NovelToon NovelToon
Turun Ranjang

Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.

​"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.

​Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.

Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.

​Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.

Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pagi itu, Jakarta menyapa dengan langit biru yang bersih. Bagi Anindya, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela bukan lagi lampu sorot ruang interogasi yang menyakitkan, melainkan sebuah undangan untuk kembali hidup.

Tanpa sosok pria yang mendominasi di sisi ranjang, kamar utama yang luas itu terasa jauh lebih lega. Tidak ada aroma sandalwood yang menyesakkan, tidak ada tatapan predator yang menguliti harga dirinya.

Anindya bangkit dengan gerakan ringan. Meskipun rasa pegal di tubuhnya masih tersisa sebagai jejak kekejaman Kenzo kemarin siang, semangatnya jauh lebih kuat.

Ia segera mandi, mengenakan setelan kasual berupa celana denim dan kaos putih yang nyaman, pakaian yang selama ini dilarang Kenzo karena dianggap tidak mencerminkan "Istri Praditya".

Ia melangkah menuju kamar Elang dengan senyum yang tulus, bukan senyuman plastik yang ia pasang di pesta tempo hari.

"Selamat pagi, pangeran kecil Ibu!" seru Anindya saat membuka pintu.

Elang yang sedang disuapi oleh Siska, babysitter-nya, langsung menoleh dan tertawa girang. "Ibu! Ibu sudah bangun!"

Anindya menghampiri mereka. Ia mengambil alih mangkuk bubur dari tangan Siska. "Siska, mulai hari ini sampai satu bulan ke depan, biarkan aku yang mengurus Elang sepenuhnya. Kau bisa ke dapur, bantu Bi Inah atau pelayan lain. Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan anakku."

Siska tampak ragu. "Tapi Nyonya, instruksi Tuan Kenzo..."

"Tuan Kenzo sedang di London, Siska. Dan di rumah ini, aku adalah ibunya. Pergilah," potong Anindya dengan nada tegas namun tenang. Ia tidak ingin otoritasnya dipertanyakan lagi.

Setelah Siska keluar, Anindya menyuapi Elang dengan penuh kasih. Setiap suapan disertai tawa dan candaan kecil.

Rasanya sudah sangat lama ia tidak sedekat ini dengan putranya tanpa merasa dibayangi oleh kehadiran Kenzo yang selalu ingin memonopoli perhatiannya.

"Elang mau main ke taman?" tanya Anindya sambil merapikan tas berisi botol minum dan baju ganti.

"Mau! Elang mau naik ayunan!" seru bocah itu antusias.

Anindya membawa Elang ke taman bermain yang terletak di tengah kompleks perumahan elit mereka.

Meski jaraknya hanya beberapa blok, dua mobil hitam berisi pengawal tetap mengikuti dari belakang. Anindya menghela napas. Ia tahu, ia tidak benar-benar bebas. Kenzo tetap meletakkan mata-matanya di sekelilingnya.

Namun, Anindya memilih untuk tidak peduli. Ia membiarkan para pria berjas itu berdiri kaku di pinggir lapangan basket, sementara ia berlari-lari kecil mengejar Elang yang menuju perosotan.

Anindya duduk di ayunan sebelah Elang, mendorongnya pelan hingga anak itu tertawa melengking. Suara itu adalah melodi paling indah yang pernah didengarnya.

Di bawah pohon peneduh yang rindang, Anindya merasa separuh bebannya terangkat. Ia membiarkan angin sepoi-sepoi membelai wajahnya, menutup mata sejenak untuk menikmati keheningan yang damai.

Ia tidak lagi memikirkan surat hak asuh yang mengancamnya, tidak memikirkan tatapan benci ibunya, atau sentuhan kasar Kenzo. Saat ini, ia hanya seorang ibu yang mencintai anaknya.

"Ibu, ayo main pasir!" ajak Elang menarik ujung kaosnya.

Anindya tertawa, ikut berjongkok di bak pasir, membiarkan tangannya kotor demi membangun istana pasir yang rapuh bersama Elang.

Ia benar-benar melupakan waktu. Ia tidak peduli jika riasannya luntur atau rambutnya berantakan karena angin.

Jam menunjukkan pukul dua siang ketika seorang pelayan rumah, yang diutus oleh pengurus rumah tangga, datang menghampiri Anindya di taman.

"Nyonya, makan siang sudah siap di meja makan. Tuan Besar Praditya juga menanyakan keberadaan Nyonya," ucap pelayan itu dengan sopan namun terkesan mendesak.

Anindya mendongak dari istana pasirnya. Ia menatap ke arah rumah besar yang terlihat dari kejauhan, sebuah istana megah yang bagi Anindya adalah penjara paling dingin di dunia.

"Sampaikan pada Papa, aku dan Elang tidak akan makan siang di rumah. Kami akan mencari makan di luar," jawab Anindya singkat.

"Tapi Nyonya, koki sudah menyiapkan menu khusus..."

