NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: KAMAR NOMOR 404

Bab 7: Kamar Nomor 404

Bunyi denting notifikasi pesan singkat dari ponselnya memaksa Revan untuk membuka mata. Ia perlahan menegakkan tubuhnya yang terasa pegal setelah menghabiskan waktu berjam-jam tertidur di balik tangki air atap sekolah. Langit sudah berubah menjadi jingga keunguan saat ia merogoh saku jaketnya dan membaca pesan dari nomor Ayah.

“Revan, pulang sekolah langsung ke rumah. Ambil koper kecil di lemari kamar Abangmu, isinya baju ganti dan peralatan mandi. Antar ke Rumah Sakit Medika Utama, Kamar 404. Ayah sama Ibu gak bisa ditinggal.”

Revan mendengus kasar, melempar ponselnya kembali ke dalam tas. Tidak ada kalimat tanya apakah ia sudah pulang sekolah, tidak ada pertanyaan apakah surat SP 1-nya tadi siang membuat masalah baru. Yang ada hanyalah perintah, tugas, dan kewajiban untuk melayani kepentingan si anak emas.

Awalnya Revan berniat mengabaikan pesan itu dan pergi nongkrong bersama Miko sampai larut malam. Namun, bayangan wajah kecewa Ayah semalam yang mengusirnya dari rumah membuat nyali Revan sedikit menciut. Ia tidak mau benar-benar ditendang dari Kartu Keluarga hanya karena menolak mengantar baju.

Dengan berat hati, Revan menuruni tangga atap, mengambil motornya di parkiran, dan pulang ke rumah hanya untuk mengepak barang-barang Arka sesuai perintah.

Satu jam kemudian, Revan sudah berdiri di depan lobi Rumah Sakit Medika Utama. Bau menyengat cairan antiseptik dan obat-obatan langsung menusuk hidungnya begitu ia melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis. Tempat ini selalu berhasil membuat Revan merasa tidak nyaman. Di sekelilingnya, orang-orang berjalan dengan wajah cemas, perawat berlarian, dan suara roda brankar pasien yang berdecit menciptakan atmosfer yang mencekam.

Sambil menjinjing tas jinjing berisi pakaian Arka, Revan naik menggunakan lift menuju lantai empat. Begitu pintu lift terbuka, papan petunjuk arah menunjukkan bahwa Kamar 404 berada di lorong sebelah kanan, area khusus untuk ruang perawatan VIP.

"VIP lagi," gumam Revan sinis, melangkah menyusuri lorong yang dilapisi lantai granit mengkilap. "Sakit aja harus mewah. Emang beda kalau anak kesayangan."

Langkah kaki Revan melambat saat ia berdiri tepat di depan pintu kayu berwarna cokelat dengan pelat kuningan bertuliskan '404'. Bagian atas pintu itu memiliki kaca kecil transparan. Revan mendekatkan wajahnya sedikit, mengintip ke dalam sebelum memutuskan untuk mengetuk.

Di dalam ruangan yang luas dan ber-AC itu, Arka tampak sedang berbaring di atas bangsal rumah sakit. Sebuah selang oksigen tipis terpasang di hidungnya, dan tangan kirinya ditancapi jarum infus yang terhubung ke beberapa botol cairan. Di sisi kanan tempat tidur, Ibu sedang duduk sembari mengupas buah apel dengan telaten, sesekali menyuapi Arka dengan senyuman penuh kasih. Sementara Ayah duduk di sofa sudut ruangan, membaca beberapa berkas dengan kacamata yang melorot di hidungnya.

Pemandangan itu terlihat begitu hangat. Begitu harmonis. Sebuah potret keluarga bahagia yang sempurna—jika saja posisi Revan tidak berada di luar pintu, berdiri sendirian di lorong rumah sakit yang dingin bagai orang asing.

Rasa panas menjalar di sudut mata Revan, yang dengan cepat ia ubah menjadi letupan amarah di dalam dada. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu dengan kasar sebanyak tiga kali sebelum langsung mendorongnya terbuka tanpa menunggu izin.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu yang terbuka membuat ketiga orang di dalam ruangan itu menoleh serentak. Senyuman di wajah Ibu seketika memudar, digantikan oleh raut wajah yang kembali menegang saat melihat kedatangan anak bungsunya.

