【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Pagi yang mencekam, suasana di ruang tengah jauh lebih mencekam daripada hari-hari sebelumnya. Bak cuci piring di dapur sudah penuh meluap dengan perabotan kotor yang dihinggapi lalat, karena Bu Aminah mendadak jatuh sakit sakit pinggang setelah pulang bermalam dari gunung dan Rika sibuk mengurus Ali yang sangat rewel. Abah terpaksa berangkat ke kebun sendirian dengan raut wajah yang luar biasa kuyu, membawa bekal seadanya yang disiapkan Tina dengan tergesa-gesa sebelum subuh.
"Fandi! Kamu tidak lihat Mama sedang sakit?! Setidaknya sapu lantai ini atau cuci piring di dapur!" bentak Lisa yang baru keluar dari kamar, sudah tidak tahan lagi melihat Kakaknya yang pagi-pagi sudah duduk santai di lantai sambil menghisap rokok, sementara puntung-puntung rokok sebelumnya dibiarkan berserakan di dekat pintu.
Fandi hanya mendengus kasar, mengembuskan asap rokoknya ke udara tanpa memandang adiknya. "Berisik kamu, anak kecil. Kalau mau bersih, ya bersihkan saja sendiri. Jangan mengatur-atur aku."
"Kamu itu benar-benar tidak punya otak ya, Kak! Uang tabunganku kamu ambil, uang Kak Rika kamu curi, sekarang rumah hancur begini kamu cuma mau berpangku tangan?!" suara Lisa meninggi, sarat akan air mata frustrasi.
"Lisa, sudah..." potong Tina yang baru keluar dari dapur dengan pakaian mengajar yang sudah rapi, meskipun matanya terlihat sembab dan wajahnya pucat karena kurang tidur. Ia memegang pundak Lisa, menatap adiknya dengan pandangan memohon agar keributan tidak semakin membesar dan memperparah sakit ibunya di kamar.
Tina menoleh ke arah Fandi. Ada rasa muak dan mati rasa yang teramat sangat di dalam dadanya. "Fandi, kalau kamu masih punya sedikit saja rasa hormat pada Abah dan Mama, tolong jangan bikin masalah lagi hari ini. Kakak mohon," ucap Tina dengan suara yang begitu lirih, nyaris seperti bisikan putus asa.
Tanpa menunggu jawaban dari Fandi yang hanya membalas dengan tatapan sinis, Tina menarik tangan Lisa. "Ayo berangkat sekolah, Lis. Nanti kamu terlambat ujian."
Sepanjang jalan menuju PAUD, Tina berjalan seperti robot. Tubuhnya bergerak, namun jiwanya terasa kosong. Tekanan finansial karena kehilangan seluruh tabungan, kondisi ibunya yang sakit, dan sikap egois Fandi yang merusak kedamaian rumah benar-benar membuat Tina berada di titik paling rapuh seumur hidupnya. Ia merasa seolah-olah sedang berjalan di atas selembar benang tipis yang siap putus kapan saja.
Sementara itu, di sebuah kedai kopi modern di area perkotaan kabupaten, Andry sedang duduk tenang menghadap laptopnya. Di sebelahnya, Rian, sang asisten pribadi, meletakkan sebuah map plastik hitam berisi lembaran-lembaran kertas putih.
"Ini laporan yang Anda minta, Pak Andry," ucap Rian dengan sikap hormat. "Semua data mengenai keluarga Nur Amelia Tina."
Andry menutup laptopnya, lalu meraih map tersebut. Jemarinya yang bersih membalik halaman demi halaman dengan cermat. Sepasang mata elangnya membaca setiap baris informasi dengan penuh minat. Seringai tipis yang dingin perlahan terukir di wajah tampannya saat matanya tertuju pada bagian latar belakang finansial dan konflik internal keluarga Tina.
"Jadi, kebun cokelat milik ayahnya sudah hampir mati terserang hama, hasil panen padi tahun ini hanya sedikit, dan mereka memiliki anak laki-laki pengangguran yang gemar mencuri uang keluarga?" Andry bergumam, nadanya terdengar seperti seorang predator yang baru saja menemukan titik paling lemah dari buruannya.
"Betul, Pak. Dari informasi agen lapangan kami di desa, kemarin terjadi pertengkaran besar karena anak laki-laki itu mencuri modal usaha kakaknya. Ditambah lagi, ibu mereka sekarang sedang sakit keras dan membutuhkan biaya pengobatan ke kota," tambah Rian.
Andry menyandarkan punggungnya pada kursi jalinan rotan, mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Rencana pertamanya untuk mengikat Tina lewat jalur kontrak kerja formal memang gagal karena kecerdikan gadis itu yang melempar tugas kepada Santi. Namun, situasi domestik Tina saat ini justru membuka pintu bagi **rencana kedua** Andry—sebuah skenario yang jauh lebih halus, bergerak dari balik layar, dan memanfaatkan situasi putus asa Tina tanpa membuat gadis itu merasa sedang ditekan secara langsung.
"Rian," panggil Andry, suaranya terdengar penuh wibawa dan kelicikan yang matang. "Ubah strategi kita. Kita tidak akan mendatangi Tina secara langsung lagi ke sekolah. Itu terlalu kentara dan akan memicu pertahanannya."
"Lalu, apa yang harus kami lakukan, Pak?"
"Pertama, hubungi Santi. Katakan padanya bahwa yayasan akan memajukan jadwal pelatihannya ke kota minggu depan, dan berikan dia uang saku muka yang besar. Buat Santi sibuk dan pamerkan kemewahan itu di depan orang-orang desa. Biarkan Tina melihat sendiri apa yang seharusnya ia dapatkan jika ia bekerja bersamaku," perintah Andry.
"Baik, Pak. Lalu untuk masalah keluarganya?"
Andry tersenyum penuh arti. "Gunakan pihak ketiga. Cari tengkulak atau koperasi simpan pinjam lokal di kecamatan desa mereka yang biasa meminjamkan uang. Berikan dana melalui mereka untuk menawarkan pinjaman tunai dalam jumlah besar kepada Pak Rahman atau Tina dengan jaminan sertifikat rumah panggung mereka. Pastikan prosesnya mudah dan bunganya terlihat rendah di awal."
Andry menjeda kalimatnya, matanya berkilat tajam. "Saat keluarga mereka sudah mengambil pinjaman itu untuk mengobati ibunya dan menutupi modal yang dicuri, kita akan membeli surat utang tersebut dari pihak koperasi. Pada akhirnya, surat kepemilikan rumah panggung mereka akan berada di tanganku. Kita lihat, apakah Tina masih bisa menolakku saat atap tempatnya berteduh berada di bawah kuasaku."
Siang harinya di PAUD, setelah anak-anak pulang, Santi masuk ke ruang kantor dengan wajah yang luar biasa heboh. Ia menunjukkan layar ponselnya kepada Tina dengan tangan yang gemetar karena terlalu senang.
"Tina! Lihat ini! Pihak yayasan Pak Andry baru saja meneleponku!" seru Santi setengah menjerit. "Mereka bilang jadwal pelatihanku dimajukan minggu depan! Dan yang paling gila, mereka sudah mentransfer uang saku muka sebesar tiga juta rupiah ke rekeningku hari ini! Katanya ini untuk persiapan beli baju baru di kota!"
Tina yang sedang menyusun buku cerita anak-anak di rak sempat tertegun. Angka tiga juta rupiah itu bergaung di kepalanya—jumlah yang sama dengan total tabungannya dan uang modal Kak Rika yang dicuri Fandi. Angka yang bisa digunakan untuk membawa ibunya berobat ke rumah sakit besar di kota besok pagi.
"Wah... selamat ya, San. Berkah luar biasa untukmu," ucap Tina, memaksakan senyum terbaiknya meskipun hatinya terasa seperti diiris sembilu. Ada rasa perih yang aneh, seolah takdir sedang sengaja mengejek kemalangannya.
"Iya, Tin! Duh, andai saja kamu ikut ya. Tapi tidak apa-apa, nanti kalau aku pulang dari kota, aku pasti akan belikan oleh-oleh biskuit kaleng yang banyak untuk ibumu yang sedang sakit," ujar Santi tanpa bermaksud menyindir, lalu bergegas keluar untuk memesan ojek pangkalan.
Setelah Santi pergi, Tina terduduk lemas di bangku kantor. Sendirian di dalam ruangan yang sunyi, ia memandangi langit-langit yang mulai retak. Rasa lelahnya kini sudah mencapai batas maksimal. Keadaan rumah yang semakin berantakan, ibunya yang mengerang kesakitan di kamar karena tidak ada biaya untuk berobat ke dokter spesialis, dan kini... bayangan kemewahan yang dibawa oleh pihak Andry seolah-olah terus menari di depan matanya, menawarkan jalan keluar yang instan namun berbayar mahal.
Tina menundukkan kepalanya di atas meja, membiarkan air matanya jatuh membasahi permukaan kayu yang berdebu. Ia merasa terjebak di dalam labirin gelap tanpa jalan keluar, sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, jaring-jaring tak terlihat yang dirancang oleh Andry perlahan-lahan mulai bergerak maju, siap menyergap dan mengunci kebebasannya dalam waktu dekat.