Dia tidak punya baju ganti.

Tapi dia punya tangan.

Yang Chen mulai merapikan dirinya seadanya. Dia menepuk-nepuk jubahnya dengan keras, merontokkan debu dan lumpur kering yang menempel. Debu beterbangan di sinar matahari, membuatnya terbatuk kecil. Dia mengancingkan kembali kerah jubahnya yang terbuka berantakan, berusaha menutupi tulang selangkanya yang menonjol.

Lalu, rambutnya. Rambut hitam panjang itu kusut masai seperti sarang burung.

Dia menyisirnya dengan jari-jari tangannya. Dia menarik paksa simpul-simpul rambut yang kusut tanpa mempedulikan rasa sakit di kulit kepalanya. Beberapa helai rambut rontok di tangannya, tapi dia terus menyisir sampai rambut itu setidaknya jatuh lurus ke punggungnya.

Dia tidak punya tali ikat rambut. Dia melihat ke lantai, mencari sesuatu. Matanya menangkap seutas tali jerami yang agak kuat.

Dia memungutnya, membersihkannya sedikit, lalu menggunakannya untuk mengikat rambutnya tinggi-tinggi di belakang kepala. Gaya ekor kuda sederhana.

Meskipun wajahnya kotor dan bajunya compang-camping, dengan rambut yang terikat rapi ke belakang, garis rahang dan lehernya kini terlihat jelas. Itu memberikan sedikit ilusi keteraturan. Sedikit ilusi martabat.

"Cukup," putusnya. Dia tidak bisa mengubah fakta bahwa dia miskin, tapi dia bisa menunjukkan bahwa dia tidak pasrah.

Sekarang, waktunya keluar.

Yang Chen berjalan menuju pintu. Langkahnya pelan, diseret sedikit, tapi pasti. Setiap langkah mengirimkan denyutan nyeri dari telapak kaki ke otak, tapi dia mengabaikannya seperti mengabaikan lalat yang berdengung.

Dia membuka pintu gubuk.

Cahaya matahari siang langsung menampar wajahnya. Matanya menyipit, beradaptasi dengan silau.

Pemandangan di depannya telah berubah drastis dibanding kemarin.

Area kandang kuda yang biasanya sepi dan kotor kini dipenuhi orang. Namun, suasananya hening. Hening yang mencekam.

Para pelayan kandang, termasuk si kekar Pengurus Kuda Zhang yang kemarin meludahinya, kini berlutut di tanah lumpur dengan kepala menunduk dalam-dalam. Tubuh mereka gemetar. Keringat dingin terlihat mengalir di leher tebal Zhang.

Di sekitar mereka, berdiri enam orang prajurit elit.

Prajurit-prajurit ini mengenakan zirah Black Iron (Besi Hitam) yang mengkilap, simbol pasukan khusus kerajaan. Mereka berdiri tegak seperti patung, tangan kanan mereka bersiaga di gagang pedang di pinggang. Aura mereka tajam, penuh niat membunuh yang tertahan. Mereka bukan penjaga gerbang biasa; mereka adalah veteran perang.

Dan di tengah-tengah formasi itu... ada seekor kuda.

Bukan sembarang kuda. Itu adalah Kuda Naga Angin. Tingginya hampir dua meter, dengan otot-otot yang menonjol seperti ukiran batu di balik kulit hitam legamnya. Matanya cerdas dan liar. Napas yang keluar dari hidungnya membentuk uap panas, meski hari sudah siang. Kuda ini adalah binatang iblis tingkat rendah, mampu berlari seribu mil sehari tanpa lelah.

Di samping kuda itu, berdiri seorang pria.

Dia tidak mengenakan zirah lengkap. Dia hanya mengenakan jubah perang berwarna biru tua dengan pelindung dada perak sederhana. Tapi kehadirannya mendominasi seluruh halaman itu lebih dari gabungan enam prajurit elit tadi.

