Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kehangatan yang Sekilas
Udara di dalam ruang otopsi ini mendadak terasa membeku, seolah-olah sistem ventilasinya baru saja menyedot seluruh sisa oksigen dan menggantinya dengan gas nitrogen cair. Aku berdiri mematung, ponselku yang masih menyala kini terasa seperti sebongkah batu es di tanganku.
Panti asuhan. Balita enam tahun. Hipoksia mendadak. Pembunuhan berantai.
Rentetan kata-kata sandi dari Adrian itu berdengung di dalam rongga tengkorakku, menghancurkan sisa-sisa kehangatan dari ciuman kami beberapa detik yang lalu.
"Keana?" Suara bariton Ghazali memecah lamunanku.
Pria itu menyadari perubahan drastis pada postur tubuhku. Insting jaksanya bekerja lebih cepat dari kedipan mata. Ghazali melangkah maju, tangan kirinya meraih bahuku, memutar tubuhku dengan lembut namun tegas agar aku menghadapnya.
"Ada apa? Siapa yang meneleponmu?" tanya Ghazali, matanya menyipit memindai wajahku. "Wajahmu sepucat mayat di atas meja itu. Apakah MKEK benar-benar mencabut izin praktikmu secepat ini?"
Aku menggeleng pelan. Bibirku bergetar saat aku mencoba menemukan artikulasi yang tepat untuk menyampaikan monster baru yang baru saja merayap keluar dari masa lalu keluarganya.
"Bukan MKEK," bisikku, suaraku terdengar serak dan hampa. Aku menatap langsung ke dalam mata gelap suamiku. "Itu Adrian. Dia baru saja mendekripsi rekam medis rahasia dari server pasar gelap Koh Bong."
Ghazali mengerutkan dahi. "Lalu? Apakah dia menemukan bukti transfer lain dari ibuku?"
"Dia menemukan sebuah nama, Mas," aku menelan ludah dengan susah payah, rasa mual yang luar biasa tiba-tiba memukul lambungku. "Satu bulan sebelum kakekmu dibunuh... ada pasien lain yang meninggal dengan gejala hipoksia dan aritmia mendadak. Pasien itu adalah seorang anak laki-laki berusia enam tahun."
Ghazali terdiam. Otot di rahangnya seketika berhenti mengeras, berganti dengan kekosongan yang mengerikan. "Anak kecil? Di mana?"
"Di Panti Asuhan Kasih Mahendra," ucapku lambat-lambat. "Panti asuhan yang didanai sepenuhnya oleh yayasan keluargamu."
Genggaman tangan Ghazali di bahuku mendadak terlepas. Ia melangkah mundur seolah aku baru saja menampar wajahnya dengan godam besi. Matanya terbelalak horor.
"Panti Asuhan Kasih Mahendra..." gumam Ghazali, napasnya mulai memburu tak beraturan. "Itu adalah proyek kebanggaan ibuku. Tempat dia selalu membawa wartawan setiap bulan puasa untuk pencitraan publik. Kenapa... kenapa Maia membeli racun mematikan itu untuk seorang anak panti asuhan?"
Aku melangkah mendekatinya, membiarkan insting forensikku mengambil alih. "Dalam sejarah toksikologi kriminal, sangat jarang seorang pembunuh langsung menggunakan racun organik dosis tinggi pada target utama mereka, Ghazali. Digoxin dari tanaman Digitalis sangat fluktuatif. Jika dosisnya terlalu besar, korban akan langsung mati dengan mulut berbusa dan kejang hebat, yang otomatis akan memicu kecurigaan polisi. Jika terlalu sedikit, korban hanya akan mual-mual."
Aku menatapnya dengan kepedihan yang mendalam. "Mereka membutuhkan takaran yang absolut agar kakekmu seolah-olah mati karena serangan jantung alami saat tidur. Dan untuk mendapatkan presisi itu..."
"Mereka membutuhkan subjek uji coba," potong Ghazali dengan suara berupa bisikan yang sangat memilukan.
