Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
BAB 7: BISIKAN DI BALIK PUNGGUNG
"Kadang kebenaran tidak diteriakkan, tapi dibisikkan. Dan bisikan itulah yang paling menusuk sampai ke tulang."
Sisa sore itu berlalu dalam keheningan yang mencekam. Arka duduk di ruang tengah, pura-pura sibuk menelusuri berita di ponsel, namun telinganya menangkap setiap gerakan yang dilakukan Elena di sudut ruangan. Wanita itu sedang sibuk menelepon, berjalan mondar-mandir di dekat jendela yang tertutup tirai tebal, suaranya sengaja diredam hingga hanya terdengar seperti gumaman samar.
Namun, sesekali ada potongan kalimat yang lolos, cukup jelas untuk merembes masuk ke telinga Arka.
"...sudah siap semua. Dokumen, identitas, semuanya aman...", "...dia mulai curiga, tapi masih bisa dikendalikan...", "...jangan khawatir, aku tahu cara bungkam dia...", "...tunggu aku di sana, Rabu pagi..."
Setiap kata itu jatuh seperti paku yang dipukulkan ke pelipis Arka. Di sana. Di sana berarti Bandung. Di sana berarti Adrian.
Arka mengangkat wajah perlahan, berniat menangkap tatapan Elena, tapi wanita itu seolah punya mata di belakang kepala. Begitu Arka bergerak sedikit, Elena langsung memutar badan, punggungnya menghadap ke arah Arka, menciptakan dinding tak kasat mata yang tebal. Ia sengaja berbisik tepat di balik punggungnya, memastikan Arka mendengar potongan itu, tapi tidak cukup jelas untuk menjadi bukti utuh. Sebuah permainan psikologis yang jahat—membuat Arka bertanya-tanya apakah ia salah dengar atau tidak.
"Ya, baiklah. Sampai ketemu," kata Elena, lalu mematikan sambungan telepon dengan ketukan jari yang tegas. Ia membalikkan badan seketika, wajahnya kembali berubah menjadi panggung sandiwara yang sempurna. Senyum manis terpasang rapi, seolah tidak ada percakapan rahasia yang baru saja berlangsung detik yang lalu.
"Mas, mau minum kopi lagi nggak?" tanyanya santai, berjalan mendekati sofa tempat Arka duduk. Matanya berkilat, meneliti wajah suaminya seolah mencari jejak apa yang sudah didengarnya.
Arka menatap lekat-lekat mata itu. Mata yang sama yang dulu memandangnya dengan penuh kekaguman dan cinta, kini terasa seperti lubang gelap yang menghisap segala kepercayaan yang tersisa.
"Nggih, boleh," jawab Arka datar. Ia tidak mau menunjukkan bahwa ia sudah mendengar sesuatu. Ia harus bertindak seolah masih menjadi suami bodoh yang polos, sampai ia menemukan celah yang cukup besar untuk menjatuhkan semua kepura-puraan ini. "Le... tadi nelpon siapa? Kelihatan serius banget."
Elena berhenti sejenak di tengah jalan menuju dapur. Bahunya sedikit menegang, namun ia kembali melangkah dengan langkah ringan.
"Ah... cuma staf di kantor. Masih ngurusin persiapan barang yang mau dibawa ke Bandung nanti. Ribet deh, pokoknya," jawabnya tanpa menoleh. Suaranya mengalir lancar, tidak ada satu pun nada ragu. "Katanya ada barang yang belum siap, padahal kan aku udah pesan dari minggu lalu."
"Staf kantor ya..." gumam Arka pelan, cukup keras agar terdengar. "Kirain Pak Mahesa yang nelpon."
Gerakan tangan Elena yang sedang meraih toples gula terhenti. Sedetik. Dua detik. Cukup lama bagi Arka untuk tahu bahwa nama itu mengejutkannya.
Lalu, Elena tertawa. Tawa renyah yang dipaksakan.
"Mas ini ya... denger-denger aja sih. Belum apa-apa udah cemburu buta. Emangnya Pak Mahesa mau nelpon-nelpon aku? Dia kan orang penting, Mas. Paling-paling sekretarisnya aja yang ngabarin," ucapnya, lalu berbalik badan dengan cangkir berisi kopi panas di tangan. Tatapannya tajam, mengarah tepat ke manik mata Arka. "Mas... jangan sampai Mas bikin aku batal berangkat gara-gara sikap Mas yang kayak gini ya? Itu proyek besar, bisa bikin pendapatan kita naik berlipat ganda. Mas nggak mau kan masa depan kita hancur cuma gara-gara prasangka?"
Kalimat itu mengancam. Halus, tapi tajam. Ia menggantungkan alasan perjalanannya pada kesejahteraan keluarga, membuat Arka seolah menjadi penghalang kebahagiaan mereka jika ia terus bertanya.
Arka menerima cangkir itu dalam diam. Panasnya menyelinap ke jari-jarinya, tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa perih di dadanya.
"Aku cuma nanya, Le. Bukan ngelarang," jawabnya pelan.
