NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tak Terhapus

Angin siang kembali berembus, kali ini membawa hawa kering yang menerbangkan helai-helai rambut Arunika yang hitam legam.

Di bawah naungan pohon damar yang perkasa itu, suasana mendadak melambat, seolah waktu sedang menahan napasnya untuk sebuah pengakuan yang akan meruntuhkan segalanya.

Matahari yang merayap tepat di atas kepala menciptakan bayangan-bayangan pendek yang pekat di atas tanah yang kering.

Senja masih berdiri dengan napas yang satu-satu.

Rasa panas yang membakar kulitnya membuat ia merasa tercekik dalam baju kaosnya sendiri.

Dengan gerakan yang tampak lelah, ia melipat lengan baju kaos pendeknya hingga ke atas bahu, berusaha mencari sedikit ruang bagi kulitnya untuk bernapas dari hawa siang yang memanggang.

Namun, ia tidak menyadari bahwa lipatan baju itu adalah awal dari akhir segalanya.

Arunika, yang duduk di bawah pohon damar itu semula menatap hamparan dahan dengan tatapan yang sulit diartikan.

Sejujurnya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah perasaan yang mulai tumbuh tanpa ia minta.

Beberapa hari ini, kehadiran Senja telah membawa warna yang berbeda. Ia mulai jatuh hati pada ketenangan Senja, pada bagaimana pria itu memperhatikannya dengan cara yang santun.

Namun, binar kecil di matanya itu mendadak padam secepat kilat menyambar.

Mata Arunika terpaku pada lengan bagian atas Senja yang kini terbuka sepenuhnya.

Di sana, terdapat sebuah bekas luka parut yang memutih, bentuknya memanjang dan sedikit tidak beraturan—sebuah jejak lama yang sangat spesifik. Ingatan Arunika langsung terseret paksa kembali ke belasan tahun yang lalu, ke sebuah siang yang penuh dengan air mata dan bau getah yang memuakkan.

Bukan hanya luka itu. Arunika kemudian menyadari sesuatu yang melingkar di pergelangan tangan Senja. Sebuah gelang anyaman benang dengan pola yang sangat unik, yang baru saja dipakai Senja kembali setelah sempat ia simpan di saku.

"Adit..." suara Arunika bergetar, hampir tak terdengar di sela deru angin yang menggoyang dedaunan di atas mereka. "Gelang itu... sudah berapa lama kamu memilikinya?"

Senja menoleh, sedikit terkejut dengan nada bicara Arunika yang mendadak berubah menjadi sedingin es. Ia melirik pergelangan tangannya.

"Ini? Sudah ada sejak aku masih kecil. Aku baru menemukannya lagi di saku tadi dan memutuskan untuk memakainya. Kenapa, Ka?"

Arunika tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merasa jantungnya dipukul oleh palu godam yang sangat berat.

Rasa kecewa yang amat dalam menghantamnya lebih keras daripada panas matahari siang itu. Ia merasa ilfeel seada-adanya.

Pria yang mulai ia kagumi, pria yang mulai ia percayai sebagai sosok yang baik, ternyata berdiri di atas pondasi luka masa kecilnya yang paling berdarah.

"Lalu... luka di lengan atasmu itu?" tanya Arunika lagi, suaranya kini naik satu nada, tajam dan menuntut. "Kenapa bisa ada di sana?"

Senja menyentuh bekas luka itu dengan jemari yang mendadak dingin. Kegugupan mulai merayapi tenggorokannya. "Aku mendapatkannya saat masih kecil dulu, Ka. entahlah aku tidak ingat ini karena apa".

Wajah Arunika yang biasanya tenang seperti permukaan telaga yang sunyi, kini mulai retak. Amarah dan rasa muak menjalar ke seluruh sarafnya, menggantikan rasa suka yang tadi sempat menghangatkan hatinya.

Ia ingin mengubur perasaan itu sedalam-dalamnya saat itu juga. Ia merasa dikhianati oleh takdir.

"Aku boleh bertanya siapa nama panjang kamu, Adit?" tanya Arunika. Matanya kini menatap lurus ke dalam manik mata Senja, mencari sebuah kejujuran yang paling pahit.

Senja menelan ludah. Suasana mendadak menjadi sangat intimidatif. Langit yang biru cerah seolah berubah menjadi kelabu di matanya. "Buat apa, Ka? Kenapa tiba-tiba menanyakan nama panjangku?"

"Memangnya tidak boleh aku menanyakan nama panjang tamuku sendiri?" balas Arunika ketus. Tidak ada lagi kelembutan di sana, yang tersisa hanyalah luka lama yang baru saja dibuka kembali dengan paksa.

"Boleh... tentu saja boleh," jawab Senja dengan gugup. Ia merasa seolah sedang berdiri di tepi jurang yang siap runtuh. "Namaku... Senja Pradipta."