Jenderal Feng Wuhen.

Pria itu tampak berusia sekitar empat puluh tahunan. Wajahnya keras, dipahat oleh angin gurun dan kerasnya medan perang. Ada bekas luka memanjang dari alis kiri hingga ke pipi, sebuah kenang-kenangan dari pertarungan melawan Jenderal Kerajaan Musuh sepuluh tahun lalu.

Yang Chen, yang berdiri di ambang pintu gubuknya yang gelap, mengamati pria itu dengan mata analitis.

Kultivasi: Ranah Earth Spirit (Roh Bumi) tingkat 3,batin Yang Chen langsung menaksir dalam sekilas pandang.

Di dunia fana ini, itu adalah kekuatan puncak. Seseorang yang bisa menghancurkan batu besar dengan satu pukulan tangan kosong dan bisa melompat setinggi sepuluh meter. Tapi bagi Yang Chen sang mantan Kaisar, itu adalah level bayi yang baru belajar berjalan.

Namun, Yang Chen tidak meremehkannya. Dalam kondisi tubuh Zhao Wei yang tanpa Dantian ini, Feng Wuhen adalah Dewa Kematian yang tak tersentuh. Satu jentikan jari Feng Wuhen bisa meledakkan kepala Yang Chen seperti semangka busuk.

Feng Wuhen sedang mengelus leher kuda hitam itu. Tangannya yang kasar bergerak lembut, kontras dengan wajahnya yang garang.

"Zhang," suara Feng Wuhen terdengar. Berat. Berwibawa. Tidak perlu berteriak, tapi suaranya bergetar di udara, menekan gendang telinga semua orang.

"Hamba... Hamba di sini, Jenderal!" jawab Pengurus Kuda Zhang tanpa berani mengangkat kepalanya dari lumpur.

"Kuda ini..." Feng Wuhen menepuk leher hewan itu. "Kakinya sedikit bengkak. Kau memberinya makan rumput basah kemarin?"

Tubuh Zhang tersentak seolah disambar petir. "Ampun, Jenderal! Hamba... persediaan rumput kering habis karena hujan... hamba terpaksa..."

"Cukup."

Satu kata itu memotong alasan Zhang. Feng Wuhen tidak marah. Dia hanya kecewa. Dan kekecewaan seorang Jenderal jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya.

"Potong gajimu tiga bulan. Dan jika kaki Blackwind belum sembuh besok pagi, potong tanganmu sendiri."

Hukuman itu diucapkan dengan nada datar, seolah sedang membicarakan cuaca.

"Te-terima kasih atas kemurahan hati Jenderal!" Zhang membenturkan dahinya ke tanah berkali-kali. Dia bersyukur hanya kehilangan gaji, bukan nyawa.

Suasana semakin tegang. Para prajurit lain tidak bergeming. Kuda itu mendengus, kakinya menggaruk tanah, memercikkan lumpur ke wajah Zhang.

Ini adalah momennya.

Yang Chen tahu, jika dia menunggu satu menit lagi, Feng Wuhen akan naik ke kudanya dan pergi. Kesempatan ini akan hilang selamanya.

Jantung Yang Chen berpacu. Bukan karena takut, tapi karena dia harus mengumpulkan seluruh sisa tenaga di kakinya untuk melakukan satu hal gila.

Dia melangkah keluar dari bayangan gubuk.

Langkahnya pelan. Srek. Srek.

Suara kakinya yang menyeret di tanah memecah keheningan di antara isak tangis tertahan Zhang dan dengusan kuda.

Salah satu prajurit pengawal langsung menoleh. Matanya membelalak melihat sosok kurus kering, kotor, dan berbau busuk berjalan keluar dari gubuk sampah itu.

"Siapa di sana?!" bentak prajurit itu. Tangannya langsung mencabut pedang setengah jalan. "Berhenti, pengemis! Berlutut!"

Teriakan itu membuat semua orang menoleh. Termasuk Feng Wuhen.

