Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. KISAH MASA LALU
Sinar matahari sore menyinari halaman luas kediaman pribadi Rowan yang berdiri megah di salah satu distrik bangsawan ibu kota Kekaisaran Aurelius.
Bangunan itu tidak sebesar istana kekaisaran, tetapi tetap menunjukkan kemewahan seorang anggota keluarga kerajaan. Pilar-pilar marmer putih berdiri kokoh mengelilingi bangunan utama. Taman bunga tertata rapi di setiap sisi jalan setapak. Air mancur batu di tengah halaman memantulkan cahaya keemasan yang membuat suasana terasa damai.
Kediaman, sesuatu yang sudah lama tidak dirasakan Cecilia.
Setelah mendapatkan izin langsung dari Kaisar Aurelius, Rowan membawa Cecilia beserta kelompok kecilnya untuk tinggal sementara di kediaman Rowan.
Alasannya sederhana.
Cecilia telah menyelamatkan terlalu banyak nyawa.
Selama beberapa hari terakhir, gadis itu hampir tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Dari pagi hingga malam, ia berpindah dari satu lokasi penahanan ke lokasi lain. Menyembuhkan orang-orang yang kerasukan.
Bahkan beberapa tabib kerajaan mulai mengatakan bahwa Cecilia bekerja melebihi kemampuan manusia normal.
Dan setelah berhari-hari melakukan hal itu tanpa henti, tubuh Cecilia akhirnya menyerah. Gadis itu ambruk karena kelelahan, baik fisik dan mentalnya.
Begitu tiba di kediaman Rowan dan diberi sebuah kamar tamu serta dilayani oleh para pelayan, gadis itu langsung ambruk di tempat tidur dan lelap dalam tidur yang dalam. Dan tidak bangun selama lebih dari sehari.
Sementara itu, kehidupan di kediaman Rowan berjalan jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Para pria yang datang bersama Cecilia ternyata langsung akrab dengan para kesatria Rowan karena rupanya sesuai dugaan Rowan, Garrick dan teman-temannya adalah kesatria.
Di halaman latihan belakang kediaman Rowan, puluhan pria sedang berlatih bersama.
Dentang pedang bergema silih berganti.
"Kau kalah lagi!"
"Diam! Aku hanya terpeleset!"
"Kau terpeleset tiga kali berturut-turut!"
Gelak tawa pecah.
Salah satu teman Garrick yang sedang berlatih itu terjatuh setelah ditebas menggunakan pedang kayu.
Dan kesatria Rowan yang mengalahkannya tertawa lebar. Namun beberapa detik kemudian pria itu justru mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
Tidak ada permusuhan. Hanya persaingan sehat.
Di tempat lain, beberapa kesatria sedang membandingkan teknik bertarung.
Yang lain bertukar cerita perjalanan.
Bahkan ada yang mulai bertaruh uang kecil untuk pertandingan latih tanding.
Garrick sendiri menjadi salah satu pusat perhatian. Alasannya sederhana; ia sangat kuat.
Pria berambut tersebut berhasil mengalahkan beberapa kesatria elit Rowan berturut-turut. Meskipun tidak menggunakan kemampuan penuh.
"Monster."
"Itu bukan manusia."
"Aku yakin dia tidur sambil memeluk pedang."
"Mustahil bisa sekuat itu."
"Dia mirip Yang Mulia Rowan!"
Garrick hanya menghela napas mendengar komentar mereka.
Sementara di sisi lain lapangan Rowan sedang bertarung melawan salah satu bawahannya.
Pedang kayu bertabrakan.
Duk!
Duk!
Duk!
Tiga serangan cepat dilancarkan.
Lawan Rowan mundur beberapa langkah.
Lalu ...
BRAK!
Pedang kayunya terlepas dari tangan.
Pertandingan berakhir seketika bersamaan dengan sorak sorai terdengar.
Rowan mengembuskan napas panjang. Keringat membasahi dahinya.
Beberapa saat kemudian, Rowan duduk di pinggir lapangan sambil membawa botol air. Di sebelahnya, Garrick juga sedang beristirahat.
Suasana cukup tenang. Hanya suara para kesatria lain yang masih bercakap-cakap di kejauhan.
Rowan menatap langit sejenak. Lalu berkata, "Aku penasaran tentang sesuatu."
Garrick melirik. "Tentang apa?"
"Tentang kalian," ujar Rowan.
Garrick tidak menjawab.
Rowan melanjutkan, "Aku sudah memperhatikannya sejak pertama kali bertemu."
"Maksudmu?" tanya Garrick akan orang yang Rowan maksud.
"Cecilia," jawab Rowan.
Garrick sedikit tersenyum. "Tentu saja Beliau yang Anda maksud."
"Aku berasal dari keluarga kerajaan. Aku dibesarkan di lingkungan bangsawan. Aku bisa mengenali seorang bangsawan hanya dari cara mereka berjalan," ujar Rowan mulai membuka obrolan.
Garrick mendengarkan.
"Cecilia jelas bukan rakyat biasa. Dia membungkuk dengan sempurna di hadapan Kaisar. Tetapi tidak pernah membungkuk kepadaku bahkan pada Putra Mahkota," kata Rowan mencoba mengumpulkan apa yang ia dapatkan tentang Cecilia yang masih misterius untuknya.
Garrick tersenyum tipis ketika paham arah pembicaraan Rowan. "Itu memang benar."
