"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kursi yang Terganti di Meja Makan
Pagi itu, Setya datang ke gudang dengan tubuh yang masih lemas. Meskipun sudah makan roti dari uang pemberian Dhanu semalam, rasa perih di perutnya tidak bisa kenyang hanya dengan karbohidrat murahan. Ia segera mengambil seragam staf kebersihannya dan mulai menyapu area parkir. Namun, perhatiannya teralih saat melihat mobil Ibu Aminah berhenti di depan kantor Arumi.
Kak Nia turun dari kursi pengemudi, lalu membantu Ibu Aminah turun. Yang mengejutkan Setya, mereka tidak langsung masuk ke kantor di lingkungan gudang tersebut, melainkan menunggu di depan pintu masuk seolah sedang menantikan seseorang yang sangat penting.
Tak lama kemudian, mobil Dhanu masuk ke area parkir. Pria itu turun dengan senyum ramah yang sangat menyebalkan di mata Setya.
"Ibu, Kak Nia, sudah lama menunggu?" tanya Dhanu dengan nada bicara yang sangat sopan, jauh lebih lembut daripada cara Setya bicara pada ibunya dulu.
"Baru saja sampai, Nak Dhanu. Ayo masuk, Arumi sudah menyiapkan sarapan di dalam. Tadi Ibu sengaja masak sambal goreng hati kesukaan Arumi, dan Ibu buatkan porsi lebih untukmu," ujar Ibu Aminah sambil mengelus lengan jas Dhanu dengan sayang.
Setya yang sedang memegang sapu lidi di dekat sana merasa dunianya seolah terbalik. Sambal goreng hati? Itu adalah masakan spesial Ibu Aminah yang biasanya hanya dibuat saat hari ulang tahun Setya atau saat Setya naik jabatan dulu. Sekarang, masakan itu diberikan kepada pria lain, di depan matanya sendiri.
"Mas, jangan bengong aja! Itu sampah daun di dekat mobil Pak Dhanu dibersihin, jangan sampai ngotori mobil tamu terhormat," bentak seorang satpam, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh rombongan itu.
Ibu Aminah sempat menoleh ke arah Setya. Mata tua itu menatap Setya dengan kesedihan, namun ia tidak mendekat. Ia justru segera memalingkan wajah dan kembali tertawa mendengar cerita Dhanu. Kak Nia bahkan sama sekali tidak melirik Setya, ia tampak sibuk menjelaskan rencana renovasi gudang kepada Dhanu yang ternyata juga memberikan saran-saran teknis secara cuma-cuma.
Setya mengikuti mereka dari kejauhan dengan langkah mengendap-endap. Ia berpura-pura menyapu area koridor yang menuju ke ruang istirahat pribadi Arumi di dalam lingkungan gudang. Ruangan itu memiliki pintu kaca transparan yang memungkinkan Setya melihat apa yang terjadi di dalam.
Di meja makan bundar itu, suasana terlihat sangat hangat. Arumi duduk di samping Ibu Aminah, sementara Dhanu duduk di kursi yang yang seharusnya menjadi milik Setya—kursi di kepala meja. Liam, Sekar, dan Arjuna duduk mengelilingi mereka dengan wajah ceria.
"Om Dhanu, nanti kalau sudah selesai makan, boleh bantu aku kerjakan PR matematika tidak? Kata Bunda, Om Dhanu dulu juara olimpiade ya?" tanya Liam dengan mata berbinar-binar.
"Tentu saja, Liam. Apapun untukmu," jawab Dhanu sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Setya meremas gagang sapunya hingga telapak tangannya yang kapalan terasa perih. Ia ingin masuk ke sana, membanting piringnya, dan berteriak bahwa itu adalah ibunya, itu adalah kursinya, dan itu adalah anak-anaknya. Tapi ia teringat ancaman pemecatan dari Arumi. Ia teringat perutnya yang akan melilit lagi jika ia kehilangan pekerjaan ini.
Tiba-tiba, Arumi menoleh ke arah pintu kaca. Ia melihat Setya yang sedang berdiri mematung dengan sapu di tangan. Arumi tidak membuang muka. Ia justru menatap Setya dengan tenang, lalu dengan sengaja ia mengambil sepotong hati ayam dan meletakkannya di piring Dhanu.
"Makan yang banyak, Dhanu. Kamu sudah banyak membantu operasional gudang minggu ini. Ibu sampai tidak mau berhenti memujimu di rumah," ucap Arumi dengan suara yang cukup keras hingga terdengar lewat celah pintu.
"Iya, Nak Dhanu. Ibu itu sudah anggap kamu seperti anak sendiri. Kalau saja Setya dulu punya sedikit saja kecerdasan dan kesetiaan seperti kamu, mungkin Ibu tidak perlu menangis setiap malam," tambah Ibu Aminah dengan nada bicara yang terdengar sangat kecewa namun pasrah.
