NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Drama Pagi dan Meja Bundar

Matahari pagi Valerika menembus tirai tipis The Obsidian, memantulkan cahaya keemasan yang berkilau di atas permukaan meja marmer hitam dapur bersih.

Bagi Alea Corisand, pagi hari adalah wilayah sakral yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun.

Dia terbiasa bangun tepat pukul lima pagi, melakukan beberapa gerakan yoga ringan untuk menjaga kebugaran tubuhnya, lalu menikmati sarapan dalam keheningan total sebelum bersiap menghadapi tekanan dunia korporasi.

Namun, status barunya sebagai "istri di atas kertas" langsung merusak privasi itu pada hari pertama mereka tinggal bersama.

Alea, yang pagi itu mengenakan jubah tidur sutra sewarna sampanye yang longgar dengan rambut hitamnya yang dicepol asal, sedang berdiri di depan mesin kopi otomatis.

Tangannya bergerak lincah menata cangkir, menunggu cairan hitam pekat itu memenuhi wadahnya.

Tepat saat aroma arabika yang kuat mulai menguar memenuhi ruangan, pintu koridor bagian timur terbuka dengan bunyi klik halus.

Adrian Hutama melangkah keluar dari sana.

Pria itu hanya mengenakan celana kain santai berwarna hitam dan kaus singlet sewarna yang mengekspos lekuk lengan serta bahu kokohnya yang tegap.

Rambutnya berantakan tipis, khas orang yang baru saja membuka mata, namun sialnya bagi Alea, pria itu tetap terlihat sangat tampan bahkan tanpa usaha sama sekali.

Alea refleks membalikkan badan, sedikit terkejut dengan kehadiran sosok asing di wilayah paginya yang biasanya sepi. Kedua alisnya bertaut.

"Kamu sudah bangun?"

Adrian menghentikan langkahnya sejenak, mengucek matanya pelan sebelum menatap Alea dengan pandangan setengah mengantuk.

"Aroma kopimu bisa membangunkan orang mati dari kubur, Nona Corisand," sahut Adrian dengan suara berat yang serak khas bangun tidur.

Dia berjalan mendekati konter dapur tanpa rasa canggung sedikit pun, lalu meraih selembar cangkir keramik kosong dari rak gantung.

"Boleh aku minta satu bagian?"

Alea mengernyitkan alisnya semakin dalam, menatap cangkir di tangan Adrian dengan pandangan tidak suka.

"Aturan nomor dua di kontrak kita: kita tidak mencampuri urusan domestik masing-masing. Buat kopimu sendiri, Tuan Hutama. Bahan-bahannya ada di kabinet sebelah kanan."

Adrian tidak mundur.

Alih-alih menjauh, dia justru terkekeh rendah.

Suara tawanya yang berat terdengar seksi di pagi hari yang sunyi ini, dan lesung pipinya mengintimp samar di sisi wajahnya.

Pria itu melangkah maju satu depa lagi, membuat jarak di antara tubuh mereka terkikis hingga menyisakan ruang yang sangat sempit.

Alea bisa merasakan embusan napas hangat Adrian yang beraroma mint samar dari pasta gigi yang baru digunakannya.

"Ayo-lah, Alea. Kita sudah hidup di bawah satu atap sekarang," ujar Adrian dengan nada merayu yang santai, matanya menatap lurus ke dalam manik mata cokelat jernih milik Alea.

"Berbagi beberapa mililiter kopi hitam tidak akan merusak klausul kontrak bisnis bernilai miliaran dolar kita, kan? Lagi pula, mesin kopi ini terlalu rumit untuk otakku yang belum sepenuhnya sinkron dengan bumi."

"Ini soal prinsip dan konsistensi, Adrian," tegas Alea.

Dia berusaha keras mengabaikan kedekatan fisik mereka yang mendadak membuat area dapur luas ini terasa begitu sempit dan intim.

Dia mengulurkan tangannya untuk meraih teko kaca berisi kopi yang baru saja selesai menetes.

Namun, di saat yang bersamaan, tangan Adrian juga bergerak maju untuk tujuan yang sama.

Deg.

Kulit tangan mereka bersentuhan di atas gagang teko kaca, terasa hangat, kasar, dan menyengat seperti sengatan listrik statis yang mengejutkan.

