Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Aletha—19
Porsche milik Danny melaju halus membelah sisa kemacetan sore.
Aletha melirik ke arah jemari tangannya yang masih digenggam erat oleh Danny di atas pangkuan. Rasa hangat dari telapak tangan pria itu perlahan menyapu sisa-sisa dingin dari memori masa lalunya.
Aletha menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Kesedihan itu memang pernah ada dan hampir membunuhnya, tapi sekarang dia sudah jauh lebih kuat. Teman-temannya telah membantunya bangkit, dan kini... pria kaku di sebelahnya ini entah mengapa memberikan rasa aman yang baru.
Aletha menoleh ke arah Danny, lalu dengan sengaja membalikkan telapak tangannya untuk membalas genggaman pria itu, mencengkeramnya tak kalah erat dengan senyum tipis yang mulai kembali menghiasi wajah cantiknya. Permainan ini masih berlanjut, tapi kali ini, Aletha tahu dia tidak sedang berjalan sendirian.
Mobil mewah itu terus melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai dihiasi lampu-lampu kota. Genggaman tangan Danny masih terasa hangat di jemari Aletha, seolah menjadi satu-satunya jangkar yang menahan gadis itu agar tidak hanyut lebih jauh ke dalam pusaran masa lalunya.
Aletha menarik pandangannya dari jendela. Suaranya yang biasa terdengar tegas dan penuh perintah, kini mengalun rendah, sarat akan kerinduan yang teramat pekat.
"Mau diulang seribu kali pun, gue tetep mau punya mama kayak mama gue, Dan..." buka Aletha, memecah keheningan di antara mereka.
Danny tidak menyela. Ia hanya melirik sekilas, memberikan atensi penuhnya pada setiap patah kata yang keluar dari bibir calon istri kontraknya itu.
"Waktu ada orang yang dateng ke rumah dan bilang kalau kapal selam Mama meledak, rasanya gue kayak nggak percaya," kenang Aletha, matanya menatap kosong ke arah dasbor mobil. "Padahal... besoknya itu hari ulang tahun gue yang ke-18."
Aletha mengulas senyum hambar yang sangat menyayat hati. "Mama udah janji bakalan bikin kue kalau balik dari tugas. Dia bahkan udah nyiapin dress buat gue, cantik banget, warnanya maroon. Itu... kenapa di setiap acara penting, gue selalu pakai warna maroon, Dan. Gue ngerasa, dengan pakai warna itu, Mama selalu ada di sebelah gue."
Danny tertegun. Ingatannya langsung berputar pada malam pertama mereka bertemu di pesta, di mana Aletha tampil begitu memukau dan dominan dengan dress maroon-nya. Ternyata, warna yang selama ini menjadi simbol keangkuhan dan kekuasaannya adalah wujud dari kerinduan seorang anak kepada ibunya.
"Pas berita itu dateng, hujan gede banget di luar. Kayak seakan-akan langit juga ikut sedih karena kematian Mama," lanjut Aletha, napasnya agak tersendat namun ia menolak untuk meneteskan air mata lagi. Cukup di kantor papanya tadi ia terlihat lemah.
"Gue yang waktu itu masih 18 tahun, bingung harus ngapain. Apalagi Papa langsung pergi entah ke mana setelah denger berita itu. Mungkin dia langsung lari ke laut? Gue nggak tahu. Karena panik dan hancur, gue keluar rumah, hujan-hujanan sendirian sambil bayangin setiap memori yang pernah gue lewatin sama Mama."
Aletha terdiam sejenak, meremas balik jemari tangan Danny yang sedang menggenggamnya.
"Sampai saat ini pun, Dan... di dalam hati kecil gue, gue masih sering berharap ada keajaiban. Gue masih sering mikir, apa mungkin di belahan dunia bagian mana gitu, Mama sebenarnya selamat dan bakal pulang?"