"Ya, tapi nadanya kayak nuduh," balas Elena cepat. Ia duduk di ujung sofa, menjaga jarak, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Mas ingat nggak dulu aku pernah cerita soal sifat ayahku? Dia orangnya curigaan, posesif banget, sampai ibuku nggak pernah tenang seumur hidupnya. Dulu aku berharap nikah sama Mas biar dapat ketenangan. Jangan sampai Mas berubah jadi kayak dia ya, Mas. Nanti aku..."
Ia berhenti bicara, menundukkan wajah seolah menahan air mata. Drama yang sudah terlalu sering Arka lihat. Drama korban yang tak berdaya.
"Nanti aku kenapa, Le?" tanya Arka, menantang.
Elena mengangkat wajah, matanya berembun. "Nanti aku nggak tahan, Mas. Aku bakal lari lagi. Seperti dulu aku lari dari rumah, lari dari Surabaya, cari tempat yang aman. Aku nggak mau hidup dikepung rasa curiga. Aku sudah cukup menderita sama masa laluku, jangan ditambah lagi sama masa depanku."
Lari lagi.
Kata itu bergaung keras di kepala Arka. Jadi benar. Elena memang punya kebiasaan lari. Lari dari masalah, lari dari identitas, lari dari kenyataan. Dan apakah pernikahan ini hanyalah salah satu tempat persembunyiannya?
Sore itu berakhir dengan ketegangan yang menggantung tebal di udara. Saat Elena masuk ke kamar mandi untuk bersiap tidur, ponselnya yang ada di atas meja bergetar pendek satu kali. Notifikasi pesan masuk.
Arka melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara air yang mengalir kencang terdengar jelas. Ia menunduk perlahan, matanya menangkap sekilas tulisan di layar yang menyala otomatis:
Pengirim: A.M.
"Pastikan dia tidak ikut. Jangan sampai ada mata asing di sini. Segala cara."
Jantung Arka seolah berhenti berdetak.
A.M.
Adrian Mahesa. Inisial yang sama persis dengan yang ada di surat perjanjian itu.
"Segala cara."
Darah Arka mendidih, tapi kakinya terasa berat dan dingin. Adrian tahu tentang dia. Adrian menganggapnya sebagai penghalang. Dan Elena... Elena pasti sudah membaca pesan itu sebelum masuk mandi, atau akan membacanya begitu keluar. Mereka merencanakan sesuatu. Sesuatu yang melibatkan Arka, dan sesuatu yang harus diselesaikan saat Elena berada di Bandung nanti.
Pintu kamar mandi terbuka. Asap uap air mengepul keluar, diikuti sosok Elena yang berbalut handuk putih, rambutnya basah terurai indah menutupi bahu. Wajahnya bersih tanpa riasan, terlihat jauh lebih muda dan polos. Namun bagi Arka, wajah polos itu kini terlihat seperti topeng yang paling licik.
Elena berjalan mendekati meja, melirik ponselnya sekilas. Ia tidak mengambilnya. Ia hanya menatap layar itu sepersekian detik, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Arka yang duduk kaku di kursi kerja.
"Mas..." panggilnya lembut. Ada nada lain di suaranya. Sebuah nada yang Arka belum pernah dengar sebelumnya. Sebuah nada peringatan yang halus. "Nanti kalau aku pergi ke Bandung... Mas di rumah aja ya? Jangan kemana-mana, jangan cari-cari hal yang nggak perlu. Jaga diri baik-baik. Aku nggak mau ada hal buruk terjadi sama Mas saat aku nggak ada."
Ia mendekat, lalu berjinjit sedikit untuk mencium pipi Arka. Bibirnya basah dan dingin.
"Karena kalau sampai Mas kenapa-napa... aku bakal sangat sedih, lho."
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang paling manis, namun maknanya tajam seperti pisau yang ditodongkan tepat ke leher.
Arka menatap lurus ke manik mata cokelat itu. Di kedalaman sana, di balik kilau manisnya, Arka melihatnya sekejap. Kilatan dingin, penuh perhitungan, dan kosong.
Elena Wijaya, atau siapapun dirinya yang sebenarnya, sedang mempermainkan nyawanya. Dan perjalanan ke Bandung itu bukan sekadar urusan pekerjaan. Itu adalah langkah penentuan nasib—entah nasib Arka, atau nasib kepalsuan yang selama ini mereka bangun.
Dan Arka tahu satu hal pasti: Ia tidak akan diam di rumah. Ia tidak akan membiarkan Elena pergi begitu saja ke pelukan Adrian, ke sarang laba-laba yang telah menunggunya.
Malam itu, saat Elena kembali pura-pura tidur dan kembali aktif online di jam-jam sunyi, Arka sudah mengambil keputusan besar. Di balik kegelapan kamar, ia diam-diam membuka situs pemesanan tiket di ponselnya, jari-jarinya bergerak tegas.
Kalau kalian ingin bertemu diam-diam... aku akan jadi bayangan yang mengawasi kalian. Aku akan ke Bandung. Dan di sana, aku akan bongkar semua bisikan yang selama ini hanya terdengar di balik punggungku.
— BERSAMBUNG.......