Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damien Knox Get Jealous #2
“Aku tidak membutuhkan izinmu untuk pulang dengan siapapun.”
Kalimat itu keluar lebih tajam dibanding yang Serena rencanakan.
Damien terdiam. Tatapan pria itu perlahan berubah lebih gelap.
Bukan marah. Lebih buruk.
Terluka.
Dan Serena membencinya.
Karena Damien tetap mampu terlihat seperti seseorang yang tersakiti, bahkan saat dialah yang menghancurkan semuanya lebih dulu.
“Aku tidak mengatakan itu,” gumam Damien rendah.
“Namun kau bertingkah seperti aku masih milikmu.”
Hening.
Axel berdiri beberapa langkah di samping Serena tanpa bicara, tetapi Serena bisa merasakan pria itu memperhatikan semuanya dengan terlalu tenang.
Seolah sedang menikmati sesuatu.
Atau mempelajarinya.
Damien melangkah mendekat perlahan.
Kini hanya ada sedikit jarak antara dirinya dan Serena.
“Apa dia menyentuhmu?”
Pertanyaan itu langsung membuat Serena membeku.
Dan Axel tertawa kecil. Sangat pelan.
Namun cukup untuk membuat rahang Damien menegang keras.
“Kau serius?” Serena menatap Damien tidak percaya. “Setelah semua yang kau lakukan?”
Tatapan Damien tidak berpindah sedikit pun dari wajah Serena.
“Aku menanyakan sesuatu.”
“Dan aku tidak wajib menjawabnya.”
Damien mengembuskan napas pelan sambil menatap Serena cukup lama hingga perempuan itu mulai gelisah sendiri.
Lalu perlahan, pria itu mengangkat tangannya dan membetulkan rambut Serena yang berantakan akibat angin malam.
Gerakan kecil. Lembut. Intim. Seolah Axel bahkan tidak berada di sana.
“Kau dingin,” gumam Damien pelan.
Dan sialnya, sentuhan sederhana itu masih membuat jantung Serena berantakan.
Axel memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapan pria itu bergerak dari jemari Damien di rambut Serena, ke wajah Serena yang langsung kehilangan keberanian menatap balik.
Lalu senyum tipis muncul di bibir Axel. Aneh.
Namun untuk pertama kalinya malam itu, Serena merasa pria itu bukan sedang tersenyum karena lucu.
Melainkan karena akhirnya memahami sesuatu.
“Aku harus pergi,” ucap Axel tiba-tiba.
Damien tidak menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada Serena.
Axel mengambil helmnya santai sebelum berjalan mundur beberapa langkah menuju motor.
Namun sebelum benar-benar pergi, pria itu kembali menatap Serena.
“Jangan terlalu percaya pada pria yang hanya mencintaimu saat hampir kehilanganmu.”
Kalimat itu membuat suasana langsung berubah dingin.
Tatapan Damien perlahan terangkat ke arah Axel.
Gelap dan berbahaya.
Dan Serena mendadak sadar bahwa Axel Noir mungkin jauh lebih berani daripada yang seharusnya.
...****************...
Begitu pintu mansion tertutup, suasana langsung berubah sunyi.
Tidak ada lagi suara motor Axel.
Tidak ada angin malam.
Tidak ada distraksi.
Hanya Serena dan Damien.
Dan ketegangan yang sejak tadi mereka tahan di depan orang lain.
Serena berjalan lebih dulu melewati foyer luas mansion tanpa menoleh ke belakang. Heels-nya berdetak pelan di lantai marmer, sementara Damien mengikuti beberapa langkah di belakang dalam diam yang terasa menyesakkan.
Ia tahu pria itu sedang menatapnya.
Damien selalu menatapnya seperti itu saat marah.
Tenang namun cukup intens untuk membuat Serena gelisah.
“Apa itu serius?” tanya Serena akhirnya sambil meletakkan tasnya sembarangan di sofa ruang keluarga. “Kau datang ke rumahku tengah malam hanya untuk bertanya apakah pria lain menyentuhku?”
Damien melepas mantelnya perlahan.
“Dia membuatmu mabuk.”
“Aku memang ingin mabuk.”
“Dengan pria asing?”
Serena tertawa kecil tidak percaya. “Lucu sekali mendengar itu dari seseorang yang meninggalkanku demi perempuan lain.”
Rahang Damien langsung menegang.
Dan akhirnya, pria itu terlihat benar-benar terganggu.
Serena membenci fakta bahwa sebagian dirinya menikmati itu.
Damien berjalan mendekat perlahan hingga berhenti di dekat minibar tempat Serena berdiri.
“Tadi kau tidak seperti dirimu sendiri.”
“Dan sejak kapan kau masih peduli?”
Tatapan Damien langsung bertemu dengan matanya.
Lama.
Terlalu lama.
Kemudian pria itu berkata pelan, “Aku selalu peduli.”
Nah. Itu lagi.
Kalimat-kalimat yang terdengar seperti cinta. Serena langsung memalingkan wajah sambil terkekeh kecil. “Kadang aku pikir kau memang sengaja membuatku gila.”
Damien tidak membantah. Pria itu justru bergerak lebih dekat.
Kini Serena bisa mencium aroma parfum familier itu lagi. Kayu, tembakau, dan sesuatu yang selalu mengingatkannya pada malam-malam panjang di tempat tidur Damien.
“Apa kau menyukainya?” tanya Damien rendah.
Serena mengernyit.
“Siapa?”
“Axel.”
Pertanyaan itu terdengar terlalu cepat.
Terlalu personal.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Serena benar-benar sadar bahwa Damien Knox sedang cemburu.
Aneh sekali.
Pria yang memilih perempuan lain masih terlihat tidak suka saat Serena pulang bersama pria lain.
“Kau tidak punya hak untuk menanyakan itu.”
“Aku hanya ingin tahu.”
Serena menatap Damien beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Jawaban singkat itu langsung mengubah ekspresi Damien.
Tipis sekali.
Namun Serena melihatnya.
Cara rahangnya mengeras.
Cara tatapannya berubah lebih gelap.
Cara tangan pria itu perlahan mencengkeram meja marmer di samping Serena.
Dan sialnya, Serena masih terlalu mengenal Damien Knox.
“Kau baru mengenalnya beberapa jam.”
“Dan?” Serena mengangkat alis pelan. “Bukankah sekarang aku perempuan lajang?”
Damien tertawa kecil. Namun tidak ada humor di sana. Suara itu justru terdengar rendah dan berbahaya.
“Kau melakukan ini untuk membuatku marah?”
Serena ikut tertawa pelan.
“Kau pikir semuanya tentangmu?”
Hening.
Lalu Damien mendadak bergerak cepat.
Pria itu menarik Serena mendekat begitu saja hingga tubuh mereka bertabrakan pelan.
Napas Serena langsung tercekat.
“Damien.”
“Kau mabuk,” gumam pria itu rendah di dekat wajah Serena.
Namun tangannya tetap berada di pinggang Serena. Terlalu erat untuk disebut sekadar menahan. Tatapan mereka bertemu. Terlalu mirip dengan bagaimana semuanya selalu dimulai di antara mereka selama sepuluh tahun terakhir.
Damien marah. Serena keras kepala. Lalu mereka saling menyentuh seolah itu satu-satunya cara berkomunikasi.
“Kau tidak menyukainya,” bisik Damien pelan.
Serena menahan napas.
“Kenapa kau peduli?”
Tatapan Damien turun ke bibirnya.
Lama sekali.
Lalu pria itu menjawab dengan suara yang hampir terdengar seperti pengakuan dosa.
“Karena aku membenci Axel menyentuhmu.”
Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka.
Dan jauh lebih jujur dibanding yang biasanya Damien izinkan keluar dari dirinya.
Serena menatap pria di depannya tanpa suara. Napas Damien terasa hangat di wajahnya, sementara tangannya masih mencengkeram pinggang Serena seolah takut perempuan itu akan menjauh kapan saja.
“Kau tidak berhak mengatakan itu,” bisik Serena akhirnya.
“Aku tahu.”
Namun pria itu tidak melepaskannya, justru sebaliknya. Damien menarik Serena sedikit lebih dekat hingga dada mereka nyaris tanpa jarak.
“Apa dia membuatmu tertawa seperti tadi?” tanya Damien pelan.
Serena mengernyit.
“Apa?”
“Aku melihatmu tertawa dengannya.”
Nada suara Damien tetap tenang. Itulah yang membuatnya terasa lebih berbahaya.
Karena Serena tahu bahwa Damien Knox paling mengintimidasi justru saat berbicara terlalu lembut.
“Jangan mulai bersikap posesif sekarang,” ucap Serena lirih. “Kau kehilangan hak itu waktu meninggalkanku.”
Tatapan Damien langsung berubah gelap.
“Dan dia mendapatkannya hanya karena mengantarmu pulang di suatu malam?”
Serena langsung terkekeh tidak percaya.
“Wow. Jadi ini tentang ego?”
“Ini tentang dia menyentuh sesuatu yang selama sepuluh tahun selalu menjadi milikku.”
Kalimat itu langsung membuat udara di sekitar mereka terasa lebih panas. Mata Serena membelalak.
Damien jarang bicara seperti ini. Pria itu selalu tenang. Terkontrol. Sulit dibaca. Namun malam ini sesuatu dalam dirinya tampak retak.
Dan sialnya, bagian terdalam Serena masih bereaksi terhadap itu.
“Kau tidak bisa datang ke sini, memelukku, cemburu, lalu kembali ke perempuan lain seolah semuanya normal.” Suara Serena akhirnya terdengar gemetar.
Damien langsung menyadarinya. Tatapan pria itu melembut sepersekian detik sebelum jemarinya naik perlahan menyentuh rahang Serena.
“Dia tidak mengenalmu.”
“Aku tidak peduli.”
“Aku peduli.”
Jawaban cepat itu langsung membuat Serena diam. Damien menatapnya terlalu intens malam ini. Seolah sedang berusaha mengingat setiap detail wajah Serena.
“Aku tidak suka cara dia melihatmu.”
“Berhenti bicara seolah aku masih pacarmu.”
Damien tertawa kecil.
“Kalau aku benar-benar berhenti menganggapmu milikku,” gumam pria itu rendah, “aku tidak akan ada di sini sekarang.”
Jantung Serena langsung berdegup keras. Karena itulah masalah terbesar Damien Knox.
Pria itu selalu terdengar seperti seseorang yang mencintainya terlalu besar.
...----------------...
...To be continue...