NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7. Gerbang istana dan rahasia di balik tulisan

Semakin kami mendekat, semakin megah tampak Istana Kerajaan Cahaya. Dindingnya terbuat dari batu putih berkilau yang memantulkan sinar matahari hingga membuat mata silau jika menatapnya terlalu lama. Menara-menaranya menjulang tinggi, ujungnya seolah menyentuh awan, dan di setiap sudutnya terdapat patung-patung makhluk ajaib yang dulu hanya Leon tulis sebagai hiasan, namun kini tampak hidup, seolah sedang mengawasi siapa saja yang lewat.

Namun ada satu hal yang membuat Leon merasa tidak nyaman. Di bagian paling atas, tepat di puncak menara utama, terlihat kabut tipis berwarna abu-abu gelap yang enggan hilang meski angin bertiup cukup kencang. Bentuknya persis seperti tanda tanya besar yang sering ia tulis di naskah saat sedang bingung menentukan bagian akhir cerita.

“Sungguh menakjubkan…” gumam Zarek sambil menengadah menatap ke atas hingga lehernya terangkat. “Dulu saat aku masih kecil, aku hanya mendengar cerita tentang tempat ini. Konon, di sinilah pusat segala cahaya, pusat aturan, dan pusat segalanya. Ternyata benar-benar seindah ini.”

Liora tersenyum tipis, namun pandangannya tetap waspada. “Benar, ini memang pusatnya. Tapi ingat, Leon… dulu kau menulis bahwa istana ini adalah ‘tempat yang paling sempurna, namun ada satu bagian yang hilang’. Hingga kini, tidak ada yang tahu bagian apa yang hilang itu. Raja dan para penasihat telah mencarinya selama bertahun-tahun, namun tetap tidak menemukannya.”

Leon menepuk dahinya pelan. Astaga… ia memang sangat ceroboh. Menulis bahwa ada bagian yang hilang, namun lupa menjelaskan bagian apa, di mana letaknya, dan mengapa bisa hilang. Akibatnya, mereka sibuk mencari sesuatu yang wujudnya tidak jelas selama bertahun-tahun, semata-mata karena kelalaiannya.

Valgus yang berjalan paling belakang tiba-tiba mendengus keras. Ia menatap gerbang besar istana yang tingginya sepuluh kali lipat ukuran manusia biasa dengan tatapan tajam. “Ada yang tidak beres di sini. Energi di tempat ini… terasa palsu. Semuanya tampak indah dan terang, namun di dalamnya terasa hampa. Persis seperti desa itu dulu, namun kali ini skalanya jauh lebih besar.”

Belum sempat Leon bertanya apa maksudnya, dua penjaga istana yang mengenakan baju zirah berwarna emas dan perak melangkah turun dari menara samping, lalu berhenti tepat di depan gerbang. Mereka membawa tombak besar yang ujungnya bersinar terang. Wajah mereka kaku, gerakannya kaku, dan mata mereka terlihat kosong persis seperti warga desa sebelum Leon memberikan jati diri.

“BERHENTI!” seru mereka serentak, suaranya bergema dan persis sama satu sama lain tanpa ada sedikit pun perbedaan nada. “SIAPA KALIAN? SEBUTKAN IDENTITAS! TUJUAN KEDATANGAN! DAN DOKUMEN IZIN MASUK!”

Zarek melangkah maju selangkah dengan dada membusung. “Aku Zarek! Ksatria Terkuat Kerajaan Cahaya! Ini Tuan Putri Liora! Dan ini teman-teman kami! Kami datang untuk menemui Raja, ada hal penting yang harus dibicarakan!”

Penjaga itu terdiam sejenak, matanya berkedip pelan sekali. “DATA DITEMUKAN. ZAREK: TERDAFTAR. LIORA: TERDAFTAR. TEMAN-TEMAN: TIDAK TERDAFTAR. TERUTAMA… ORANG YANG BERPAKAIAN ANEH ITU… DAN… MAKHLUK BERJUBAH HITAM ITU… TERDETEKSI SEBAGAI BAHAYA! MUNDURLAH ATAU KAMI AKAN MENYERANG!”

Tombak mereka langsung diangkat, ujungnya bersinar semakin terang dan siap menembakkan sinar panas kapan saja.

