NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

​Malam itu, suasana di ruang makan terasa jauh lebih mencekam daripada pagi tadi. Lampu gantung kristal yang mewah seolah memancarkan cahaya yang lebih pucat. Di atas meja, hidangan sudah tertata rapi sebagian besar adalah masakan Bik Ijah atas instruksi tegas Adila, karena masakan Meisya tadi pagi sudah berakhir di tempat sampah sesuai perintah sang nyonya rumah.

​Adila duduk di kursi kepalanya dengan anggun. Ia masih mengenakan kemeja sutra yang elegan, meski jas dokternya sudah ia tanggalkan. Wajahnya datar, seolah-olah ketegangan di kamar tadi sore tidak pernah terjadi. Di sisi lain, Revan duduk dengan bahu yang tampak berat, matanya terus menghindari kontak mata dengan siapapun.

​Meisya, yang duduk di antara mereka, merasa ada yang tidak beres. Ia melirik Revan, lalu melirik Adila, mencoba mencari celah untuk memulai sandiwaranya lagi.

​"Kak Revan, Kak Adila... makanannya keburu dingin. Ayo makan," suara Meisya memecah keheningan, mencoba bersikap seolah dia adalah tuan rumah yang ramah.

​Adila tidak menjawab. Ia hanya memberikan kode lewat lirikan mata yang tajam kepada Revan, lalu menunjuk ke arah bakul nasi dengan dagunya. Itu adalah kode agar suaminya segera memulai makan.

​Revan baru saja hendak meraih sendok nasi, namun dengan gerakan yang sangat sigap hampir seperti sudah direncanakan Meisya lebih dulu menyambar bakul itu.

​"Biar Meisya ambilkan ya, Kak Revan? Kak Revan pasti capek banget seharian di kantor," ujar Meisya dengan senyum manis yang dibuat-buat. Ia menyendokkan nasi ke piring Revan, lalu dengan lancang bergerak ingin mengambil piring Adila juga. "Kak Adila mau nasi segimana? Biar Meisya yang ambilkan sekalian."

​Trak!

​Adila meletakkan sendok peraknya ke atas piring kosong dengan suara dentingan yang cukup keras, membuat Meisya tersentak.

​"Letakkan nasi itu, Meisya," suara Adila rendah namun penuh wibawa.

​Meisya mengerjap. "Eh? Meisya cuma mau bantu, Kak..."

​"Bantu?" Adila terkekeh dingin, matanya kini menatap Meisya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Sejak kapan tamu di rumah ini mengambil alih peran istri untuk melayani suaminya? Di rumah sakit, kalau ada orang yang mencoba mengambil alih tugas tanpa kualifikasi yang jelas, itu namanya malpraktik. Di rumah ini, itu namanya tidak tahu diri."

​Wajah Meisya memucat. Ia melirik Revan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, berharap pembelaan.

​"Adila, dia cuma mau membantu. Jangan terlalu sensitif," sahut Revan pelan, mencoba menengahi meski suaranya terdengar tidak yakin.

​"Sensitif?" Adila beralih menatap suaminya. "Revan, ada batasan antara membantu dan menumpang yang melunjak. Seseorang yang menumpang seharusnya tahu di mana tempatnya berdiri. Dia bukan pelayan, dan dia juga bukan bagian dari hierarki pelayanan di meja makan ini. Kalau dia ingin berguna, suruh dia mengurusi kepindahannya ke kampung, bukan malah sibuk menyendokkan nasi untuk suamiku."

​Meisya menunduk, bahunya mulai bergetar. "Maaf, Kak Adila... Meisya nggak bermaksud begitu. Meisya cuma merasa berhutang budi pada Kak Revan karena sudah boleh tinggal di sini..."

​"Kalau merasa berhutang budi, bayar dengan sikap yang sopan, bukan dengan mencoba menggeser posisiku di meja makan ini," potong Adila tajam. "Ingat, Meisya. Statusmu di sini hanyalah tamu darurat. Jangan sampai kamu lupa kalau peranmu tidak pernah ada di daftar permanen rumah ini."

​Ketegangan itu membuat suasana makan menjadi sangat hambar. Revan yang merasa tidak enak hati melihat Meisya yang terus-terusan diserang, akhirnya mencoba mencari alasan konyol untuk meredakan situasi.

​Revan berdeham, lalu menoleh ke arah Meisya yang masih menunduk sedih. "Meisya... maaf ya. Adila sepertinya sedang PMS. Kamu tahu kan kalau wanita sedang di fase itu perasaannya sering tidak stabil dan gampang marah? Tolong dimaklumi saja ya, dia cuma sedang lelah."