"Itu berarti statusnya setara dengan putri mahkota atau anggota kerajaan. Karena hanya orang dengan kedudukan setara yang tidak diwajibkan memberi penghormatan kecuali kepada yang statusnya lebih tinggi darinya, seperti Putra Mahkota yang hanya boleh membungkuk kepada Kaisar dan Permaisuri. Itu etika dasar setiap kerajaan di benua ini," jelas Rowan.
Garrick diam.
Rowan menatap pria paruh baya itu dan bertanya inti kesimpulannya tadi, "Jadi siapa sebenarnya Cecilia?"
Hening sesaat.
Angin sore berhembus perlahan menerpa mereka berdua. Rowan terus menatap Garrick untuk memberikan jawaban dari pertanyaan penting itu.
Lalu Garrick menjawab, "Nona Cecilia adalah seorang Putri."
Tebakan Rowan ternyata benar. "Putri?"
"Ya. Putri Kerajaan Donovan dan penerus tahta selanjutnya," jawab Garrick dengan nada dan mata bangga.
Mata Rowan sedikit menyipit. "Donovan. Itu kerajaan kecil di wilayah barat. Dekat Pegunungan Avalon? Wilayah yang lumayan sulit di jangkau karena medannya bersinggungan dengan wilayah monster."
Garrick mengangguk. "Benar, kerajaan yang subur akan perkebunan buahnya namun masih kental dengan tradisi lama. Dan Nona Cecilia adalah Putri kerajaan itu. Nama lengkapnya Cecilia De Landon Donovan."
Rowan terdiam.
Garrick melanjutkan, "Nona memiliki dua adik perempuan. Karena tidak ada putra laki-laki, maka sejak kecil Nona Cecilia dipersiapkan menjadi pewaris tahta. Di Donovan perempuan bisa naik tahta. Itulah sebabnya Nona belajar pedang, strategi perang, politik, diplomasi, memimpin dan lainnya."
Rowan mengangguk pelan, kini semuanya masuk akal. Semua gestur dan cara bicara gadis itu jelas menunjukkan pendidikan seorang calon penguasa.
"Aku sudah menjadi kesatria pribadinya sejak Nona masih kecil. Sejak umurku enam belas tahun. Dan Nona saat itu baru berumur lima tahun," kata Garrick dengan senyum santai.
Rowan mengangkat alis. "Lama juga."
Tatapan Garrick sedikit melembut. Seolah mengenang masa lalu mengingat gadis kecil yang ia ceritakan justru sudah tumbuh sebesar sekarang.
Rowan kembali bertanya, "Kalau begitu apa yang sebenarnya terjadi pada Donovan?"
Wajah Garrick berubah seketika, senyumnya menghilang. Tatapannya menjadi jauh
Seolah kembali ke masa yang tidak ingin ia ingat.
"Kutukan. Kerajaan kami terkena kutukan," jawab Garrick pelan.
Angin sore terasa lebih dingin.
Rowan tidak menyela. Ia membiarkan Garrick melanjutkan ceritanya.
"Semuanya berawal dari penasehat kerajaan. Pria itu muncul lima tahun lalu. Awalnya dia terlihat sangat bijaksana. Pandai berbicara serta mencari solusi. Dan perlahan-lahan ia mendapatkan kepercayaan Raja. Namun sebenarnya dia adalah pemuja Abyss," beber Garrick dengan rahang mengeras.
Tatapan Rowan langsung berubah tajam. Nama itu selalu membawa firasat buruk.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Rowan.
Garrick menghela napas. "Dia mencuci otak Raja. Memberi mimpi tentang kejayaan, kekuasaan, wilayah yang luas, kehidupan abadi, serta kekuatan tanpa batas. Dan Raja mulai mempercayainya."
Rowan mendengus mendengar tujuan klise itu dan yang paling menggelikan adalah hidup abadi. Semua orang selalu bermimpi tidak akan mati tanpa tahu rasanya kalau abadi artinya kesengsaraan tiada akhir.
"Awalnya hanya Raja, lalu para bangsawan, kemudian anggota keluarga kerajaan. Satu per satu mereka semua tergoda." Suara Garrick menjadi semakin berat.
Rowan mengepalkan tangan. Ia pernah melihat hal serupa. Perang besar tiga tahun lalu juga dimulai karena keserakahan manusia.
"Akhirnya mereka melakukan ritual terlarang. Ritual yang seharusnya digunakan untuk kedamaian kerajaan disalah gunakan. Ritual darah. Mereka mengorbankan banyak orang. Banyak sekali. Semuanya demi membuka Gerbang Arwah," ujar Garrick.
Tubuh Rowan menegang.
Gerbang Arwah.
Rowan pernah mendengar legenda itu. Tempat di antara dunia hidup dan mati. Tempat yang seharusnya tidak pernah disentuh manusia.
"Mereka ingin bertemu Abyss. Dan meminta yang diinginkan. Dalam literatur kuno Abyss mengabulkan setiap permintaan, tentu dengan bayaran yang tidak murah," kata Garrick.
"Lalu?" Rowan semakin tertarik
Mata Garrick meredup. "Lalu mereka berhasil. Gerbang itu terbuka. Dan saat itulah bencana dimulai, yang melibatkan Nona Cecilia dikutuk oleh ambang kematian."
Rowan merinding ketika Garrick menatapnya. Seolah memberitahu bahwa ini bukan hanya sekedar kisah biasa, tapi kisah menakutkan yang akan selalu menjadi mimpi buruk sepanjang sejarah.
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/