“WOI! APA URUSAN KALIAN SIH?!” seru Zarek dengan bingung. “Itu Valgus! Dulu memang ia musuh, tapi sekarang ia sudah berubah menjadi baik! Leon juga teman kami! Ia orang yang sangat penting!”

“DATA TIDAK SESUAI DENGAN TULISAN ASLI,” jawab penjaga itu dengan nada datar tanpa mengubah ekspresi wajah. “DI DALAM TULISAN. TERTULIS..VALGUS ADALAH MUSUH UTAMA YANG HARUS DIBUNUH. LEON ADALAH SOSOK ASING YANG TIDAK DIKETAHUI ASAL-USULNYA. MAKA… MEREKA HARUS DITANGKAP ATAU DIMUSNAHKAN!”

Leon menggaruk kepalanya dengan rasa pusing. Nah, masalah baru lagi. Ternyata tulisan lamanya masih menjadi acuan utama sistem di tempat ini. Meskipun keadaan telah berubah, aturan tertulisnya belum diperbarui. Itulah sebabnya mereka menganggap Valgus sebagai musuh dan dirinya sebagai ancaman.

Liora melangkah maju, mengangkat tangannya sedikit sebagai tanda damai. “Dengarkan kami! Tulisan itu bisa diubah! Keadaan sudah berubah! Kami datang ke sini untuk mengubah aturan itu agar semuanya menjadi adil! Tolong berikan kami jalan masuk!”

“ATURAN TIDAK BOLEH DIUBAH KECUALI OLEH PENULIS SENDIRI,” jawab penjaga itu dengan kaku. “DAN PENULIS TIDAK ADA DI SINI. MAKA… MUNDURLAH!”

Valgus mulai kehilangan kesabaran. Ia melangkah maju, dan aura berwarna abu-abu mulai memancar perlahan dari tubuhnya. “Cukup. Inilah alasanku membenci tempat ini. Semuanya kaku, semuanya mengikuti aturan tertulis mati, semuanya hanya sekadar kertas belaka. Kalian hanyalah boneka yang tidak punya pikiran sendiri. Menyingkirlah sebelum aku menghancurkan gerbang jelek ini hingga rata dengan tanah!”

Suasana menjadi semakin tegang. Para penjaga siap menyerang, Valgus siap menangkis, Zarek telah menggenggam gagang pedangnya, Liora bersiap memasang perisai cahaya… dan Leon yang berada di tengah-tengah harus sekali lagi menjadi penengah.

“BERHENTI!” teriaknya dengan lantang, suaranya begitu nyaring hingga membuat mereka semua menoleh ke arahnya.

Leon melangkah maju sendirian menghadap kedua penjaga raksasa itu. Jantungnya berdebar kencang, namun ia harus berani. Ia adalah penulisnya, ia yang membuat aturan, dan ia pula yang berhak mengubahnya.

Leon mengangkat buku catatannya setinggi-tingginya di hadapan mereka.

“Dengarkan baik-baik!” kata Leon dengan tegas dan tanpa keraguan. “AKULAH PENULISNYA! AKU YANG MENULIS SEMUA ATURAN DI TEMPAT INI! DAN SEKARANG AKU MENGUBAHNYA! MULAI DETIK INI, ATURAN LAMA DICABUT! VALGUS ADALAH PENJAGA DUNIA YANG DIHORMATI! LEON ADALAH PEMIMPIN DAN PENGATUR UTAMA! SEMUA ORANG YANG DATANG BERSAMA LIORA DAN ZAREK ADALAH TEMAN DAN TAMU KEHORMATAN! DAN YANG PALING PENTING: ATURAN BOLEH DIUBAH KAPAN SAJA SESUAI PERUBAHAN ZAMAN DAN HATI NURANI!”

Segera setelah kata-kata itu terucap, Leon menuliskannya di halaman baru buku catatannya dengan huruf yang besar, tebal, dan sangat jelas.

Seketika itu juga, cahaya memancar keluar dari buku itu dan menyinari kedua penjaga tersebut. Mata mereka yang tadinya kosong berkedip, lalu dipenuhi cahaya baru. Kekakuan di tubuh mereka perlahan hilang, bahu mereka turun dan terasa rileks, serta raut wajah mereka berubah dari kaku menjadi penuh rasa hormat dan kehidupan.