"Lama banget kamu, Revan? Ayah nyuruh kamu dari jam berapa tadi?" tegur Ayah langsung, melirik jam tangan di pergelangan tangannya tanpa ada basa-basi menyapa.

Revan tidak menjawab. Ia melangkah masuk, lalu meletakkan tas jinjing pakaian itu di atas meja nakas dekat pintu dengan sedikit bantingan pelan. "Jalanan macet."

Ibu menghela napas panjang, menaruh pisau kupasnya di atas piring kecil. "Kamu sengaja ya dilama-lamain karena malas? Kamu gak mikir apa, Abangmu dari semalam belum ganti baju? Baju yang dipakainya semalam itu kotor terkena noda..." Ibu mendadak menghentikan kalimatnya, melirik Arka dengan pandangan panik, seolah hampir saja membocorkan sebuah rahasia besar.

Revan menangkap gelagat aneh itu, tapi otaknya langsung menerjemahkannya lewat sudut pandang salah paham. Noda? Paling noda mimisan karena dia kecapekan belajar sampai stres kemarin, pikir Revan acuh tak acuh.

"Udah, Bu, gak apa-apa. Yang penting Revan udah anterin bajunya," suara Arka terdengar memotong perdebatan. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah, badannya yang biasanya tegap kini terlihat agak kurus di balik selimut rumah sakit. Arka menatap Revan dengan sepasang mata yang sayu. "Makasih ya, Van. Maaf udah ngerepotin lo sore-sore begini."

Mendengar kalimat lembut dari Arka, Revan justru merasa itu adalah sebuah ejekan yang sarkas. Di mata Revan, Arka sedang menunjukkan superioritasnya—berlagak sebagai malaikat yang pemaaf di depan orang tua mereka agar Revan semakin terlihat seperti iblis yang tidak tahu diri.

"Gak usah sok manis lo, Bang. Gue ke sini juga karena terpaksa diperintah Ayah," sahut Revan ketus, menatap langsung ke mata Arka dengan pandangan penuh permusuhan.

"REVAN! Jaga mulut kamu! Kakak kamu lagi lemas begitu masih aja kamu ajak ribut!" bentak Ibu, berdiri dari kursinya dengan dada yang naik-turun karena emosi. "Kamu itu benar-benar keterlaluan ya! Guru BK kamu tadi nelpon Ibu lagi, katanya kamu bolos dari pelajaran sejarah dan bentak guru kamu di kelas! Sekarang kamu ke sini cuma mau bikin keributan lagi?!"

"Ibu yang mulai! Ibu selalu bela dia!" balas Revan, suaranya meninggi, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang berada di dalam ruang perawatan rumah sakit. "Dia pingsan karena ambisinya sendiri, kenapa semuanya jadi salah gue?! Kenapa satu rumah harus berlutut di kaki dia seolah-olah dia itu raja?!"

"Cukup, Revan! Keluar kamu dari kamar ini!" Kali ini Ayah yang berdiri, menunjuk pintu keluar dengan jari yang bergetar menahan amarah yang memuncak. "Pergi kamu pulang! Ayah gak mau lihat muka kamu di sini kalau cuma buat nambah beban pikiran Abangmu!"

Diusir untuk kedua kalinya dalam waktu dua hari membuat pertahanan ego Revan runtuh. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap Ibu, Ayah, dan Arka bergantian dengan pandangan yang sarat akan rasa benci yang teramat dalam.

"Tanpa Ayah usir pun, gue gak sudi lama-lama di kamar ini," desis Revan tajam.

Ia berbalik badan dan melangkah lebar-lebar keluar dari Kamar 404, membanting pintu kayu itu hingga menimbulkan suara dentuman keras yang menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Revan berjalan cepat menuju lift dengan air mata kemarahan yang akhirnya luruh membasahi pipinya. Ia bersumpah di dalam hati tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya lagi ke rumah sakit ini.

Di dalam kamar 404, setelah kepergian Revan, suasana mendadak hening mencekam. Arka perlahan memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setitik air mata lolos dari sudut matanya yang sayu. Tangan kanannya meraba bagian perut sebelah kanannya yang terasa sangat nyeri dan panas.

Bersambung......

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!