NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Seseorang yang Ditakuti

Suara ombak yang menghantam tiang-tiang pelabuhan terdengar semakin keras setelah kemunculan sosok misterius itu, tidak ada seorang pun yang bergerak bahkan Arga yang sejak tadi terlihat tenang kini berdiri dengan wajah serius.

Bintang memperhatikan mereka satu per satu dan semakin yakin bahwa pria yang baru datang itu jauh lebih berbahaya daripada siapa pun yang pernah mereka hadapi.

"Ada yang mau menjelaskan siapa dia?" tanya Bintang sambil menatap Viktor.

Viktor tidak langsung menjawab, tatapannya masih tertuju pada sosok yang berdiri di ambang pintu gudang.

"Aku berharap tidak akan pernah melihatnya lagi." Viktor mengembuskan napas panjang.

"Itu tidak terdengar seperti sambutan yang hangat." Sosok itu melangkah masuk sambil tersenyum tipis.

Lampu gudang yang redup akhirnya menerangi wajahnya, usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya sudah memutih sebagian, tetapi sorot matanya masih tajam dan penuh tekanan. Setiap langkah yang diambilnya membuat suasana terasa semakin berat.

Leonard perlahan berdiri dari kursinya.

"Kau masih hidup." Leonard menyipitkan mata.

"Kau terdengar kecewa." Pria itu terkekeh pelan.

"Aku memang kecewa."

Pria itu tertawa kecil, namun tawa tersebut tidak membawa kehangatan sedikit pun.

Rania memperhatikan mereka dengan bingung, ini pertama kalinya ia melihat Leonard kehilangan ketenangannya bahkan pria tua itu terlihat seperti sedang menahan amarah.

"Siapa dia?" tanya Rania sambil menoleh ke arah Viktor.

Viktor mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya menjawab.

"Namanya Septian."

Jantung Damar langsung berdegup lebih cepat, sedangkan Rangga terlihat semakin waspada.

"Dia pemimpin mereka?" tanya Bintang.

"Tidak." Viktor menggeleng pelan.

Jawaban itu justru membuat suasana semakin mencekam.

"Kalau begitu kenapa kalian terlihat seperti melihat iblis?" tanya Bintang lagi.

"Karena dia orang yang menciptakan semua ini." Leonard menjawab sambil menatap Septian dingin.

Tidak ada lagi senyum di wajah Septian.

"Masih menyalahkanku setelah dua puluh lima tahun?" tanyanya santai.

"Karena semuanya memang dimulai darimu!" bentak Leonard.

Suara bentakan itu menggema di dalam gudang, namun Septian sama sekali tidak terlihat terganggu.

"Lucu." Ia menggeleng pelan. "Padahal kaulah orang pertama yang menyetujuinya."

Kalimat itu membuat Leonard langsung membeku dan Bintang menyipitkan mata.

"Apa yang dia maksud?" tanyanya.

Tidak ada yang menjawab karena sekali lagi, rahasia lain muncul sebelum rahasia sebelumnya terpecahkan.

Septian berjalan semakin dekat, anak buahnya mulai memasuki gudang dari berbagai arah. Jumlah mereka tidak banyak, tetapi cara mereka bergerak menunjukkan bahwa mereka bukan orang biasa.

Rangga langsung maju setengah langkah.

"Jangan bergerak lebih dekat." Rangga mengangkat pistolnya.

"Aku tidak datang untuk bertarung." Septian berhenti sambil mengangkat kedua tangannya.

"Kalimat yang selalu diucapkan orang sebelum pertarungan dimulai." Arga mendengus pelan.

"Aku senang kau masih hidup." Septian menoleh ke arahnya.

"Aku tidak bisa mengatakan hal yang sama." Arga membalas tatapannya dingin.

Ketegangan kembali meningkat, Rania mulai merasa bahwa setiap orang di ruangan itu memiliki masa lalu dengan Septian dan tidak satu pun kenangan yang baik.

"Kau yang menculik Raka?" tanya Rania sambil melangkah maju.

"Tidak." Septian menggeleng pelan.

"Jangan bohong!" bentak Rania.

"Aku tidak berbohong." Septian menatapnya lurus. "Justru aku yang menyelamatkannya."

Semua orang langsung terdiam.

"Apa maksudmu?" tanya Bintang sambil mengernyit.

"Ceritakan pada mereka." Septian menoleh ke arah Raka.

"Orang-orang yang menyerang rumah sakit bukan anak buahnya." Raka tampak ragu sesaat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Kalau begitu siapa?" tanya Viktor cepat.

"Itulah masalahnya." Raka menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."

Suasana kembali hening, Bintang mulai kehilangan kesabaran.

"Dari tadi semua orang hanya memberi setengah jawaban." Bintang menatap mereka satu per satu. "Aku ingin seseorang mulai bicara dengan jelas!"

"Kau benar." Septian mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu, pria tua itu terlihat serius.

"Ada musuh yang bahkan tidak kalian ketahui keberadaannya."

Kalimat itu membuat Viktor langsung menatapnya tajam.

"Jangan." Viktor menggeleng cepat.

"Sudah terlambat." Septian menghela napas panjang. "Mereka sudah menemukan Raka. Itu berarti mereka juga akan segera menemukan Rania."

Rania merasakan bulu kuduknya meremang.

"Kenapa mereka mencariku?" tanyanya.

Karena semua yang terjadi sejak awal selalu berakhir pada pertanyaan yang sama. Kenapa dirinya? Kenapa bukan orang lain? Septian menatapnya beberapa saat sebelum menjawab.

"Karena kau memiliki sesuatu yang mereka inginkan."

"Aku bahkan tidak tahu apa yang kumiliki." Rania mengernyit.

"Itulah yang membuatmu berbahaya."

Petir menyambar di luar gudang, cahaya putih sesaat menerangi seluruh ruangan sebelum kembali gelap. Di tengah suasana yang mencekam itu, ponsel Rania tiba-tiba bergetar di dalam sakunya.

Rania membeku karena nomor yang muncul di layar tidak dikenal.

"Jangan diangkat." Viktor langsung menegang.

Namun sebelum Rania sempat melakukan apa pun, panggilan itu terangkat sendiri. Suara statis terdengar beberapa detik lalu seseorang tertawa pelan. Suara itu membuat Septian langsung kehilangan ekspresinya, untuk pertama kalinya sejak datang ke gudang pria tua itu terlihat terkejut.

"Tidak mungkin..." bisiknya.

"Siapa?" tanya Bintang sambil menatapnya.

Tidak ada jawaban. Suara di seberang telepon kembali terdengar.

"Halo, Septian."

Jantung semua orang langsung berdegup lebih cepat karena orang itu menyebut nama Septian tanpa ragu dan yang lebih mengerikan... ia terdengar sangat mengenalnya.

"Sudah lama sekali," lanjut suara itu sambil tertawa kecil.

"Kau seharusnya sudah mati." Septian mengepalkan tangannya.

"Ternyata malam ini banyak orang yang mengatakan hal yang sama."

Suasana di dalam gudang membeku karena kalimat itu sama persis seperti yang diucapkan Arga sebelumnya, seolah orang yang menelepon mereka juga merupakan seseorang yang telah lama dianggap mati.

"Kau mau apa?" tanya Septian dengan suara dingin.

"Tidak banyak." Suara itu terdengar santai. "Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku."

"Apa?"

Beberapa detik hening, kemudian jawaban yang keluar membuat seluruh ruangan kehilangan warna di wajah mereka.

"Aku ingin ketiga anak itu."

Rania membeku, Raka langsung menoleh sedangkan Bintang perlahan mengepalkan tangannya karena untuk pertama kalinya... musuh mereka akhirnya menunjukkan dirinya.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!