Kakinya kehilangan tenaga. Suamiku, pria yang tak pernah berlutut pada siapa pun itu, merosot jatuh dan bersandar pada dinding ubin ruang otopsi. Lengan kanannya yang dibalut perban luka bakar ia tekuk ke dadanya, seolah berusaha melindungi jantungnya yang baru saja dihidupkan kembali beberapa jam lalu.
"Mereka menggunakan seorang anak kecil yang tidak memiliki orang tua... sebagai tikus percobaan untuk menakar racun," suara Ghazali pecah berkeping-keping. Ia menenggelamkan wajahnya ke telapak tangan kirinya. "Ya Tuhan... iblis macam apa yang telah melahirkanku ke dunia ini?"
Melihatnya hancur seperti itu menghancurkan setiap lapis pertahananku. Aku segera ikut duduk di lantai ubin yang dingin, mengabaikan fakta bahwa lantai ini mungkin terkontaminasi cairan biologis. Aku menarik tubuh besarnya ke dalam pelukanku, merengkuh kepalanya dan menyandarkannya ke dadaku.
Ghazali tidak membalas pelukanku. Ia gemetar hebat.
"Darahku kotor, Keana," isaknya tertahan di balik kemejanya. "Uang yang membesarkanku, rumah yang kutinggali, jas yang kupakai di pengadilan... semuanya dibayar dengan darah orang-orang yang tidak bersalah. Bahkan dengan darah anak-anak panti asuhan."
"Tidak," aku membelai rambutnya yang berantakan, mencium puncak kepalanya dengan sayang. "Kau bukan ibumu, Ghazali. Kau adalah pria yang mengorbankan tangan kanannya untuk menyelamatkan nyawa seorang dokter forensik dari gas beracun. Kau adalah pria yang menghancurkan kariernya sendiri demi kebenaran. Jangan pernah kau samakan dirimu dengan monster-monster itu."
Ghazali mengangkat wajahnya. Matanya yang merah menatapku dengan keputusasaan seorang anak yang baru saja kehilangan seluruh pegangan moralnya pada dunia. "Bagaimana aku bisa membersihkan dosa-dosa ini, Keana? Aku tidak pantas menyentuhmu. Aku tidak pantas berada di dekatmu."
"Kau pantas," aku menangkup kedua pipinya yang dingin. "Karena kau adalah suamiku. Dan mulai detik ini, kita akan membedah dosa-dosa itu bersama-sama. Kita akan menemukan anak itu, kita akan membongkar makamnya, dan kita akan memastikan ibumu serta Maia membusuk di sel isolasi Bareskrim hingga akhir hayat mereka."
Di tengah ruangan yang dikelilingi oleh kematian ini, pelukanku menjadi satu-satunya sumber kehidupan bagi sang Jaksa. Kami berbagi kehangatan yang rapuh, sebuah jeda kemanusiaan di tengah badai konspirasi yang belum usai. Namun, kehangatan ini hanyalah sekilas.
Pintu ganda ruang otopsi kembali terbuka, kali ini dengan sangat pelan. Komisaris Herman melongokkan kepalanya ke dalam, wajah perwira polisi veteran itu memancarkan kekhawatiran yang mendalam.
"Maaf mengganggu kalian," bisik Herman, melirik ke arah Ghazali yang masih duduk bersandar di pelukanku. "Tapi kita harus segera keluar dari rumah sakit ini. Direktur RS Bhayangkara baru saja mengadakan konferensi pers di lobi untuk cuci tangan. Dia secara resmi mengumumkan pembekuan izin praktik Dokter Keana, dan MKEK sedang dalam perjalanan kembali ke mari dengan surat panggilan paksa. Ghazali juga tidak aman di sini; media sedang menunggunya."
Ghazali segera menguasai dirinya. Ia mengusap matanya dengan cepat, mengembalikan topeng pualamnya yang kaku. Ia berdiri dengan susah payah, lalu mengulurkan tangan kirinya untuk membantuku berdiri.
"Kita akan kembali ke apartemen Sudirman," ucap Ghazali dengan suara baritonnya yang kembali stabil, meskipun nadanya kini lebih gelap dan mematikan. "Di sana adalah teritorial pribadiku. Tidak ada polisi atau wartawan yang bisa menembus pengamanan biometrik gedung itu tanpa surat perintah pengadilan."
Herman mengangguk setuju. "Aku sudah menyiapkan ambulans kosong di pintu pembuangan limbah medis. Kalian bisa keluar dari sana tanpa terdeteksi kamera depan."
"Komisaris," panggilku saat Herman hendak membalikkan badan. "Aku butuh Anda melacak data pemakaman seorang anak laki-laki berusia enam tahun dari Panti Asuhan Kasih Mahendra. Kematiannya terjadi sekitar sebulan sebelum kematian kakek Ghazali."
Herman mengerutkan dahinya tajam. "Anak panti asuhan? Untuk apa?"
"Karena anak itu bukan meninggal karena sakit," jawab Ghazali dingin, menggantikan suaraku. "Dia dieksekusi sebagai bahan eksperimen medis. Temukan di mana mereka menguburkannya, Herman. Begitu kita mendapatkan lokasinya, kita akan melakukan ekshumasi secara diam-diam."
Tiga puluh menit kemudian, ambulans yang membawa kami berhasil menembus kepungan wartawan di luar gerbang rumah sakit dan melaju mulus membelah jalanan Jakarta yang basah.
Kami tiba di apartemen Sudirman. Ruangan di lantai empat puluh dua ini masih sama sunyinya dengan semalam, namun atmosfernya terasa sangat berbeda. Jika semalam tempat ini adalah medan perang argumen, kini tempat ini terasa bagaikan sebuah benteng perlindungan terakhir bagi dua orang pelarian.
Begitu pintu apartemen terkunci dari dalam, sisa-sisa tenaga adrenalin yang menopang tubuh Ghazali akhirnya menguap habis. Ia terhuyung maju, tangannya refleks mencengkeram sandaran kursi untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
"Mas!" aku segera berlari memapahnya, membiarkan tubuhnya yang besar menyandarkan sebagian bobotnya padaku.
Keringat dingin membasahi keningnya. Bibirnya kembali memucat. Ia memejamkan mata menahan rasa sakit yang luar biasa dari luka bakar kimia di tangan kanannya. Asam Hidrofluorik memang telah dinetralkan oleh Kalsium Glukonat, namun kerusakan jaringan otot dan saraf akibat sifat korosifnya tidak bisa sembuh hanya dalam hitungan jam.
"Aku baik-baik saja," gumamnya dengan napas tersengal. Sebuah kebohongan yang sangat bodoh.
"Duduk di sofa sekarang," perintahku dengan nada seorang dokter yang tidak menerima bantahan.
Aku memapahnya menuju sofa panjang di ruang tengah, lalu bergegas menuju kotak P3K darurat yang selalu kusiapkan di laci meja Kakek. Aku mengambil sarung tangan lateks baru, gunting perban, cairan NaCL (salin steril), dan salep kalsium khusus luka bakar.
Saat aku kembali, Ghazali sedang bersandar dengan mata terpejam. Lengan kanannya ia letakkan dengan hati-hati di atas sandaran tangan sofa.
"Aku akan membuka perban ini," bisikku lembut, berlutut di lantai tepat di samping lengan kanannya. "Ini akan sangat perih. Kain perbannya mungkin menempel pada eksudat (cairan luka) di jaringan epitelmu."
Ghazali membuka matanya, menatapku dengan senyuman lelah. "Lakukan saja, Dokter. Aku sudah terbiasa merasakan sakit."
Dengan gerakan yang sangat teliti, aku menggunting lapisan luar perban tersebut. Ketika lapisan terdalam mulai terkelupas, pemandangan di bawahnya membuat jantungku seakan ditusuk ribuan jarum. Kulit telapak tangan dan punggung tangannya telah melepuh hebat, berubah warna menjadi merah daging dengan beberapa area keputihan yang menandakan nekrosis (kematian jaringan) tingkat awal. Ini adalah bekas ciuman dari zat kimia paling mematikan di dunia. Luka ini akan meninggalkan jaringan parut (keloid) seumur hidupnya.
Air mataku menetes tanpa bisa kucegah, jatuh tepat di atas sarung tangan lateksku.
"Maafkan aku," bisikku parau, perlahan membersihkan area sekitarnya dengan cairan salin. "Ini semua salahku. Jika saja aku tidak memaksamu ke bunker itu..."
"Keana, tatap aku," potong Ghazali. Suaranya lembut namun penuh ketegasan.
Aku mengangkat wajahku, pandanganku mengabur oleh air mata.
Tangan kirinya yang sehat terulur, mengusap pipiku, menghapus air mata yang mengalir di sana. "Tangan ini," ia menggerakkan sedikit jari telunjuk kanannya yang hancur, "adalah medali kehormatanku. Ini adalah bukti bahwa aku akhirnya berhenti menjadi pengecut. Bukti bahwa aku akhirnya berani mengambil risiko untuk melindungi satu-satunya wanita yang membuat hidupku berarti. Jangan menangisi lukaku, karena aku sangat bangga memilikinya."
Aku menelan isakanku, mengangguk pelan, dan memaksa diriku kembali fokus. Aku mengoleskan salep kalsium dengan sangat hati-hati, memastikan setiap inci jaringan yang rusak tertutupi lapisan pelindung, lalu membalutnya kembali dengan kasa steril yang baru.
"Selesai," ucapku, melepaskan sarung tangan lateksku.
Aku bermaksud berdiri untuk mencuci tangan, namun lengan kiri Ghazali bergerak melingkari pinggangku. Ia menarikku pelan hingga aku kehilangan keseimbangan dan jatuh duduk di pangkuannya.
"Mas, apa yang kau lakukan?" aku tersiap, wajahku mendadak memanas. "Jantungmu—"
"Jantungku berdetak sangat baik saat kau berada di dekatku," Ghazali memotong kalimatku dengan senyum nakal yang sangat jarang ia perlihatkan. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, membiarkan tubuhku bersandar di atas dada kirinya yang sehat.
Udara di apartemen ini seketika berubah. Dinginnya AC sentral tak lagi mampu melawan hawa panas yang menguar dari tubuh kami yang saling menempel. Aroma oud khas dirinya yang bercampur dengan bau obat-obatan meresap masuk ke indra penciumanku, membuat kepalaku sedikit pusing, bukan karena gas beracun, melainkan karena feromon pria ini.
"Kau bilang," bisik Ghazali, bibirnya bergesekan ringan dengan daun telingaku, membuatku merinding hingga ke tulang ekor, "kau akan mengotopsi tubuhku dan menulis 'Pengecut' sebagai penyebab kematianku jika aku berani mengorbankan diriku lagi."
Aku menelan ludah, tidak berani membalas tatapan matanya yang kini memancarkan rasa lapar yang intens. "I-itu benar."
"Kalau begitu, Dokter Forensik," Ghazali menelusupkan tangan kirinya ke balik rambutku, menangkup tengkukku dengan lembut. "Apa yang akan kau tulis di laporan Visum et Repertum malam ini, jika penyebab kematianku adalah karena aku terlalu mencintai istriku sendiri?"
Pertanyaan retoris itu meruntuhkan sisa-sisa rasionalitasku. Aku memutar tubuhku sepenuhnya menghadapnya. Kuletakkan kedua telapak tanganku di kedua sisi wajahnya, menatap lurus ke dalam kedalaman jiwanya yang kini sepenuhnya terbuka untukku.
"Aku akan menulis," balasku dengan suara berbisik yang serak, "bahwa pasien ini telah meninggal karena kehabisan napas. Bukan karena asfiksia mekanik, tapi karena istrinya merampas semua oksigen dari paru-parunya."
Tanpa menunggu persetujuannya, aku menundukkan wajahku dan menciumnya.
Ciuman kali ini bukanlah ciuman keputusasaan seperti di ruang otopsi, bukan pula ciuman kemarahan. Ini adalah penyatuan mutlak dari dua jiwa yang selama ini hidup dalam kebohongan. Ghazali membalas ciumanku dengan dominasi yang membuatku kewalahan. Ia melumat bibirku dengan penuh tuntutan, menumpahkan segala penyesalan, rindu, dan rasa bersalahnya melalui sentuhan fisik yang mengaburkan realita.
Kami berbagi napas, berbagi rasa sakit, dan berbagi kehangatan di atas sofa itu. Kehangatan yang selama berbulan-bulan kutunggu sebagai seorang istri, akhirnya kurengkuh saat kami berdua resmi berstatus sebagai 'buronan' moral dari keluarga kami sendiri.
Namun, di dunia yang diatur oleh keluarga Mahendra, kehangatan tidak pernah diizinkan bertahan lama. Ia selalu hanya sekilas.
Saat ciuman kami mulai memabukkan, dan tangan Ghazali mulai melepaskan kancing teratas kemejaku, sebuah suara dengungan mekanis yang sangat keras tiba-tiba merobek kesunyian apartemen.
BZZZZT. BZZZZT.
Bukan dari ponselku, bukan pula dari ponsel Ghazali. Suara itu berasal dari layar monitor interkom keamanan yang terpasang di dinding dekat pintu masuk apartemen.
Ghazali menghentikan ciuman kami dengan napas tersengal. Matanya langsung berubah waspada. Insting jaksanya kembali menyala.
"Tidak ada yang tahu alamat apartemen Kakek ini selain Herman," desis Ghazali, perlahan melepaskan pelukannya dan membantuku berdiri. Ia mengencangkan kembali kancing kemejanya dengan satu tangan. "Tetap di belakangku."
Ghazali melangkah menuju layar monitor tersebut dan menekan tombol aktivasi kamera luar.
Layar itu menyala, menampilkan visual hitam-putih dari koridor depan pintu apartemen kami.
Bukan polisi yang berdiri di sana. Bukan pula Maia atau Nyonya Ratna.
Di layar itu, berdiri seorang pria paruh baya yang mengenakan jas hujan lusuh yang meneteskan air. Pria itu menunduk, wajahnya tidak terlihat jelas, namun ia memegang sebuah papan tulis kecil di depan dadanya. Papan itu diarahkan lurus ke kamera CCTV apartemen kami.
Di atas papan itu, tertulis sebuah pesan dengan spidol merah yang seolah menetes seperti darah:
"AKU TAHU DI MANA MAIA MENGUBURKAN ANAK ITU. TAPI JIKA KALIAN INGIN TULANGNYA, DATANG KE KLINIK ABORSI DI JALAN KERAMAT SEKARANG. SENDIRIAN."
Darahku mendadak berhenti mengalir. Napasku tercekat.
Seseorang telah membocorkan rahasia pembunuhan balita panti asuhan itu. Seseorang yang tahu persis kelemahan forensik kami, dan seseorang yang sengaja memancing kami keluar dari tempat persembunyian ini.
Ghazali memukul dinding di sebelah monitor dengan tangan kirinya. "Ini jebakan. Maia sedang memancing kita keluar."
"Atau ini adalah saksi kunci yang bisa menjebloskannya ke penjara," aku menatap layar itu dengan tekad yang kembali mengeras, mengabaikan ketakutan yang merayap di tengkukku. "Klinik aborsi ilegal. Tentu saja. Maia tidak mungkin mengeksekusi anak itu di panti asuhan yang padat. Dia pasti membawa anak itu ke klinik bawah tanah yang tidak akan pernah mengeluarkan sertifikat kematian resmi."
Aku menoleh pada Ghazali. Kehangatan romantis kami beberapa menit lalu telah menguap seutuhnya, digantikan oleh hawa dingin dari medan perang yang kembali memanggil nama kami.
"Kita harus ke sana, Mas," ucapku tajam, merapikan kemejaku dan meraih tas medisku. "Hukum mungkin butuh birokrasi, tapi seorang pembunuh berantai tidak akan menunggu kita selesai berciuman."
Ghazali menatapku lama, sebelum akhirnya tersenyum miring—sebuah senyuman predator yang sangat khas miliknya. Ia meraih kunci mobil cadangan dari laci.
"Mari kita selesaikan operasi ini, Dokter Forensik."
Di bawah langit Jakarta yang kembali mendung, ranjang pengantin yang penuh luka itu harus ditunda sekali lagi. Karena malam ini, kami akan turun ke dasar neraka untuk menggali kebenaran dari tangan iblis itu sendiri.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