Alea tertegun diam selama satu detik penuh, matanya terpaku pada tangan Adrian yang besar dan kokoh yang kini mengunci pergerakan jemarinya.

Adrian pun menghentikan gerakannya.

Udara di sekitar mereka seolah-olah mendadak berhenti berputar.

Tatapan mata elang Adrian turun, menatap bibir ranum Alea yang polos tanpa riasan lipstik, sebelum kembali mengunci sepasang mata jernih wanita itu dengan intensitas yang berbeda.

Ada ketegangan aneh yang mendadak muncul di antara mereka, bukan karena surat teror mesin tik semalam, melainkan karena getaran primitif yang tidak bisa dijelaskan oleh logika ataupun analisis korporasi mereka yang dingin.

Alea dengan cepat menarik tangannya mundur, berdeham pelan beberapa kali untuk menguasai kembali detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan.

"Ambil saja," ujarnya dengan nada ketus, berusaha menyembunyikan kepanikannya.

"Tapi besok, pastikan kamu membeli mesin kopimu sendiri untuk ditaruh di koridor timur."

Adrian tersenyum penuh kemenangan, menuangkan cairan hitam itu ke dalam cangkirnya dengan gerakan elegan.

"Terima kasih banyak atas kemurahan hatimu, Istriku."

"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu di dalam rumah ini, Adrian Hutama!" desis Alea tajam, matanya berkilat marah sebelum dia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan area dapur dengan langkah tergesa-geda.

Adrian menatap punggung Alea yang menjauh sambil menyesap kopinya perlahan.

Senyuman tipis terukir di bibirnya.

Drama pagi itu sukses mengacaukan ketenangan sang ratu media, dan entah mengapa, Adrian merasa hari pertamanya berjalan sangat menarik.

Siang harinya, atmosfer santai dan penuh candaan itu sepenuhnya lenyap tak berbekas.

Sebuah restoran privat berdesain gothic-modern yang terletak di pusat distrik finansial Valerika menjadi saksi dari pertemuan paling canggung dan menegangkan abad ini.

Sebuah meja bundar besar di sudut ruangan yang terisolasi mempertemukan empat orang dari kalangan elit tertinggi kota: Alea, Adrian, Julian, dan Bianca.

Suasana di sekitar meja itu terasa begitu dingin dan kaku, seolah-olah pendingin ruangan disetel ke suhu minus.

Bahkan bunyi denting garpu dan pisau perak di atas piring porselen terdengar seperti dentang senjata yang siap beradu di medan perang.

Alea duduk berdampingan dengan Adrian di satu sisi meja karena tuntutan formalitas tempat umum; mereka harus terlihat seperti pasangan pengantin baru yang serasi di mata para pelayan restoran.

Sementara itu, Julian dan Bianca duduk di hadapan mereka masing-masing, menciptakan sebuah formasi persegi yang aneh.

Di atas kertas, posisi ini terlihat sempurna bagi publik, namun secara emosional, garis sekutu mereka bersilang diagonal dengan sangat rumit.

"Jadi..." Bianca membuka suara lebih dulu setelah pelayan menuangkan anggur putih ke gelas mereka.

Wanita itu melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Alea dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai yang sarat akan kecemburuan wanita.

"Ini pertama kalinya kita duduk bersama setelah pernikahan mendadak yang menghebohkan seluruh Valerika kemarin. Aku harus mengakui, Alea, gaun pengantin sutra yang kamu kenakan kemarin lumayan anggun. Meskipun... yah, agak terlalu kaku dan tertutup untuk seleraku yang menyukai desain modern."

Alea mengangkat gelas anggurnya, memutarnya pelan sebelum menyesapnya sedikit.

Dia tersenyum tipis, tipe senyuman bisnis yang biasa dia gunakan untuk menyambut kompetitor arogan yang mencoba menggertaknya.

"Terima kasih atas pujiannya, Bianca. Sebagai seorang pemimpin perusahaan, aku memang lebih mengutamakan kenyamanan, fungsi, dan kelas, daripada sekadar potongan kain yang berlebihan namun kurang memiliki esensi."

Adrian berdeham pelan, merasakan percikan api yang mulai memercik hebat di antara kedua wanita di dekatnya.

