“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”
Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.
Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SDUA 15
Alyra menghela napas panjang, seakan berat untuk bercerita, awal mula tentang perjodohan tak masuk akal yang telah ia jalani, Annika pun bahkan belum tahu tentang dirinya yang tengah hamil.
“Gue bingung, Ann. Harus cerita dimulai dari mana?” Ia menundukan wajah dalam-dalam.
“Kalau masih belum yakin … Gue bisa nunggu sampai Lo siap buat cerita, Al.” Annika menurunkan ego, ia tahu persis, sahabatnya begitu dilanda gundah dan gelisah.
“Enggak, Ann. Gue harus cerita sekarang, gue udah cukup lama memendam semuanya sendirian, bikin Lo ngerasa asing karena nggak pernah dilibatkan dalam permasalahan ini.”
Annika tak lagi berkomentar, memang benar adanya, dia merasa jarak antara dirinya dan Alyra seakan terbentang. Padahal, mereka kerap bersua bahkan meneken kontrak di perusahaan yang sama.
Itu semua ia rasakan selama dua bulan terakhir, tepatnya setelah tragedi kehormatan Alyra direnggut paksa oleh insan yang durjana.
“Jadi gini, Ann ….” Akhirnya Alyra bersuara pelan, bercerita dengan runtut, tak ada sedikitpun bagian yang terlewati, berkata dengan jujur hingga ke detail masalah yang telah dilalui.
Wajahnya tertunduk, air mata yang enggan ia tunjukan pada siapapun kini bercucuran di hadapan Annika, satu-satunya orang yang paling ia percaya.
Annika turut bersimpati, meski di sorot matanya terdapat sebuah kecewa, sakit hatinya karena terlambat mengetahui luka yang telah diderita sahabatnya.
“Gue kira … gue adalah sosok sahabat yang cukup baik. Tapi perihal ini pun, gue nggak ada peka-nya sama sekali.” Sudut bibirnya bergetar, dadanya terasa sesak setelah mendengar kisah yang telah menghancurkan hidup sahabatnya. “Sorry, Al.”
“Gue yang minta maaf, Ann. Karena nggak cerita dari awal, jujur … gue takut,” lirih Alyra, tangan meremas kuat bagian gaun yang dikenakan.
“Setidaknya, Lo nggak bakal nangis sendirian kalau cerita ke gue sejak awal. Al … gue ngerasa hubungan kita udah nggak sedekat dulu, Lo banyak diam dan memendam semuanya sendiri.” Annika menatap berkaca-kaca pada sosok wanita yang perutnya sudah tak seramping dulu. “Lo … masih anggap gue sahabat, ‘kan?”
“Ya, iya, lah. Lo sahabat gue satu-satunya.” Alyra kembali menundukan kepala, mengakui kesalahan yang memilih menyimpan rahasia tanpa memberitahu sang teman yang posisinya sudah melebihi saudara.
Sang sahabat menghela napas panjang, lalu bersandar pada sandaran kursi, menumpukan kaki kanan ke atas kaki kiri, tangan bersedekap, tatapannya menajam.
“Terus … gimana rencana Lo selanjutnya?”
Yang ditanya tak langsung menyahut. Ekspresinya tampak lugu, mata berkedip pelan bak anak kecil yang tak memahami apa-apa.
Helaan napas berat kembali mengudara. Annika masih menatap geram sahabatnya.
“Lo terima perjodohan ini tanpa punya rencana buat kedepannya? Hah?” Alisnya menukik tajam, raut wajahnya terlihat begitu kesal.
“Ada … ada.” Alyra menegakkan badan. Tangan mengusap pipi yang basah. “Gue udah buat perjanjian sama Erlando, mau amanin aset untuk masa depan anak gue. Dia mau ngebantu, dan sebagai gantinya … dia juga mau manfaatin gue agar bisa naik jadi pewaris Pradana Group. Setelahnya, kami berdua bakalan cerai,” ungkap Alyra, menatap penuh harap, akan menerima pujian atas keputusan brilian menurutnya.
“Berapa banyak yang Lo minta?” tanya Annika.
“Lah iya, gue belum nyebutin nominal.” Mata Alyra membeliak, pipinya telah mengering, air mata tak lagi mengalir.
“Memang dongok, kau!” keluar sudah khodam seorang Annika, ia lahir dan tumbuh di provinsi sumatera, berbaur dengan warga lokal dan pendatang, yang memiliki khas dan gaya berbicara yang dikenal dengan intonasi tinggi.
“Santai girl,” respon Alyra terlihat tenang, sudah terbiasa dengan suara melengking dan bahasa terbilang cukup kasar.
Keduanya berteman sejak menjadi mahasiswa baru, menekuni jurusan yang sama dan menggeluti bidang yang sama pula. Alyra menjelma menjadi seorang penulis yang cukup mumpuni, sementara Annika kini bekerja sebagai editor.
“Gue udah ada rencana. Kita pantau keadaan dulu, kalau ada aset yang menggiurkan … tinggal gue kasih tau aja si Erlan untuk segera mengamankannya,” ujar wanita yang kini tengah berbadan dua.
“Lo yakin Pak Erlando bisa dipercaya?”
“Heem.” Alyra mengangguk yakin. “Cuma di luarnya aja dia tuh keliatan sangar, tapi dalemnya … lumayan lembut, perhatian, dan cukup gentleman.” Ingatan kembali pada malam saat pertama kali dirinya memasuki rumah Pradana.
Erlando sigap melindungi dan rela menjadikan diri sebagai tameng, demi sang istri tak terluka oleh semangkuk kuah panas.
“Lo udah liat dalemnya? Beneran?” Alis Annika naik-turun, tatapannya menggoda.
“Emmm …. Kasih tau nggak, ya???”
.
.
.
~ Aku lagi di deket kantormu, habis ketemu temen. Ada waktu sebentar?
Alyra mengirim pesan kepada suaminya. Seperginya Annika, ia masih duduk di cafe, menunggu jam makan siang. Hendak menemui Erlan untuk membahas perihal peraturan di rumah keluarga Pradana.
Dirinya tak ingin dipandang rendah oleh Velisa dan sang ibu mertua, terlebih sejak awal pertemuan, keduanya teramat tak menyukai Alyra.
“Ke mana dia? Masih sibuk?” Keningnya mengernyit, menatap benda pipih tanpa berkedip.
Setelah beberapa saat, tak kunjung ada notifikasi balasan dari Erlan.
Ia kemudian beralih, menatap gedung megah yang menjulang, berdiri kokoh di seberang jalan.
“Apa aku susul aja ke kantornya?” gumamnya pelan. “Tapi, kalau nanti ada yang curiga gimana? Kami berdua sepakat untuk merahasiakan pernikahan sementara.”
Batinnya begitu dirundung gelisah. Namun ia tak mau kembali pulang sendirian, enggan menjumpai penghuni rumah yang terus-menerus melempar tatapan sengit padanya, hanya Mbok Tum dan Wina — asisten rumah tangga yang masih bersikap ramah.
“Ah, coba aja. Siapa juga yang bakal kenal sama gue?” Ia memiringkan kepala, memutuskan untuk pergi menemui Erlan di kantornya.
Ia membereskan barang bawaan, meraih tas jinjing berukuran sejengkal tangan, dan menenteng paper bag berisi burger, sementara laptop dimasukan ke dalam goodie bag.
“Ah, rempongnya bawaanku ini,” gerutunya, lalu melangkahkan kaki menuju gedung kantor pusat Pradana Group.
Sesampainya di sana, Alyra memasuki lobby. Berdiri dengan canggung, mata terus bergerak mencari keberadaan pria yang ingin ditemuinya.
“Apa gue tanya resepsionis aja?” Ia kembali bergumam sendirian. “Nanti kalo ditanya ‘siapanya Pak Erlan’ gue jawab apa? Teman? Saudara?”
Ia menggigit bibir bawah, kemudian mundur selangkah, hendak mengurungkan niat untuk menemui suaminya.
“Gue tunggu di luar aja-lah.”
Saat hendak memutar badan, netra pekatnya menangkap dua sosok pria rupawan berjalan berdampingan, melangkah tegas, menuju ke arahnya.
Alyra melempar senyum, tangan melambai, ingin menyapa.
“Pak Er—”
“Erlando!” Suara melengking dari belakangnya menyela.
Seorang wanita berpenampilan elegan, berparas cantik dan berambut pirang, lebih dulu berlari tergesa menghampiri Erlan.
Bruk!
Langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukan pria yang sepekan lalu telah mempersunting Alyra.
Alyra membelalak tak percaya. Segera memutar badan, jantung masih berdegup kencang.
Ia menekan bagian dada yang mulai berdesir, merayap hingga ke ulu hati.
“Siapa dia? Siapa perempuan itu?”
*
*
Bersambung.