Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan Takhta dan Sumpah di Balik Kabut
Keheningan yang mencekam menyelimuti aula SMA Garuda setelah seretan langkah kaki petugas keamanan membawa Clarissa keluar. Ratusan pasang mata masih terpaku pada layar raksasa yang kini menampilkan logo sekolah, namun telinga mereka masih terngiang rekaman suara instruksi jahat yang baru saja diputar. Skandal ini bukan lagi sekadar gosip remaja; ini adalah tindak kriminal penguntitan dan percobaan pencurian data pribadi milik Ketua OSIS.
Pak Wijaya berdiri di depan podium dengan wibawa yang membekukan atmosfer ruangan.
"Saya, sebagai ketua komite, tidak akan membiarkan tindakan premanisme dan pelanggaran privasi seperti ini terjadi di lingkungan sekolah kita. Saudari Clarissa Putri akan diproses secara hukum dan status kesiswaannya akan dibekukan mulai detik ini."
Ziva meremas ujung rok seragamnya. Jantungnya masih berdegup kencang, namun ada rasa lega yang menyeruak seperti udara segar setelah tenggelam. Ia menatap Arkan yang masih berdiri tegak di samping meja operator. Laki-laki itu tidak menunjukkan ekspresi kemenangan. Wajahnya tetap datar, namun matanya yang tajam sempat menyapu barisan siswa, berhenti tepat pada Ziva selama satu detik—sebuah tatapan yang mengatakan,
“Semuanya sudah aman.”
Sudut Terjepit Sang Kapten
Di barisan belakang, Revan terdiam dengan rahang mengeras. Ia melihat bagaimana Arkan menghancurkan Clarissa tanpa perlu mengotori tangannya sendiri. Revan tahu, strategi Arkan sangat brilian; ia tidak membela diri dari tuduhan "pernikahan siri", melainkan menyerang balik pada cara ilegal yang digunakan Clarissa untuk mencari bukti tersebut. Dengan begitu, fokus semua orang beralih dari apa isi bukti itu menjadi betapa jahatnya cara Clarissa mendapatkannya.
Revan melangkah keluar dari aula sebelum acara benar-benar bubar. Ia merasa kalah telak. Di koridor sepi menuju lapangan basket, ia bertemu dengan Gibran yang baru saja keluar dari ruang operator.
"Hebat ya, strategi sahabat lo," sindir Revan sambil menyampirkan tasnya.
Gibran berhenti, menatap Revan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Arkan nggak akan sekejam itu kalau Clarissa nggak nyentuh 'wilayah pribadinya', Van. Gue saranin lo berhenti nyari tahu soal apartemen itu atau lo bakal nyusul Clarissa ke kantor polisi."
"Lo tahu sesuatu, kan, Gib?" Revan mendekat, suaranya merendah.
"Tentang Ziva dan Arkan?"
Gibran tersenyum tipis, tipe senyum yang penuh rahasia.
"Yang gue tahu, Arkan bakal ngelakuin apa pun buat ngelindungi apa yang jadi miliknya. Dan lo... bukan bagian dari rencana masa depan Ziva. Sadar diri, Van. Lo cuma pengagum yang telat masuk ke garis start."
Revan terdiam. Kalimat Gibran menghantam egonya. Ia menyadari bahwa tembok yang dibangun Arkan di sekeliling Ziva jauh lebih kokoh daripada yang ia bayangkan.
Ruang Kepala Sekolah: Vonis Terakhir
Di dalam ruang Kepala Sekolah yang pengap oleh aroma kopi dan ketegangan, Clarissa duduk bersimpuh di kursi kayu. Ayahnya, seorang pria paruh baya yang biasanya angkuh, kini tertunduk di depan Pak Wijaya.
"Tolong, Pak Wijaya... ini hanya kenakalan remaja. Clarissa hanya terlalu terobsesi pada Arkan," mohon ayah Clarissa.
Pak Wijaya menyesap tehnya dengan tenang. "Menyewa orang untuk membobol apartemen putra saya bukan kenakalan remaja, Pak. Itu tindak pidana. Saya bisa saja menyeretnya ke penjara hari ini juga, tapi karena hubungan bisnis kita yang dulu, saya beri pilihan: Clarissa pindah sekolah keluar kota besok pagi, atau kita selesaikan ini di meja hijau."
Clarissa mengangkat wajahnya yang sembab. "Arkan... aku lakuin ini karena aku tahu dia nyembunyiin sesuatu! Dia tinggal sama Ziva, Pa! Mereka nikah!"
"Diam!" bentak ayahnya sendiri.
"Status Arkan bukan urusanmu! Kamu sudah menghancurkan reputasi keluarga kita!"
Pak Wijaya melirik Clarissa dengan tatapan jijik. "Bahkan jika dia menikah dengan pohon sekalipun, itu bukan hakmu untuk melanggarnya. Keluar."
Pertemuan di Atap: Gema Rahasia
Sore harinya, saat sekolah sudah mulai sepi, Ziva naik ke atap gedung lama. Ia butuh udara segar. Namun, di sana ia menemukan Arkan sedang berdiri menyandar pada pagar pembatas, menatap matahari terbenam yang berwarna jingga kemerahan.
Ziva berjalan pelan, lalu berdiri di sampingnya. "Lo nggak apa-apa, Ar?"
Arkan menoleh. Kacamata hitamnya ia lepaskan, memperlihatkan mata yang lelah namun tenang. "Aku yang harusnya tanya itu ke kamu. Kamu hampir pingsan di aula tadi."
Ziva tertawa kecil. "Gue cuma nggak nyangka lo se-nekat itu muter rekaman CCTV penyusup itu. Kalau orang itu beneran nyuri sesuatu gimana?"
"Dia nggak sempet nyuri apa-apa selain foto itu. Dan foto itu... sudah ada di tanganku sekarang," Arkan mengeluarkan sebuah amplop kecil dari sakunya. Di dalamnya ada foto pernikahan mereka yang sempat diambil oleh penyusup suruhan Clarissa.
Arkan merobek foto hasil cetakan ilegal itu menjadi serpihan kecil, lalu membiarkannya terbang terbawa angin dari atas gedung.
"Ziva," panggil Arkan pelan.
"Ya?"
"Makasih sudah percaya sama aku semalam. Maaf aku harus bikin drama di aula tadi pagi. Itu satu-satunya cara biar orang-orang nggak fokus sama isi foto itu, tapi lebih fokus ke kejahatan Clarissa."
Ziva menatap profil wajah Arkan. Sinar matahari senja membuat garis rahang Arkan terlihat lebih lembut.
"Lo bener-bener pelindung aturan yang paling nggak taat aturan ya, Ar."
Arkan menoleh, menatap Ziva dengan intensitas yang membuat napas Ziva tertahan. "Aku punya satu aturan baru. Khusus buat kita."
"Apa?"
Arkan melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Ia memegang kedua tangan Ziva, merasakannya masih sedikit dingin. "Aturan nomor satu: Jangan pernah merasa sendirian lagi. Apapun yang terjadi di sekolah ini, di rumah, atau di mana pun... aku adalah dinding pertama yang harus dilewati orang-orang kalau mereka mau nyakitin kamu."
Ziva merasakan matanya memanas. "Ar... jangan bikin gue baper. Kita masih harus sandiwara musuhan besok."
"Siapa bilang?" Arkan tersenyum miring. "Besok, aku akan buat pengumuman kalau aku dan kamu harus menjalani 'bimbingan konseling bersama' setiap sore karena konflik kita yang terlalu sering. Itu alasan legal biar kita bisa pulang bareng tanpa curiga."
Ziva terbelalak. "Lo licik banget, Pak Ketos!"
"Itu namanya manajemen risiko, Istriku," bisik Arkan.
Tiba-tiba, dari arah pintu atap, terdengar suara langkah kaki. Mereka segera melepaskan tangan satu sama lain. Sisil muncul dengan wajah penasaran.
"Woi! Kalian ngapain di sini berduaan? Arkan, lo mau hukum Ziva lagi gara-gara kejadian tadi pagi?" tanya Sisil curiga.
Arkan kembali ke mode dinginnya dalam sekejap. "Ziva terlibat dalam penyelidikan kasus Clarissa karena dia adalah korban penguntitan juga. Saya sedang memberikan instruksi keamanan. Clarissa, segera kembali ke kelas atau saya beri poin pelanggaran karena berada di atap tanpa izin."
Ziva menjulurkan lidahnya ke arah Arkan saat Sisil berbalik.
Arkan hanya menahan senyumnya.
Malam itu, di Apartemen 402, mereka makan malam dengan tenang. Tidak ada lagi ketakutan akan penyusup. Namun, mereka tidak tahu bahwa di luar sana, Clarissa yang sedang berkemas untuk pindah sekolah, sedang menelepon seseorang—seorang jurnalis gosip terkenal di kota itu.
"Gue mungkin pindah sekolah, tapi gue nggak akan biarin mereka bahagia," gumam Clarissa. "Kalau sekolah nggak bisa hancurin mereka, biar publik yang melakukannya."