Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
BAB 24: Gemuruh di Lapangan Basket dan Batas Teritorial Sang Penguasa
Suasana di kantin utama SMA Pelita siang itu terasa jauh lebih pekat dan menegangkan dari biasanya. Di meja pojok VIP, Zayn Dominic duduk dengan posisi tubuh bersandar kaku, sementara sebelah lengan kekarnya merangkul posesif sandaran kursi Elva Ileana. Wajah tampannya ditekuk sangat kesal, dan sepasang mata elangnya tidak sedetik pun lepas dari sosok cowok baru yang kini duduk hanya berjarak dua meja dari posisi mereka.
Christian Narendra, murid pindahan baru dari London itu, tampak sedang menikmati makan siangnya bersama beberapa anak kelas sebelah dengan sangat tenang. Pembawaannya yang elegan ala aristokrat Eropa dan senyuman ramah yang sesekali memperlihatkan lesung pipi samar nya, membuat dia dengan cepat menjadi pusat perhatian baru para siswi di kantin.
"Zayn, dimakan dong ramen nya. Nanti keburu dingin," bisik Elva lembut, menyentuh pelan lengan Zayn yang berbalut jaket kulit hitam.
"Gue nggak laper," ketus Zayn lempeng, suaranya terdengar judes namun tangannya bergerak otomatis membenarkan letak mangkuk Elva agar gadis itu bisa makan dengan nyaman. Sifat cemburu posesif Zayn yang menggemaskan ini keluar seutuhnya setiap kali mata hazel Christian tidak sengaja melirik ke arah meja mereka.
Kevin yang baru saja menenggak habis es jeruknya langsung menyenggol lengan Leo di seberang meja. "Woi, liat deh si anak London. Santai amat ya mukanya, padahal udah dapet tatapan laser pembunuh dari bos kita dari tadi," bisik Kevin sambil terkekeh pelan.
Leo hanya tersenyum tipis, matanya mengamati Christian dengan pandangan menyelidik. "Dia bukan tipe cowok yang gampang ciut, Vin. Bokap nya diplomat, dia biasa hidup di lingkungan yang penuh tekanan keras."
Tepat saat suasana kantin mulai mencair, Christian tiba-tiba berdiri dari kursinya. Sambil menenteng bola basket kulit miliknya di bawah ketiak, dia melangkah lebar melewati meja VIP Zayn. Christian menghentikan langkahnya tepat di samping meja mereka, lalu menatap Zayn dengan senyuman tipis yang sarat akan tantangan tersembunyi.
"Gue denger dari anak-anak, lo kapten tim basket di sekolah ini dan nggak pernah kalah dalam tanding satu lawan satu," ucap Christian, suara bariton British-nya terdengar begitu jernih menembus keriuhan kantin.
"Kebetulan siang ini jadwal latihan mandiri di lapangan dalam lagi kosong. Gimana kalau kita tanding? One on one, lima belas poin. Anggap aja salam kenal resmi dari gue."
Atmosfer di dalam kantin seketika anjlok hingga ke titik beku dalam hitungan mili sekon. Riuh obrolan ratusan murid langsung senyap total. Semua mata tertuju pada konfrontasi visual antara dua cowok dominan tersebut.
Zayn menurunkan lengannya dari kursi Elva, lalu berdiri perlahan. Tubuh tingginya yang tegap menjulang intimidatif tepat di depan Christian.
"Lo bener-bener bosan hidup ya, anak baru," desis Zayn rendah, suaranya begitu dingin dan sarat akan ancaman yang berbahaya.
"Gue nggak punya waktu buat main-main sama anak manja pindahan London."
Christian tidak mundur satu senti pun. Dia memutar bola basket di ujung jarinya dengan gerakan santai. "Kenapa? Takut rekor nggak pernah kalah lo patah di tangan anak baru?"
Mendengar tantangan terbuka itu, kepalan tangan Zayn mengencang kuat hingga urat-urat di lehernya menegang sempurna.
"Zayn, jangan..." bisik Elva cemas, memegangi ujung jaket Zayn dengan jemari yang gemetar.
Zayn menoleh ke arah Elva, dan dalam satu detik, tatapan membunuhnya melunak khusus hanya untuk gadisnya. Dia menepuk tangan Elva lembut.
"Lo ikut ke lapangan, liat dari tribun. Biar gue kasih tahu ke anak ini siapa penguasa teritorial di sini," ucap Zayn mutlak.
...----------------...
Ratusan murid SMA Pelita langsung berbondong-bondong memadati tribun lapangan basket indoor yang megah. Kabar tanding satu lawan satu antara Zayn Dominic sang singa penguasa sekolah dengan Christian Narendra sang angin baru dari London menyebar bagai api dalam hitungan menit. Bahkan Leo, Arkan, dan Kevin ikut berdiri di pinggir lapangan sebagai saksi.
Elva duduk di barisan paling depan tribun VIP, meremas jemarinya sendiri dengan perasaan cemas yang luar biasa. Matanya tidak lepas dari Zayn yang kini sudah melepas jaket kulit hitamnya, menyisakan kaos oblong hitam polos yang membungkus otot-otot lengannya yang kekar. Di seberang lapangan, Christian juga sudah melepas kemeja seragamnya, menyisakan kaos dalam olahraga abu-abu tegap.
"Ayo, mulai," ketus Zayn dingin, melemparkan bola basket ke arah Christian untuk memberikan hak bola pertama.
PRRREEEET! Kevin bertindak sebagai wasit dadakan, meniup peluit dengan keras.
Pertandingan dimulai dengan intensitas yang sangat tinggi. Christian langsung melakukan gerakan crossover yang sangat cepat dan lincah, memanfaatkan postur atletisnya untuk melewati penjagaan Zayn. Dengan satu lompatan mulus, Christian melakukan lay-up dan mencetak poin pertama.
"Poin pertama buat London!" teriak Kevin bersemangat.
Zayn hanya mendengus sinis. Sifat kompetitif dan arogansinya sebagai kapten tim basket terusik seutuhnya. Begitu bola berpindah ke tangannya, Zayn melakukan dribble rendah yang sangat bertenaga.
Tubuh tegapnya menabrak barikade pertahanan Christian tanpa belas kasihan. Dengan gerakan memutar tubuh (spin move) yang luar biasa akurat, Zayn melompat tinggi dan melakukan slam dunk keras yang membuat ring basket bergetar hebat.
BRAKK!
"Satu sama!" seru Arkan di pinggir lapangan.
Pertandingan berjalan semakin sengit dan cenderung kasar. Kedua cowok itu saling beradu fisik di bawah ring. Keringat bercucuran membasahi tubuh tegap mereka, membuat kaos yang mereka kenakan melekat erat di dada. Christian terbukti sebagai lawan yang sangat tangguh; akurasi tembakan tiga poinnya berkali-kali menyamakan kedudukan, menantang dominasi mutlak Zayn.
Setiap kali salah satu dari mereka mencetak poin, pandangan mereka secara bersamaan akan melirik ke arah tribun tempat Elva duduk. Pertandingan ini bukan lagi sekadar kompetisi olahraga biasa di hari-hari sekolah mereka, melainkan perebutan gengsi atas teritorial kekuasaan dan perhatian sang mentari kecil.
Skor berjalan ketat hingga menyentuh angka 14-14. Poin penentu.
Napas kedua cowok itu memburu hebat. Zayn memegang bola di garis tengah lapangan, sepasang mata elangnya mengunci pergerakan Christian yang memasang posisi bertahan dengan sangat rapat.
"Gue akuin lo hebat, anak baru," desis Zayn dengan napas yang terengah-engah, namun senyuman tipis yang dingin terukir di wajah tampannya.
"Tapi lo salah kalau mikir bisa merebut apa yang sudah jadi milik gue secara mutlak di sekolah ini. Terutama... Elva."
Christian menyipitkan mata hazel-nya, memperketat jarak penjagaan mereka. "Kita liat aja, Zayn. Di dunia ini, nggak ada perlindungan yang abadi kalau lo nggak bisa ngejaga celahnya."
Zayn tiba-tiba melakukan pergerakan kilat ke arah kanan, memancing Christian untuk menggeser tubuhnya. Namun, itu hanyalah kecohan. Dengan fleksibilitas tubuh yang luar biasa, Zayn melakukan step-back mundur satu langkah ke belakang garis tiga poin, lalu melompat tinggi ke udara dengan gerakan menembak yang sangat estetis dan sempurna (fadeaway shoot).
Bola meluncur indah membentuk busur di udara, membelah keheningan lapangan indoor yang menahan napas.
SWISH!
Bola masuk dengan mulus tanpa menyentuh bibir ring sama sekali tepat saat peluit akhir ditiup oleh Kevin. 15-14. Zayn Dominic keluar sebagai pemenang mutlak.
Tribun langsung pecah oleh sorak sorai riuh para murid. Zayn berdiri tegap di tengah lapangan dengan dada yang naik-turun memburu napas, menatap Christian yang kini bertumpu pada kedua lututnya sambil tersenyum getir, mengakui kekalahannya secara jantan.
Zayn tidak merayakan kemenangannya bersama murid-murid lain. Dia langsung membalikkan badan, melangkah lebar menaiki anak tangga tribun menuju tempat Elva berada. Tanpa memedulikan ratusan pasang mata yang menonton, Zayn meraih handuk putih dari tangan Elva, lalu dengan gerakan impulsif ditariknya tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapan hangat dadanya yang bidang dan basah oleh keringat.
"Z-Zayn... kamu keringetan," cicit Elva dengan wajah yang merona merah sempurna karena malu dipeluk di depan umum.
Zayn tidak melepaskan pelukan posesifnya. Dia justru menyandarkan dagunya di atas puncak kepala Elva, matanya melirik tajam ke arah Christian di bawah lapangan yang sedang menatap ke arah mereka.
"Biarin. Biar semua orang di sini tahu, terutama anak baru itu... kalau lo itu cuma punya gue, Elva. Dan rekor gue nggak akan pernah patah kalau urusannya buat ngejaga lo," ucap Zayn tegas, suara beratnya bergetar penuh kepemilikan yang mutlak.