Mata sang Jenderal yang tajam seperti elang itu beralih dari kudanya, menyapu halaman, dan mendarat tepat pada sosok Yang Chen.

Tekanan.

Yang Chen merasakan tekanan fisik yang nyata saat tatapan Feng Wuhen mengenainya. Itu adalah Tekanan Roh (Spirit Pressure) alami dari seorang ahli bela diri tingkat tinggi. Bagi orang biasa, tatapan ini cukup untuk membuat kaki lemas dan terkencing di celana.

Tapi Yang Chen tidak berlutut.

Dia berhenti melangkah, sekitar sepuluh meter dari rombongan itu. Dia berdiri di sana, di tengah lumpur, dengan baju compang-camping dan tubuh yang terlihat seperti akan roboh jika ditiup angin.

Dia menegakkan punggungnya. Dia mengangkat dagunya.

Dan dia menatap langsung ke mata Jenderal Feng Wuhen.

Di seluruh Kerajaan Besi Hitam, hanya Raja yang berani menatap mata Feng Wuhen secara langsung. Sisanya akan menunduk takut.

Tapi bocah kurus ini menatapnya. Bukan dengan tatapan menantang yang bodoh, bukan pula dengan tatapan memohon yang menyedihkan.

Itu adalah tatapan setara. Tenang. Dalam. Dan... menilai.

Prajurit yang membentak tadi sudah mencabut pedangnya sepenuhnya, siap menebas kelancangan ini. "Kau tuli?! Berlutut di hadapan Jenderal Besar!"

Prajurit itu melangkah maju dengan niat membunuh.

"Tunggu."

Satu kata dari Feng Wuhen menghentikan prajurit itu seketika.

Feng Wuhen tidak melihat ke arah prajuritnya. Matanya terkunci pada Yang Chen. Ada kilatan keheranan di mata sang Jenderal. Dia mengenali wajah ini. Samar-samar, dia ingat wajah putra selir yang tidak berguna itu. Tapi aura ini... aura yang dipancarkan bocah sakit-sakitan ini... kenapa terasa begitu asing?

Kenapa bocah ini tidak gemetar?

Yang Chen tahu dia sudah mendapatkan perhatiannya. Sekarang, dia harus melempar dadu.

Dia tidak menyapa dengan gelar kebangsawanan. Dia tidak memanggil 'Paman' atau 'Jenderal'.

Yang Chen membuka mulutnya, suaranya serak namun jelas terdengar di keheningan lapangan itu.

"Kuda itu..."

Dia menunjuk Kuda Naga Angin dengan jari telunjuknya yang kurus.

"...bukan sakit karena rumput basah."

Hening.

Pernyataan itu menggantung di udara seperti vonis mati. Pengurus Kuda Zhang mengangkat kepalanya dengan wajah pucat pasi, menatap Yang Chen dengan horor. Bocah gila ini baru saja membantah diagnosa Jenderal Feng?

Feng Wuhen menyipitkan matanya. Hawa dingin di sekitar tubuhnya meningkat tajam.

"Oh?" Feng Wuhen memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Yang Chen. Tangannya turun dari leher kuda, bersedekap di dada. "Jadi Pangeran Ketiga yang 'Sakit' kini menjadi ahli kuda? Katakan padaku, nak..."

Suaranya rendah, berbahaya, seperti geraman harimau sebelum menerkam.

"...jika diagnosamu salah, apakah kau siap jika kepalamu kujadikan gantinya tangan Zhang?"

Angin berhembus kencang, menerbangkan helai rambut Yang Chen yang tidak terikat rapi.

Yang Chen tersenyum tipis. Sangat tipis.

"Dan jika aku benar..." balas Yang Chen, menatap lurus tanpa berkedip sedikitpun menghadapi niat membunuh yang membanjiri tempat itu. "...apakah Jenderal sanggup membayar harganya?"

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!