Keduanya serentak menunduk dalam-dalam, lalu menurunkan tombak mereka dan meletakkannya rapi di sisi tubuh.

“Maafkan kami, Tuan Penulis,” kata salah satu penjaga dengan suara yang kini memiliki nada dan rasa hormat yang tulus. “Kami hanya menjalankan apa yang tertulis. Terima kasih telah mengubah aturan dan memberikan kami sedikit… perasaan. Silakan masuk, semuanya. Istana telah menunggu.”

Gerbang raksasa itu perlahan terbuka dengan suara yang berat namun merdu, menampakkan pemandangan di baliknya.

Benar saja… bagian dalamnya jauh lebih indah daripada bagian luarnya. Halaman yang luas dipenuhi bunga berwarna-warni yang bentuknya menyerupai huruf dan simbol, air mancur yang memancarkan cahaya pelangi, serta bangunan-bangunan megah yang tersusun rapi. Namun persis seperti yang dikatakan Valgus tadi… meski tampak sangat indah, terasa hampa. Tidak ada suara orang mengobrol, tidak ada tawa, tidak ada aktivitas apa pun. Semuanya hening, rapi, dan sunyi senyap.

“Terasa sangat sepi ya…” bisik Zarek sambil menoleh ke kanan dan kiri. “Padahal konon istana ini adalah tempat yang paling ramai dan penuh kebahagiaan.”

Liora mengangguk pelan, wajahnya tampak sedih. “Dulu memang ramai. Namun sejak Raja bersedih karena mencari ‘bagian yang hilang’ itu, perlahan-lahan semangat seluruh penghuni istana ikut memudar. Istana ini berubah menjadi tempat yang sunyi, hanya berjalan mengikuti aturan tanpa ada kebahagiaan yang sesungguhnya.”

Kami berjalan menyusuri lorong-lorong istana yang panjang dan lebar. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan sejarah dunia ini, mulai dari awal penciptaan, pembentukan kerajaan, hingga pertempuran-pertempuran besar. Leon melihat lukisan Valgus yang dahulu digambarkan sebagai sosok yang mengerikan dan jahat, namun kini sosok aslinya berjalan di sampingnya dengan tenang dan gagah.

Akhirnya kami tiba di depan Balai Besar, ruangan paling utama tempat Raja Kerajaan Cahaya bertahta. Pintu emas terbuka lebar, dan di sana, di atas singgasana yang terbuat dari kristal bercahaya, duduk seorang pria tua yang tampak sangat berwibawa. Janggut dan rambutnya berwarna putih bersih, mengenakan jubah berwarna putih keemasan, serta memakai mahkota besar di kepalanya. Dialah Raja Eldrin, ayah Liora, penguasa tertinggi dunia ini.

Namun wajahnya tampak sangat lelah, matanya sayu, dan ia hanya diam menatap ke depan tanpa ekspresi. Di sekelilingnya terdapat para penasihat dan pembesar kerajaan, semuanya terlihat sama: diam, sopan, namun hampa.

Begitu kami masuk, Raja Eldrin perlahan mengangkat kepalanya. Matanya melebar saat melihat putrinya, lalu menatap satu per satu kami. Pandangannya berhenti tepat di wajah Leon, lalu beralih ke Valgus.

“Liora… anakku…” suaranya terdengar lemah namun hangat. “Kau pulang… dan kau membawa tamu yang… sangat istimewa.”

Liora berlutut sebentar sebagai tanda hormat, lalu segera berdiri kembali. “Ayah! Aku pulang! Dan aku membawa kabar baik! Ini Leon… Penulis yang selama ini kami tunggu. Dan ini Valgus… ia bukan lagi musuh, melainkan kini menjadi penjaga kami.”

Para penasihat menjadi gempar dan saling berpandangan dengan wajah terkejut. Beberapa di antaranya hendak memprotes, namun saat melihat tatapan tajam Valgus, mereka langsung terdiam.

Raja Eldrin tersenyum tipis, senyum yang penuh kelelahan. Ia berdiri perlahan, lalu turun dari singgasana dan menghampiri Leon.

“Jadi kaulah orangnya…” katanya pelan sambil menatap Leon lekat-lekat. “Kaulah yang menciptakan dunia ini. Kaulah yang membuat kami ada, kaulah yang membuat kami menderita, dan kaulah yang kini datang untuk memperbaiki semuanya. Aku telah lama menunggumu, Leon. Ada satu hal yang hanya kaulah yang bisa menjawabnya.”

Ia menunduk sedih, memandangi lantai istana yang berkilau.

“Selama ini kami mencari ‘bagian yang hilang’ dari istana ini, dari kerajaan ini, dari dunia ini. Kami tahu ada sesuatu yang kurang, kami tahu ada yang tidak beres, namun kami tidak tahu apa itu. Segala keindahan ini, segala kekuatan ini, segala cahaya ini… terasa hampa. Rasanya seperti makan nasi tanpa garam, atau mendengarkan lagu tanpa nada. Katakanlah padaku, Leon… apa yang hilang? Apa yang kurang dari dunia ciptaanmu ini?”

Semua mata yang ada di ruangan itu tertuju kepadaku. Liora menatapku penuh harap, Zarek menatap dengan rasa penasaran, dan Valgus menunggu jawabanku.

Leon berdiri diam, berpikir secepat mungkin. Apa yang hilang? Ia telah menuliskan segalanya, memberikan tempat tinggal, menciptakan makhluk hidup, membuat aturan, dan memberikan kekuatan… namun memang benar terasa ada sesuatu yang kurang. Semuanya rapi, semuanya indah, semuanya teratur… namun terasa hampa.

Tiba-tiba Leon tersadar. Ia kini mengerti. Inilah kesalahan terbesarnya, kekurangan terbesar dalam seluruh cerita ini.

Ia melangkah maju, menatap Raja Eldrin dengan penuh keyakinan.

“Yang hilang… adalah KEBEBASAN,” jawab Leon dengan lantang dan jelas.

Suasana menjadi hening sejenak. Raja dan semua orang tampak bingung mendengar jawaban itu.

“Kebebasan?” tanya Raja dengan nada pelan.

“Benar,” jawab Leon lagi, kali ini dengan lebih mantap. “Aku menuliskan semuanya dalam bentuk aturan, skenario, dan perintah. Kalian hidup sesuai apa yang aku tulis, sesuai apa yang aku rencanakan. Kalian indah, kalian kuat, kalian baik… namun kalian tidak memiliki kebebasan untuk memilih, untuk berbuat salah, untuk belajar, dan untuk berubah dengan keinginan sendiri. Aku memberikan kalian segalanya, namun lupa memberikan hak untuk menjadi diri sendiri. Itulah yang membuat semuanya terasa hampa. Itulah bagian yang hilang.”

Leon membuka buku catatannya, tepat di halaman paling belakang. halaman yang paling penting.

“Dan sekarang, aku memberikannya kepada kalian. Mulai detik ini juga, aturan utama berubah. Dunia ini memiliki aturan, namun penghuninya bebas menentukan jalan hidup masing-masing. Kalian bisa menjadi apa saja, pergi ke mana saja, dan menciptakan cerita kalian sendiri. Aku hanyalah penulis kerangkanya, namun kaulah yang menjadi penulis utama dalam hidupmu sendiri.”

Leon menuliskan kalimat itu dengan huruf berwarna emas yang bersinar sangat terang hingga memenuhi seluruh ruangan, menyebar keluar melewati jendela, menembus langit, dan menyinari seluruh penjuru dunia.

Seketika itu juga, suasana berubah secara drastis. Kekakuan yang ada hilang begitu saja, mata semua orang kembali berbinar penuh kehidupan, suara tawa mulai terdengar dari luar, serta obrolan dan sorak-sorai bergema di seluruh penjuru istana. Kabut abu-abu di puncak menara lenyap total, digantikan oleh awan putih bersih dan sinar matahari yang terasa paling terang dan hangat yang pernah ada.

Raja Eldrin berdiri tegak, wajahnya tampak lebih muda dan bersemangat kembali. Air mata kebahagiaan menetes di pipinya. Ia menunduk memberi hormat kepada Leon.

“Terima kasih, Penulis… terima kasih banyak. Akhirnya kami merasa lengkap. Akhirnya kami benar-benar hidup.”

Liora berlari mendekat, tersenyum paling indah yang pernah dilihat Leon, matanya berbinar cerah. Ia menggenggam tangan Leon dengan erat. “Leon! Kau berhasil! Dunia ini kini sempurna! Rasanya sangat bahagia!”