Kalimat Ibu Aminah adalah hantaman yang paling telak. Setya merasa seolah-olah ia sudah dianggap "mati" oleh ibunya sendiri. Kedekatan ibunya dan Kak Nia dengan Dhanu bukan hanya sekadar urusan bisnis, tapi sebuah restu terselubung. Mereka sedang membuka jalan bagi Dhanu untuk menggantikan posisi Setya secara permanen.
Setya berjalan mundur dengan kaki gemetar. Ia menuju toilet gudang dan mengunci diri di salah satu bilik yang bau karbol. Ia duduk di atas tutup kloset dan menutup wajahnya dengan tangan. Air mata pria yang dulu sangat arogan itu tumpah juga.
Ia teringat betapa dulu ia sering membentak Arumi jika masakan Arumi kurang asin. Ia teringat betapa ia sering mengabaikan nasihat Ibu Aminah demi memanjakan Raya. Sekarang, semua orang yang dulu ia abaikan telah menemukan sosok pengganti yang jauh lebih sempurna.
"Kenapa kalian begitu cepat melupakan aku?" isaknya pelan.
Di luar bilik toilet, ia mendengar suara langkah sepatu mahal yang mendekat. Itu Dhanu. Pria itu sepertinya ingin mencuci tangan setelah makan. Setya menahan napas, tidak ingin keberadaannya diketahui.
Dhanu berdiri di depan cermin, menyalakan keran air. Setya bisa mendengar suara Dhanu yang sedang berbicara di telepon melalui headset.
"Iya, Ma. Arumi adalah wanita yang luar biasa. Ibu dan kakaknya juga sangat menerimaku. Anak-anaknya? Mereka sudah seperti anak-anakku sendiri. Aku akan pastikan Arumi tidak akan pernah terluka lagi oleh pria manapun. Aku sedang membangun fondasi agar dia benar-benar percaya padaku sepenuhnya," ujar Dhanu dengan nada bicara yang tulus namun penuh tekad.
Setya mengepalkan tangannya. Ia merasa Dhanu sedang memproklamirkan kemenangan tepat di depan hidungnya.
Setelah Dhanu keluar, Setya keluar dari bilik toilet dengan mata merah. Ia tidak kembali menyapu. Ia justru berjalan menuju kantor Kak Nia di bagian administrasi. Ia ingin mencoba mencari simpati dari kakak kandungnya.
"Kak Nia ... boleh aku bicara?" tanya Setya saat masuk ke ruangan Nia yang sibuk dengan tumpukan nota.
Nia mendongak sejenak, lalu kembali ke komputernya. "Kalau mau minta uang, nggak ada. Kalau mau minta keringanan kerja, tanya Arumi. Aku sibuk."
"Kak, kenapa kalian begitu dekat dengan pria itu? Apa Kakak nggak ingat kalau aku ini adik Kakak? Kenapa Ibu sampai masak buat dia?" suara Setya bergetar.
Nia menghentikan ketikannya dan menatap Setya dengan tatapan yang sangat tajam. "Adik? Setya, saat kamu menikahi pelakor itu diam-diam, menghina Arumi, mengkhianati Arumi, apa kamu ingat kalau aku ini kakakmu? Apa kamu ingat kalau Ibu itu ibumu? Kamu lebih pilih bersama Raya daripada mendengarkan tangisan kami!"
"Aku sudah minta maaf, Kak!"
"Maaf itu cuma kata-kata, Setya. Tapi luka yang kamu buat di hati Arumi dan Ibu itu berdarah-darah. Dhanu datang bukan untuk merebut posisimu. Dia datang untuk menyembuhkan apa yang sudah kamu hancurkan. Dan jujur saja, melihat Arumi tersenyum lagi dan melihat Ibu punya 'anak laki-laki' yang bisa diandalkan, itu adalah berkah buat kami. Jadi, kalau kamu merasa sakit melihat itu, anggap saja itu bagian dari penebusan dosamu."
Nia kembali bekerja, mengabaikan Setya yang berdiri mematung di tengah ruangan.
Setya keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang benar-benar hancur. Ia menyadari satu hal: pengampunan dari keluarga jauh lebih sulit didapatkan daripada pengampunan dari hukum. Ia telah menjadi benalu di mata mereka, sementara pria asing itu telah menjadi pohon pelindung.
Sore harinya, saat jam pulang, Setya melihat Dhanu membantu memasukkan barang belanjaan Ibu Aminah ke dalam bagasi mobil. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia yang utuh. Setya hanya bisa berdiri di pojok gudang, memegang sapu lidi yang kini terasa seperti beban seberat satu ton.
Di dalam hatinya, rasa sakit itu mulai berubah. Bukan lagi sekadar cemburu, tapi sebuah rasa rendah diri yang amat sangat. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia memang benar-benar sampah seperti yang dikatakan Arumi?
lebih baik diam nikmati waktumu