"Aku bilang tidak, ya tidak," potong Anindya tanpa menoleh. "Aku tidak ingin menginjakkan kaki di rumah itu sampai matahari terbenam. Sampaikan itu pada siapa pun yang bertanya."

Pelayan itu terdiam, lalu membungkuk dan pergi dengan perasaan was-was. Anindya tahu, tindakannya ini akan sampai ke telinga Kenzo di London.

Ia tahu Kenzo mungkin akan marah karena ia melanggar rutinitas yang sudah ditetapkan. Tapi Anindya tidak peduli. Selama sebulan ini, ia ingin menciptakan dunianya sendiri.

"Ayo Elang, kita cari es krim dan makan pasta favoritmu di mal, ya?"

"Hore! Es krim!" Elang melompat kegirangan.

Anindya membawa Elang ke sebuah pusat perbelanjaan yang tidak terlalu ramai. Ia memilih restoran keluarga yang hangat, bukan restoran mewah berbintang yang biasa dikunjungi keluarga Praditya.

Di sana, ia duduk di pojok, menikmati sepiring pasta bersama Elang tanpa perlu menjaga image sebagai sosialita papan atas.

Ia bahkan mematikan ponsel pemberian Kenzo, membiarkannya mati di dalam tas. Ia tahu itu berisiko, tapi ia butuh beberapa jam di mana ia tidak bisa dijangkau oleh suara dingin pria itu.

Di sela-sela waktu bermain Elang di indoor playground, Anindya duduk di sebuah kafe sambil mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya. Wajahnya yang tadi ceria kini berubah serius.

Ia mulai menuliskan sesuatu tentang kesehariannya setelah kepergian suaminya. Dia ingin mencurahkan semua isi hatinya disana, sambil memperhatikan Elang yang asyik bersembunyi di dalam terowongan plastik.

~~

Matahari mulai condong ke barat, memberikan warna keemasan pada gedung-gedung tinggi di Jakarta.

Anindya baru kembali ke rumah saat azan Magrib mulai berkumandang. Ia menggendong Elang yang sudah tertidur pulas karena kelelahan bermain seharian.

Begitu memasuki lobi rumah, suasana kembali mencekam. Tuan Praditya berdiri di ruang tengah dengan tangan bersedekap.

"Kau mematikan ponselmu, Anindya. Kenzo menelepon ke rumah puluhan kali. Dia mengamuk karena tidak bisa menghubungimu," ucap Tuan Praditya dengan nada memperingatkan.

Anindya menatap mertuanya dengan tenang. "Baterainya habis, Pa. Dan aku sedang menikmati waktu berkualitas dengan Elang. Bukankah Papa yang bilang Kenzo harus fokus pada perusahaan? Kalau dia terus meneleponku, berarti dia tidak fokus pada pekerjaannya."

Tuan Praditya terdiam, sedikit terkejut dengan jawaban berani Anindya. "Jangan memancing kemarahan Kenzo, Anin. Kau tahu bagaimana dia kalau sudah kehilangan kendali."

"Aku sudah terbiasa dengan kemarahannya, Pa. Permisi, aku harus menidurkan Elang."

Anindya melangkah menaiki tangga, meninggalkan Tuan Praditya yang menatap punggungnya dengan kerutan di dahi.

Ada sesuatu yang berbeda dari menantunya itu, Anindya bukan lagi wanita rapuh yang hanya bisa menangis di balik pintu.

Di kamarnya, setelah mengganti baju Elang, Anindya duduk di tepi ranjang. Ia menyalakan ponsel pemberian Kenzo. Benar saja, ada tiga puluh panggilan tak terjawab dan belasan pesan singkat yang isinya penuh ancaman.

Anindya menarik napas panjang, lalu mengetik balasan singkat.

"Aku di rumah. Elang sudah tidur. Aku lelah."

Hanya itu. Tanpa kata sayang, tanpa penjelasan panjang lebar.

Beberapa detik kemudian, ponsel itu bergetar. Panggilan video dari Kenzo. Anindya ragu sejenak, namun ia akhirnya mengangkatnya.

Layar ponsel menampilkan wajah Kenzo yang terlihat sangat lelah namun matanya memancarkan amarah yang dingin. Ia berada di sebuah kantor mewah dengan latar belakang malam kota London.

"Kenapa ponselmu mati, Anindya?" desis Kenzo. Suaranya terdengar seperti silet yang menggores kaca.

Anindya mengarahkan kamera ke wajahnya yang terlihat segar, namun datar. "Baterainya habis. Aku seharian di luar bersama Elang."

"Siapa yang memberimu izin untuk keluar seharian? Dan berani-beraninya kau mengabaikan panggilanku!" Kenzo menggebrak meja di sana, suaranya terdengar keras melalui speaker. "Kau pikir karena aku jauh, kau bisa berbuat sesukamu?"

