Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.
Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.
" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya
" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.
Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"
" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "
Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.
Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit dan Martabak Premium
Setelah Dinara selesai mandi dan berganti pakaian, ia kembali ke ruang tengah. Suara obrolan antara ayahnya dan Mas Langit masih terdengar hangat, membahas hal-hal seputar kehidupan di kampung halaman dan pekerjaan Bapak.
"Anak Bapak ada tiga, Mas," jelas Pak Djarot sambil menunjuk jari tangannya. "Yang pertama namanya Rama, dia sudah meninggal dunia tujuh tahun lalu karena kecelakaan. Rama punya dua anak, alhamdulillah sampai sekarang hubungan kami dengan kedua anaknya Rama tetap terjaga baik meski ibu mereka sudah menikah lagi."
Langit menyimak dengan saksama, sesekali mengangguk hormat.
"Anak kedua Bapak namanya Indra, dia sudah berkeluarga dan menetap di Riau. Kami jarang bertemu karena memang jauh, paling sesekali dia pulang ke sini, itupun bukan saat lebaran sebab harga tiket pesawat atau kapal lumayan menguras kantong," lanjut Pak Djarot dengan nada sedikit sendu namun ikhlas.
"Dan yang terakhir ini Dinara," Pak Djarot menoleh ke arah anak bungsunya yang baru saja duduk. "Bapak sebenarnya ingin sekali kalau Dinara tinggal di Blitar saja, supaya kami ada teman di rumah, ada yang menemani hari tua kami. Tapi qodarullah takdir membawanya merantau ke sini. Ya tidak apa-apa, yang penting dia nyaman dan bahagia. Sebagai orang tua, kami cuma bisa mendoakan kebaikan untuk anak-anak kami, di mana pun mereka berada."
"Nggih, Pak," sahut Langit pelan, hatinya terasa hangat mendengar ketulusan hati orang tua itu.
Di dalam hati Langit, ia membandingkan kedua orang tua Dinara dengan orang tua Haura yang pernah ia temui dulu. Jelas sekali bedanya. Orang tua Haura selalu bicara soal harta, jabatan, dan gengsi. Sedangkan Pak Djarot dan Bu Tita? Sedari tadi mengobrol tak sekalipun menyebut soal kekayaan atau materi. Bagi mereka, kebahagiaan anak-anak adalah segalanya, itu saja syaratnya.
Dinara duduk di sisi ibunya, matanya terbelalak sedikit melihat meja yang kini penuh berisi aneka makanan. Ada martabak manis ukuran besar, potongan buah segar, dan beberapa bungkus kue basah yang tampak lezat.
"Kamu bawa apa to, Nduk? Nasi goreng ya?" tanya Bu Tita saat melihat kantong plastik di tangan Dinara.
"Iya Bu, ini aku beli buat makan malam Bapak sama Ibu. Tapi cuma tiga bungkus, aku tidak tahu kalau ada tamu " jawab Dinara agak salah tingkah.
"Nggak apa-apa, Mbak Ra. Monggo silakan makan saja. Pasti sudah lapar sekali sepulang kerja dan dari rumah duka," ujar Mas Langit lembut, nada bicaranya jauh berbeda dari sosok dingin dan kaku yang biasa orang lihat di pasar.
Ini orang kok berubah jadi baik hati begini ya? Biasanya cuek, dingin, dan pendiam, batin Dinara bertanya-tanya dalam hati.
"Emmm... begini saja Nduk," potong Bu Tita tiba-tiba dengan ide cemerlang. "Kamu traktir makan Mas Langit aja ya di perempatan sana, biar Bapak sama Ibu yang makan nasi goreng bawaanmu ini, sisanya satu bungkus nanti Ibu antar ke Mela."
Ya Allah Ibu, ide macam apa itu? Aku cuma mau makan enak, perutku lapar sekali, kenapa harus dipersulit sih? keluh Dinara dalam hati, wajahnya sedikit memerah karena salah tingkah.
"Itu ide yang bagus sekali, Bu," sahut Mas Langit cepat sambil tersenyum. "Tapi biar saya yang traktir ya Mbak, pantang hukumnya bagi saya dibayarin sama wanita."
Dinara akhirnya mengangguk pasrah, toh perutnya sudah benar-benar keroncongan dan ia ingin segera diisi. Akhirnya mereka berdua pun pamit, naik ke atas motor Langit meluncur menuju deretan penjual makanan di ujung jalan itu.
Sesampainya di sana, mereka memilih duduk di bangku panjang yang agak terpojok. Suasana warung masih cukup ramai, namun cukup nyaman untuk mengobrol.
"Mau makan di mana, Mbak? Atau di sini saja?" tanya Langit membuka obrolan.
"Di sini saja Mas, nasi gorengnya enak dan porsinya pas," jawab Dinara.
