Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
***
Matahari baru saja tergelincir ke ufuk barat saat deru mesin mobil mewah Raditya memasuki pelataran mansion. Di dalam ruang makan, Nadia baru saja menyelesaikan suapan terakhir dari sup ayamnya. Meskipun perutnya sudah kenyang, rasa kesal dan pegal di sekujur tubuhnya belum juga hilang, apa lagi di tambah drama mertua dan ipar yang tidak tahu diri itu datang.
Cklek.
Raditya melangkah masuk. Jasnya masih rapi, namun wajahnya tampak sedikit lebih tegang dari biasanya. Matanya langsung tertuju pada Nadia yang duduk bersandar lemas dengan wajah yang ditekuk sedalam mungkin.
"Bagaimana keadaanmu?" suara berat itu memecah keheningan. Raditya mendekat, berdiri di samping kursi Nadia.
Nadia hanya meliriknya tajam, lalu memalingkan wajah. "Menurut Mas gimana? Setelah Mas bikin saya kayak pinguin seharian? Puas?"
Raditya terdiam. Ada kilatan rasa bersalah yang melintas di matanya, meski wajahnya tetap sedingin es. "Saya... saya sudah meminta Bi Sum untuk memastikan kamu istirahat total. Saya tidak menyangka efeknya akan..."
"Akan bikin saya nggak bisa jalan tegak?!" potong Nadia ketus. "Mas itu egois. Mas cuma mikirin kepuasan Mas sendiri, nggak mikirin kalau di dalam sini ada bayi yang juga capek gara-gara bapaknya nggak punya rem!"
Raditya menghela napas panjang. Ia meletakkan tas kerjanya di meja. "Saya minta maaf. Katakan apa yang bisa saya lakukan agar kamu tidak marah lagi."
Nadia seketika menoleh. Sebuah ide cemerlang sekaligus licik melintas di benaknya. Jiwa Aurelia yang barbar mulai menyusun rencana balas dendam yang sangat manis.
"Benarkah? Apa saja?" tanya Nadia dengan mata yang menyipit.
"Apa saja," jawab Raditya mantap, tanpa tahu lubang buaya yang sedang ia masuki.
"Saya mau makan Sate Padang dan Martabak Telur. Sekarang," ucap Nadia lugas.
Raditya mengerutkan kening. "Saya akan minta koki pribadi menyiapkannya. Bahan-bahannya akan jauh lebih higienis—"
"Nggak mau!" Nadia langsung memotong dengan suara melengking. "Saya mau yang di pasar malam dekat jalan raya itu. Yang gerobaknya biru, yang asapnya ngepul sampai ke langit, dan yang antrinya kayak nunggu jatah sembako. Kalau Mas nggak mau, ya sudah. Biar anak ini tahu kalau Papanya cuma sayang kalau lagi di ranjang aja, tapi nggak mau usaha buat ngidam ibunya!"
Raditya membeku. Wajahnya berubah pucat mendengar lokasi yang disebutkan. Pasar malam? Berisik, kotor, penuh sesak, dan aroma keringat manusia? Itu adalah mimpi buruk bagi seorang Raditya Hadiwinata.
"Nadia, itu tempat yang sangat tidak kondusif. Banyak polusi, dan keamanannya—"
Nadia tidak membalas. Ia hanya menunduk, mengelus perutnya dengan raut wajah paling menyedihkan yang bisa ia buat. Bibirnya gemetar, dan matanya mulai berkaca-kaca. "Sabar ya Nak... Papa kamu emang sibuk. Dia lebih suka di kantor ber-AC daripada nemenin kita cari makan yang kita pengen. Mungkin kita emang nggak sepenting itu..."
Raditya memijat pangkal hidungnya. Hatinya seperti diremas melihat air mata yang hampir jatuh itu. Ego tingginya runtuh seketika oleh hormon bumil yang mematikan.
"Baik," ucap Raditya pendek, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja menerima hukuman mati. "Ayo berangkat. Tapi kita pakai mobil yang paling tertutup."
Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di pinggir jalan raya yang padat. Begitu pintu terbuka, suara bising klakson dan aroma menyengat dari berbagai gorengan langsung menyambut mereka.
Raditya turun, masih dengan setelan jas seharga satu rumah mewah. Penampilannya benar-benar salah kostum. Ia tampak seperti berlian yang jatuh di tumpukan pasir. Sementara itu, Nadia turun dengan bantuan Raditya, berjalan pelan dengan gaya pinguinnya yang khas, namun wajahnya berseri-seri kegirangan.
"Mas, lihat! Itu gerobaknya! Antrinya panjang banget, seru kan?" seru Nadia sambil menunjuk kerumunan orang yang sedang mengantre Sate Padang.
Raditya menatap kerumunan itu dengan ngeri. "Kamu tunggu di mobil saja. Biar saya yang antre."
"Nggak mau! Saya mau lihat Mas antre!" Nadia bersikeras, ia menggandeng lengan Raditya dengan kuat.
Terpaksalah, sang CEO paling disegani di negeri ini berdiri di barisan antrean. Di sekelilingnya adalah orang-orang dengan kaos oblong dan sandal jepit yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Mas, kipasin dong! Gerah nih," pinta Nadia sambil menyerahkan kipas tangan plastik murahan yang ia beli di depan gerbang tadi.
Raditya melirik kipas itu, lalu melirik Nadia. Dengan wajah kaku dan bibir yang terkatup rapat, ia mulai mengipasi Nadia di tengah kepulan asap sate yang mulai menempel di jas mahalnya.
"Kurang kenceng, Mas. Bayinya kepanasan," goda Nadia, menahan tawa sampai perutnya sakit.
Raditya menambah kecepatan kipasnya tanpa berkata-kata. Ia juga harus berdiri pasang badan, merangkul bahu Nadia agar istrinya tidak tersenggol oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Tangannya yang besar melindungi perut buncit Nadia dengan sangat protektif, meskipun wajahnya tetap terlihat seperti ingin membunuh seseorang.
"Lama ya, Mas?" tanya Nadia manja, sambil menyandarkan kepalanya di lengan Raditya.
"Sangat lama," jawab Raditya dingin. "Sudah sepuluh menit dan kita baru maju dua langkah. Ini sangat tidak efisien."
"Namanya juga perjuangan, Mas. Kayak semalam, Mas juga nggak kenal waktu kan?" bisik Nadia nakal.
Telinga Raditya mendadak memerah. Ia berdeham keras. "Jangan bahas itu di sini, Nadia. Banyak orang."
"Ciee... Mas Kulkas malu ya?" Nadia tertawa renyah, merasa menang telak. Melihat pria tangguh ini berdiri pasrah sambil mengipasi dirinya di pinggir jalan adalah pemandangan paling membahagiakan bagi Aurelia.
Setelah perjuangan selama tiga puluh menit, akhirnya sepiring Sate Padang mendarat di meja kayu kecil yang sedikit berminyak. Nadia makan dengan sangat lahap, sesekali menyuapi Raditya yang awalnya menolak namun akhirnya pasrah membuka mulut karena dipaksa.
"Enak kan, Mas? Nggak ada di restoran bintang lima mana pun," ucap Nadia puas sambil mengelap bumbu di sudut bibirnya.
Raditya menatap Nadia yang sedang tersenyum bahagia. Rasa kesal, panas, dan bau asap di jasnya seolah memuap begitu saja melihat binar di mata istrinya. Ia merogoh sapu tangan sutranya, lalu dengan lembut membersihkan sisa bumbu di pipi Nadia.
"Selama kamu senang, lakukan saja," ucap Raditya pelan, suaranya tetap datar namun ada kehangatan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Tapi besok, jangan minta ke sini lagi. Jas saya bau kunyit."
Nadia tertawa kencang, memeluk lengan Raditya yang kaku. "Makasih ya, Mas Kuda Liar. Ternyata Mas kalau jadi asisten lumayan oke juga!"
Raditya hanya mendengus, namun ia tetap merangkul Nadia erat saat berjalan kembali menuju mobil, melindungi istrinya dari hiruk-pikuk pasar malam dengan sikap dingin namun penuh perlindungan yang membuat hati Nadia menghangat.
****
Bersambung
kl d blangin sm suami tu nurut...
udh tau bnyak msuh,mlah sntai bgt kluar sndrian.....mnimal ingt lh sm perutmu yg ada bayi d dlm,jgn cma mkirin diri sndri......
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
tunggu aksi luar biasa bumil thor