NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stempel Kegelapan

Rumah bambu Mbah Jaya terasa lebih sempit dari luar. Atau mungkin bukan rumahnya yang sempit, tapi sesuatu yang mengisinya.

Sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa, tapi bagi Rafiq yang mata ketiganya telah terbuka, ruangan itu penuh. Penuh dengan kehadiran. Penuh dengan bisikan-bisikan yang datang dari segala arah, dari dinding anyaman bambu, dari langit-langit rumbia, dari lantai tanah yang dingin.

"Lungguho ing kene."

Mbah Jaya menunjuk ke tengah ruangan. Di sana, di atas lantai tanah yang gembur, sudah tergambar sebuah lingkaran. Rafiq tidak melihat Mbah Jaya menggambarnya, tapi lingkaran itu ada.

Bentuknya sempurna, seperti dilukis oleh tangan yang sudah ribuan kali melakukannya. Warnanya abu-abu pucat, hampir putih, tapi dengan kilau yang aneh ketika cahaya dari luar masuk melalui celah-celah dinding.

Rafiq berlutut di tepi lingkaran itu. Ia menunduk, melihat lebih dekat. Dan ketika matanya fokus, ia menyadari.

Ini bukan kapur. Bukan cat. Bukan tepung.

"Ini... abu?" suaranya keluar lirih.

Mbah Jaya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, sambil merapikan ujung-ujung lingkaran yang sedikit tidak rata.

Tangannya yang keriput bergerak dengan hati-hati, seperti sedang menyentuh sesuatu yang suci—tapi kesucian yang berbeda dari yang Rafiq kenal.

"Abu jenazah," kata Mbah Jaya akhirnya, suaranya datar, seperti sedang menjelaskan resep masakan.

"Sing ora dikubur. Sing ora dikebumike. Sing ilang tanpa jenazah. Sing awake ora tau ditemoke."

Rafiq menelan ludah. Dulu, kata-kata seperti ini akan membuatnya bergidik ngeri. Dulu, ia akan segera mengucapkan istighfar dan meninggalkan tempat ini.

Tapi sekarang? Ia hanya menatap lingkaran abu itu dengan mata yang datar. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa jijik. Yang ada hanya kesadaran bahwa ini adalah harga yang harus ia bayar untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Ono pitung sumber," Mbah Jaya melanjutkan sambil mengeluarkan sesuatu dari balik tumpukan kain di sudut ruangan. Sebuah kendi tanah liat kecil, gelap, dengan permukaan yang kasar.

"Seko pitung kuburan bedo. Pitung wong mati sing ora tau nampa keadilan. Sing mati amarga dikhianati. Sing mati amarga dilupakan. Tenagane isih ononing kene."

Ia meletakkan kendi itu di depan Rafiq. Di sisi lain lingkaran, ia meletakkan sesaji—sesuatu yang tidak ingin Rafiq identifikasi lebih jauh. Bau anyir samar mulai tercium, bercampur dengan aroma tanah basah dan dupa yang mulai dibakar Mbah Jaya.

"Sakdurunge miwiti," Mbah Jaya berdiri di hadapan Rafiq, tongkat hitamnya menancap di tanah di samping lingkaran.

"Aku kudu ngomong sepisan maneh. Iki dalan tanpa bali. Sakwise iki, kowe ora bisa mlayu. Kowe ora bisa mungkur. Kowe dadi kagungane sing ono ing kono."

Ia menunjuk ke luar, ke arah pohon beringin yang menjulang di balik rumahnya. Tapi Rafiq tahu, Mbah Jaya tidak sedang menunjuk pohon itu. Ia sedang menunjuk sesuatu di baliknya. Sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang sudah ada jauh sebelum desa ini berdiri.

"Aku sudah memutuskan, Mbah," jawab Rafiq. Suaranya mantap. Tidak ada keraguan. "Aku tidak punya apa-apa lagi. Aku tidak peduli apa yang terjadi padaku setelah ini."

Mbah Jaya menatapnya lama. Matanya yang jernih itu menyelidik, mencari-cari apakah ada sisa keraguan di dalam hati Rafiq. Tapi yang ia temukan hanya kegelapan. Kegelapan yang mulai mengakar. Kegelapan yang kelaparan.

"Duduk ing tengah," perintah Mbah Jaya.

Rafiq duduk di dalam lingkaran. Lantai tanah terasa dingin di bawah telapak tangannya.

Abu jenazah yang membentuk lingkaran itu berjarak hanya sejengkal dari jari-jarinya. Ia bisa merasakan sesuatu dari abu itu. Bukan dingin. Bukan panas. Tapi getaran.

Getaran halus yang merambat dari ujung jarinya ke pergelangan tangan, ke lengan, ke pundaknya. Getaran yang seperti bisikan dari banyak mulut sekaligus.

Mbah Jaya mulai bergerak di sekeliling lingkaran. Langkah kakinya pelan, ritmis, mengikuti irama yang tidak Rafiq kenali. Dari mulut pria tua itu mulai keluar suara.

Bukan kata-kata yang bisa dimengerti. Bukan bahasa Jawa, bukan bahasa Arab, bukan bahasa apa pun yang pernah Rafiq dengar.

Suara itu keluar dari tenggorokan Mbah Jaya seperti getaran yang merambat di udara, menggetarkan dinding bambu, menggetarkan tanah di bawah Rafiq, menggetarkan tulang-tulang di dalam tubuhnya.

Rafiq merasakan getaran itu masuk ke dalam dadanya. Bukan getaran fisik. Getaran yang lebih dalam. Getaran yang menyentuh sesuatu yang selama ini terkunci di dalam hatinya. Sesuatu yang gelap.

Sesuatu yang sejak kematian Fatih mulai tumbuh dan sekarang, di dalam lingkaran abu itu, mulai merespons.

Mbah Jaya berhenti di depan Rafiq. Di tangannya, kendi tanah liat itu terangkat.

"Ngombe," katanya. Satu kata. Perintah.

Rafiq menerima kendi itu. Tangannya tidak gemetar. Ia membawa kendi ke bibirnya, mencium bau yang keluar dari dalamnya. Bau tanah.

Bau yang sama seperti di kuburan Fatih. Bau yang sama seperti tanah basah setelah hujan di pemakaman.

Ia menenggak.

Air itu dingin. Dingin sekali. Dingin seperti air yang diambil dari sumur di tengah malam. Tapi ketika air itu mencapai tenggorokannya, dingin berubah menjadi panas.

Panas yang membakar. Panas yang merambat ke kerongkongannya, ke dadanya, ke perutnya. Panas yang seperti api cair yang mengalir di dalam pembuluh darahnya.

Tujuh kuburan. Tujuh kematian. Tujuh jiwa yang mati tanpa keadilan. Rafiq bisa merasakan mereka. Bukan dengan pikirannya, tapi dengan tubuhnya.

Ia merasakan amarah mereka. Ia merasakan sakit mereka. Ia merasakan dahaga mereka akan balas dendam—dahaga yang sama persis dengan yang ia rasakan.

Ketika kendi itu kosong, Rafiq membiarkannya jatuh dari tangannya. Kendi itu pecah di lantai tanah dengan suara yang teredam. Rafiq tidak peduli. Tubuhnya terbakar dari dalam. Matanya terasa perih.

Kepalanya terasa seperti akan pecah.

Dan Mbah Jaya terus melantunkan mantra-mantra itu. Suaranya semakin cepat. Semakin keras. Semakin dalam. Getarannya mengisi seluruh ruangan, membuat dinding bambu bergetar, membuat atap rumbia bergoyang, membuat tanah di bawah Rafiq bergerak.

Lingkaran abu itu mulai bersinar.

Tidak. Bukan bersinar. Abu itu mulai mengeluarkan cahaya pucat, cahaya putih keabuan yang menyala dari dalam. Cahaya itu merambat mengikuti bentuk lingkaran, perlahan, seperti api yang membakar kertas dari tepi ke tengah. Dan ketika lingkaran itu menyala sempurna, Rafiq merasakan sesuatu di bawahnya.

Tanah di dalam lingkaran bergerak.

Bukan gempa. Bukan gerakan fisik yang bisa dijelaskan. Tanah itu bergerak seperti ada sesuatu di bawahnya yang mendorong dari dalam. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang selama ini tertidur dan kini mulai bangun karena panggilan.

Mbah Jaya melangkah mundur. Suaranya tidak berhenti, tapi tubuhnya menjauh, memberikan ruang pada lingkaran yang mulai bergolak.

Rafiq duduk di tengah. Ia tidak bisa bergerak. Tubuhnya seperti terkunci di tempat. Matanya terpaku pada tanah di depannya yang mulai retak. Retakan-retakan kecil muncul dari pusat lingkaran, merambat ke segala arah, membentuk pola-pola yang tidak masuk akal.

Dan dari retakan itu, udara dingin keluar. Udara yang begitu dingin hingga napas Rafiq berubah menjadi uap putih di udara.

Dan kemudian ia melihatnya.

Dari retakan terbesar di pusat lingkaran, sesuatu mulai muncul. Bukan tangan. Bukan kepala. Tapi kegelapan. Kegelapan yang begitu pekat, begitu padat, seperti cairan hitam yang mengalir naik dari dalam tanah.

Kegelapan itu mengumpul di atas tanah, membentuk gumpalan yang semakin besar, semakin tinggi, semakin padat.

Rafiq menatapnya dengan mata yang tidak berkedip. Tidak ada rasa takut. Yang ada hanya dengan ini ia bisa membalas dendam. bahwa apa yang ia cari akhirnya datang.

Gumpalan kegelapan itu mulai membentuk sesuatu. Dua titik merah menyala muncul di bagian atasnya—mata. Mata merah yang sama yang ia lihat di pemakaman, yang ia lihat di penginapan, yang ia lihat di sudut

rumah orang tuanya. Tapi ini lebih besar.

Jauh lebih besar. Mata itu sebesar kepalan tangan, menyala seperti bara api yang tidak pernah padam.

Di bawah mata itu, terbentuk celah melengkung—mulut. Mulut tanpa bibir, tanpa gigi, hanya celah gelap yang terbuka lebar, memperlihatkan kegelapan yang tidak berdasar di dalamnya.

Dan di atas kepala bentuk itu, dua tanduk melengkung menjulur ke atas. Tanduk hitam yang permukaannya tidak rata, seperti terbuat dari batu lava yang membeku.

Sosok itu menjulang. Tingginya hampir menyentuh atap rumbia rumah Mbah Jaya, meskipun secara fisik tidak mungkin. Ia berdiri di hadapan Rafiq, menatap pria yang berlutut di depannya dengan mata merah yang menyala-nyala.

Rafiq menatap balik.

Ia tidak bisa menjelaskan perasaannya. Di hadapan makhluk ini—makhluk yang selama ini hanya ia bayangkan sebagai cerita menakutkan di waktu kecil—ia tidak merasa takut. Ia merasa... kekuatan kepastian bahwa ia akhirnya berada di jalan yang ia inginkan untuk meraih harapan pembalasan dendam.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!