Dia tahu jika dibiarkan, meja ini bisa berubah menjadi medan perang verbal dalam hitungan menit.

Pria itu memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan, beralih menatap Julian yang sejak tadi duduk diam, meskipun pancaran matanya tampak menegang setiap kali melihat jarak duduk Adrian dan Alea yang terlalu rapat hingga lengan mereka sesekali bersentuhan.

"Julian," Adrian mengangguk hormat, membuka konfrontasi dengan cara yang jantan.

"Terima kasih banyak karena kamu sudah meluangkan waktu di sela kesibukan galerimu untuk datang ke sini. Kurasa, kita semua yang berada di meja ini perlu memperjelas status dan membuat batasan yang transparan, agar tidak ada kesalahpahaman yang tidak perlu selama enam bulan ke depan."

Julian menegakkan posisi duduknya, meletakkan serbet kainnya di atas meja lalu menatap Adrian lurus-lurus dengan tatapan mata yang tak kalah tajam.

"Tentu saja, Adrian. Aku sangat menghargai inisiatif pertemuan ini. Alea sudah menceritakan seluruh detail klausul wasiat itu kepadaku tanpa ada yang ditutupi. Bagiku, pernikahan ini murni sebuah restrukturisasi aset jangka pendek demi menyelamatkan posisi saham gabungan keluarga Corisand. Aku mendukung penuh keputusannya sebagai kekasih yang mempercayainya secara mutlak." Julian sengaja memberikan penekanan yang sangat tebal pada kata 'kekasih', seolah ingin menegaskan wilayah kekuasaannya yang sah.

"Aku juga sangat mempercayai Adrian-ku," Bianca menimpali dengan cepat, tidak mau kalah.

Dia menjangkau lengan Adrian di atas meja, menggenggam jemari pria itu dengan gerakan yang sangat posesif agar bisa dilihat oleh Julian dan Alea.

"Adrian sudah bersumpah padaku bahwa ini semua hanya formalitas hukum demi menyelamatkan Hutama Industries dari dewan komisaris yang serakah. Kami bahkan sudah merencanakan liburan romantis ke Eropa setelah drama enam bulan ini selesai, kan, Sayang?" Bianca menatap Adrian dengan mata berbinar penuh harap.

Adrian tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Bianca secara refleks sebagai bentuk penenangan.

"Tentu saja, Bianca. Semua akan kembali seperti semula setelah kontrak ini selesai."

Alea melirik sekilas ke arah tangan Adrian dan Bianca yang saling bertautan di atas meja marmer. Entah karena alasan apa, ada rasa tidak nyaman yang mendadak mencubit ulu hatinya secara tiba-tiba, sebuah reaksi fisik yang aneh dan tidak masuk akal, padahal akal sehatnya tahu betul bahwa Adrian bukan siapa-siapa baginya.

Untuk menyembunyikan riak emosi asing itu, Alea buru-buru meminum air putihnya, lalu meletakkan gelas kristal itu dengan ketukan yang tegas di atas meja, mengambil alih kendali pembicaraan dengan aura kepemimpinannya yang kuat.

"Baiklah, karena semua pihak yang berkepentingan di sini sudah berada di frekuensi dan pemahaman yang sama, mari kita perjelas aturan mainnya agar hidup kita lebih mudah," kata Alea, suaranya terdengar dingin, jernih, dan sangat profesional layaknya seorang CEO.

"Di depan publik, media, dan keluarga besar kami, aku dan Adrian akan berakting sebagai pasangan suami-istri yang sah dan harmonis. Kami akan menghadiri acara gala, pesta amal, dan pertemuan bisnis bersama demi menjaga stabilitas pasar saham kedua perusahaan agar tidak bergejolak. Namun, di kehidupan privat, status kita berempat tetap mutlak tidak berubah. Aku adalah milik Julian, dan Adrian adalah milik Bianca."

"Dan satu hal lagi yang perlu kalian ketahui untuk menenangkan pikiran kalian," Adrian menambahkan, melepaskan genggaman tangan Bianca secara halus untuk menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulitnya yang nyaman.

"Di dalam dinding penthouse The Obsidian, kami hidup sebagai dua orang rekan kerja profesional yang kebetulan berbagi biaya sewa tempat. Kamar kami terpisah jauh di koridor yang berbeda, privasi mutlak dihormati, dan tidak ada hubungan personal atau kontak fisik apa pun di antara kami setelah jam malam dimulai. Jadi, kalian berdua tidak perlu mengkhawatirkan apa yang terjadi di balik pintu yang tertutup."

Julian mengangguk perlahan, bahunya yang semula tegang kini tampak sedikit lebih rileks setelah mendengar penegasan langsung dari mulut Adrian Hutama sendiri.

"Enam bulan. Kita hanya perlu mengontrol emosi dan melewati enam bulan ini dengan kepala dingin demi masa depan yang lebih besar."

"Setuju," sahut Bianca sambil tersenyum puas, merasa posisinya sebagai kekasih utama Adrian tetap aman dan tidak terancam oleh kehadiran sang pewaris Corisand.

Pertemuan itu pun berlanjut dengan hidangan utama yang disajikan oleh pelayan.

Obrolan-obrolan formal seputar dunia seni Julian dan bisnis fashion Bianca mulai mengalir, berusaha mencairkan kekakuan yang sempat membekukan meja bundar tersebut.

Di permukaan, segalanya kini tampak sudah sangat jelas, transparan, rapi, dan disepakati bersama oleh semua pihak tanpa ada rahasia yang tersisa.

Namun, kedamaian semu itu tidak bertahan lama.

Saat pelayan datang kembali untuk mengantarkan hidangan penutup berupa chocolate lava cake, Adrian merasakan ponsel pribadinya yang berada di dalam saku dalam jasnya bergetar konstan.

Dia mengeluarkan ponsel itu secara sembunyi-sembunyi di bawah meja, menggeser layarnya yang menyala terang, dan seketika itu juga seluruh darah di wajahnya seolah tersedot turun.

Ada sebuah pesan masuk dari nomor acak yang tidak dikenal.

Pesan itu tidak berisi teks biasa, melainkan sebuah lampiran foto.

Adrian membuka foto tersebut, dan matanya membelalak tak percaya.

Foto itu adalah sebuah jepretan gambar candid beresolusi tinggi yang diambil dari sudut tersembunyi di lantai atas restoran privat tempat mereka makan saat ini.

Foto itu menampilkan dengan sangat jelas mereka berempat, Adrian, Alea, Julian, dan Bianca yang sedang duduk melingkari meja bundar dengan ekspresi wajah mereka yang kaku.

Di bawah foto yang mengerikan itu, terdapat sebuah baris teks singkat yang diketik dengan rapi:

"Meja bundar yang sangat indah, Tuan Hutama. Dua kekasih sejati, dua sandiwara pernikahan, dan satu kebohongan besar yang siap meledak ke publik. Berhati-hatilah saat berbicara di tempat umum, karena bahkan dinding restoran mewah ini pun ternyata memiliki mata dan telinga yang bekerja untukku."

Adrian tertegun di kursinya, tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Pandangan matanya yang tajam langsung bergerak cepat, menyapu setiap sudut langit-langit ruangan, pilar-pilar batu, hingga ke arah kaca pembatas restoran yang privat dan dijaga ketat oleh pengawal pribadi di luar pintu.

Siapa pun pengirim misterius ini, dia tidak hanya berhasil menembus keamanan ketat apartemen The Obsidian semalam, melainkan dia ada di sini, di ruangan ini, memata-matai setiap gerak-gerik mereka secara langsung real-time.

Adrian melirik ke arah Alea yang saat ini sedang tersenyum tipis, tampak anggun mendengarkan cerita Julian tentang pameran lukisan terbarunya.

Di dalam dada Adrian, rasa cemas yang pekat bersatu dengan naluri protektif maskulinnya yang mendadak bangkit secara agresif.

Permainan petak umpet ini jauh lebih berbahaya dan terencana daripada yang mereka duga sebelumnya.

Dan status hubungan mereka berempat yang baru saja diperjelas dengan rapi di atas meja ini, tampaknya berada di ambang kehancuran total bahkan sebelum bulan pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.

Adrian meremas ponselnya kuat-kuat di bawah meja, bersiap menghadapi badai misteri yang kini resmi mengancam nyawa dan reputasi mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!