Zarek berteriak dengan lantang sambil melompat kegirangan. “ASYIK! AKHIRNYA MENJADI MENARIK LAGI! AKU INGIN MENJELAJAHI DUNIA SENDIRI, MENCARI PETUALANGAN SENDIRI! AKU INGIN MENJADI KSATRIA YANG MENULIS CERITANYA SENDIRI!”

Valgus tersenyum lebar, senyum yang paling tulus. Ia menepuk pundak Leon dengan cukup keras hingga membuatnya sedikit terhuyung. “Pekerjaan yang bagus, Penulis Ceroboh. Kini dunia ini bukan lagi sekadar tulisanmu. Ini adalah dunia kita bersama. Dan aku berjanji, akan menjaga tempat ini hingga napas terakhirku.”

Leon menatap mereka semua, menatap kebahagiaan di wajah mereka, menatap dunia yang kini terlihat indah, lengkap, dan penuh kehidupan. Rasanya sangat lega, sangat bangga, seolah beban seberat gunung telah terangkat seluruhnya dari pundaknya.

Leon sadar, petualangannya di tempat ini hampir sampai pada akhirnya. Tugasnya telah selesai. Ia telah memperbaiki segala kekacauan, memberikan mereka kebahagiaan dan kebebasan.

Namun ia juga sadar, ia tidak akan pernah benar-benar meninggalkan dunia ini. Karena di sini, ia menemukan arti menjadi seorang penulis yang sesungguhnya. Bukan hanya sekadar menciptakan cerita yang seru, melainkan menciptakan cerita yang memiliki hati, makna, dan kehidupan.

Leon menatap Liora yang masih menggenggam tangannya erat. Ia membalas tatapan itu, dan pandangan mereka saling mengerti.

“Terima kasih, Leon…” bisik Liora pelan. “Sudah datang, sudah memperbaiki semuanya, dan sudah menjadi bagian dari cerita kami.”

Leon tersenyum, menatap semua teman barunya yang kini telah menjadi keluarga baginya.

“Sama-sama,” jawab Leon dengan tulus. “Dan ingatlah… meski aku tidak berada di sini lagi… ceritanya akan terus berjalan. Dan ini akan menjadi cerita paling indah yang pernah ada.”

Di langit, tulisan besar muncul dengan sendirinya dari susunan awan, tertulis jelas dan abadi:

DUNIA CERITA SEMBARANGAN: SEKARANG DAN SELAMANYA, CERITA KITA SEMUA.

 

TAMAT

Atau… apakah ini baru saja dimulai? 😉

1
Sarah
Wah... rupanya dia masih memiliki seseorang di dunia asal. Ini pasti jadi akhir arc 1 nih. 😮
Sarah
Aku rasa... aku sepemikiran tentang, “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁
Sarah
Aku sering penasaran, apa dia gak punya siapa-siapa dan hidupnya hampa atau tersiksa banget yah di dunia modern sampai bisa gampang banget bilang iya untuk tinggal di sana tanpa pikir panjang.
Sarah
Udah mulai gak inget dunia modern kah?
Rafi Hafizh
bagus ceritanya 👍
Ananda Anggit
🤭🤭
Ananda Anggit
siap ka, terimakasih saran nya 😁🙏
Sarah
Ya kalau dateng... kalau gak ada yang dateng? Basi dong. /Sweat/
Sarah
Aku juga sudah menduganya. 😂
Sarah
Aduhhh, Leon dipuji mulu tiap bab sama heroine nya ini. 😁
Sarah
Ceritanya lucu banget. 😁
Sarah
Kalau nama awalannya harus huruf kapital yah, “Leon”
Sarah
Ketika catatan penulis yang biasa ada di dalam kurung di tengah-tengah cerita jalan... beneran masuk ke cerita. 😂
Sarah
Bagus, cuma... ini pov orang ketiga (narator) sama pov orang pertama (Leon alias MC) yang konsisten yah. Kalau mau ganti pov tandain dulu. Biar gak bikin bingung. Atau tandain kata kayak “Pikirnya”, “Batinnya”, “Ucapnya dalam hati” untuk nunjukkin apa yang ada di otak Leon.
Ananda Anggit: iya sekali lagi makasih ya kak 😁
total 3 replies
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author 😍
Ananda Anggit
🥳🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!