Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Wajah seorang bocah laki-laki. Tulang pipinya menonjol tajam karena terlalu kurus, membuat matanya terlihat cekung dan besar seperti mata hantu. Kulitnya pucat kekuningan, warna khas orang sakit-sakitan. Rambut hitamnya panjang dan kusut, menggumpal karena minyak dan kotoran, menutupi sebagian wajahnya seperti tirai rusak.
Ada memar ungu besar di pelipis kirinya, dan bibirnya pecah berdarah.
"Jadi ini wajahku sekarang..." bisiknya.
Dia meneliti wajah itu bukan dengan rasa jijik, tapi dengan analisis dingin. Struktur tulangnya sebenarnya tidak buruk. Alisnya tajam seperti pedang. Hidungnya mancung dan lurus. Jika wajah ini bersih, diberi makan dengan baik, dan memancarkan aura percaya diri, dia akan menjadi pria yang tampan—jauh lebih tampan daripada wujud aslinya di kehidupan lalu yang penuh bekas luka bakar.
Potensial,simpulnya. Wadah ini rapuh, tapi bentuk dasarnya bagus. Bisa dipoles.
Lamunannya buyar saat seekor lalat hinggap tepat di hidung refleksinya di air.
Haus.
Yang Chen tidak memiliki gayung atau mangkuk. Dia juga terlalu lemah untuk menangkupkan kedua tangan dan mengangkat air ke mulut berulang kali. Itu membuang tenaga.
Jadi, dia melakukan cara binatang.
Dia menundukkan kepalanya perlahan, mendekatkan wajahnya ke permukaan air. Dia meniup pelan untuk menyingkirkan lapisan lumut hijau dan lalat-lalat yang menghalangi.
Lingkaran air yang sedikit lebih jernih terbentuk di depannya.
Dia membenamkan bibirnya ke dalam air dingin itu.
Gluk.
Rasa air itu... payau. Ada rasa tanah, rasa lumut, dan sedikit rasa logam samar. Tapi sensasi dingin yang mengalir melewati kerongkongannya yang kering terasa seperti sihir penyembuhan tingkat dewa.
Dia meminumnya dengan rakus. Gluk. Gluk. Gluk.
Jakunnya naik turun. Air itu membasuh rasa sakit di tenggorokannya, mengisi perutnya yang kosong, dan mengirimkan sinyal kehidupan ke seluruh saraf di tubuhnya.
Dia berhenti sejenak untuk bernapas, terengah-engah, air menetes dari dagunya yang basah. Lalu dia minum lagi. Dia tidak peduli jika ada bakteri atau cacing di dalam air itu. Tubuh manusia memiliki ketahanan tersendiri, dan jiwa Yang Chen yang kuat akan memaksa tubuh ini untuk tidak menyerah hanya karena diare.
Setelah lima tegukan besar, dia berhenti. Terlalu banyak air dalam perut kosong bisa membuatnya muntah, dan muntah akan mematikan baginya saat ini.
Dia menarik wajahnya dari palung, menyeka mulutnya dengan lengan baju yang kotor.
"Hah..." Napas lega keluar dari mulutnya. Matanya kini terlihat sedikit lebih hidup. Kilatan redup di bola matanya mulai menyala kembali, didorong oleh hidrasi.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki lagi. Bukan dari arah istana pelayan, tapi dari dalam kandang kuda di sebelahnya.
Suara langkah berat sepatu bot kulit di atas jerami kering. Diiringi dengusan kuda yang gelisah.
Yang Chen membeku. Posisinya sangat terbuka. Dia berdiri di samping palung air, di luar gubuk. Siapapun yang keluar dari pintu kandang kuda itu pasti akan langsung melihatnya.
Dia melihat ke sekeliling. Tidak ada tempat sembunyi yang dekat selain kembali ke gubuk, tapi dia tidak akan sempat sampai ke sana tepat waktu dengan kaki lumpuhnya.
Jantungnya berdetak kencang lagi. Bukan karena takut mati, tapi karena kalkulasi risiko. Jika yang keluar adalah penjaga kuda, dia mungkin akan dipukuli karena "mengotori air minum kuda berharga". Kuda perang Kerajaan Besi Hitam seringkali diperlakukan lebih baik daripada pangeran sampah.
Langkah itu semakin dekat ke pintu kandang yang hanya berjarak lima meter di sebelah kirinya.
