NovelToon NovelToon
Diratukan Oleh Raja Vampir

Diratukan Oleh Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.

Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.

Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.

Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Canggung

“Hujannya semakin deras…” ucap Evelyn pelan sambil menatap ke arah luar jendela kecil gubuknya.

Suara air hujan terdengar begitu jelas menghantam atap kayu. Angin malam juga semakin dingin hingga membuat api perapian di dalam gubuk bergerak pelan.

Saat ini, Evelyn baru saja selesai mencuci pakaian pria misterius itu.

Dia kemudian menggantung pakaian hitam tersebut di dekat perapian agar lebih cepat kering. Tatapan Evelyn kembali mengarah keluar.

Gelap. Basah.

Dan dipenuhi suara hujan.

“Tapi, di saat seperti ini juga jamur-jamur akan bermunculan…” gumamnya lagi.

Musim hujan memang menjadi waktu terbaik untuk mencari jamur hutan. Jika beruntung, Evelyn bisa menjual banyak jamur ke kota dua hari lagi.

Tanpa berpikir panjang, Evelyn segera mengambil keranjang anyaman yang sedikit lebih besar dibanding miliknya tadi.

Dia juga mengenakan kembali tudung cokelat lusuhnya. Evelyn harus mengumpulkan lebih banyak jamur sebelum pagi tiba.

Namun sebelum keluar, langkahnya terhenti.

Dia menoleh ke belakang menatap pria asing yang masih terbaring di atas ranjang kecil miliknya.

Pria itu terlihat tertidur dengan tenang.

Perban putih membalut sebagian tubuhnya, sementara rambut hitam basahnya sedikit menutupi wajah pucatnya.

Evelyn terdiam sejenak.

“Tidak apa-apa,” ucapnya pelan kepada dirinya sendiri. “Mungkin dia sedang tertidur.”

Lagipula, pria itu terlihat sangat lemah. Tidak mungkin dia bangun dalam waktu dekat.

Setelah memastikan selimut pria itu tidak terlepas, Evelyn akhirnya berjalan keluar dari gubuk. Pintu kayu tertutup pelan. Dan suasana kembali sunyi.

Beberapa detik kemudian.

Mata merah gelap milik pria itu perlahan terbuka. Tatapannya mengarah lurus ke pintu tempat Evelyn pergi.

Sunyi.

Pria itu perlahan duduk walaupun luka di tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya. Lalu untuk pertama kalinya. Tatapan dinginnya menyapu seluruh isi gubuk kecil milik Evelyn.

**

Malam berganti pagi.

Hujan deras semalam akhirnya berhenti, menyisakan aroma tanah basah yang memenuhi udara hutan. Cahaya matahari pagi perlahan menembus sela-sela pepohonan, membuat embun terlihat berkilau di antara dedaunan.

Namun hal yang paling membuat Evelyn bahagia adalah hasil yang dia dapatkan tadi malam. Dia sama sekali tidak menyangka berhasil menemukan begitu banyak jamur langka.

Kedua keranjangnya kini penuh sesak oleh berbagai jenis jamur hutan dengan bentuk dan warna berbeda-beda. Beberapa di antaranya bahkan sangat sulit ditemukan.

Walaupun semalaman tidak tidur, Evelyn tetap tersenyum kecil sepanjang perjalanan pulang menuju gubuknya.

“Kalau semuanya terjual… aku bisa membeli tepung dan selimut baru,” gumamnya pelan.

Langkahnya terasa jauh lebih ringan dibanding biasanya.

Sesampainya di depan gubuk, Evelyn segera menaruh kedua keranjang besar itu di atas teras kayu.

“Hah… akhirnya sampai juga…” ucapnya sambil mengusap peluh di dahinya.

Namun tepat setelah itu. Tatapan Evelyn langsung tertuju ke arah kaki di depannya.

Dia membeku.

Sepasang sepatu hitam berdiri tepat beberapa langkah di hadapannya. Perlahan, Evelyn mengangkat kepalanya.

Dan di sana.

Pria misterius itu sudah berdiri tepat di depan pintu gubuknya.

Tubuhnya yang tinggi dibalut perban putih di beberapa bagian. Rambut hitamnya masih sedikit basah, sementara mata merah gelap itu menatap lurus ke arah Evelyn tanpa berkedip.

Sunyi.

Evelyn refleks mundur satu langkah karena terkejut.

“Ka-kamu sudah bangun…?” tanyanya gugup.

Pria itu tidak menjawab.

Dia hanya diam menatap Evelyn dalam waktu lama hingga suasana terasa canggung.

“Di mana aku?”

Suara pria itu terdengar rendah dan serak, seolah sudah lama tidak berbicara. Evelyn yang masih sedikit terkejut segera menjawab dengan gugup.

“K-kamu berada di tengah-tengah hutan.”

Pria itu sedikit mengernyit.

“Hutan?” ulangnya pelan.

Evelyn langsung mengangguk cepat.

“Iya… aku menemukanmu di dekat sungai semalam. Tubuhmu penuh luka, jadi aku membawamu ke gubukku.”

Sunyi kembali memenuhi suasana. Pria itu menatap Evelyn tanpa mengatakan apa pun.

Tatapannya tajam dan dingin, membuat Evelyn merasa sedikit canggung. Namun anehnya, pria itu tidak terlihat seperti orang jahat.

Walaupun, mata merah gelapnya terasa cukup menakutkan. Evelyn mencoba tersenyum kecil untuk mencairkan suasana.

“A-aku Evelyn Eirwen,” ucapnya pelan. “Siapa namamu?”

Pria itu terdiam cukup lama. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Evander.”

“Evander?” ulang Evelyn pelan.

Pria itu mengangguk kecil.

Untuk sesaat, Evelyn merasa nama itu terdengar begitu asing dan mewah. Sangat berbeda dari orang-orang desa yang pernah ia temui. Namun sebelum Evelyn sempat mengatakan apa pun.

Bruk.

Tubuh Evander tiba-tiba sedikit goyah. Wajahnya terlihat semakin pucat.

“Eh?” Evelyn langsung panik. “Ka-kamu belum pulih sepenuhnya!”

Dengan cepat, Evelyn mendekat dan mencoba menopang tubuh pria itu. Dan saat tangannya menyentuh lengan Evander, Evelyn sedikit terkejut. Tubuh pria itu masih sedingin es.

“K-kamu istirahat saja dulu,” ucap Evelyn panik sambil menopang tubuh Evander. “Lukamu belum sembuh total.”

Evander menunduk pelan menatap tangan kecil Evelyn yang masih memegang lengannya.

Hangat.

Sangat hangat.

Sudah sangat lama sejak terakhir kali seseorang menyentuhnya seperti ini tanpa rasa takut ataupun jijik. Tatapan mata merah gelap miliknya perlahan kembali mengarah ke wajah Evelyn.

“Aku tidak selemah itu,” ucapnya datar.

Namun tepat setelah mengatakan itu, tubuhnya kembali sedikit goyah. Evelyn langsung menghela napas pasrah.

“Kamu bahkan hampir jatuh…”

Tanpa sadar, Evelyn menarik lengan Evander perlahan agar kembali masuk ke dalam gubuk.

“Ayo duduk dulu. Aku akan membuatkan sesuatu yang hangat untukmu.”

Evander sebenarnya bisa saja menolak.

Tetapi entah kenapa.

Dia justru membiarkan gadis itu menarik dirinya masuk.

Begitu masuk ke dalam gubuk, Evelyn segera menyuruh Evander duduk di kursi kayu dekat perapian.

“Kamu jangan bergerak dulu,” ucap Evelyn serius.

Evander hanya diam memperhatikannya.

Gadis itu kemudian sibuk berjalan ke sana kemari: menambahkan kayu bakar, menuangkan air. Lalu mengambil beberapa tanaman herbal.

Suasana gubuk kecil itu terasa hangat dan tenang. Berbeda jauh dari kastel gelap yang selama ini ditempati Evander.

Untuk pertama kalinya.

Raja Vampir itu merasa tempat sederhana seperti ini tidak terlalu buruk. Sementara Evelyn yang sedang membelakanginya kembali bicara pelan.

“Untung saja kamu bangun sekarang. Kalau lebih lama lagi, mungkin aku benar-benar mengira kamu mayat.”

Evander sedikit mengangkat alisnya. Dan tanpa sadar. Sudut bibirnya bergerak tipis.

“Apa tidak ada jalan untuk keluar dari sini?” tanya Evander tiba-tiba.

Evelyn yang sedang menuangkan air hangat ke dalam cangkir sedikit menoleh.

“Ada,” jawabnya pelan. “Tapi dibuka hanya besok lusa.”

Evander mengernyit tipis.

“Kenapa begitu?”

Evelyn mengangkat bahu kecilnya.

“Aku juga tidak begitu mengerti,” ucapnya jujur. “Tapi jalan menuju kota hanya dibuka saat pasar sedang berlangsung.”

Hutan tempat Evelyn tinggal memang cukup aneh. Jalan menuju kota sering tertutup kabut tebal dan hanya ramai dilewati orang-orang saat hari pasar tiba.

Karena itulah Evelyn biasanya menjual hasil hutannya setiap beberapa hari sekali.

Evander kembali terdiam.

Tatapan matanya perlahan mengarah pada Evelyn yang kini duduk di dekat perapian sambil mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah.

Gadis itu terlihat begitu kecil dibanding dunia gelap yang selama ini ia kenal.

“Kau sendirian hidup di hutan ini?” tanya Evander lagi.

Evelyn sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Iya,” jawabnya lembut. “Aku sendirian sejak usia delapan tahun.”

Tatapan Evander sedikit berubah.

“Orang tuamu?”

“Mereka sudah meninggal.”

Jawaban itu terdengar begitu tenang, tetapi entah kenapa justru terasa lebih menyedihkan.

Evelyn mencoba tersenyum kecil.

“Awalnya memang sulit,” ucapnya sambil menatap api perapian. “Tapi lama-lama aku terbiasa.”

Sunyi kembali memenuhi gubuk kecil itu. Evander terus menatap Evelyn tanpa berkedip.

Seorang gadis manusia kecil. Bertahan hidup sendirian di tengah hutan terlarang selama bertahun-tahun. Dan anehnya. Dia masih bisa tersenyum seperti itu.

1
Asra
Next kak
Anonim
semangat thor, lanjut lagi ....
Musicart Channel
best. cerita sang teratur Dan mendebarkan untuk setiap apisode. please update lagi🥺
Anonim
up lg donk thor...
Yayuk Yuhanah
lanjut donk
Yayuk Yuhanah
masih penasaran.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!