Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Punya Pacar Belum?
Hari yang dibenci Hazel pun tiba. Pagi ini, Bandara diselimuti kabut tipis. Hazel berdiri di antara rombongan para dokter dan perawat dari berbagai rumah sakit yang terpilih dalam program pengabdian kali ini.
Di saat tenaga medis lain tampak bersemangat dan saling bertukar cerita, Hazel hanya berdiri membisu di sudut ruangan dengan koper disampingnya dan tatapannya yang kosong.
Tak lama kemudian, sebuah pesawat militer sudah terparkir gagah di landasan pacu, deru mesinnya yang memekakkan telinga seolah mempertegas bahwa Hazel benar-benar akan meninggalkan kehidupan nyamannya.
"Semuanya harap segera naik ke pesawat, kita akan lepas landas lima belas menit lagi!" seru seorang bintara dengan suara bariton yang menggelegar.
Hazel menarik napas panjang, merapatkan jaketnya dan melangkah masuk ke dalam pesawat yang dingin dan bising. Perjalanan udara tersebut memakan waktu berjam-jam, hingga akhirnya mereka mendarat di sebuah lapangan udara domestik kecil di ujung utara pulau.
Namun, siksaan fisik belum berakhir di sana. Untuk mencapai tempat pos komando dan pusat pelayanan kesehatan berada, mereka harus menempuh jalur darat menggunakan mobil gardan ganda membelah jalanan tanah yang bergelombang, berlumpur dan diapit oleh jurang serta hutan belantara.
Guncangan hebat di dalam mobil membuat perut Hazel mual, kepalanya terasa pusing akibat bau minyak solar yang menyengat bercampur udara lembap khas hutan hujan tropis.
'Kenapa aku harus ada di sini?' batin Hazel berulang kali dan menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan rekan sejawatnya.
Sore harinya, akhirnya Hazel dan yang lainnya tiba di kompleks pos komando, Hazel turun dari mobil dengan tubuh yang terasa remuk redam. Begitu kakinya memijak tanah, ia langsung disuguhi pemandangan barak-barak semi permanen dari kayu dan seng, dikelilingi oleh pagar kawat berduri. Tanah di sekitarnya becek akibat hujan dan fasilitas di sana benar-benar seadanya, penerangan hanya mengandalkan generator listrik yang menderu bising di sudut pos.
"Selamat datang tenaga medis sekalian," sapa seorang tentara kesehatan yang menyambut mereka dengan ramah.
"Silakan menuju barak masing-masing untuk menaruh barang dan beristirahat karena angin malam di sini cukup ekstrem, jadi pastikan semuanya menjaga kesehatan," lanjutnya.
Hazel menyeret kopernya ke dalam barak khusus wanita yang hanya berisi deretan ranjang lipat militer dan sebuah kelambu antinyamuk di atasnya. Di mana, di bilik kamar tersebut hanya bisa di tempati 4 atau lima orang.
Kamar mandi pun berada di luar, berupa bilik seng dengan air yang bersumber langsung dari mata air pegunungan, yang dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Malam pertama Hazel di tempat barunya dihabiskan dengan berguling gelisah di atas ranjang lipat yang keras, suara jangkrik dan binatang malam bersahut-sahutan dari balik dinding hutan, menciptakan simfoni alam yang justru terdengar mengerikan di telinganya membuat rasa tidak nyaman dan takut menjadi satu.
.
Sinar matahari pagi menyeruak malas di balik kabut tebal yang basah, Hazel terbangun dengan leher kaku dan seluruh punggung yang terasa pegal akibat alas ranjang lipat yang keras. Ketika ia mencoba duduk, aroma kayu basah, tanah becek dan asap dari dapur umum langsung menyergap indra penciumannya, kombinasi aroma yang sangat asing bagi seorang wanita yang terbiasa terbangun dengan wewangian lilin aromaterapi di kamar.
Hazel melangkah keluar barak dengan langkah gontai, ia mengenakan kaus katun polos dan celana kargo tebal yang terasa kaku. Kulitnya yang putih bersih dan biasanya terawat kini tampak agak pucat padahal ia baru sampai, lalu ia mengantre di bilik mandi seng di ujung area pos. Air yang keluar dari pipa bambu langsung dari mata air pegunungan terasa bagai es yang menusuk pori-pori kulitnya, membuat Hazel menggigil seketika.