​Mendengar kata-kata Revan, Adila hampir saja melemparkan gelas air di tangannya. Ia tidak percaya suaminya menggunakan alasan biologis serendah itu untuk menutupi ketegasan prinsipnya.

​"PMS?" Adila bertanya dengan nada menyindir yang luar biasa pedas. "Lucu sekali, Revan. Sejak kapan kamu jadi ahli ginekologi yang bisa mendiagnosis suasana hatiku hanya untuk membela wanita ini? Aku tidak sedang sakit, aku tidak sedang emosional. Aku sedang memberikan edukasi etika pada seseorang yang sepertinya melewatkan pelajaran itu di masa kecilnya."

​Revan mencoba mengelus tangan Adila di bawah meja, namun Adila menarik tangannya dengan jijik.

​"Sudahlah, Meisya. Makan saja. Anggap saja Kak Adila lagi libur dari sifat kalemnya," tambah Revan lagi, mencoba menutup perdebatan dengan candaan yang sama sekali tidak lucu.

​Meisya mulai menyuap nasinya dengan gerakan lambat, air matanya jatuh satu per satu ke piring. "Iya, Kak Revan. Meisya ngerti kok. Meisya yang salah, nggak seharusnya Meisya terlalu lancang. Meisya maklum kalau Kak Adila lagi emosi..."

​Adila hanya menatap mereka berdua dengan tatapan muak. Ia melihat bagaimana suaminya memberikan pemakluman yang tidak pada tempatnya, dan melihat bagaimana Meisya menggunakan momen itu untuk terlihat seperti korban yang paling menderita.

​"Nikmati makan malam kalian dengan 'pemakluman' itu," ujar Adila sambil berdiri dari kursinya. Piringnya masih bersih, ia sama sekali tidak menyentuh makanan itu. "Tapi ingat satu hal, Revan. Diagnosis medis bisa berubah, tapi prinsipku tidak. Dan bagi orang yang sedang menumpang, sebaiknya persiapkan diri.

Karena masa maklum ini tidak akan bertahan lama."

​Adila melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan kepala tegak, meninggalkan Revan yang menghela napas panjang dan Meisya yang diam-diam menyeka air matanya sambil menyimpan kebencian yang makin mendalam di balik wajah sendunya. Di saku jas putih yang ia gantung di kamar tadi, ponselnya terus menyala, menampilkan notifikasi rekaman CCTV yang baru saja menangkap lirikan tajam Meisya ke arah punggung Adila.

"​Dokter itu benar, jika tumor ini harus segera dioperasi sebelum terlambat." Batin Adila.

1
stela aza
payah bgt udh gitu aja masih di tampung si Memes ,,,, pekok bin bahlul s Revan 🤦
falea sezi
lanjutt
falea sezi
cerai lah oon di usir secara halus gk paham🤣 bego katanya. dokter masak ngemis2 ke laki🤣
falea sezi
mengejar. karir makanya g hamil🤣
falea sezi
10 tahun g hamil. mandul kahh
Suanti
mampus lah kau revan sekalian aja mantan mertua bangun dri pingsan langsung stroke 🤭
Dew666
🩵🩵🩵🩵
cinta semu
syukurin ,salah sendiri jadi suami plin-plan ...sudah dewasa masih aja mau di atur ibu yg mulut ny pedas level 1000... gunakan kedewasaan u untuk berpikir bijak Revan ...dah pulang Sono ...ngadu lagi sm ibu u ...
Sri Widiyarti
lanjut kak semangat up-nya...
Lee Mba Young
lanjut
Dew666
👑👑👑👑
cinta semu
😁😁kaki manusia ...kok q baca ny bisa senyum sendiri ...mungkin efek tegang Krn keluarga Revan nyerang Dil kali😂😂
stela aza
❤️❤️❤️❤️
stela aza
rasakan itu sampah di pungut ,,, istri luar biasa multitalent di buang ,,, pekok ora ketulungan 🤦
Sri Widiyarti
satu kata buat Kel Revan bodoh bela2in perempuan kayak Meisya...🤦🤦🤦
stela aza
lanjut thor up Double y Thor ❤️❤️❤️
stela aza
good job Dila ❤️❤️❤️
stela aza
q suka karakter s Adila ,,, yg tegas pintar dan cerdik ,,, bagaimana menghadapi para benalu dan suami bahlul bin plin-plan ,,, good job Dila
stela aza
stupid bin tongkol sampah loe pungut ,,, punya istri cerdas hebat multitalent loe ganti dg sampah bau busuk bener2 suami bahlul 🤦
Heni Setiyaningsih
untung punya perjanjian pranikah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!