Mendengar kalimat terakhir Aletha, dada Danny berdenyut nyeri. Sebagai seorang pria yang selalu berpikir logis dan realistis, ia tahu probabilitas kecelakaan kapal selam di palung laut dalam hampir mustahil menyisakan korban selamat. Namun, melihat binar harapan yang rapuh di mata Aletha, Danny tidak tega untuk mematahkan fakta tersebut.
Danny mempererat genggaman tangannya, ibu jarinya mengusap punggung tangan Aletha dengan lembut untuk menyalurkan kekuatan.
"Harapan itu nggak salah, Aletha," sahut Danny, suaranya terdengar sangat berat dan dalam, mengabaikan ego kaku seorang CEO demi menenangkan jiwa gadis di sebelahnya. "Tapi lo juga harus tahu, tanpa kue ulang tahun atau dress baru dari Mama pun, lo udah tumbuh jadi perempuan yang luar biasa cantik dan kuat. Mama lo pasti bangga banget liat lo yang sekarang dari atas sana."
Aletha menoleh, menatap samping wajah tegas Danny yang diterpa cahaya lampu jalanan. Perlakuan lembut Danny yang tak terduga ini perlahan-lahan mulai menyusup ke dalam hatinya, membuat ego licik yang awalnya berniat memanfaatkan pria ini mendadak lumpuh total. Di dalam mobil yang terus melaju itu, mereka berdua tahu bahwa ikatan di antara mereka kini sudah jauh melompat dari batas sebuah kertas kontrak bisnis.
Mobil Danny akhirnya berhenti dengan mulus di pelataran parkir lobi penthouse mewah milik Aletha. Keheningan yang sejak tadi merayap di sepanjang jalan Sudirman kini mencapai puncaknya.
Danny menoleh, menatap Aletha yang masih setia memandangi jemari tangan mereka yang bertautan. Perlahan, Danny melonggarkan genggamannya, memberikan ruang bagi gadis itu untuk kembali ke teritorinya.
"Makasih buat hari ini, Dan. Perihal cincin dan... Papa," ucap Aletha, suaranya kembali datar dan terkendali, topeng ketangguhannya terpasang kembali dengan sangat rapi.
"Gak perlu berterima kasih. Istirahat, Aletha. Kabari gue kalau lo butuh sesuatu," sahut Danny, suaranya bariton dan tenang, sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik hitam Aletha seolah memastikan gadis itu akan baik-baik saja.
Aletha hanya mengangguk tipis, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar menuju lift pribadi yang akan membawanya naik ke atas.
Begitu pintu penthouse-nya tertutup rapat, kemegahan ruangan itu mendadak terasa begitu hampa. Aletha mengembuskan napas berat. Ia berjalan menuju sofa, mengambil ponselnya yang sejak tadi bergetar karena rentetan pesan kepo dari Electra di grup sirkel mereka.
Tanpa minat untuk membaca puluhan pertanyaan sahabat-sahabatnya, jemari lentik Aletha mengetikkan sebuah pesan singkat di grup:
Aletha: Gess sayangku, kalian main-main aja dulu ya tanpa gue. Gue lagi pengen sendirian. I love you.
Setelah mengirim pesan itu, Aletha melempar ponselnya sembarangan ke atas sofa. Langkah kakinya yang sunyi membawanya menyusuri koridor penthouse hingga berhenti di depan sebuah pintu kamar yang selama ini selalu ia kunci rapat—kamar milik ayah dan mendiang ibunya yang sengaja ia pertahankan bentuknya.
Cklek.
Aroma mawar samar bercampur debu tipis langsung menyapa indra penciumannya. Aletha berjalan mendekati lemari kayu besar di sudut kamar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka pintu lemari tersebut. Di dalam sana, berjejer rapi album-album foto keluarga.
Aletha duduk bersila di lantai, membuka lembaran demi lembaran foto lama. Di sana, potret dirinya, papanya, dan ibunya terpampang nyata. Mereka tersenyum lebar, tampak begitu utuh dan bahagia, layaknya sebuah keluarga sempurna sebelum tragedi sialan itu merebut segalanya.