Seketika itu juga, dunia seolah berhenti berputar bagi Arunika. Nama itu adalah konfirmasi terakhir yang menghancurkan seluruh dunianya. Senja Pradipta. Nama yang selalu ia sebut dalam isak tangisnya belasan tahun lalu. Nama si "Ejekan Damar". Nama anak laki-laki yang membuat masa kecilnya menjadi tumpukan trauma yang tak berujung.

"Senja Pradipta..." rintih Arunika. Air mata yang selama ini ia tahan dengan sekuat tenaga, kini tumpah membasahi pipinya yang kemerahan. "Kamu... kamu benar-benar Senja Pradipta?"

Senja tertegun, separuh jiwanya seolah lepas melihat kehancuran di wajah gadis di depannya. "Iya, Ka. Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu sampai begini?"

"Kamu yang membuli aku masa kecil!" tangis Arunika pecah seketika, menyayat keheningan siang yang terik di bawah pohon damar itu. "Kamu yang menempelkan getah itu di rambutku! Kamu yang memotong rambutku di depan semua orang sampai aku sesak napas karena menangis! Kamu anak laki-laki yang selalu memanggilku anak yatim piatu!"

Senja membelalak.

Seluruh kepingan puzzle yang ia temukan di gudang pagi tadi menyatu dengan hentakan yang menyakitkan.

Luka di lengannya, gelang itu, dan nama panjangnya sendiri—semuanya adalah kebenaran yang tak terbantahkan.

Pantas saja dia merasa tak asing dengan hal yang berbau damar dan lilin Aromaterapi, sekarang semuanya terasa jelas. Ia adalah monster itu.

Ia adalah orang yang telah menghancurkan hidup gadis yang kini mulai ia cintai.

"Ka... aku... aku tidak bermaksud... aku tidak ingat..." Senja mencoba melangkah maju, tangannya gemetar ingin meraih Arunika untuk meminta maaf, namun ia merasa tangannya terlalu kotor untuk menyentuh gadis itu.

"Jangan sentuh dia!"

Arkala muncul seperti kilat dari arah beranda rumah, langsung berdiri di antara Arunika dan Senja.

Ia merangkul bahu Arunika yang terguncang hebat karena tangis, sementara matanya menatap Senja dengan tatapan intimidasi yang paling mematikan.

Rahang Arkala mengeras, tangannya mengepal kuat, seolah siap meledakkan amarahnya kapan saja.

"Jadi benar?" desis Arkala, suaranya berat dan penuh ancaman yang nyata. "Lu adalah iblis yang selama ini bikin Arunika ketakutan setiap kali angin kencang datang? Lu adalah orang yang sudah merobek masa kecilnya tanpa ampun?"

"Kal, dengerin gue dulu... gue benar-benar tidak ingat awalnya..." Senja memohon dengan wajah yang kini pucat pasi, seperti orang yang sudah kehilangan seluruh harapannya.

"Nggak ada yang perlu didengerin lagi, Adit atau Senja atau siapapun itu nama lu!" bentak Arkala.

Arunika masih tergugu di balik punggung Arkala. Ia tidak mau lagi melihat wajah Senja. Rasa sukanya telah berubah menjadi rasa jijik yang mendarah daging.

Baginya, Senja Pradipta adalah hantu masa lalu yang seharusnya tetap mati, bukan kembali dengan wujud pria kota yang mencoba mencuri hatinya dengan topeng kebaikan.

Ia merasa sangat bodoh karena sempat menaruh rasa pada pria ini.

"Aku benci kamu, Senja... Aku benci nama itu! Aku benci pernah mengenalmu lagi!" teriak Arunika di sela tangisnya yang pilu, sebelum ia memalingkan wajahnya sepenuhnya, enggan menatap pria yang kini hanya dipandangnya sebagai sumber luka.

Senja hanya bisa berdiri mematung di bawah naungan pohon damar yang kini terasa seperti penjara baginya.

Ia melihat Arkala yang melindungi Arunika dengan penuh kasih, sementara dirinya hanyalah sumber kehancuran.

Angin siang kembali berembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon damar dengan kasar, seolah-olah alam sendiri sedang mengutuk keberadaannya di sana.

Di bawah matahari siang yang kejam dan melankolis itu, Senja menyadari bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya bersembunyi di balik luka dan gelang tua, menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan segala harapan yang baru saja mulai tumbuh.

Ia telah kehilangan Arunika tepat di saat ia menyadari betapa ia ingin menebus segala dosanya.

Senja berdiri membeku, meratapi namanya sendiri yang kini menjadi racun di tanah yang sunyi ini.

Perasaan bersalah itu kini bukan lagi sekadar bayangan, melainkan beban abadi yang akan ia pikul hingga napas terakhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!