Yang Chen membuat keputusan sepersekian detik. Dia tidak lari. Dia tidak bisa lari.
Dia menjatuhkan dirinya ke tanah berlumpur di bawah palung air.
Bruk.
Sakitnya luar biasa saat pinggul dan sikunya menghantam tanah, tapi dia menahan teriakannya. Dia menggulingkan tubuhnya ke ruang sempit di antara kaki-kaki batu penyangga palung itu.
Itu adalah tempat yang sempit, gelap, dan penuh dengan sarang laba-laba. Bau di bawah sini sangat menyengat, campuran urin lama dan tanah basah. Tapi bayangan dari palung batu di atasnya memberikan perlindungan visual yang sempurna dari orang yang berdiri.
Tepat saat dia menarik kakinya masuk ke dalam bayangan...
Seorang pria bertubuh kekar keluar dari pintu kandang kuda. Dia mengenakan rompi kulit tanpa lengan yang memamerkan otot lengannya yang berkeringat. Di tangannya ada sebuah sikat kuda besar dari besi.
Pria itu—Pengurus Kuda Zhang—berjalan menuju palung air. Tepat di atas kepala Yang Chen.
Yang Chen bisa melihat sepatu bot pria itu berhenti hanya beberapa inci dari wajahnya. Lumpur terciprat sedikit ke pipi Yang Chen saat pria itu menghentakkan kakinya.
"Cih, airnya kotor lagi," suara berat pria itu terdengar menggema dari atas. "Dasar pelayan malas. Siapa yang seharusnya membersihkan ini hari ini? Si Gendut Liu?"
Pria itu meludah ke tanah. Ludah kental itu jatuh tepat di depan hidung Yang Chen, hanya berjarak satu jari.
Yang Chen tidak berkedip. Dia menahan napasnya sepenuhnya. Dia bahkan mengendalikan pori-porinya agar tidak mengeluarkan keringat berlebih. Teknik Penyembunyian Napas Kura-kura—meski tanpa Qi, prinsip fisiknya tetap bisa diterapkan: diam mutlak, perlambat detak jantung.
Pria itu mencelupkan sikat besinya ke dalam palung air—tempat Yang Chen baru saja minum. Dia mengaduk-aduk sikat itu dengan kasar untuk membersihkannya, membuat air terciprat ke mana-mana, menetes jatuh dari pinggiran palung ke tubuh Yang Chen yang bersembunyi di bawahnya.
Air kotor menetes ke baju Yang Chen, membasahi wajahnya.
Yang Chen tetap tak bergerak seperti batu. Matanya menatap tajam ke arah sepatu bot itu, siap jika pria itu tiba-tiba membungkuk.
Tapi Pengurus Kuda Zhang tidak membungkuk. Dia menarik sikatnya, mengibas-ngibaskannya, lalu berbalik badan.
"Hei! Kau di sana!" teriak Zhang ke arah pelayan wanita yang sedang menjemur pakaian di kejauhan. "Katakan pada Kepala Kasim, kalau air kuda ini tidak diganti siang ini, aku akan mematahkan kaki seseorang! Kuda Jenderal Feng akan datang besok, tempat ini harus bersih!"
Setelah berteriak, pria itu kembali masuk ke dalam kandang kuda, bersiul santai.
Yang Chen menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya perlahan-lahan.
Dia selamat lagi. Tapi informasi barusan jauh lebih berharga daripada air yang diminumnya.
Kuda Jenderal Feng akan datang besok.
Mata Yang Chen menyipit dalam kegelapan di bawah palung air.
Jenderal Feng. Feng Wuhen. Panglima Tertinggi Kerajaan Besi Hitam. Salah satu tokoh paling berpengaruh di kerajaan ini, dan menurut ingatan samar Zhao Wei, dia adalah satu-satunya orang di istana yang pernah menatap Zhao Wei dengan tatapan kasihan, bukan tatapan jijik.
Sebuah rencana gila mulai terbentuk di otak licik sang Kaisar Tirani.
"Besok..." gumamnya tanpa suara. "Besok adalah kesempatanku untuk keluar dari lubang neraka ini."
Tapi untuk mencapai besok, dia harus bertahan hidup hari ini. Dan dia masih harus kembali ke gubuk tanpa terlihat.
Perjalanan pulang sejauh lima langkah itu akan menjadi siksaan berikutnya.