Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa sehelai benangpun
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, namun Adira belum juga menampakkan batang hidungnya. Pelayan di kediaman itu sudah dua kali mencoba membangunkan sang nyonya dengan mengetuk pintu, namun mereka tidak berani lancang masuk karena takut dianggap tidak sopan.
Karena Adira tak kunjung bangun, pelayan tersebut akhirnya memutuskan untuk menghubungi Arlan. Cara berkomunikasi di mansion itu memang sedikit unik sejak Arlan mengalami cacat; Bibi Suri, pelayan senior di sana, biasanya hanya menghubungi Arlan melalui telepon rumah jika ada keperluan mendesak, tanpa harus mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Arlan dingin sesaat setelah panggilan telepon tersambung.
"Tuan... Nyonya belum bangun sampai sekarang. Sudah dua kali saya bolak-balik mencoba membangunkannya untuk sarapan, tapi tidak ada jawaban sama sekali," lapor Bibi Suri dengan nada cemas.
Arlan terdiam sejenak, mengingat kejadian semalam saat ia melihat sisa air mata di wajah istrinya. "Masuk ke kamarnya. Periksa dia," perintah Arlan singkat.
"Baik, Tuan. Tapi... apakah kamarnya tidak dikunci, Tuan?" tanya Bibi Suri ragu.
"Tidak."
Arlan langsung memutuskan sambungan telepon. Bibi Suri segera berlari kembali ke kamar Adira. Ia mencoba memutar kenop pintu yang ternyata memang tidak terkunci, persis seperti saat Arlan memasukinya semalam.
Bibi Suri melangkah masuk dengan ragu untuk memeriksa nyonyanya. Ia mendapati Adira masih terbaring kaku di atas ranjang, berbalut selimut tebal. Namun, saat melihat bibir Adira yang memutih pucat, firasat buruk langsung menyergap hatinya.
Segera Bibi Suri menghampiri dan menyentuh kening gadis itu. "Astaga! Panas sekali!" pekiknya tertahan. "Ternyata Nyonya sedang sakit!"
Panik, Bibi Suri langsung berlari keluar kamar. Ia kembali menghubungi Arlan melalui telepon rumah. Begitu panggilan tersambung, suaranya terdengar sangat cemas. "Tuan! Nyonya Adira sakit parah! Badannya panas sekali dan wajahnya sangat pucat, Tuan!"
"Panggil Dokter Sean! Suruh dia datang sekarang!" perintah Arlan tegas.
"Baik, Tuan!" jawab Bibi Suri cepat. Tanpa menunda lagi, ia segera menghubungi Dokter Sean, dokter pribadi keluarga Erlangga sekaligus sahabat dekat Arlan.
Arlan kemudian memberikan instruksi dingin agar semua pelayan segera turun ke lantai bawah. Ia tidak ingin ada satu pun mata yang melihatnya saat ia keluar dari kamar. Dengan patuh, para pelayan segera mengosongkan area lantai atas, membiarkan lorong itu sunyi senyap.
Dengan bantuan tongkatnya, Arlan perlahan keluar dari kamarnya dan melangkah menuju kamar Adira. Namun, baru saja ia hendak memasuki ruangan itu, Dokter Sean sudah tiba di kediaman mereka dengan membawa tas medisnya.
"Arlan, kau?! Kenapa? Kau tidak apa-apa, kan?" seru Sean bertubi-tubi dengan gaya yang sedikit berlebihan. "Kenapa kau memintaku datang ke sini? Apa kau sedang sakit? Apanya yang sakit? Ayo, beri tahu aku! Kenapa kau berdiri di sini? Seharusnya kau di dalam kamar untuk istirahat!"
Sean mulai memeriksa kepala, kaki, hingga badan sahabatnya itu dengan heboh. Arlan yang merasa risih dan kesal langsung mendorong tangan Sean menjauh, lalu menatapnya dengan tajam.
"Apa-apaan kau merabaku, Sean?!" bentak Arlan ketus.
"Lho? Bukannya kau sedang sakit? Makanya kau memanggilku kemari, kan?" tanya Sean bingung sambil merapikan jas dokternya.
"Bukan aku yang sakit," ucap Arlan dengan nada datar dan dingin.
"Lah? Kalau bukan kau yang sakit, lantas kenapa memanggilku? Kau membuatku khawatir saja!" Sean refleks menepuk bahu lebar Arlan, yang langsung disambut dengan tatapan mematikan dari pria itu.
