Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Merayu
Sementara itu, di tempat yang agak jauh dari pusat kota, di dalam rumah mewah milik Emily, suasana sedang dipenuhi dengan amarah dan kemarahan wanita itu. Emily berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah yang merah padam karena marah, sementara Ferdi berdiri di dekat pintu dengan wajah yang tampak lelah dan sedikit gelisah. Sudah tiga hari ini Ferdi sama sekali tidak datang menemuinya, bahkan pesan atau telepon pun sangat jarang ia balas.
"Kami harus mengerti keadaan ku."
“Kamu ke mana saja selama ini, Ferdi?!” bentak Emily dengan suara tinggi, matanya menatap tajam ke arah pria itu.
“Sudah tiga hari kamu tidak menampakkan batang hidungmu, susah sekali dihubungi. Apakah kamu sudah kembali terbuai oleh manisnya Kiara dan kehidupan mewahmu bersamanya? Apakah kamu sudah melupakan janjimu padaku dan anak yang ada di dalam perut ini?”
Ferdi menghela napas panjang, lalu segera melangkah mendekat, mencoba menenangkan kekasihnya itu. Ia meraih kedua bahu Emily, lalu menatap wajah wanita itu dengan pandangan lembut dan membujuk.
“Jangan marah dulu seperti ini, Sayang. Aku bukan lupa, aku sama sekali tidak melupakanmu dan anak kita. Kamu tahu kan, belakangan ini banyak sekali masalah yang harus aku hadapi. Di rumah sakit, di kantor, dan juga harus menghadapi kemarahan ayah mertuaku karena kejadian malam itu. Aku harus bersikap sangat hati-hati, Emily, aku tidak boleh mencurigakan sedikit pun di depan mereka semua. Aku butuh waktu untuk menenangkan keadaan, agar semuanya kembali aman dan lancar,” ucap Ferdi dengan nada suara yang halus, berusaha meredakan amarah Emily.
Namun, wajah Emily masih tampak tidak puas, bibirnya masih cemberut dengan nada kesal.
“Alasan saja kamu, Ferdi. Aku bosan terus disembunyikan seperti ini, aku bosan menunggu tanpa kepastian. Kamu bilang kamu akan menceraikan Kiara, kamu bilang kita akan hidup bersama. Tapi sampai sekarang, apa yang terjadi? Kamu masih tetap menjadi suaminya yang setia di depan orang banyak, sementara aku hanya menjadi wanita simpanan yang kamu datangi kalau ada waktu saja!” keluh Emily dengan suara yang mulai bergetar, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Melihat kekasihnya yang mulai menangis, Ferdi segera memeluk tubuh wanita itu erat-erat, lalu membisikkan sesuatu di telinganya dengan nada penuh semangat dan bahagia, sesuatu yang pasti akan mengubah suasana hati Emily seketika.
“Sayang, dengar aku. Aku datang ke sini hari ini sebenarnya mau memberitahu kabar yang sangat menggembirakan, kabar yang akan menjadi awal dari segala impian kita. Ingat kan apa yang selalu aku katakan padamu? Aku butuh posisi kuat, aku butuh kekuasaan, baru aku bisa bergerak bebas.”
Ferdi melepaskan pelukannya, lalu menatap mata Emily dengan senyum lebar yang penuh kemenangan.
“Minggu depan, tepatnya hari Senin, aku akan resmi dilantik menjadi Direktur Utama di Grup Perusahaan milik keluarga Edward! Aku sudah mendapatkan jabatan tertinggi yang selama ini aku perjuangkan. Begitu aku memegang kendali penuh atas segalanya, posisiku sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, maka rencana kita akan segera terlaksana. Aku akan mengatur semuanya, mengirim mu ke luar negeri untuk melahirkan dengan nyaman dan aman, dan nanti saat keadaan sudah benar-benar matang, aku akan menceraikan Kiara, lalu kita akan menikah dan hidup bahagia selamanya bersama anak kita. Percayalah padaku, Sayang. Segala kesulitan dan penantian ini sebentar lagi akan berakhir, dan kebahagiaan besar sedang menunggu kita di depan sana.”
Mendengar kabar itu, mata Emily yang tadinya penuh amarah dan kesedihan seketika membelalak terkejut, lalu perlahan berubah berbinar-binar penuh kebahagiaan. Rasa marah dan kesal yang tadi membara di dadanya seketika lenyap begitu saja, digantikan oleh rasa gembira yang meluap-luap. Ia melompat kecil kegirangan, lalu kembali memeluk leher Ferdi dengan erat dan penuh kasih sayang.
“Benarkah, Ferdi? Kamu tidak bohong kan? Akhirnya… akhirnya semua usaha kita terbayar lunas! Aku sangat bahagia, Sayang!” seru Emily dengan suara ceria, wajahnya bersinar penuh sukacita. Ia sama sekali tidak lagi ingat rasa marahnya, pikirannya kini hanya dipenuhi bayangan masa depan indah yang akan segera ia dapatkan bersama Ferdi.
"Kamu beneran tidak membohongi ku kan?." Tanya Emely lagi memastikan.
"Apa wajah ku terlihat berbohong?." Kedai mata itu saling bertatapan, tatapan penuh keyakinan membuat Emely percaya pada perkataan laki-laki itu.
Ferdi tersenyum puas melihat perubahan sikap kekasihnya itu. Ia mengusap lembut rambut Emily, merasa sangat bangga dan senang dengan apa yang akan ia capai sebentar lagi. Namun, sama seperti biasanya, kedua orang itu tidak pernah menyadari, bahwa kebahagiaan yang mereka rasakan itu hanyalah momen sesaat sebelum badai besar yang menghancurkan datang menghampiri mereka. Di tempat lain, Kiara dan Baskara sudah bersiap, menyusun segala langkah untuk membuat hari pelantikan itu bukan lagi hari kemenangan bagi Ferdi, melainkan hari kehancuran total bagi segala rencana jahat mereka.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi