NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Abu di Atas Perapian

Malam di Villa Puncak terasa jauh lebih dingin dibandingkan malam-malam sebelumnya. Suara jangkrik bersahutan dengan deru angin yang sesekali menggoyang dahan pohon pinus di sekitar bangunan kayu tua itu. Namun, di dalam ruang tengah, suasana terasa sangat hangat.

Perapian batu alam di sudut ruangan menyala terang, memercikkan bunga api kecil yang menari-nari, menciptakan bayangan panjang di lantai kayu.

Arumi duduk bersimpuh di atas karpet bulu, menatap api yang berkobar. Di sampingnya, Adrian sedang membuka sebuah koper kecil yang ia bawa dari Jakarta. Koper itu bukan berisi dokumen proyek atau laporan keuangan, melainkan sebuah map kulit berwarna hitam yang sangat familiar bagi mereka berdua.

Itu adalah naskah asli kontrak pernikahan mereka.

"Kamu ingat malam saat aku menyodorkan ini?" tanya Adrian, suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara kayu yang terbakar.

Arumi menoleh, menatap map itu dengan perasaan campur aduk. "Bagaimana aku bisa lupa, Mas? Malam itu, aku merasa seperti baru saja menandatangani surat kematian kebebasanku. Aku melihat Mas sebagai pria yang sangat kejam."

Adrian tersenyum pahit, jemarinya mengusap permukaan map itu. "Aku memang kejam malam itu. Aku terluka, dikhianati, dan aku ingin memastikan tidak ada lagi wanita yang bisa menyentuh sisi pribadiku. Aku ingin kamu tetap menjadi 'pajangan', sebuah aset untuk menyelamatkan nama baik keluargaku. Tapi lihatlah kita sekarang..."

Adrian membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat lembaran kertas putih dengan tanda tangan mereka berdua di atas materai. Pasal demi pasal yang mengatur jarak, batasan keintiman, hingga durasi satu tahun terpampang nyata.

"Pasal tiga," Arumi membaca pelan salah satu barisnya. "'Pihak kedua dilarang mencampuri urusan pribadi pihak pertama, termasuk perasaan dan kehidupan sosial'."

Arumi tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus. "Lucu ya, Mas. Sekarang Mas justru cemburu pada editorku dan memintaku merevisi pidatomu. Mas sendiri yang melanggar pasal itu setiap hari."

Adrian menutup map itu dengan mantap. Ia menatap Arumi dengan tatapan yang dalam, penuh dengan ketenangan yang belum pernah Arumi lihat sebelumnya. "Kertas ini adalah sisa dari masa laluku yang pahit, Arumi. Ini adalah dinding yang aku bangun untuk menahanmu agar tidak masuk. Tapi nyatanya, kamu tidak butuh kunci untuk masuk. Kamu masuk dengan caramu sendiri, dengan ketulusanmu."

Adrian menarik selembar kertas kontrak itu, lalu tanpa ragu, ia melemparkannya ke dalam api perapian.

Arumi tersentak, matanya melebar melihat kertas itu seketika dilalap si jago merah. Satu demi satu, Adrian melempar lembaran kontrak tersebut.

Mereka berdua terdiam, menyaksikan pasal-pasal yang dulu mengikat mereka kini berubah menjadi abu hitam yang terbang terbawa asap.

"Kontrak itu sudah tidak ada," ujar Adrian, suaranya mantap. "Mulai detik ini, tidak ada lagi satu tahun. Tidak ada lagi aturan tentang jarak. Kamu bukan lagi istri di atas kertas, Arumi. Kamu adalah istriku seutuhnya."

Arumi merasakan dadanya sesak oleh rasa bahagia yang luar biasa. Ia merasa beban seberat gunung yang selama ini menghimpit pundaknya mendadak lenyap. Ia bukan lagi tawanan dari sebuah kesepakatan bisnis. Ia bebas.

