menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Pagi itu udara masih terasa dingin ketika Andika berlari kecil menyusuri jalan kompleks perumahan sederhana tempat ia tinggal. Kaos olahraga abu-abunya sudah sedikit basah oleh keringat, sementara napasnya terdengar teratur. Matahari bahkan belum benar-benar tinggi, tetapi beberapa tetangga sudah mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang menyapu halaman, ada yang membuka warung kecil di depan rumah, dan ada juga yang sekadar duduk sambil menikmati kopi pagi.
Di tangan kanan Andika tergenggam dua bungkus nasi kuning yang baru saja ia beli dari ujung gang. Aroma santan dan bawang goreng masih terasa hangat menembus plastik pembungkusnya.
“Pagi, Andika!” seru Pak Hendra yang sedang menyiram tanaman.
Andika menoleh sambil tersenyum ramah.
“Pagi, Pak.”
“Rajin sekali jogingnya. Anak muda sekarang biasanya bangun siang.”
Andika terkekeh kecil.
“Kalau bangun siang nanti dimarahi bos, Pak.”
Pak Hendra tertawa mendengar jawaban itu.
Belum jauh melangkah, Bu Lina yang sedang membuka pagar rumah juga ikut menyapanya.
“Andika, nanti kalau sempat mampir. Kemarin anak saya tanya soal komputer.”
“Iya, Bu. Nanti malam kalau pulang kerja saya lihat.”
“Baik sekali memang kamu ini.”
Andika hanya tersenyum tipis. Ia sudah terbiasa dengan lingkungan itu. Sejak kecil tumbuh di sana membuat hampir semua orang mengenalnya dengan baik. Mereka tahu Andika anak yang sopan, pekerja keras, dan tidak pernah membuat masalah. Hal yang sebenarnya cukup langka. Manusia biasanya lebih suka membuat drama dibanding hidup tenang. Mungkin karena hidup damai terasa terlalu membosankan bagi sebagian orang.
Andika akhirnya sampai di rumahnya. Rumah sederhana bercat krem dengan pagar besi hitam yang mulai sedikit berkarat. Tidak besar, tetapi cukup nyaman untuk ditinggali berdua dengan ayahnya.
Ia membuka pintu dan langsung masuk.
“Pak, saya pulang,” ucapnya sambil menaruh nasi kuning di meja makan.
Tidak ada jawaban. Andika tahu ayahnya pasti masih tidur.
Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi dan berganti pakaian kerja berupa kemeja biru muda dan celana hitam rapi, Andika berdiri di depan cermin beberapa saat. Rambutnya yang masih sedikit basah dirapikan dengan tangan.
Wajahnya terlihat tenang seperti biasa.
Padahal pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Setelah selesai bersiap, Andika berjalan menuju kamar ayahnya. Ia mengetuk pintu perlahan sebelum membukanya sedikit.
“Pak… sudah pagi.”
Di atas ranjang, Sucipto masih berbaring sambil memejamkan mata. Pria paruh baya itu membuka matanya perlahan.
“Jam berapa sekarang?”
“Sudah hampir setengah tujuh.”
Sucipto menghela napas kecil lalu duduk perlahan.
“Kamu sudah mandi?”
Andika mengangguk.
“Sudah. Saya beli nasi kuning juga.”
“Rajin sekali. Anak orang lain pagi-pagi masih rebutan bantal.”
Andika tersenyum tipis.
“Kalau saya rebutan bantal nanti Bapak telat mengajar.”
Sucipto tertawa kecil mendengar jawaban putranya itu.
“Baiklah, Bapak mandi dulu.”
“Iya, Pak.”
Andika keluar dari kamar lalu duduk di meja makan sambil membuka bungkus nasi kuning. Aroma gurih langsung memenuhi ruangan kecil itu. Ia menuangkan sedikit sambal ke pinggir kertas nasi lalu mulai makan perlahan.
Tak lama kemudian, suara pintu kamar terdengar terbuka. Sucipto keluar dengan pakaian guru yang sudah rapi. Kemeja cokelat muda dan celana kain hitam membuatnya terlihat sederhana tetapi bersih.
Meski usianya sudah melewati lima puluh tahun, wajah Sucipto masih terlihat teduh. Hanya garis-garis lelah di wajahnya yang menunjukkan hidup tidak selalu berjalan mudah.
Ia duduk di depan Andika sambil menarik bungkus nasi kuning miliknya.
“Wah, lengkap juga ada telur baladonya.”
“Bapak suka yang itu, kan?”
Sucipto tersenyum kecil.
“Kamu hafal sekali.”
Andika hanya diam sambil melanjutkan makan.
Suasana pagi itu terasa hangat dan tenang. Hal yang sebenarnya sangat disukai Andika. Ia tidak pernah terlalu suka keramaian. Baginya rumah kecil itu sudah cukup.
Meski kadang terasa sepi.
Andika tumbuh tanpa sosok ibu. Bahkan ia tidak memiliki banyak kenangan tentang perempuan itu. Ibunya meninggal ketika ia baru berusia dua tahun akibat kecelakaan.
Dari cerita yang sering ia dengar, ibunya mengalami luka cukup parah dan harus segera menjalani operasi. Namun saat itu ayahnya hanyalah guru honorer dengan penghasilan pas-pasan. Sucipto sampai berkeliling mencari pinjaman uang ke sana kemari.
Tetapi hidup kadang memang kejam dengan cara yang sangat tenang.
Uang belum terkumpul ketika kondisi istrinya semakin memburuk. Dan akhirnya perempuan itu meninggal sebelum sempat mendapatkan penanganan yang layak.
