"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Puing-Puing Kepercayaan
Pagi itu, Mansion Tarkan tidak lagi terasa seperti istana, melainkan benteng yang terkepung. Di luar gerbang, kilatan lampu kamera wartawan menyambar-nyambar seperti petir di siang bolong. Berita tentang "Skandal Sedarah" telah mencapai puncaknya, meracuni udara dengan fitnah yang menyesakkan.
Hamdan melangkah keluar dari aula utama dengan kemeja putih yang lengannya digulung kasar. Perban di buku jarinya mulai memerah karena rembesan darah akibat latihan fisik semalam, namun matanya tetap setajam elang yang sedang mengincar mangsa.
"Tuan, Farr Burhan menolak pergi," lapor Farid, napasnya tersengal. "Dia membawa pengacara dan mengklaim memiliki mandat untuk menjemput Nona Amora demi keselamatannya."
Rahang Hamdan mengeras. "Mandat? Dia pikir dia siapa?"
Hamdan berjalan menuju gerbang besar. Aura pemangsa yang ia pancarkan begitu pekat hingga para penjaga secara otomatis membuka jalan. Di sana, Farr Burhan berdiri dengan setelan jas abu-abu yang rapi, nampak kontras dengan penampilan Hamdan yang berantakan namun mengintimidasi.
"Lepaskan dia, Hamdan!" teriak Farr, suaranya sengaja dikeraskan agar tertangkap mikrofon wartawan. "Dunia tahu kau mengurung saudaramu sendiri demi ambisi gila! Biarkan Amora ikut denganku ke Turki. Aku akan memberinya nama yang bersih, bukan nama yang kotor karena skandalmu!"
Mendengar nama Amora disebut oleh mulut Farr, kendali diri Hamdan yang tersisa hancur berkeping-keping. Tanpa peringatan, Hamdan melesat maju. Satu pukulan telak mendarat di rahang Farr, membuat pria Turki itu tersungkur ke aspal.
"Jangan pernah... berani menyebut namanya lagi," desis Hamdan, suaranya rendah dan sarat akan ancaman maut.
Farr bangkit, mengusap darah di sudut bibirnya, dan membalas dengan pukulan yang mengenai tulang pipi Hamdan. Perkelahian itu pecah secara brutal di depan mata publik. Hamdan bertarung tanpa teknik, ia hanya meluapkan amarah, rasa bersalah, dan ketakutan kehilangan Amora dalam setiap hantaman tangannya.
Dari balkon lantai dua, Amora menyaksikan semuanya. Jantungnya mencelos melihat Hamdan yang biasanya selalu terkontrol dan perfeksionis, kini bergumul di tanah seperti pria yang kehilangan akal sehat. Darah di bibir Hamdan dan debu di kemejanya adalah pemandangan yang menyayat hati Amora.
"Cukup! Hentikan!" teriak Amora. Ia berlari turun, mengabaikan seruan ibunya dan Zahra.
Saat Amora sampai di gerbang, ia melihat Hamdan sedang mencengkeram kerah baju Farr, siap melayangkan pukulan terakhir.
"Abang, hentikan!" jerit Amora, suaranya bergetar hebat.
Tangan Hamdan membeku di udara. Ia menoleh perlahan. Matanya yang merah karena kurang tidur dan amarah bertemu dengan mata Amora yang berkaca-kaca. Perlahan, Hamdan melepaskan Farr dan berdiri dengan napas yang memburu.
"Amora, masuk ke dalam," ucap Hamdan, suaranya parau dan habis.
Amora tidak bergerak. Ia menatap Farr yang terengah-engah di tanah. "Farr, pergilah. Aku menghargai niatmu, tapi aku tidak akan melarikan diri bersamamu. Masalahku ada di sini, di rumah ini, dan aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri."
Farr menatap Amora dengan kecewa, namun ia tahu ia telah kalah telak malam ini. Ia berdiri, merapikan jasnya yang kotor, dan masuk ke mobilnya tanpa kata-kata lagi.
------------------
Setelah kerumunan wartawan dibubarkan paksa oleh tim keamanan tambahan, halaman mansion kembali sunyi. Hamdan berdiri diam di bawah panas matahari, bahunya yang lebar nampak merosot. Luka-luka di wajahnya mulai membiru, dan darah segar masih menetes dari sudut bibirnya.
Amora mendekat dengan langkah ragu. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan perlahan menyentuh luka di pipi Hamdan. Hamdan tersentak sedikit, namun ia tidak menjauh.
"Kenapa kau melakukan ini?" bisik Amora lirih. "Kau bisa menghancurkan reputasimu sendiri."
Hamdan menatap Amora dengan tatapan yang sangat dewasa, namun penuh luka. "Reputasiku tidak ada harganya jika dibandingkan dengan namamu yang mereka injak-injak, Amora. Aku lebih baik dianggap monster oleh seluruh dunia, asalkan mereka tahu kau bukan orang yang bisa mereka sentuh sesuka hati."
Hamdan kemudian jatuh bertumpu pada satu lutut, tenaganya benar-benar terkuras habis. Amora segera menahan bahunya, membiarkan kepala Hamdan bersandar di pundaknya untuk sejenak. Di antara bau keringat dan darah, Amora merasakan ketulusan yang menyakitkan.
"Kepercayaan yang kau hancurkan itu... butuh waktu lama untuk tumbuh kembali, Hamdan," ujar Amora pelan sambil mengusap rambut Hamdan yang berantakan. "Tapi melihatmu seperti ini... aku tahu kau tidak pernah berniat menjadikanku pion."
Di dalam ruang kesehatan pribadi mansion, keheningan hanya dipecah oleh suara denting kapas yang menyentuh pinggiran mangkuk porselen. Amora duduk di hadapan Hamdan, dengan telaten membersihkan luka di sudut bibir pria itu menggunakan cairan antiseptik.
Hamdan hanya diam, membiarkan Amora melakukan tugasnya. Matanya tak lepas menatap wajah Amora dari jarak dekat—meneliti setiap inci ekspresi gadis itu. Ada rasa perih yang menjalar, bukan karena luka di wajahnya, melainkan karena kebisuan Amora yang terasa lebih dingin dari es mana pun.
"Kau tidak perlu melakukan ini. Ada pelayan yang bisa melakukannya," ucap Hamdan rendah, suaranya masih parau.
Amora menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap mata cokelat gelap Hamdan dengan tajam. "Pelayan tidak akan memberitahumu bahwa kau bertindak bodoh hari ini, Hamdan. Memukul pria di depan kamera media hanya akan memperkuat narasi mereka bahwa kau adalah pria posesif yang sedang menyembunyikan skandal terlarang."
Hamdan tertawa getir, membuat lukanya kembali berdarah. "Aku tidak peduli pada narasi mereka. Aku hanya ingin dia menjauh darimu."
"Dan dengan cara itu kau menghancurkan dirimu sendiri?" Amora meletakkan kapasnya dengan sedikit penekanan. "Jika kau hancur, siapa lagi yang akan menjaga Ibuku? Siapa lagi yang akan membantuku menemukan kembali nama Klan?"
Hamdan tertegun. Ia menangkap pergelangan tangan Amora, menahannya agar tetap di sana. "Jadi kau masih membutuhkanku? Meskipun aku telah membohongimu?"
Amora menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca namun suaranya tetap tegas. "Aku tidak memaafkan kebohonganmu, Hamdan. Tapi aku juga tidak bisa memungkiri bahwa di dunia yang kejam ini, kaulah satu-satunya dinding yang berdiri di depanku saat badai datang. Sekarang, diamlah. Biarkan aku menyelesaikan ini."
Malam itu berakhir dengan Hamdan yang kembali ke ruang kerjanya untuk menyusun rencana serangan balik terhadap berita palsu tersebut, sementara Amora kembali ke sisi ibunya. Namun, di balik pintu yang tertutup, Hamdan menatap hasil tes awal yang baru saja masuk ke email pribadinya. Wajahnya memucat. Musuh telah menyusup jauh lebih dalam dari yang ia duga. Bukti-bukti palsu itu kini terlihat begitu nyata, bahkan bagi hukum sekalipun.
To be continued...