Namun, kejutan malam itu belum berakhir.

Adrian merogoh saku kemeja flanelnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin emas putih dengan berlian berbentuk pir yang berkilau terkena pantulan cahaya api.

"Cincin yang kamu pakai sekarang... itu adalah pilihan ibuku untuk Siska," Adrian meraih tangan kanan Arumi, menatap cincin pernikahan lama yang masih melingkar di jari manis istrinya. "Aku membencinya setiap kali melihatnya di jarimu, karena itu mengingatkanku bahwa awalnya aku salah memilih."

Adrian perlahan melepas cincin lama itu, meletakkannya di atas meja kecil, lalu mengambil cincin baru dari kotaknya.

"Ini adalah pilihanku sendiri. Khusus untukmu, Arumi Ningtyas. Bukan untuk pengganti siapa pun," Adrian menatap mata Arumi dengan kejujuran yang murni. "Maukah kamu mengenakan ini sebagai tanda bahwa kamu memilihku, bukan karena hutang keluarga, bukan karena paksaan, tapi karena kamu memang ingin bersamaku?"

Air mata yang sejak tadi ditahan Arumi akhirnya tumpah. Ia tidak sanggup berkata-kata, hanya bisa mengangguk dengan cepat. Adrian menyematkan cincin itu di jari manis Arumi.

Ukurannya sangat pas, seolah-olah memang diciptakan hanya untuk jari itu.

Arumi menghambur ke pelukan Adrian, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Ia bisa mendengar detak jantung Adrian yang cepat, sama cepatnya dengan jantungnya sendiri.

"Terima kasih, Mas... Terima kasih sudah memberiku tempat di hatimu," bisik Arumi di sela isaknya.

Adrian membalas pelukan itu dengan erat, mencium puncak kepala Arumi berkali-kali. "Aku yang harus berterima kasih. Kamu mengajariku bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diatur dengan kontrak. Ada hal-hal yang hanya bisa diselesaikan dengan rasa."

Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan duduk bersandar satu sama lain di depan perapian. Arumi menceritakan tentang mimpinya untuk terus menulis, dan Adrian mendengarkan dengan antusias, sesekali memberikan ide-ide gila yang membuat Arumi tertawa.

"Bagaimana kalau di novel keduamu nanti, tokoh utamanya adalah seorang CEO yang sangat payah dalam memasak pancake?" goda Adrian.

"Itu namanya otobiografi, Mas, bukan fiksi!" balas Arumi jenaka.

Di tengah kehangatan itu, Arumi menyadari sesuatu. Kontrak yang terbakar itu bukan hanya mengakhiri kesepakatan mereka, tapi juga membakar sisa-sisa keberadaan Siska di antara mereka. Arumi tidak lagi merasa perlu membandingkan dirinya dengan kakaknya. Ia adalah Arumi, penulis yang dicintai oleh Adrian Pramoedya.

Udara dingin Puncak masih menusuk di luar sana, namun di dalam villa itu, musim dingin telah berakhir. Abu kontrak yang terbang di perapian adalah tanda bahwa babak baru telah dimulai.

Sebuah babak di mana tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi batasan, dan yang terpenting, tidak ada lagi kata "pengganti".

Saat mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat, Adrian menuntun Arumi menuju kamar utama. Di ambang pintu, Adrian berhenti sebentar.

"Selamat datang di hidupku yang sebenarnya, Arumi," ujarnya pelan.

Arumi tersenyum, menggenggam tangan Adrian dengan erat. "Aku sudah di sini sejak lama, Mas. Hanya saja, kali ini aku tidak akan pernah pergi."

Malam itu, di bawah langit Puncak yang bertabur bintang, dua jiwa yang awalnya bertemu karena keterpaksaan akhirnya menemukan rumah mereka yang sesungguhnya. Abu di perapian mungkin akan dibersihkan esok pagi, namun janji yang mereka buat di depannya akan bertahan selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!