"Baiklah, baiklah... maaf," ucap Sean sambil mengangkat kedua tangannya, menyerah sebelum Arlan benar-benar mengamuk.
"Dasar orang tua, tahunya cuma marah-marah doang," gumam Sean pelan.
Namun, pendengaran Arlan ternyata masih sangat tajam. Pria itu langsung menoleh dan menghujamkan sorot mata yang begitu dingin hingga membuat nyali Sean sedikit menciut.
Melihat reaksi sahabatnya yang menyeramkan itu, Sean segera berdeham, "Ehem," salah tingkah dan pura-pura sibuk merapikan tas medisnya. Ia tahu betul kalau Arlan sudah menatap seperti itu, lebih baik dia tutup mulut sebelum kena semprot lebih parah.
"Ada wanita di dalam situ yang sakit. Bukan aku," ucap Arlan sembari melangkah masuk ke kamar Adira.
Mendengar itu, mata Sean langsung terbelalak. Jiwa keponya meronta-ronta seketika. "Apa? Wanita?! Sejak kapan kau membawa pulang wanita ke rumahmu, hah? Halo! Sejak kapan mansion angker ini berpenghuni wanita? Wah, gawat ini! Gawat mah kalau begini!"
Sean terus mengoceh tak percaya. "Apa yang sudah kau lakukan pada wanita itu sampai dia sakit, hah? Wah, jangan-jangan..." Kalimat Sean langsung terhenti saat ia kembali mendapat tatapan maut dari Arlan yang seolah siap menerkamnya hidup-hidup.
"Sadis banget, sih, tatapannya," gumam Sean pelan, menciut seketika.
"Periksa dia sekarang," perintah Arlan tanpa berniat menjelaskan bahwa wanita yang terbaring itu adalah istrinya.
Sean pun terpaksa kembali bersikap profesional, meski batinnya masih berteriak penasaran. Siapa sih wanita ini sebenarnya? Kok penting banget sampai Arlan kelihatan begitu peduli? Padahal Gina saja yang sampai gila mengejarnya tidak pernah dipedulikan. Aneh benar orang ini, batin Sean sambil mengutuki sahabatnya itu dalam hati.
Saat hendak memeriksa Adira, Sean berniat membuka selimut yang menutupi tubuh gadis itu. Namun, baru saja terbuka sedikit hingga batas bahu, Sean langsung menutupnya kembali dengan wajah panik dan menelan ludah dengan susah payah.
"Ada apa?" tanya Arlan tajam melihat ekspresi aneh Sean.
"Apa yang kau lakukan pada wanita ini?" Sean balik bertanya dengan nada gugup.
"Periksa saja!" bentak Arlan yang mulai jenuh dengan sikap Sean yang terlalu banyak bicara.
"Bukan begitu... aku tidak mau memeriksanya sekarang," ucap Sean ragu-ragu. "Sepertinya wanita ini tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Kau yakin ingin aku melihatnya?"
Pernyataan Sean seketika membuat Arlan terkejut. Ia tak menyangka Adira nekat tidur tanpa busana.
"Atau, kau mau aku periksa saja, dan melih—"
"Apa yang ingin kau lihat?!" potong Arlan dengan nada mengancam. "Kau ingin aku mencungkil kedua matamu?!"
"Lho, kan kau yang menyuruhku memeriksanya! Kok aku yang disalahkan?" protes Sean.
Dasar wanita bodoh! batin Arlan benar-benar kesal pada Adira. Ia tak habis pikir bagaimana wanita itu bisa seceroboh itu. "Keluar! Panggil Bibi Suri ke sini!" perintah Arlan.
"Kau yakin ingin Bibi melihatmu dengan keadaanmu yang sekarang?" tanya Sean mengingatkan, karena ia tahu betul kalau Arlan tidak mau ada siapa pun yang melihatnya dalam kondisi begitu.
"Tapi tunggu dulu... kenapa harus panggil Bibi? Kau kan bisa memakaikan baju untuk wanita itu?" Sean menaik-turunkan alisnya, sengaja menggoda sahabatnya itu. "Yah, hitung-hitung cuci mata lah. Kau kan sudah lama menjomblo, sekali-kali harus lihat yang bening dong, buat cuci mata," ujarnya bercanda.
Sean langsung mendapat tatapan pemungkas yang luar biasa menyeramkan dari Arlan.
"KELUAR!" bentak Arlan menggelegar.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang