NovelToon NovelToon
The Employer

The Employer

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.

Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.

Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.

Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter dua puluh delapan

Aku dan Jeffran akhirnya bersenang-senang saat makan malam. Kami tidak membahas tentang Selina lagi, dan percakapan mengalir dengan mudah, terutama setelah kami menghabiskan botol anggur kedua kami. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melewati malam yang seindah ini. Aku merasa sedih ketika malam ini akan segera berakhir.

"Terima kasih banyak untuk malam ini." Kataku padanya saat dia membayar tagihan makan malam. Aku bahkan takut untuk melihat nominalnya. Anggurnya saja pasti sudah menghabiskan biaya yang sangat besar.

"Tidak, aku yang berterima kasih." Jawabnya. Wajahnya tampak hampir berseri-seri.

"Aku sangat bersenang-senang malam ini. Aku tidak pernah sebahagia sejak....."

Dia berdeham. "Pokoknya, ini sangat menyenangkan. Sesuatu yang sangat aku butuhkan disaat Selina..."

Jeffran tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya menatapku di seberang meja. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat perutku terasa mulas, tetapi dengan cara yang menyenangkan. Seolah-olah ada sekumpulan kupu-kupu yang sedang mengepakkan sayapnya di dalam sana.

Dia berdiri setelah merasa makan malam dan pembicaraan hangat ini selesai, tubuhnya bergoyang miring. Kami minum banyak wine malam ini. Itu bukan ide terbaik dalam keadaan apapun, tapi aku baru ingat dia harus menyetir, kami harus kembali ke rumah.

Jeffran pasti menyadari apa yang aku pikirkan. Dia berpegangan pada meja untuk menstabilkan dirinya. "Aku sebaiknya tidak menyetir." Akunya.

"Ya." Kataku. "Sepertinya tidak."

Dia mengusap wajahnya. "Kita masih memiliki reservasi di Horizon Palace. Menurutmu bagaimana?"

Yah, siapa pun tahu ini adalah kesalahan besar. Kami berdua mabuk, istrinya sedang keluar kota, dan tampaknya dia sudah cukup lama tidak bercinta. Dan aku sudah lebih lama lagi tidak bercinta. Aku seharusnya bilang tidak. Ini tidak akan berakhir baik.

"Aku rasa itu bukan ide yang bagus." Gumamku.

Jeffran meletakkan tangan di dadanya. "Aku akan menjadi pria yang sempurna. Aku bersumpah. Itu suite. Ada dua tempat tidur."

"Aku tahu, tapi..."

Alisnya naik, "Kau tidak percaya padaku?"

Aku tidak percaya pada diriku sendiri. Itu masalah yang lebih besar.

"Yah, aku juga tidak bisa menyetir untuk kita kembali ke rumah malam ini." Jawabku.

Dia menunduk melihat jam tangannya. "Begini saja. Aku akan pesankan kita dua kamar terpisah di Horizon Palace."

"Anda yakin? itu akan mahal sekali!"

Dia melambaikan tangan. "Tidak, aku akan dapat harga khusus karena aku sering menjamu klien di sana. Santai saja."

Jeffran jelas terlalu mabuk untuk menyetir, dan aku mungkin juga terlalu mabuk, meskipun aku tidak takut untuk duduk di belakang kemudi mobil mewahnya. Aku pikir kita bisa naik taksi dan langsung kembali ke rumah, tapi dia tidak menyarankan ide itu.

"Baiklah, asalkan kita punya kamar terpisah."

Dia memanggil taksi untuk mengantar kami ke hotel Horizon Palace. Saat kami meluncur ke jok belakang taksi biru itu, gaun putihku kembali naik ke atas pahaku. Ada apa dengan gaun bodoh ini? Aku berusaha keras untuk menjadi baik, tapi gaun ini tidak mengizinkanku. Aku meraih ujung gaunnya untuk menariknya turun lagi, tapi sebelum aku sempat, aku melihat Jeffran melirik lagi. Dan kali ini saat aku menangkapnya, dia menyeringai padaku.

"Apa?" Katanya. Duh, dia pasti benar-benar mabuk.

"Kau melihat kakiku!"

"Jadi?" Seringainya melebar. "Kakimu bagus. Dan melihat tidak ada salahnya."

Aku memukul lengannya dan dia memegangi bahunya, pura-pura kesakitan. "Kita akan tidur di kamar terpisah. Jangan lupa itu."

Tapi mata gelapnya bertemu dengan mataku begitu lekat. Dan untuk sesaat, aku sulit bernapas. Jeffran ingin setia pada Selina. Aku yakin itu. Tapi dia berada jauh dari istrinya, dia mabuk, dan mereka berdua sedang bermasalah—mungkin sudah lama. Sejauh yang aku lihat, Selina bersikap buruk padanya selama aku bekerja di sana. Dia pantas mendapatkan yang jauh lebih baik.

"Apa yang kau lihat?" Katanya dengan suara rendah.

Aku menelan ludah. "Tidak ada."

Jeffran tidak segera berbalik, melihat ke arah jendela. Dia terus menatapku. Perlahan, dia meraih tanganku yang berada di atas pangkuan, menautkan jari-jarinya yang panjang dan hangat di antara jari-jariku.

"Kau terlihat cantik malam ini, Laily." Ucapnya pelan. "Aku tidak yakin apakah aku sudah memberitahumu itu. Tapi kau harus tahu."

Jantungku mulai berdegup kencang di dalam dada. Mataku melebar dalam kegelapan taksi yang bergerak membelah malam.

"Jeffran..."

"Aku hanya..." Jakunnya naik turun. "Akhir-akhir ini, aku merasa sangat..."

Sebelum dia bisa mengucapkan sepatah kata pun, taksi itu menyentak ke kanan. Aku tidak memakai sabuk pengaman dan tubuhku terbanting ke arahnya. Dia menangkapku sebelum kepalaku membentur kaca. Tubuhnya menekanku, napasnya di leherku.

"Laily."Bisiknya, suaranya terdengar serak dan penuh kerinduan. "Aku tidak ingin malam ini berakhir."

Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokanku. Pikiran rasional di dalam kepalaku berteriak bahwa ini salah. Dia adalah majikanku. Dia adalah suami dari wanita yang menggajiku. Namun, saat aku menatap mata hitamnya yang dalam, semua dinding pertahanan yang kubangun selama berminggu-minggu runtuh begitu saja. Aku sudah terlalu lama merasa kesepian, merasa tidak diinginkan, dan merasa seperti sampah. Dan malam ini, pria ini membuatku merasa hidup kembali.

"Aku juga tidak." Jawabku pelan.

Jeffran tersenyum kecil. Dia mendekatkan wajahnya, memangkas jarak yang tersisa di antara kami. Ketika bibirnya akhirnya menyentuh bibirku, rasanya seolah seluruh dunia di sekitar kami mendadak lenyap. Ciuman itu awalnya terasa lembut dan ragu-ragu, seakan dia sedang meminta izin, tetapi dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang mendalam dan penuh gairah yang sudah lama dipendam.

Aku membalas ciumannya, melingkarkan tanganku ke lehernya, menarik tubuhnya agar semakin merapat. Persetan dengan Selina. Persetan dengan segalanya. Untuk malam ini saja, aku hanya ingin menjadi Laily yang dicintai, bukan Laily sang pelayan.

.

.

.

.

.

.

To be continue.....

Like gaes🥰

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!