Anindya menatap layar itu dengan berani. "Aku hanya mengajak anakku bermain, Kenzo. Bukankah itu yang diinginkan seorang ayah? Elang bahagia hari ini. Apa kau ingin aku merusak kebahagiaannya hanya untuk menunggu teleponmu?"

Kenzo terdiam, rahangnya mengeras. Ia sangat benci melihat Anindya yang mulai bisa menjawabnya. Namun di sisi lain, kecantikan Anindya yang tanpa riasan tebal di layar itu justru membakar gairahnya kembali.

"Nikmati kebebasanmu malam ini, Anin. Tapi ingat, setiap jam yang kau habiskan tanpa melapor padaku, akan aku tagih dengan bunga saat aku pulang nanti. Aku akan memastikan kau tidak akan bisa berjalan selama seminggu setelah aku kembali."

Anindya hanya tersenyum tipis, senyuman yang sulit diartikan. "Selesaikan urusanmu di sana, Kenzo. London butuh perhatianmu lebih dari aku."

Anindya langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban Kenzo. Ia melempar ponsel itu ke sofa dan berbaring di samping Elang.

Malam ini, ia tidak menangis. Ia memeluk Elang, mencium aroma rambut anaknya, dan berbisik dalam hati.

Satu hari telah terlewati. Dua puluh sembilan hari lagi, Arlan. Bantu aku untuk terlepas dari siksaannya.

Di London, Kenzo membanting ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Ia merasa kendalinya mulai goyah. Dan itu adalah hal yang paling ia takuti di dunia ini.

Anindya mulai menunjukkan taringnya! Keberaniannya menentang Kenzo secara halus menandai awal dari perlawanan yang lebih besar. Namun, apa yang akan dilakukan Kenzo setelah merasa kendalinya mulai lepas?

Jangan lewatkan intrik selanjutnya!

...----------------...

To Be Continue ....

1
nani rahayu
lanjut thoor seru cerita nya
Miss Ra: 💪

siaaappp
total 1 replies
Nabitha Azizah
ceritanya nggak membosankan
Miss Ra: 🤗

thank u ratingnya kakak...
/Kiss//Rose/
total 1 replies
Nabitha Azizah
thorr ceritanya bagus...semangat sampai akhir/Heart/
Miss Ra: 🤗

thank u kakak
/Rose//Kiss/
total 1 replies
Mundri Astuti
lanjutin aja Thor .... seru ko ceritanya
Mundri Astuti
kemarin" nyepelein, pas di dtgin takut, gimana sih anin
Yuliana Tunru
akhir x up jg thorr s3nang baca x ..aplg saat kenzo di tangkap ikut bernapas lega ..smoga bab 20 hingga 80 lancar jaya 💪💪💪
Miss Ra: 🤗🤲

amiiin....
makasih banyak doanya kakak...
total 1 replies
nani rahayu
Anin sudah benar berada di samping Zayed, lanjut thorr cerita mu menarik 👍
Soraya
mampir thor
Miss Ra: 🤗

thank u kakak
total 1 replies
Yuliana Tunru
cerita mu bikin tegang to candu thorr beharqo kenzo dan valeirie diculik dan dikurung hingga tak bisa pulang lg ..syykur anin beetemu irang2 baik .. thor smoga ini bab terbaik mu 💪💪💪vote buat mu
nani rahayu: lanjut thoor seru, aku suka cerita mu, semoga thoor sehat selalu semangat nulis nya 👍
total 2 replies
Mundri Astuti
tetep hati" Anin, jaga elang juga, jangan sampai digunakan Kenzo sebagai alat buat kamu balik ke dia
Dew666
🥰🥰🥰
Miss Ra: 🤗

makasih ratingnya kakak
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎
Miss Ra: 🤗🤗🤗

thank u kakak
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Miss Ra: 💪🤗

siaaappp
total 1 replies
siti Syamsiar
lanjut thor 👍👍👍👍👍
Mundri Astuti
saudara kandung kah Kenzo dan Arlan 🤔, papanya juga kayanya lebih ke Kenzo ya
Eva Karmita
biarkan Kenzo berjuang mengejar cinta nya ya otor ngk usah ada orang baru lagi ... pengen lihat bagaimana Kenzo menaklukkan hati Anin 😅🥰
Eva Karmita
bingung mau komen apa 🤔🤔😅
Eva Karmita
kalau di lihat disini yg jahat bapaknya Kenzo menurutku orangnya ambisius...
Eva Karmita
selamat tinggal jakarta hiduplah dengan tenang dan damai Anin elang... semoga saja di pelarian mu ini kamu tidak membawa benihnya Kenzo
Eva Karmita
sejauh ini masih belum paham siapa di sini yg jahat .... Kenzo kalau dilihat bukan jahat tapi hanya merasa cinta dan takut kehilangan... tapi entahlah hanya otor yg tahu...😅😅
Miss Ra: /Joyful//Facepalm/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!