Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Jeruji Posesif Sang Tuan Muda
BAB 4: Jeruji Posesif Sang Tuan Muda
Jarum jam di dinding ruang tamu baru menunjukkan pukul enam sore lewat empat puluh lima menit, namun atmosfer di dalam rumah sederhana itu terasa begitu mencekik. Siska masih mengurung diri di dalam kamar sejak siang, sesekali suara banting barang atau tangisan frustrasinya masih terdengar samar. Sementara itu, Bu Rahma duduk di sofa penjalin, menatap Luna yang sedang merapikan tas kerjanya dengan pandangan yang teramat sinis.
"Mau ke mana lagi kamu, Luna? Kakakmu sedang menderita di dalam kamar, dan kamu malah mau kelayapan?" sindir Bu Rahma, melipat kedua tangannya di dada.
Luna menghentikan gerakannya sejenak, menelan ludah kelat demi mengusir rasa sesak. "Ada urusan lembur mendadak di kantor, Bu. Luna harus pergi sekarang."
"Halah, lembur atau sengaja mau menghindar? Dasar anak tidak punya empati. Ingat ya Luna, kalau bukan karena kakakmu yang dulu melimpahkan uang belanja saat masih jadi istri Devano, kamu tidak akan bisa kuliah dan bekerja senyaman ini!"
Kalimat ibunya terasa seperti sembilu yang menyayat hati. Luna tidak menjawab. Dia memilih melangkah keluar rumah dengan cepat, menutup pintu pagar besi yang berkarat di belakangnya.
Luna berjalan menyusuri gang sempit yang remang-remang dengan lutut yang bergetar hebat. Di ujung gang, sebuah sedan hitam mewah dengan kaca yang sangat gelap sudah terparkir rapi di bawah temaram lampu jalan. Begitu langkah kaki Luna mendekat, seorang pria paruh baya berpakaian rapi—sopir pribadi Devano—langsung keluar dan membukakan pintu belakang tanpa sepatah kata pun.
Luna masuk ke dalam mobil dengan perasaan seperti seorang tahanan yang sedang dijemput menuju tiang gantungan. Di dalam mobil, dia sendirian. Devano tidak ada di sana.
Sepanjang perjalanan, kota Jakarta di luar jendela tampak kabur di mata Luna. Pikiran gadis itu melayang pada ancaman mengerikan yang dikirimkan mantan kakak iparnya beberapa jam lalu. Mengapa Devano berubah menjadi sekejam ini? Pria yang dulu selalu bersikap ramah, sopan, dan hangat saat bertamu sebagai suami Siska, kini menjelma menjadi sosok iblis yang siap menghancurkannya kapan saja.
Mobil akhirnya berhenti di pelataran parkir sebuah gedung pencakar langit raksasa di kawasan segitiga emas. Gedung pusat Devano Group. Jam kantor sudah usai, membuat lobi gedung yang megah itu tampak sepi dan lengang.
Luna dituntun oleh sang sopir menaiki lift khusus, langsung menuju lantai paling atas, tempat ruang kerja pribadi sang CEO berada.
Bip. Pintu lift terbuka. Sopir itu hanya mengantarkan Luna sampai di depan pintu jati besar yang tertutup rapat, lalu menunduk hormat dan pergi meninggalkan Luna sendirian dalam keheningan koridor yang sunyi.
Dengan tangan yang dingin dan gemetar, Luna memberanikan diri mengetuk pintu, lalu mendorongnya perlahan. "M-Mas Devano..."
Ruangan kerja itu sangat luas, namun hanya diterangi oleh lampu meja dan pendaran cahaya dari layar monitor besar. Di balik meja kerja kaca yang megah, Devano sedang duduk bersandar. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memamerkan urat-urat menonjol di lengan kokohnya. Sebuah kacamata baca bertengger di hidung mancungnya, memberikan kesan cerdas, dingin, sekaligus sangat intimidatif.
Devano tidak langsung menyahut. Dia sengaja membiarkan keheningan yang menyiksa menyergap Luna selama beberapa menit, sementara matanya tetap fokus membaca berkas di atas meja. Setiap detak jarum jam di ruangan itu terdengar seperti siksaan bagi Luna.
Setelah beberapa saat, Devano melepas kacamatanya, meletakkannya dengan ketukan pelan di atas meja. Mata elangnya yang tajam dan kelam kini menghujam lurus ke arah Luna yang berdiri kaku di dekat pintu.
"Kemari," perintah Devano. Suaranya bariton, rendah, dan bergaung dingin di ruangan yang sepi.
Luna melangkah dengan ragu, mengikis jarak di antara mereka hingga dia kini berdiri tepat di depan meja kerja pria itu.
Devano bangkit dari kursi kebesarannya. Langkah kakinya yang tegap terdengar berat saat dia berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di hadapan Luna. Aura dominasi pria ini begitu kuat, membuat Luna secara refleks menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata yang penuh dengan kabut kegelapan itu.
Tiba-tiba, jari-jari kokoh Devano mencengkeram dagu Luna, memaksa gadis itu untuk mendongak menatapnya. Luna meringis pelan, bisa merasakan cengkeraman itu tidak lagi selembut semalam. Ada amarah murni yang membara di balik manik mata Devano.
"Di mana kartu yang kuberikan tadi pagi?" tanya Devano dingin, napasnya yang hangat berembus di wajah Luna.
"Aku meninggalkan kartunya di hotel, Mas. Aku tidak butuh uangmu. Harga diriku tidak bisa kamu beli dengan uang," jawab Luna, mencoba menyuarakan sisa-sisa keberaniannya meski suaranya bergetar.
Mendengar jawaban itu, Devano justru terkekeh sinis. Tawa yang terdengar sangat kering dan menyakitkan. Pria itu melepaskan cengkeramannya di dagu Luna, lalu mulai berjalan pelan mengitari tubuh Luna, seolah sedang mengitari mangsa yang sudah terpojok.
"Harga diri?" desis Devano, suaranya sarat akan kepahitan dan dendam yang mendalam. "Keluargamu tahu apa tentang harga diri, Luna? Kakak kandungmu... Siska... dia membuang pernikahan kami seperti sampah setelah dia menguras aset perusahaanku demi membiayai selingkuhannya di luar negeri! Dia bersenang-senang di atas penderitaanku, menginjak-injak harga diriku sebagai seorang pria, sebagai seorang suami!"
Devano kembali berhenti di depan Luna. Wajahnya mengeras, rahangnya mengetat menahan amarah yang meletup-letup setiap kali mengingat pengkhianatan Siska.
"Keluargamu sudah menghancurkan hidupku, Luna. Ibumu selalu menuntut harta, dan kakakmu memperlakukan aku seolah aku ini hanya mesin uang yang bodoh! Dan sekarang... setelah jalang itu dicampakkan oleh selingkuhannya, dia menangis dan ingin kembali padaku?" Devano mencengkeram kedua bahu Luna, sedikit mengguncangnya dengan napas yang memburu cepat. "Dia pikir aku ini apa?! Tempat penampungan barang bekas?!"
Luna meneteskan air mata, bisa merasakan rasa sakit, kehancuran, dan dendam yang teramat luar biasa dari setiap kata yang keluar dari mulut Devano. "Kalau kamu benci pada Kak Siska... kenapa harus aku yang kamu siksa seperti ini, Mas? Apa salahku padamu?" Lirih Luna bersimbah air mata.
Devano terdiam sejenak. Matanya menatap lekat-lekat pada bibir Luna yang bergetar, lalu turun ke arah leher jenjang Luna yang tertutup rapat oleh kerah kemeja tinggi. Dengan gerakan perlahan namun tegas, jemari Devano membuka satu kancing teratas kemeja Luna, menyingkap kainnya sedikit hingga memperlihatkan bercak kemerahan pekat yang dia buat semalam di kulit mulus gadis itu.
Melihat jejak kepemilikannya, amarah di mata Devano perlahan melebur, berganti dengan kilatan gairah gelap yang sangat pekat.
"Salahmu?" Bisik Devano, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, serak, dan berbahaya. Dia memajukan tubuhnya, menekan tubuh Luna hingga punggung gadis itu membentur pinggiran meja kerja kaca yang dingin. "Salahmu adalah karena kamu membiarkan dirimu terlihat begitu polos di depanku semalam. Salahmu adalah karena tubuhmu... wangimu... dan desahanmu semalam, telah membuatku kecanduan dan melupakan rasa sakit hatiku sejenak."
Devano menundukkan kepalanya, menempelkan hidungnya di ceruk leher Luna, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Luna yang murni tanpa campuran parfum mahal seperti Siska. Sentuhan bibir Devano yang basah menyapu bekas kemerahan di leher Luna, membuat Luna refleks melenguh pelan dan meremas ujung meja kerja untuk menahan tubuhnya yang mendadak lemas kepayang.
"Mas... j-jangan..." lirih Luna menahan sensasi nikmat yang mulai menjalar kembali ke tubuhnya.
Devano mengabaikan tolakan lemah itu. Dia menarik tubuhnya sedikit, lalu meraih sebuah berkas tebal bersampul kulit yang sejak tadi tergeletak di atas meja kerja. Dengan gerakan sentak, dia melemparkan berkas itu tepat di depan dada Luna.
"Tanda tangani itu," perintah Devano, suaranya kembali sedingin es.
Luna menatap berkas itu dengan pandangan kabur karena air mata. Di halaman depan, tertulis sebuah judul dengan huruf cetak tebal: SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.
"P-pernikahan kontrak?" Luna terbelalak syok, menatap Devano tidak percaya. "Kamu gila, Mas? Kak Siska ingin rujuk dengamu, dan kamu malah ingin menikahiku secara kontrak?!"
Devano menumpu kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Luna, mengunci gadis itu di atas meja kerja, mempersempit jarak wajah mereka hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Aku tidak sudi menyentuh kembali wanita bekas pria lain seperti kakakmu. Menjijikkan," desis Devano dengan nada kejam. "Tapi kamu... kamu masih suci, Luna. Dan kamu sudah telanjur menjadi candu baru untukku. Tanda tangani kontrak satu tahun ini, jadilah istri rahasia di kamarku, atau besok pagi... video berdurasi lima menit saat kamu mendesah memohon ampun di bawah tubuhku semalam, akan mendarat di ponsel ibumu dan grup obrolan keluarga besarmu."
Luna membeku seketika. Ancaman itu hancur menghantam seluruh dunianya. Tangannya yang dingin kini memegang pena yang disodorkan Devano, sementara pria itu menatapnya dengan senyuman kemenangan yang teramat dingin dan posesif dari atas tubuhnya.