"Selamat pagi, Dokter Hazel! Dingin banget ya airnya?" sapa Dokter Tyas yang tiba-tiba muncul di sampingnya dengan membawa gayung plastik. Nada suaranya terdengar ramah, namun matanya menatap Hazel dari ujung rambut hingga kaki dengan binar menyelidik.
"Iya, Dok. Dingin," jawab Hazel singkat dan berusaha menyunggingkan senyum formalnya yang mulai pudar karena lelah.
"Yah, namanya juga di hutan, Dok. Beruntung kita masih dapat jatah air bersih. Kemarin saya dengar dari tim sebelah, tahun lalu pengabdian di daerah barat malah harus nyaring air sungai dulu kalau mau dipakai. Tapi, buat Dokter Hazel yang biasa dilayani, pasti susah ya hidup kayak gini," ucap Dokter Tyas sembari mengibaskan rambut pendeknya, Hazel hanya tersenyum tipis dan tidak berniat membalas sindiran itu.
Dokter Tyas mengedikkan bahu melihat respons Hazel yang irit bicara, sifat diam Hazel justru dianggap oleh tenaga medis lain sebagai sikap angkuh karena ia anak pemilik rumah sakit. Namun, sebenarnya Hazel terlalu lelah untuk sekadar peduli pada asumsi orang lain.
Setelah itu, Hazel berganti pakaian dengan seragam lapangan medis, kaus berlogo kementerian kesehatan yang dipadukan dengan celana panjang. Hari ini, mereka akan berkunjung dan berkeliling ke desa di sekitar pos komando untuk mengetahui jalan yang harus mereka lalui setiap harinya nanti untuk bertemu dengan warga desa.
Rombongan pertama, terdiri dari lima dokter dan empat perawat, mereka mulai berjalan kaki membelah jalanan setapak desa. Kabut mulai terangkat, menyisakan pemandangan perbukitan hijau yang sangat indah. Jika Hazel memegang kuasnya hari ini, ia pasti akan mengombinasikan warna hijau zamrud dengan sapuan putih abu-abu untuk melukis gradasi kabut yang menyentuh pucuk-pucuk pohon pinus.
Namun, lamunan Hazel buyar ketika langkah kakinya harus berulang kali tergelincir di atas tanah yang becek. Beberap kali ia harus berpegangan pada dahan pohon agar tidak jatuh tersungkur, kulit tangannya yang halus seketika terasa perih akibat tergesek kulit kayu yang kasar.
"Duh, jembatannya goyang gini, Pak Sersan!" keluh Suster Kinan saat menyeberangi jembatan gantung kayu di atas sungai yang arusnya cukup deras.
Sersan Baim yang menemani mereka pun tertawa renyah, "Tenang, Suster. Ini masih kokoh, tapi kalau mau yang lebih aman, biasanya harus nunggu dikawal sama anggota kompi. Apalagi kalau Kapten Gavin yang memimpin patroli, jembatan bergoyang pun rasanya aman-aman saja," guraunya.
Mendengar nama itu disebut, telinga Dokter Tyas langsung tegak. "Pak Sersan! Benar ya, Komandan Kompi di pos ini namanya Kapten Gavin?" tanya Dokter Tyas yang tiba-tiba antusias, bahkan matanya berbinar riang.
"Benar, Dok. Pasti Dokter sudah dengar rumor tentang Kapten Gavin ya?" tanya Sersan Baim.
"Katanya ganteng banget ya, Pak Sersan?" tanya Dokter Tyas.
"Ganteng banget, Dok," jawab Sersan Baim.
"Sudah punya pacar belum?" tanya Suster Rara.
"Saya juga kurang tahu, sepertinya sudah," jawab Sersan Baim.
"Sayang banget deh," ucap Dokter Tyas.
"Tapi, saya kok belum lihat Kapten Gavin ya?" tanya Suster Kinan.
"Kapten Gavin sedang ada urusan, mungkin dua hari lagi baru kembali ke pos," jawab Sersan Baim.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak