Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terobosan Kecil
Tetua Chen dan yang lainnya menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. Mereka lalu duduk di rerumputan, mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah pertempuran malam itu. Bai Feng mengeluarkan kain dan pil luka dari cincin penyimpanannya, lalu membantu membalut luka di lengan Tetua Chen. Dua murid lain membersihkan goresan-goresan di kaki dan punggung mereka. Lin Tian duduk di samping, memeriksa pedang peraknya yang mulai tergores di beberapa bagian.
Dari kejauhan suara gerakan kapal spiritual terdengar. Sebuah kapal biru laut turun perlahan di area lapang dekat sungai, layar Qi-nya berkibar lembut. Li Wei turun lebih dulu, diikuti beberapa murid lain yang ikut bersamanya mengantar warga kemarin.
Li Wei menghampiri Tetua Chen lalu menangkupkan tangan.
"Tetua, saya dapat informasi dari tim lain melalui giok komunikasi. Serangan di Bukit Kapur bisa diredam tadi malam. Berkat Ratu yang datang."
Tetua Chen tertegun sejenak, matanya membeliak. "Ratu... turun ke Bukit Kapur juga?"
"Iya, Tetua. Tim di sana melaporkan hal yang sama. Ratu muncul, melenyapkan semua makhluk kegelapan dalam sekejap, lalu pergi," jawab Li Wei dengan nada kagum.
Tetua Chen menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Luar biasa. Ratu rela turun sendiri hanya sekadar untuk melihat, tapi tetap meninggalkan bekas bahwa beliau pernah datang. Kita benar-benar berada di bawah lindungan orang besar."
Semua murid mengangguk setuju.
Lin Tian yang mendengar dari kejauhan hanya diam. Ia tidak ikut berkomentar tentang Ratu Liu Mei. Kecantikan wanita itu memang hampir menyamai ibunya... hampir. Tapi itu tidak penting menurutnya.
Setelah bertukar informasi... mereka semua naik ke kapal spiritual, lalu kapal itu melesat cepat meninggalkan Lembah Sungai Selatan.
Di geladak kapal, Lin Tian berdiri di sisi kanan, menatap awan-awan yang bergerak cepat di sekitarnya. Angin membasuh wajahnya, membuat jubah putihnya berkibar.
Bai Feng menghampiri dari belakang. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi matanya berbinar-binar.
"Lin Tian, Ratu Liu Mei cantik sekali, kan? Aku sangat yakin dia wanita paling cantik di benua ini. Tidak ada tandingannya."
Lin Tian berbalik menatap Bai Feng lalu menggeleng pelan. "Tidak perlu memikirkan hal-hal sepele. Fokus saja mempersiapkan diri. Kita tidak tahu kapan serangan akan datang lagi."
Bai Feng menghela napas panjang. "Baiklah, baiklah, kau benar. Tapi setidaknya akui sedikit bahwa dia cantik!"
Lin Tian hanya tersenyum tipis lalu kembali menatap ke kejauhan.
Kapal terus melesat cepat melewati pegunungan dan lembah. Satu hari penuh mereka berada di udara, bergantian beristirahat di ruang dalam kapal. Tak terasa kapal mulai menurunkan ketinggian saat matahari tepat di atas kepala keesokan harinya. Sekte Ombak Biru terlihat dari kejauhan, gerbangnya menyambut mereka dengan hangat.
Kapal mendarat di lapangan utama.
Tetua Chen turun lebih dulu lalu mengumumkan.
"Kalian semua boleh istirahat dua hari. Manfaatkan waktu ini sebaik-baiknya. Pulihkan tenaga dan kultivasi kalian."
Seluruh murid bersorak pelan lalu bubar ke asrama masing-masing.
Dua hari berlalu.
Lin Tian memanfaatkan waktu itu untuk bersantai di halaman belakang asrama, meminum teh sambil membaca buku catatan kecil milik Kakek Han. Tapi ia tidak lupa berkultivasi. Setiap pagi dan sore ia duduk bersila, merasakan aliran Qi dalam tubuhnya.
Pada malam hari kedua, saat semua murid sudah tertidur, Lin Tian duduk di atas dipan dengan mata terpejam. Qi di dalam tubuhnya terasa bergolak, seperti air sungai yang mencari jalan keluar dari bendungan. Ia sudah menahan ini cukup lama, menunggu saat yang tepat.
"Terobos!" ucap Lin Tian pelan.
KRAAK!
Dinding di dalam kultivasinya pecah. Energi segar membanjiri setiap meridian, melebar dan memperkuat fondasi yang sudah ada. Lin Tian merasakan tubuhnya bergetar beberapa saat sebelum akhirnya tenang. Ia membuka mata, menyadari bahwa dirinya kini berada di Pendirian Fondasi tahap menengah.
Lin Tian melihat ke luar jendela. Langit masih gelap pekat, belum sepenuhnya pagi. Ia menarik napas dalam-dalam lalu kembali memejamkan mata, kali ini untuk menstabilkan fondasi barunya.
Keesokan harinya Bai Feng datang dengan wajah berseri-seri. Pria tambun itu hampir menendang pintu kamar Lin Tian.
"Lin Tian! Aku berhasil! Aku menerobos ke tahap menengah!" seru Bai Feng sambil melompat-lompat kecil.
Lin Tian yang sedang duduk bersila membuka mata lalu tersenyum. "Aku juga."
Mata Bai Feng membelalak. "Apa...? Kau juga naik tingkat?"
Lin Tian mengangguk. "Iya, itu benar."
Bai Feng tertawa keras lalu menepuk-nepuk bahu Lin Tian dengan semangat.
"Mungkin karena kita kemarin bertarung hidup dan mati. Kultivasi jadi melunak dan membuat kita mudah menerobos. Pengalaman tempur sejati memang berbeda dengan latihan di sekte."
"Kau benar," jawab Lin Tian sambil bangkit berdiri.
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, langkah kaki cepat terdengar dari lorong asrama.
Seorang murid wanita berjubah biru muncul di pintu. Tubuhnya ramping, rambutnya diikat ke belakang dengan pita berwarna perak. Wajahnya memang cantik, tapi ekspresinya galak dan matanya menyipit tajam ke arah Lin Tian dan Bai Feng.
"Itu kakak senior Xiachu. Cantik, galak, dan cerewet," bisik Bai Feng ke telinga Lin Tian dengan suara nyaris tidak terdengar.
Xiachu matanya tajam, lalu meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Kalian berdua! Sekte Mutiara Langit datang bertamu. Semua murid harus berkumpul di lapangan utama sekarang juga. Jangan membuatku mengulang perintah!"
Bai Feng segera menangkupkan tangan dengan hormat, senyum lebarnya melebar.
"Kakak Senior Xiachu yang terhormat... kenapa kakak senior sendiri yang datang memberitahu kami? Banyak murid baru lainnya yang bisa dipanggil. Atau mungkin kakak senior..."
Xiachu memotong dengan suara lebih keras. "Cepat lah! Aku tidak punya waktu untuk omong kosongmu!"
Tanpa menunggu jawaban, Xiachu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan mereka.
Bai Feng tersenyum canggung pada Lin Tian.
"Karakternya dia memang begitu. Tapi sebenarnya baik hati."
Lin Tian hanya menggeleng. "Ayo cepat. Jangan sampai kita terlambat."
Mereka berdua bergegas keluar asrama, berjalan cepat melewati lorong batu menuju lapangan utama. Di sepanjang jalan, murid-murid lain juga terlihat berlarian ke arah yang sama, wajah mereka penuh rasa ingin tahu.