"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membicarakan Perjodohan
Di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang, seorang gadis cantik yang masih mengenakan seragam sekolah mendorong pagar rumahnya pelan-pelan agar satpam yang berjaga tidak menyadari kehadirannya.
“Yuhuu… berhasil,” gumam Cya begitu ia berhasil masuk ke pekarangan rumah tanpa ketahuan. Bisa bahaya kalau satpam tahu ia pulang larut—pasti akan dilaporkan kepada orang tuanya.
Setibanya di depan pintu, Cya mengintip ke dalam melalui jendela di samping pintu, memastikan ruang tamu kosong.
“Yes, Mami sama Papi pasti belum pulang,” gumamnya lega. Ia tidak melihat mobil orang tuanya; garasi sudah tertutup. Biasanya, jam segini mereka memang belum kembali.
Merasa aman, Cya pun mendorong pintu dan melenggang santai masuk ke dalam rumah. Senyumnya semakin lebar saat melihat ruang keluarga juga sepi. Ia berniat segera naik ke lantai dua untuk mengganti seragamnya sebelum ketahuan.
“Non Cya, dipanggil Tuan dan Nyonya di dapur.”
Baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, suara Bi Ani mengagetkannya hingga ia nyaris melompat.
Cya menoleh sambil mengelus dada. “Ya ampun, Bi! Ngagetin aja. Kalau saya jantungan gimana?” gerutunya.
“Maaf, Non. Saya gak sengaja. Tapi Non Cya diminta ke dapur,” jawab Bi Ani.
Wajah Cya langsung pucat. “Memangnya Papi sama Mami sudah pulang, Bi?”
“Sudah dari tadi, Non. Dari jam empat sore.”
“Ya udah, Bi. Aku ganti baju dulu.”
“Nggak usah, kata Nyonya langsung ke dapur.”
Mau tak mau, Cya menurut.
Sesampainya di dapur, ia melihat bukan hanya orang tuanya yang duduk di meja makan, tetapi juga beberapa orang asing. Kecuali satu—wanita paruh baya yang terasa familiar, meski ia tak ingat di mana pernah melihatnya.
“Ya ampun, Cya! Kamu kok kayak gembel sih?” pekik Diana saat melihat putrinya berdiri tak jauh dari meja makan.
Semua orang langsung menoleh ke arah Cya.
Cya menunduk, menatap penampilannya. Rambutnya acak-acakan, seragam putihnya kini penuh coretan warna-warni dan kusut, sementara sepatu yang tadinya bersih kini penuh noda.
“Ck… sudah Papi duga. Kamu pasti ikut-ikutan teman-teman kamu coret-coret seragam sampai pulang telat begini,” omel Pak Adit.
“Kata teman-teman, kalau kayak gini kita kelihatan gaul, Pi. Lagian ini bentuk apresiasi karena kita sudah menjalani ujian sampai lulus,” jelas Cya sambil tersenyum lebar.
“Cya, kamu mandi dan ganti baju dulu, lalu kembali ke sini,” titah Bu Diana tegas.
“Tadi katanya nggak usah ganti baju, sekarang disuruh ganti,” protes Cya sambil mengerucutkan bibir.
Tanpa disadarinya, seorang lelaki tampan bermata tajam yang duduk di samping papinya sejak tadi memperhatikannya dengan sorot mata yang intens.
“Nggak usah banyak protes! Lakukan apa yang Mami perintahkan!” bentak Pak Adit.
Dengan kesal, Cya menghentakkan kaki dan pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan orang tuanya serta para tamu yang masih duduk di sana.
“Aduh, maafkan kelakuan anak saya, ya, Pak. Dia memang agak bandel dan keras kepala,” ujar Pak Adit canggung.
“Tidak apa-apa, Pak. Namanya juga anak muda. Dulu waktu Rajendra masih sekolah, dia juga bandel,” jawab Pak Mahardika santai.
“Betul itu,” timpal Bu Kiran-istri Pak Mahardika- sambil tersenyum tipis.
***
Beberapa menit kemudian, Cya akhirnya kembali ke dapur dengan penampilan yang jauh lebih rapi dari sebelumnya. Gadis itu kini mengenakan baju tidur bermotif bunga daisy.
“Cya, kenapa kamu pakai baju tidur?” tanya Diana, jelas tidak suka melihat penampilan putrinya.
“Ini kan sudah malam, Mi. Masa aku harus pakai baju pesta?” jawab Cya santai.
“Iya, tapi kita sedang ada tamu, Sayang. Seharusnya kamu pakai pakaian yang lebih sopan sedikit.”
Cya mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu tamu yang kini juga memperhatikannya.
Ia lalu melambaikan tangan sambil tersenyum. “Halo semuanya, halo Om, Tante.”
“Halo, Nak,” jawab Bu Kiran dengan ramah. “Sini, duduk di sebelah Tante.” Ia menepuk kursi kosong di samping kirinya, sementara di sisi kanan duduk suaminya.
“Terima kasih, Tante.” Tanpa canggung, Cya langsung duduk di sana.
Bu Diana dan Pak Adit saling pandang, sama-sama tidak menyangka putri mereka bisa secepat itu akrab dengan Kiran.
“Hari ini kamu baru lulus SMA, ya?” tanya Bu Kiran.
“Iya, Tante. Aku bahkan dapat peringkat, loh,” jawab Cya bangga.
“Oh ya? Peringkat berapa?”
“Peringkat 27 dari 30 siswa di kelas aku, Tante. Hebat, kan?”
Bagi Cya, itu sudah pencapaian besar. Biasanya ia selalu berada di posisi terakhir, tapi kini berhasil naik tiga tingkat—tentu saja menurutnya itu patut dirayakan.
Rajendra, yang sejak tadi memasang wajah datar, hampir saja menyemburkan air minum yang baru masuk ke mulutnya kalau tidak buru-buru ia tahan. Ia menunduk, menahan tawa yang nyaris pecah.
Baru kali ini ia melihat seseorang begitu bangga memamerkan peringkat ketiga dari bawah.
Sementara itu, Bu Diana dan Pak Adit kembali saling pandang, kali ini dengan rasa malu yang tak bisa disembunyikan di depan rekan kerja mereka.
“Memangnya dulu kamu peringkat berapa?” tanya Bu Kiran lagi.
“Tahun lalu aku selalu peringkat 30, Tante. Sekarang kan naik,” jawab Cya santai.
“Wah, berarti ada peningkatan dong,” puji Bu Kiran tulus.
Wajah Cya langsung berbinar. “Iya dong, Tante. Pokoknya aku mau kuliah di kampus terbaik di kota ini.”
“Kamu tidak akan kuliah… kecuali kamu menikah dengan teman Papi, dia rekan kerja Papi,” potong Pak Adit tiba-tiba.
Ucapan itu membuat mata Cya langsung membelalak lebar.
Tanpa angin, tanpa hujan—tiba-tiba saja ia disuruh menikah. Siapa yang tidak kaget?
“Pi, yang benar saja! Masa aku disuruh nikah sama kakek-kakek?” protes Cya spontan.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa lelaki tampan yang duduk di samping papinya itulah orang yang dimaksud.
“Tidak ada yang mau menikahkan kamu dengan kakek-kakek, Cya,” tegas Pak Adit.
“Lho, Papi saja sudah tua. Otomatis rekan kerja Papi juga sudah tua—sudah lapuk kayak kayu,” ucap Cya polos tanpa beban.
Rahang Rajendra mengeras, menahan kesal.
“Anak Tante masih muda kok, Sayang. Hanya beda delapan tahun dengan kamu,” sahut Bu Kiran, mencoba meluruskan.
“Anak Tante?” ulang Cya, memastikan.
Bu Kiran mengangguk. “Itu dia.” Ia menunjuk ke arah Rajendra.
Semua mata langsung tertuju pada lelaki itu.
Cya mengikuti arah tunjukkan tersebut… dan untuk pertama kalinya benar-benar menatap wajah Rajendra dengan jelas.
Seketika, ekspresinya berubah.
Cya menatap lurus ke depan. Kebetulan Rajendra memang duduk tepat di hadapannya. "Wah, ganteng banget," ucap Cya dengan polosnya. ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Cya yakin siapapun yang melihat lelaki tampan di depannya pasti akan terpesona. Lelaki itu semacam artis-artis Cina yang sering Cya tonton. Badannya tegap, tinggi, hidung mancung, rahang tegas, kulit putih dan matanya yang seperti elang-tajam.
Semua orang yang ada di ruang tamu, kecuali Rajendra tersenyum. mendegar ucapan Cya.
"Kamu bisa aja nak." Sahut Bu Kiran.
Rajendra yang dikatakan ganteng diam saja memasang wajah yang nyaris tanpa ekspresi.
"Anak tante ganteng tapi kok kaya gak bisa senyum ya?" Tanya Cya dengan polosnya.
Cya sudah melempar senyum pada Rajendra, tapi Rajendra tak menghiraukannya makanya Cya berkata seperti itu.
"Oh, Rajendra memang seperti itu Nak. Semenjak di tinggal istrinya, dia seolah tak punya semangat hidup lagi." Jawab Bu Kiran.
Cya terbelalak. "Jadi anak tante duda?"
"Hem... Iya nak." Jawab Bu Kiran yang ragu. Ia takut Cya akan menolak perjodohan itu. Kiran sendiri sudah menyukai Cya sejak pertama kali ketemu karena gadis itu pernah menolongnya.
Cya beralih menatap Papinya. "Jadi Papi mau aku menikah dengan rekan kerja papi yang duda?"
apa Bela itu sebenarnya Aurel