Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Panas
Raina mulai menyadari bahwa kebahagiaan kecil yang ia rasakan belakangan ini ternyata rapuh.
Pagi itu, saat ia sedang membersihkan halaman rumah kecil mereka, seorang santriwati muda bernama Siti datang tergesa-gesa. Wajahnya pucat dan suaranya bergetar.
“Mbak Raina… ada yang ingin bicara sama Mbak. Di belakang masjid. Katanya penting sekali.”
Raina meletakkan sapu lidi dan mengikuti Siti dengan perasaan was-was. Di belakang masjid, ia melihat sekelompok santriwati sedang berbisik-bisik. Saat Raina mendekat, mereka langsung diam.
Salah seorang di antaranya, seorang gadis bernama Rina yang biasanya pendiam, maju dengan tangan gemetar.
“Mbak Raina… kami dengar gosip dari luar pesantren. Katanya ada orang dari Surabaya yang bilang Mbak dulu… punya hubungan dekat dengan seorang cowok bernama Dika. Bahkan katanya Mbak pernah… tidur di rumahnya.”
Raina merasa dunia berhenti sejenak. Darahnya seolah turun ke kaki.
“Siapa yang bilang itu?” tanyanya dengan suara rendah.
Rina menunduk.
“Beberapa santri laki-laki dengar dari warung kopi depan gerbang. Mereka bilang Dika sendiri yang cerita… sambil mabuk. Katanya Mbak dulu sering kabur malam bersamanya.”
Suasana langsung hening. Beberapa santriwati menatap Raina dengan campuran rasa kasihan dan curiga.
Raina merasa dadanya sesak. Ia mundur selangkah, tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Gue… nggak pernah tidur sama dia,” katanya dengan suara yang bergetar. “Gue memang dulu liar. Gue memang sering balap motor sama geng. Tapi gue nggak pernah… melakukan itu.”
Rina mengangguk cepat, tapi tatapannya masih ragu.
“Kami cuma… khawatir, Mbak. Gosip ini sudah mulai beredar di kalangan santri laki-laki. Ada yang bilang… Mbak nggak pantas jadi istri Gus Haris.”
Raina merasa seperti ditampar.
Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Kakinya membawa ia ke belakang rumah kecil mereka, tempat ia biasa duduk sendirian dulu. Ia duduk di tanah, memeluk lututnya, dan air mata jatuh tanpa suara.
Gus Haris menemukannya di sana setengah jam kemudian. Ia duduk di sebelah Raina tanpa langsung menyentuhnya.
“Aku sudah dengar,” katanya pelan. “Ada yang datang lapor ke aku.”
Raina tidak mengangkat wajahnya.
“Gue malu, Haris. Gue malu banget. Gosip itu… meski nggak sepenuhnya benar, tetap bikin gue ngerasa kotor. Gue takut lo juga mulai mikir kayak mereka. Gue takut lo mulai ragu sama gue.”
Gus Haris diam sejenak. Lalu ia mengulurkan tangan dan menyentuh bahu Raina dengan lembut.
“Aku tidak ragu sama kamu,” katanya dengan suara tegas tapi tetap lembut. “Aku tahu siapa kamu dulu. Aku tahu kamu pernah liar. Tapi aku juga tahu siapa kamu sekarang. Kamu adalah istriku. Dan aku memilih kamu apa adanya.”
Raina akhirnya mengangkat wajahnya. Air mata masih mengalir di pipinya.
“Tapi gosip itu akan terus beredar. Orang-orang akan ngomong di belakang punggung lo. Mereka akan bilang lo salah pilih istri. Gue… nggak mau lo malu karena gue.”
Gus Haris menggeleng pelan.
“Aku tidak malu. Yang aku takutkan adalah kamu yang terluka karena kata-kata orang. Kalau kamu mau, aku akan bicara dengan mereka. Tapi aku lebih ingin kamu yang berdiri tegak dan tunjukkan siapa kamu sekarang.”
Raina mengusap air matanya dengan kasar.
“Gue… mau bicara sama mereka. Gue mau bilang yang sebenarnya. Gue nggak mau sembunyi lagi.”
Gus Haris mengangguk.
“Aku akan berdiri di samping kamu.”
Sore harinya, Raina meminta Gus Haris mengumpulkan beberapa santri senior yang menyebarkan gosip. Di halaman belakang masjid, Raina berdiri di depan mereka dengan tangan yang masih gemetar, tapi suaranya tegas.
“Gue tahu kalian lagi ngomong tentang gue,” katanya langsung. “Gue tahu ada yang bilang gue dulu tidur sama cowok lain. Gue bilang sekarang: itu bohong. Gue memang dulu liar. Gue memang sering balap motor malam. Gue memang pernah deket sama Dika. Tapi gue nggak pernah tidur sama dia. Gue nggak pernah melakukan itu.”
Suasana hening. Beberapa santriwati menunduk.
Raina melanjutkan dengan suara yang semakin kuat.
“Gue nggak minta kalian percaya. Tapi gue minta kalian berhenti ngomong di belakang punggung gue. Gue lagi berusaha jadi orang yang lebih baik. Gue lagi belajar jadi istri yang pantas buat Gus Haris. Kalau kalian masih mau ngomong jelek tentang gue, silakan. Tapi jangan lakukan di depan suami gue.”
Salah seorang santri senior akhirnya bicara.
“Kami… minta maaf, Mbak. Kami salah.”
Raina mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Malam harinya, Raina pulang ke rumah dengan tubuh lelah tapi hati yang lebih ringan. Gus Haris menunggunya di teras dengan secangkir teh hangat.
“Gue lakuin itu tadi,” kata Raina sambil duduk di sebelahnya. “Gue bicara langsung sama mereka. Gue nggak mau sembunyi lagi.”
Gus Haris tersenyum bangga.
“Aku bangga sama kamu. Kamu semakin kuat.”
Raina menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
“Gue masih takut kadang-kadang. Tapi hari ini gue ngerasa gue bisa. Gue ngerasa gue bisa jadi istri yang lo banggakan.”
Gus Haris memeluk Raina erat.
“Kamu sudah jadi istri yang aku banggakan.”
Malam itu, Raina tidur dengan hati yang jauh lebih tenang. Ia masih dalam perjalanan, tapi ia sudah mulai berani berdiri untuk dirinya sendiri.
Dan di sampingnya, ada suami yang tidak hanya sabar, tapi juga bangga melihat istrinya tumbuh.