Sejak saat itu, Sucipto membesarkan Andika seorang diri.
Banyak orang menyarankan agar ia menikah lagi. Namun Sucipto selalu menolak.
Ia takut perempuan lain tidak bisa menerima Andika dengan baik.
Hal itu membuat Andika selalu merasa bersalah sekaligus bersyukur. Ayahnya mengorbankan banyak hal demi dirinya.
“Kenapa melamun?” tanya Sucipto tiba-tiba.
Andika tersadar lalu menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa.”
Sucipto mengaduk teh hangatnya perlahan sebelum kembali bicara.
“Shinta bagaimana kabarnya?”
Tangan Andika berhenti sesaat.
Namun hanya sesaat.
Ia kembali makan seolah tidak terjadi apa-apa.
“Baik, Pak.”
“Masih sibuk kuliah?”
“Iya.”
Sucipto mengangguk pelan.
“Sudah lama dia tidak main ke rumah.”
Andika meminum teh hangatnya sebelum menjawab.
“Masih banyak tugas katanya.”
“Bapak kangen juga sebenarnya,” ucap Sucipto sambil tersenyum kecil. “Anak itu kalau datang selalu cerewet di rumah.”
Andika ikut tersenyum tipis, meski dadanya terasa sedikit sesak.
Setahun.
Sudah setahun ia dan Shinta putus.
Namun sampai sekarang Andika belum pernah mengatakan hal itu kepada ayahnya.
Ia tidak tega.
Sucipto terlalu menyukai Shinta. Bahkan menganggap gadis itu seperti anak sendiri.
“Kalau sempat suruh dia telepon Bapak,” lanjut Sucipto. “Walaupun cuma sebentar.”
Andika menunduk beberapa detik sebelum menjawab.
“Nanti saya bilang.”
“Dia jadi kuliah di luar negeri?”
Andika mengangguk pelan.
“Iya. Lagi fokus juga.”
Padahal semua itu bohong.
Shinta tidak kuliah di luar negeri.
Shinta bahkan bekerja di perusahaan yang sama dengannya sekarang.
Dan mereka setiap hari masih saling bertemu.
Hanya saja bukan lagi sebagai pasangan.
Hubungan mereka berakhir karena perbedaan jalan hidup. Shinta ingin kehidupan yang lebih tenang dan pasti, sementara Andika terlalu sibuk mengejar karier dan target pekerjaan.
Ironisnya sekarang mereka justru bekerja di tempat yang sama. Semesta memang kadang seperti penulis drama yang kehabisan ide lalu memilih membuat orang canggung setiap hari.
“Kalau nanti dia kerja di perusahaanmu pasti kalian semakin dekat,” kata Sucipto penuh harapan.
Andika tersenyum tipis.
“Iya, Pak.”
Jawaban singkat.
Karena semakin panjang kebohongan, semakin besar rasa bersalah yang muncul.
Sucipto memandang putranya beberapa saat.
“Kamu jangan terlalu sibuk kerja terus.”
“Saya biasa saja.”
“Bapak tahu kamu pekerja keras. Tapi hidup jangan isinya kerja terus.”
Andika tertawa kecil.
“Nanti kalau kaya saya pensiun muda.”
“Manusia kalau sudah punya uang malah ingin tambah uang lagi.”
“Itu benar juga.”
Sucipto tersenyum kecil lalu melanjutkan makan.
Beberapa menit kemudian suasana kembali hening. Hanya terdengar suara sendok dan kendaraan yang sesekali melintas di luar rumah.
Setelah sarapan selesai, Andika berdiri sambil merapikan meja makan.
“Biar saya cuci saja,” katanya.
Sucipto menggeleng.
“Nanti saja. Kamu berangkat dulu.”
“Saya masih sempat.”
“Kamu ini mirip ibumu,” gumam Sucipto pelan.
Andika menoleh.
“Kenapa?”
“Sama-sama tidak bisa diam.”
Andika tersenyum kecil mendengar itu.
Jarang sekali ayahnya membicarakan ibunya. Tetapi setiap kali nama itu muncul, selalu ada tatapan kosong di mata Sucipto. Tatapan seseorang yang belum benar-benar selesai dengan kehilangan.
Setelah semua beres, Andika mengambil tas kerjanya lalu berdiri di dekat pintu.
“Saya berangkat dulu, Pak.”
Sucipto ikut berdiri.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
“Oh iya,” panggil Sucipto lagi sebelum Andika keluar.
Andika menoleh.
“Kalau nanti Shinta sudah tidak terlalu sibuk, ajak main ke rumah. Bapak ingin ngobrol lagi sama dia.”
Ada jeda beberapa detik.
Andika berusaha tetap tersenyum.
“Nanti saya bilang.”
“Yang penting kalian baik-baik saja.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menekan dada Andika pelan.
Ia mengangguk kecil.
“Iya, Pak.”
Setelah itu Andika memakai helmnya lalu berjalan menuju motor yang terparkir di depan rumah.
Mesin motor menyala pelan.
Sucipto masih berdiri di depan pintu memperhatikan putranya.
Andika melambaikan tangan sebentar sebelum akhirnya melajukan motornya keluar gang.
Angin pagi menerpa wajahnya sepanjang perjalanan.
Namun pikirannya tetap penuh.
Tentang ayahnya.
Tentang kebohongan yang terus ia pertahankan.
Dan tentang Shinta.
Perempuan yang masih ia cintai diam-diam meski hubungan mereka sudah lama berakhir.
Kadang Andika merasa hidupnya aneh. Di kantor ia harus bersikap biasa di depan Shinta. Di rumah ia harus berpura-pura semuanya masih baik-baik saja demi ayahnya.