NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Di Antara Dua Sisi Dosa

BAB 7: Di Antara Dua Sisi Dosa

​"Letakkan kopinya di sana, dan jangan menyentuh dokumen apa pun di meja saya dengan tangan kotormu itu."

​Suara bariton Devano terdengar begitu dingin, memotong keheningan ruang kerja yang luas itu. Luna Maharani yang baru saja meletakkan cangkir kopi hitam tanpa gula di sudut meja, seketika menarik kembali tangannya. Jari-jarinya meremas ujung rok kerja dengan erat, menahan rasa perih yang kembali menghujam ulu hatinya.

​Sejak seminggu bekerja sebagai asisten pribadi, tidak ada satu hari pun yang dilewati Luna tanpa cacian implisit dari Devano. Pria itu memperlakukannya dengan sangat buruk—memberinya tugas-tugas berat yang tidak masuk akal, menyuruhnya lembur hingga larut malam, dan yang paling menyakitkan, selalu menatapnya dengan pandangan mata yang menghina. Seolah-olah Luna adalah makhluk paling menjijikkan yang terpaksa harus dia lihat setiap hari.

​"Baik, Tuan. Ada lagi yang Anda butuhkan?" tanya Luna, suaranya terdengar datar dan serak, mencoba menyembunyikan kerapuhan batinnya.

​Devano tidak mendongak sedikit pun dari laptopnya. "Keluar. Wajahmu merusak pemandangan saya pagi ini."

​Luna menunduk dalam, lalu membalikkan badannya dengan langkah pelan. Di matanya, dia memang sudah tidak memiliki harga diri lagi. Malam terlarang di hotel itu telah merenggut seluruh kesuciannya, dan pekerjaan ini telah mengubur sisa-sisa martabatnya sebagai manusia. Dia merasa kotor, ternoda, dan tak lebih dari seonggok daging yang sedang menebus utang keluarga.

​Begitu pintu ruang kerja Devano tertutup rapat, Luna bersandar di dinding koridor yang sepi. Dia mengembuskan napas panjang yang terasa sangat sesak. Namun, penderitaannya tidak berhenti di kantor.

​Drrt... Drrt...

​Ponsel di dalam saku blazernya bergetar. Luna memejamkan mata sesaat ketika melihat nama 'Kak Siska' berkedip di layar. Dengan berat hati, dia menggeser tombol hijau.

​"Halo, Kak—"

​"Luna! Bagaimana? Mas Devano sudah memakan bekal buah potong yang Kakak titipkan lewat kamu tadi pagi?!" Suara Siska langsung memberondong tanpa jeda, terdengar begitu bersemangat dan penuh ambisi. "Kamu sudah bilang kan kalau Kakak yang mengupasnya sendiri sampai jari Kakak teriris? Dia tersenyum tidak pas mendengar namaku?"

​Air mata Luna nyaris menetes mendengar rentetan pertanyaan itu. Buah potong yang dititipkan Siska saat ini sudah mengenaskan di dalam tong sampah lobi bawah karena Devano menolak mentah-mentah saat melihatnya di tangan Luna tadi pagi.

​"Buang barang murahan itu, Luna. Sama seperti pemiliknya," kata-kata kejam Devano beberapa jam lalu kembali terngiang, membuat dada Luna makin terhimpit.

​"Mas Devano... sedang sangat sibuk hari ini, Kak. Dia belum sempat menyentuhnya," bohong Luna, menelan ludah kelat demi menjaga perasaan kakaknya—dan demi menutupi aibnya sendiri.

​"Ih, kamu ini bagaimana, sih?! Kamu kan asisten pribadinya, harusnya kamu pintar-pintar cari muka dong di depan dia! Ingat ya Luna, tugas kamu di sana itu untuk membantu Kakak balikan sama Mas Devano!" ketus Siska, nadanya mendadak berubah menjadi penuh tuntutan. "Nanti malam Mas Devano ada acara makan malam di luar tidak? Kakak mau menyusul ke sana. Kakak sudah beli gaun baru yang sangat seksi. Mas Devano pasti akan terpikat lagi kalau melihatku."

​"Malam ini Tuan Devano ada meeting internal sampai larut, Kak. Sebaiknya Kakak jangan datang," cegah Luna panik. Dia tahu betul bagaimana marahnya Devano jika melihat Siska. Dan jika Devano marah, maka yang akan menjadi sansak pelampiasan amarahnya di dalam ruangan tertutup adalah Luna sendiri.

​"Alasan saja kamu! Awas ya kalau kamu sengaja menyembunyikan jadwal Mas Devano dari Kakak. Pokoknya, kirimkan lokasi Mas Devano malam ini, atau Kakak akan mengadu pada Ibu kalau kamu tidak becus bekerja!"

​Bip. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Siska.

​Luna menurunkan ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia menatap layar HP-nya yang menggelap dengan pandangan kosong.

​Batinnya benar-benar tersiksa di antara dua sisi dosa yang menjepitnya tanpa ampun. Di satu sisi, kakaknya begitu gencar memanfaatkan dirinya untuk merangkak kembali ke pelukan Devano dengan segala kepalsuannya. Di sisi lain, pria yang ingin didekati kakaknya itu justru menganggap Luna sebagai wanita pemuas dendam yang murahan, yang dengan senang hati diinjak-injak harga dirinya setiap detik.

​Luna berjalan kembali menuju meja kerjanya dengan langkah gontai. Dia merasa seperti selembar kertas pembatas di antara bara api dendam Devano dan keserakahan Siska. Kertas yang perlahan-lahan mulai hangus, terbakar dari kedua ujungnya, menunggu waktu untuk hancur menjadi abu yang tak bersisa.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!