Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.
Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Reza menatap tumpukan daging di atas meja dapur.
Warnanya sudah memucat dan ada bercak kehijauan di bagian ujungnya.
Bau asam langsung tercium saat dia membuka plastik pembungkus daging tersebut.
Dia menggeser nampan itu menjauh dari talenannya.
"Pak Hendra, daging-daging ini sudah tidak bisa dipakai," ucap Reza.
Hendra adalah pemilik restoran tempat Reza bekerja selama dua tahun terakhir.
Pria bertubuh gemuk itu berjalan mendekat dengan wajah kesal.
"Kenapa tidak bisa dipakai?" tanya Hendra dengan nada tinggi.
"Ini sudah busuk dan berlendir," jawab Reza sambil menunjuk daging itu.
"Kamu tinggal cuci daging itu pakai cuka dan beri bumbu yang banyak," balas Hendra.
"Saya tidak mau menyajikan makanan busuk seperti ini kepada pelanggan," kata Reza tegas.
Hendra menggebrak meja dapur dari besi tahan karat itu.
Brak.
"Kamu ini koki atau pemilik restoran?" bentak Hendra.
"Tugasmu hanya memasak apa yang saya beli."
"Tapi ini bakal membahayakan kesehatan orang yang memakannya, Pak," bantah Reza.
"Jangan banyak alasan, daging kualitas bagus itu mahal," ucap Hendra.
"Keuntungan kita bisa tipis kalau saya beli daging segar terus setiap hari."
'Dia benar-benar serakah,' batin Reza.
'Aku tidak bisa membiarkan orang-orang makan-makanan beracun seperti ini.'
"Saya menolak memasak daging ini," kata Reza.
"Silakan cari koki lain jika Bapak tetap memaksa."
Reza melepas celemek putihnya dan meletakkannya di atas meja.
Dia berniat mengambil tasnya di loker dan pulang hari ini juga.
"Oh, kamu mau berhenti?" tanya Hendra sambil tersenyum sinis.
"Baguslah, lagipula aku sudah muak melihat wajahmu itu."
Hendra tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Dia menekan sebuah nomor dan menelepon seseorang.
"Siska, bawa sekuriti ke dapur sekarang," perintah Hendra melalui telepon.
Reza menoleh dengan bingung.
Dia tidak mengerti kenapa bosnya memanggil keamanan.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan wanita bernama Siska masuk ke dapur.
Dua orang petugas keamanan restoran berjalan di belakangnya.
Siska menundukkan kepalanya dan terlihat menangis.
"Siska, coba kamu katakan apa yang Reza lakukan padamu di gudang tadi," ucap Hendra.
Siska mengusap air matanya yang terus menetes.
"Chef Reza menarik saya ke dalam gudang," kata Siska sambil terisak.
"Dia memaksa memeluk saya dan mengancam akan memotong gaji saya kalau saya menolak."
Reza sangat terkejut mendengar ucapan pelayan itu.
Dia melangkah maju mendekati Siska.
"Apa yang kamu bicarakan, Siska?" tanya Reza dengan suara keras.
"Aku bahkan tidak pergi ke gudang sama sekali hari ini."
"Jangan berbohong, Chef," balas Siska.
"Saya punya bukti baju saya robek karena tarikan Anda."
Siska menunjukkan ujung lengan kemeja seragamnya yang memang sobek.
'Dia menjebakku,' pikir Reza.
'Hendra pasti yang menyuruhnya melakukan ini.'
"Ini fitnah, Pak Hendra yang merencanakan semua ini kan?" tuduh Reza.
"Jaga mulutmu, Reza," bentak Hendra.
"Kamu sudah berbuat tidak senonoh pada karyawan wanita di sini."
Hendra menoleh ke arah dua petugas keamanan.
"Bawa dia keluar dari restoran saya sekarang juga," perintah Hendra.
"Dan Reza, gajimu bulan ini saya tahan sebagai kompensasi untuk Siska."
"Kalian tidak bisa melakukan ini," protes Reza.
Kedua petugas keamanan itu langsung memegang lengan Reza.
Mereka menyeret Reza keluar dari area dapur.
Reza berusaha meronta namun tenaga dua orang itu lebih kuat darinya.
"Lepaskan saya, saya bisa jalan sendiri," kata Reza.
Mereka membawa Reza melewati pintu belakang restoran.
Pintu besi itu dibuka dan Reza didorong keluar hingga dia jatuh terduduk di aspal.
Bruk.
Pintu belakang restoran ditutup dengan keras dari dalam.
Reza duduk di jalanan gang belakang restoran yang sepi.
Langit sore ini sangat mendung dan mulai turun gerimis.
Pakaian koki yang dia kenakan menjadi kotor karena tanah dan genangan air.
Dia memeriksa saku celananya dan hanya menemukan dompet berisi uang lima puluh ribu rupiah.
'Aku dipecat, difitnah, dan tidak punya uang,' keluh Reza dalam hati.
'Bagaimana aku bisa membayar uang sewa kamar kos bulan ini?'
Reza berdiri perlahan dan membersihkan celananya yang kotor.
Dia berjalan tanpa tujuan menyusuri pinggiran jalan raya.
Hujan turun semakin deras membasahi tubuhnya.
Dia berteduh di bawah halte bus yang kosong.
Reza duduk di bangku halte sambil menatap jalanan yang basah.
Dia memikirkan karirnya yang hancur karena fitnah pelecehan tersebut.
"Tidak akan ada restoran besar yang mau menerimaku setelah kabar ini menyebar," ucap Reza pelan.
"Hendra pasti akan memastikan namaku jelek di industri ini."
Reza menghela napas panjang.
Dia merasa sangat lelah dan lapar.
Tiba-tiba, sebuah cahaya biru redup muncul tepat di depan wajahnya.
Cahaya itu perlahan berubah menjadi sebuah layar transparan berukuran persegi panjang.
Reza mengucek matanya karena mengira dia sedang berhalusinasi.
Layar itu tetap ada di sana dan menampilkan sederet tulisan putih.
Ting.
Sebuah suara datar dan tanpa emosi terdengar jelas di dalam kepala Reza.
"Pencarian kandidat selesai," ucap suara itu.
"Sistem Restoran Dunia Lain sedang memindai Host."
Reza menengok ke kanan dan ke kiri.
Tidak ada siapa pun di halte itu selain dirinya.
"Siapa yang bicara?" tanya Reza.
"Pemindaian selesai, tingkat kecocokan mencapai seratus persen," jawab suara itu lagi.
"Proses pengikatan Host dimulai."
Layar biru di depannya memunculkan persentase angka yang naik dengan cepat.
Dari angka satu persen hingga mencapai seratus persen dalam waktu lima detik.
"Pengikatan berhasil," ucap suara itu.
"Selamat datang, Host Reza."
"Kamu ini apa?" tanya Reza mundur selangkah.
"Apakah ini teknologi hologram baru?"
"Saya adalah Sistem Restoran Dunia Lain," jawab suara di kepalanya.
"Tujuan saya adalah membantu Host mengelola restoran yang terhubung dengan berbagai dimensi."
Reza diam sejenak mencerna informasi tersebut.
Dia pernah membaca cerita fiksi tentang sistem, namun dia tidak percaya ini akan terjadi padanya.