Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Bukan Kebebasan, Tapi Kemanjaan
Pagi itu, langit Jakarta bersih tidak mendung. Elleta terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Setidaknya, kompresan es semalaman berhasil meredakan bengkak di matanya. Ia menolak untuk terus mengurung diri di kamar dan meratapi nasib.
Kalau dunia luar sedang berusaha menekannya, maka Elleta memilih melarikan diri ke satu-satunya tempat yang selalu bisa membuatnya merasa bisa memegang kendali pusat perbelanjaan.
Tanpa menyentuh sarapan yang sudah tersedia di meja, Elleta langsung menuju ke ruang tengah. Di sana ada Mamanya, Rena Crassia sedang duduk santai menyesap teh melati sambil membalik halaman majalah kecantikan.
"Ma, Elleta pergi sebentar, ya. Mau cari angin," pamitnya singkat.
Rena mendongak, menatap putrinya dengan pandangan teduh yang menyiratkan rasa khawatir. Ia tahu suaminya sengaja berangkat ke kantor sejak subuh tadi untuk menghindari keributan lanjutan dengan Elleta.
"Kamu enggak mau sarapan dulu, El? Papa sudah berangkat, kok. Rumah sudah sepi."
"Enggak usah, Ma. Elleta mau me-time aja sendirian," jawab Elleta sambil mencium pipi Mamanya sekilas.
"Ya sudah, hati-hati. Jangan pulang terlalu malam," pesan Rena. Ia melepaskan putrinya pergi, walau tahu betul ini hanyalah jeda singkat sebelum badai berikutnya datang.
Di garasi, Elleta langsung masuk ke dalam BMW emas miliknya. Begitu mesin menderu halus, ia segera membawa mobil itu membelah jalanan ibu kota. Hari yang cerah ini seolah memberi harapan palsu bahwa semua masalahnya bisa selesai dengan cepat.
Tujuan utamanya sekarang adalah pergi ke mall kelas atas di pusat kota. Begitu selesai menyerahkan kunci mobil ke petugas valet, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Di lingkaran sosialita Jakarta, siapa yang tidak kenal marga Crassia? Mulai dari bisnis tekstil, kepemilikan tambang, hingga proyek real estate, semuanya ada di bawah kendali keluarganya.
Desas-desus tentang perjodohan Elleta dengan putra mahkota Danendra Group pun sebenarnya sudah menjadi gunjingan hangat di kalangan atas.
Mengabaikan pandangan penuh selidik dari orang-orang di sekitarnya, Elleta tetap melangkah masuk dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian entah karena gaya hidupnya, penampilannya, atau sekadar hak istimewa yang melekat pada nama belakangnya sejak lahir.
Langkah kakinya membawa Elleta langsung menuju ke arah boutique Louis Vuitton. Aroma kulit premium dan wewangian mewah khas langsung menyambutnya saat pintu kaca itu terbuka.
Pramuniaga yang sudah familier dengan wajahnya segera menyapa dengan ramah.
"Selamat pagi, Nona Crassia. Senang melihat anda kembali. Kebetulan hari ini ada koleksi terbaru untuk musim ini, baru saja tiba pagi tadi," sapa staf tersebut sambil tersenyum ramah.
Elleta hanya mengangguk tipis. Ia mulai mengitari toko dan memilih dengan cepat. Sebuah tas tangan monogram, beberapa potong pakaian berbahan sutra, dan sepasang heels yang langsung menarik perhatiannya.
Bagi Elleta, belanja selalu menjadi terapi terbaik untuk melupakan tekanan dari Papanya, sekaligus mengalihkan rasa cemas karena Daniel yang masih sulit dihubungi.
"Aku ambil yang ini. Tolong sekalian di total, ya," ujar Elleta. Pramuniaga itu dengan cekatan membawa barang-barang pilihannya ke meja kasir.
Saat tiba gilirannya membayar, Elleta mengulurkan kartu debit hitam miliknya dengan gestur santai. Tapi raut wajah petugas kasir perlahan berubah kikuk setelah mencoba menggesek kartu itu untuk kedua kalinya.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nona Crassia..." ucap kasir itu dengan suara pelan, menjaga privasi pelanggan VIP-nya agar tidak terdengar pengunjung lain.
"Sepertinya transaksi anda tidak bisa diproses. Di sistem kami tertera bahwa kartunya sedang ditangguhkan."
Jantung Elleta rasanya berhenti berdetak sedetik. Rasa hangat langsung menjalar ke wajahnya karena malu. "Coba sekali lagi. Enggak mungkin diblokir."
Percobaan ketiga tetap gagal. Elleta langsung menarik diri dari konter, meremas ponselnya, dan berjalan agak menjauh untuk menelepon Papanya. Begitu panggilan tersambung, suara berat Yuda Crassia terdengar dari seberang, sangat tenang seolah tanpa beban.
"Kartuku kenapa diblokir, Pa?!" tembak Elleta, berusaha menahan suaranya agar tidak meninggi.
"Hanya peringatan kecil, Elleta," jawab Yuda dingin.
"Kamu bilang kamu ingin menentukan jalan hidupmu sendiri, kan? Kalau begitu, mulailah belajar bagaimana rasanya hidup tanpa fasilitas dari Papa. Itu baru akibat kecil karena kamu tidak tahu sopan santun di meja makan kemarin. Kalau tiga hari lagi kamu masih nekat merusak pertemuan itu, bukan cuma kartu itu yang Papa cabut."
Klik. Sambungan diputus sepihak.
Elleta berdiri kaku. Rasa malu, marah, dan perasaan tidak berdaya bercampur menjadi satu, memukul harga dirinya hingga hancur lebur. Tepat ketika ia berbalik untuk mengambil kartunya kembali dan membatalkan semua belanjaan dengan sisa-sisa harga diri yang ada, sebuah aroma parfum yang sangat ia kenali menyeruak.
Aroma kayu sandalwood dan citrus yang mahal, aroma yang maskulin sekaligus mengintimidasi.
Sebuah tangan kokoh yang dihiasi jam tangan Patek Philippe meluncur di samping tubuhnya, menyodorkan sebuah kartu titanium ke hadapan kasir.
"Gabungkan semua belanjaan Nona ini ke kartu saya," ucap sebuah suara bariton yang berat dengan nada santai.
Elleta menoleh cepat dan mendapati Steve sudah berdiri di sampingnya. Kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku membuat pria itu tampak sangat berwibawa, sekaligus berbahaya.
"Steve? Apa-apaan ini... enggak usah!" desis Elleta, wajahnya memerah padam. Ia benci setengah mati karena pria ini harus menyaksikan momen paling memalukan dalam hidupnya.
"Aku hanya memastikan calon tunanganku tidak sampai menanggung malu di tempat umum karena hukuman dari ayahnya," jawab Steve tanpa Ekspresi. Setelah proses transaksi itu selesai, Steve langsung mengambil alih tas-tas belanjaan Elleta dan melangkah keluar dari toko.
Mau tidak mau, Elleta terpaksa berjalan cepat mengejar langkah kaki Steve yang lebar. "Aku enggak butuh bantuanmu! Aku bakal ganti uangmu itu!"
Steve mendadak menghentikan langkahnya dan berbalik badan membuat Elleta hampir saja menabrak dada bidangnya.
"Mengganti dengan apa?" tanya Steve, menatap Elleta lurus-urus dengan pandangan meremehkan.
"Dengan uang hasil kerja keras Daniel Alvarez? Laki-laki yang mungkin akan berpikir dua kali untuk membeli satu kancing dari baju yang kamu beli tadi?"
Kalimat yang diucapkan dengan tenang itu justru menghujam tepat ke ulu hati Elleta.
"Kamu tahu, Elleta," Steve kembali melangkah santai membelah koridor mall, sementara Elleta mengekor di sampingnya dengan napas tertahan.
"Gaya hidupmu sekarang, berkeliaran di mall mewah, memakai barang-barang bermerek dari ujung rambut sampai kaki. Semuanya dibentuk oleh uang Papamu. Lalu kamu dengan naifnya berpikir untuk hidup bahagia dengan laki-laki yang tidak punya apa-apa seperti Daniel? Kamu hanya memaksakan diri bermain drama romantis yang tidak realistis."
"Kamu enggak tahu apa-apa tentang Kak Daniel!" potong Elleta setengah berteriak, tidak peduli lagi pada beberapa pengunjung mall yang mulai melirik ke arah mereka.
"Aku tahu jauh lebih banyak dari yang bisa kamu bayangkan," sahut Steve tanpa repot-repot menoleh.
"Kamu berteriak ingin bebas, tapi setiap embusan napasmu masih dibiayai oleh harta keluargamu. Itu bukan kebebasan, Elleta. Itu namanya kemanjaan yang egois."
"Berhenti, Steve! Ambil aja barang-barang ini, aku enggak mau!" Elleta mencengkeram lengan kemeja Steve dengan kuat, memaksa pria itu berhenti tepat di depan area air mancur dalam mall.
Steve menurunkan pandangannya, menatap tangan Elleta yang mencengkeram lengannya, lalu beralih menatap sepasang mata gadis itu. Dengan gerakan tegas namun tidak kasar, ia memindahkan seluruh tas belanjaan mewah itu ke dalam dekapan Elleta.
"Bawa ini," bisik Steve, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mutlak.
"Anggap saja ini investasi dariku biar kamu bisa tampil cantik tiga hari lagi. Dan ingat satu hal, Elleta... uang memang tidak bisa membeli harga diri, tapi uang bisa menyelamatkanmu dari posisi menyedihkan di depan kasir tadi." Elleta di ceramahi seperti itu hanya terdiam kutu. Membalas ucapan Steve sama saja mengajak laki-laki itu bicara tanpa henti.
Tanpa menunggu jawaban, Steve berbalik dan melangkah pergi membelah keramaian, meninggalkan Elleta yang berdiri mematung sendirian. Dengan tangan yang penuh dengan tas belanjaan dan hati yang berkecamuk, Elleta merasakan dadanya sesak oleh amarah yang tertahan.
Di tengah gemerlap mall yang riuh itu, sebuah tamparan realita baru saja memukul kesadarannya. Steve bukan sekadar lawan yang disodorkan oleh Papanya. Laki-laki itu seperti cermin retak yang baru saja menunjukkan dengan jelas, betapa rapuh dan tidak berdayanya dunia yang selama ini ia banggakan.