Sambil menunggu pesanan datang, Dinara memberanikan diri membuka suara yang sedari tadi mengganjal di hatinya.
"Mas, saya mau ucapkan terima kasih banyak atas pembelaan Mas Langit tadi pagi di depan para penjual ikan. Saya benar-benar tidak tahu harus membalas kebaikan Mas dengan apa," ucap Dinara pelan, menundukkan wajah.
"Sudah, jangan dibahas sekarang, Mbak. Monggo makan dulu selagi hangat. Mbak butuh tenaga setelah seharian bekerja keras," potong Langit lembut, tak ingin membahas hal berat saat perut sedang kosong.
"Oh... iya Mas," jawab Dinara pelan.
Tak lama kemudian pesanan datang. Saat nasi gorengnya disajikan, Dinara melihat taburan bawang goreng yang cukup tebal menutupi permukaannya. Ia lupa berpesan pada penjualnya agar tidak ditaburi bawang. Dengan gerakan halus dan sopan, Dinara mulai menyisihkan butiran bawang itu ke pinggiran piring, memisahkannya agar tidak bercampur dengan nasi.
Di seberang meja, Langit diam-diam memperhatikan gerak-gerik itu. Di dalam hatinya ia mencatat satu hal penting tentang wanita ini: Dinara tidak suka bawang goreng.
Sepanjang makan, tak ada pembicaraan yang berat atau menyentuh masalah fitnah di pasar. Langit sengaja mengalihkan topik hanya seputar rasa makanan, suasana desa, dan hal-hal ringan saja. Ia paham benar, suasana hati sangat mempengaruhi nafsu makan, dan ia tak ingin merusak waktu makan Dinara dengan masalah pelik.
"Kamu suka nasi goreng?" tanya Langit tiba-tiba saat Dinara baru saja menyantap suapan terakhirnya.
Dinara terhenyak sedikit. Kamu? Sejak kapan dia berubah panggilan jadi kamu? Biasanya dia selalu sebut Mbak Ra atau Mbak Dinara... batinnya kaget, namun ia berusaha tetap tenang.
"Saya suka semua makanan, Mas. Kebetulan nasi goreng itu masaknya simpel dan cepat, cocok buat saya yang jarang punya waktu banyak," jawabnya santai.
"Kamu suka masak nasi goreng sendiri di rumah?" tanya Langit lagi, matanya menatap lekat.
"Sejak kerja di resto, saya jarang masak di rumah. Saya biasa sarapan pagi di jalan sehabis sortir ikan, siangnya makan di kantor sama teman-teman, lalu kalau malam begin tenagaku sudah habis semua, nggak ada sisa tenaga buat nyentuh kompor. Paling saya masak kalau lagi libur saja," jelas Dinara jujur sambil menyeruput teh manis hangatnya.
"Loh, kapan kamu libur? Setiap hari kan kamu ke pasar subuh-subuh?" tanya Langit penasaran.
Dinara tersenyum kecil.
"Sabtu dan Minggu Mas. Tapi saya tetap ke pasar untuk memastikan kualitas barang yang kami ambil. Bedanya, setelah itu langsung pulang ke kontrakan nggak balik lagi ke kantor."
"Oh, jadi Sabtu Minggu kamu libur kantor ya?" gumam Langit pelan, seolah menyimpan informasi itu rapat-rapat di kepalanya. Poin nomor dua: Dinara libur Sabtu dan Minggu.
"Mas sendiri kapan liburnya? Setiap hari ada saja di lapak. Bosnya nggak kasih libur apa gimana?" tanya Dinara balik berusaha mencairkan suasana.
Bosnya aku, Ra! Aku bisa atur sendiri kapan mau off atau tidak, batin Langit tersenyum dalam hati, namun dijawabnya dalam hati saja.
"Emmm... saya kerja subuh sampai pagi saja, Mbak. Selebihnya saya bebas bisa pulang atau mengurus hal lain."
"Kalau lagi mager atau malas kerja, bisa cuti kan? Nggak usah ke pasar sama sekali?" tanya Dinara lagi.
Langit tertawa kecil, senyum yang manis banget seperti buah mangga matang di pohon.
"Bisa saja, kan ada Ahmad. Dia yang nanti atur semuanya kalau saya lagi nggak ada," jawabnya santai.
"Ngomong-ngomong, nelayan yang kerjasama sama Mas Langit itu ada berapa orang?" tanya Dinara mulai tertarik masuk ke topik yang lebih luas.
"Ada 9 sekarang, tapi sebentar lagi ada 7 nelayan lagi yang gabung. Kebetulan kapal mereka baru selesai dibuat kemarin," jelas Langit.
"Wah, berarti ikannya tambah banyak dong Mas. Itu mau dilempar semua ke Pasar Kasturi?"
"Enggak Mbak. Sebagian masuk pasar tradisional biasa, dan saya sedang cari akses ke pasar di daerah utara. Di sana kan banyak restoran besar juga, siapa tau ada rejekinya."
" Terus kalau tangkapan nelayan overload gimana? Apa ikan itu ditaruh di freezer atau dijual murah-murah biar cepat habis?"
Langit menggeleng, matanya berbinar semangat membahas hal itu.
"Enggak dibuang atau dijual rugi. Kami olah jadi produk, Mbak. Ada abon ikan, sambal cumi, aneka ikan asin, kerupuk, sama terasi juga."
"Oalah... jadi Mas kerjasama sama pengusaha UMKM sekitar sini ya?" tanya Dinara kagum.
Nggak kerjasama, Ra. Aku yang punya usaha itu. Usaha yang dibangun pelan-pelan dengan doa dan harapan almarhumah istriku, Wening. Usaha ekspor makanan laut itulah yang bikin aku sanggup beli kapal dan sewakan ke nelayan biar mereka punya penghasilan pasti, batin Langit, namun ia tak mengatakannya, cukup disimpannya sendiri dulu.
Malam itu, pembicaraan berlanjut panjang lebar. Tak ada lagi bahasan soal gosip di pasar atau tentang Haura yang penuh kepahitan. Mereka larut dalam obrolan soal bisnis, soal peluang, soal ikan dan laut. Sejauh ini Dinara tau jika Langit adalah kaki tangan pemilik bisnis ini, dan Langit tak berniat sombong dengan mengatakan yang sebenarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Langit mengantar Dinara kembali ke kontrakan. Setelah berpamitan, Dinara masuk ke dalam kamar sempitnya, merebahkan tubuh lelahnya di samping ibunya yang sudah berbaring. Ayahnya memilih tidur di ruang tamu sambil mendengarkan suara televisi yang dikecilkan volumenya.
Di dalam kegelapan kamar, Dinara masih terjaga. Pikirannya melayang kembali pada sosok Langit. Sosok yang menurut orang lain dingin, pendiam, dan kaku, ternyata punya sisi lain yang jauh lebih hangat, lebih lembut, dan penuh semangat.
Ia teringat bagaimana dulu Langit bisa bicara panjang lebar dan bersemangat saat menjelaskan tentang arah angin timur dan barat yang mempengaruhi hasil tangkapan ikan. Dan malam ini pun sama, matanya berbinar saat menceritakan produk olahan dan rencana bisnisnya.
"Ra... kayaknya Mas Langit itu suka sama kamu deh," suara Bu Tita memecah keheningan, berbisik pelan di sebelah telinga anaknya.
Dinara langsung memutar badan menghadap ibunya, meski tak terlihat jelas di dalam gelap. "Ish, Ibu ini ngomong apa sih? Dia kesini tuh karena mau ngobrol sama Bapak soal di tengah laut, lho."
"Tapi dia bawa martabak, Ra," jawab Bu Tita santai seolah itu fakta paling mutlak di dunia.
"Lah... terus apa hubungannya sama martabak?" tanya Dinara bingung.
"Martabak itu adalah simbol keseriusan seorang lelaki sama perempuan. Dulu Bapak juga kasih itu ke orang tua Ibu waktu awal-awal kenalan. Sayangnya si Tri itu nggak pernah kasih martabak sama Bapak waktu mau melamarmu dulu, makanya Bapak agak kurang setuju waktu itu," jelas Bu Tita berapi-api meski berbisik.
"Astaghfirullah Bu, sejak kapan keseriusan lelaki diukur dari martabak? Itu kan cuma makanan!"
"Sejak dahulu kala, Ra."
"Tapi kan banyak juga pasangan yang cerai tuh, walau awalnya sudah dikasih martabak." Dinara terdiam sejenak, menyadari ucapannya sendiri.
"Berarti mereka bawain martabak abal-abal, bukan martabak premium," sahut Bu Tita cepat. "Lihat tuh yang dibawa sama Mas Langit tadi, itu martabak legit yang mahal lho, Ra. Bedanya jauh, rasanya pun pasti beda."
"Ish, Ibu ini jangan ngelantur ya. Ayo kita tidur. Besok subuh aku harus ke pasar lagi, masih banyak urusan," kata Dinara berusaha mengakhiri obrolan itu, menarik selimut hingga dada.
Bu Tita terkekeh pelan di sampingnya.
"Ciee... yang mau ketemu Mas Langit di pasar. Yaudah buruan tidur, biar besok tetap segar dan cantik."
"Ibuuuuuuu..." rengek Dinara sambil memukul pelan lengan ibunya, meski di bibirnya tersungging senyum malu yang tak bisa disembunyikan.
ihhh gemezzz deh SM ms langit 🤭